Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bertahan Adena 

Part 2

Adena menatap lampu di kamarnya yang redup. Matanya lelah dan mengantuk, tapi ia tetap terjaga. Adena hancur mendengar penjelasan Om Bara barusan, bahwa selama ini ia hanyalah anak angkat dari ibu dan ayahnya di Riau. 
20 tahun yang lalu, seorang perempuan mendatangi rumah kakeknya di Bogor, sambil membawa Adena yang baru dilahirkan, memohon agar Adena diambil dan dibesarkan oleh keluarga tersebut. Perempuan itu menangis tersedu menatap Kakek Adena… ia merasa tak sanggup membesarkan Adena dengan gajinya sebagai kasir di swalayan kecil. Ditambah, kekasihnya--yang sebenarnya memiliki keluarga--tidak mau bertanggung jawab dan menyuruhnya melakukan aborsi. 
Ya, Adena dibuang. Dibuang saat baru berusia 3 hari. Dibuang karena tidak diinginkan dan diharapkan.
Kakek merengkuh Adena bayi. Meski dititipkan dalam kartu keluarga anak pertamanya, Reno, Kakeklah yang mengasuh Adena sedari bayi hingga akhir hayatnya. Secara resmi, Adena terdaftar sebagai anak pertama Reno dan istrinya Sheila. Adena juga merupakan kakak dari dua anak kandung Reno dan Sheila.
Pantas saja.Pantas saja ia tidak pernah merasa diterima di keluarganya. Pantas saja, istilah “Ayah” dan “Ibu” sangat sulit dan asing dilafalkan dari mulut Adena, karena kedua orang itu memang bukan orang tuanya. Pun pantas saja tidak terasa kasih sayang dari mereka. Tidak pernah ada kata rindu atau sayang terucap dari mulut mereka ketika sesekali Adena pulang ke Riau. Astaga, sudah, jangan mengeluh Adena, jangan melunjak ingin disayang! Dua orang itu masih mau mendaftarkan namanya di kartu keluarga saja, sudah untung baginya. Mungkin jika tidak ada kasih kakek dan kesediaan orang tua “palsunya”, Adena bayi sudah berujung di tempat sampah, atau di suatu jalan yang sepi, kedinginan dan kelaparan, karena tidak disayangi. Boro-boro disayangi, dikenali saja tidak.
“Gak adil…” gumam Adena pelan. Kedua orang tua kandungnya--yang entah siapa--bahkan belum mencoba mengenalnya, setidaknya, harusnya mereka mencoba bertahan sebulan atau dua bulan. Bayangkan, ia hanya dikenal selama tiga hari, kemudian ditinggalkan. Itupun hanya oleh ibunya. Ah, mengapa ia tidak memiliki kesempatan untuk dikenal, sehingga ia bisa disayangi? Siapa tahu dengan dikenal dan disayangi, ia tidak akan dibuang. Mengapa mereka sejahat itu, tidak memberikan Adena kesempatan sama sekali? Sungguh, tidak adil bagi Adena.
“Ibumu datang saat pemakaman kakek, Adena… dia…”
Adena menggelengkan kepalanya, ia tidak mau tahu siapa perempuan yang telah membuangnya. Jika saja ia tahu siapa perempuan itu, tentu saja Adena akan sangat membencinya. Membenci butuh energi. Membenci sangat melelahkan. Bahkan Adena tidak mau melakukan sesuatu untuk perempuan yang konon merupakan ibunya. Membenci saja ia enggan.
“Tapi… seperti apa ibuku? Apa dia melihatku waktu itu? Apa dia tidak sedetikpun seumur hidupnya, memikirkan aku? Menyesal misalnya, karena telah membuangku? Karena tidak mempertahankan aku?” pertanyaan-pertanyaan itu menelisik di pikiran Adena, membuat hatinya semakin sesak. 
Adena bergerak menuju laptop, menyalakannya. Lalu… KLIK! KLIK! KLIK! Tangannya bergerak-gerak menekan mouse. Ia membuka galeri foto, mencari seseorang yang mungkin ibunya di folder tersebut. Apakah dia--seorang perempuan dengan syal hitam? Apakah dia--seorang perempuan dengan berkacamata? Atau… perempuan dengan lipstik merah ini? 
“Mana…Mana dia?” Adena terus mencari di antara ratusan foto yang ia ambil dengan kamera mirrorless-nya, ketika hari kematian kakeknya, dengan dada sesak dan air mata di pipinya. Ya Tuhan, entah mengapa berat sekali napasnya. Adena terisak, tapi berusaha tidak terdengar agar tidak membangunkan orang-orang di dalam rumah tersebut. Kepalanya terasa berat. Berat sekali. Sampai Adena mencengkram rambutnya.
Sementara itu, laptop Adena masih menyala… dengan layar penuh foto-foto saat hari kematian kakeknya.