Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bertahan Adena 

Part 1

Malam hari, 1 Februari 2020. Adena menatap cake yang ada di meja belajarnya. Cake dengan lilin angka 20 yang sudah meleleh--menandakan bahwa lilin itu sudah terlanjur mati bahkan sebelum ditiup olehnya. “Aku ga mau merayakan ulang tahun tanpa Kakek.”
“Tapi kakek sudah ga ada, Adena. Kakek sudah meninggal,” Bara, om-nya Adena menatapnya sambil menahan jengkel. Di tangannya, masih ada cake dengan lilin yang masih menyala. Ia berdiri di ambang pintu, dengan tante Laras dan Olin anaknya di sampingnya. Mereka memang berniat memberikan surprise kecil pada Adena, karena perempuan itu begitu muram sejak tiga bulan yang lalu, sejak kakeknya meninggal dunia. Adena yang biasa tinggal bersama kakeknya, kini harus tinggal bersama mereka. Jika di keluarga biasa, seorang anak tinggal bersama orang tuanya, berbeda dengan Adena. Sejak umur 3 tahun, ia dititipkan oleh ayah dan ibunya yang tinggal di Riau ke Jakarta, tempat kakeknya tinggal. Kini, ketika kakeknya sudah tiada, ia tidak tahu harus ke mana lagi. Dunia dan rumahnya seakan runtuh ketika kakeknya pergi. Sebenarnya, bisa saja ia kembali ke Riau, tapi entah mengapa ia tidak pernah merasa rumahnya seperti rumah. Ayah, Ibu, dan dua adiknya, terasa asing, terasa berjarak. 
“Aku tahu, makanya aku gak mau ulang tahun. Gak perlu repot demi aku,” begitu ucapan Adena sebelum akhirnya Om Bara menaruh kue ulang tahunnya di meja, sampai lilin yang ada di atasnya meleleh sendiri.
Adena kini menatap fotonya bersama kakek di meja belajar--foto mereka di taman safari ketika Adena berusia 10 tahun. “Kakek… aku ulang tahun Kek… aku sudah 20 tahun sekarang. Gak ada yang lebih aku inginkan selain dipeluk Kakek. Aku butuh kakek…” isak Adena lirih. Baginya, Kakek adalah dunianya, Kakek adalah segalanya. Ketika Kakek dipanggil Tuhan, Adena merasa tak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada lagi yang ingin dia bahagiakan. Lalu… sekarang ini dia bertahan hidup untuk apa?
“Tidak sulit menyukaimu, Adena. Ketika ada yang kenal kamu, pasti orang itu suka dan sayang sama kamu. Tuh, tanya sama gajah,” ujar kakek saat itu, sambil meletakkan wortel ke tangan Adena, ketika Adena memberi makan gajah di Taman Safari. Kakek mengatakan itu, karena para gajah itu memilih makanan di tangan Adena, dibanding pengunjung lainnya. Kata penjaganya, mungkin karena gajah itu menyukai Adena. Adena tertawa saja mendengarnya, geer.
TOK! TOK! TOK! Pintu diketuk. Adena rupanya lupa mengunci pintu, sehingga dengan mudahnya Om Bara masuk ke dalam kamarnya. Adena diam dengan tatapan kosong, ketika Om Bara duduk di sebelahnya. “Om ga akan marah karena kuliah kamu berantakan, atau karena kamu ga mau tiup lilin dari Om. Om cuma sedih lihat kamu begini, Adena…”
Adena diam tak menanggapi.
Ada jeda yang cukup lama, hingga Om Bara akhirnya berdeham, lalu berucap,“Ada yang harus kamu tahu, Adena. Harusnya Om mengatakan ini setelah Kakek meninggal, sesuai yang Kakek pinta. Tapi Om ga sampai hati.”
“Om, aku lagi pengen sendiri. Bisa Om--”
“Kamu bukan cucu kandung Kakek, Adena. Juga bukan anak kandung Ibu dan Ayah kamu selama ini…”
Adena terpaku menatap Om Bara, kaget bukan main. Lidahnya kelu, ia kini benar-benar kehilangan kata.