Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bertahan Adena 

Part 3

Kata Kakek, Adena dalam bahasa Yunani artinya indah. Adena meringis, jika memang benar indah, mengapa ia tidak diinginkan?
Adena menatap pusara Kakek di hadapannya, dengan mata berat karena tidak tidur semalaman. Kini ia berada di daerah Ciawi, Bogor, setelah satu jam lebih menaiki bus antarkota sendirian. Kakeknya memang mempunyai villa di daerah situ, dan minta dimakamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari villa tersebut. Ia menolak dimakamkan di Jakarta, ataupun di Riau. Almarhum lebih menyukai Bogor, katanya. 
Adena menghela napas berat, “Kakek… kenapa Kakek ga bilang? Soal siapa aku… siapa kakek… kini semua masuk akal Kek, kenapa Ibu dan Ayah ga pernah sekalipun peduli padaku. Kenapa aku merasa hanya kakek… selalu kakek… orang yang menyayangi aku di dunia ini…”
Adena merasa kacau. Ia tak tahu, harus marah atau berterima kasih pada almarhum kakek. Ia marah karena selama ini kakeknya menyembunyikan rahasia besar--berbohong mungkin, istilah jahatnya--tapi ia juga berterima kasih karena ia direngkuh, dipungut, setelah dibuang begitu saja.
“Aku harus apa, Kek? Seandainya ada Kakek, mungkin aku masih punya alasan untuk bertahan,” Adena berbisik pelan sembari mengusap air mata di pipinya. 
Saat itulah hujan turun, satu per satu, kemudian menderas. Adena mendengus kesal dan segera menutup kepalanya dengan hoodie, lalu berlari menuju suatu warung kecil di dekat pemakaman. Warung yang menjuali kopi dan mie instan, dengan kursi dan meja kayu. Karena cukup banyak orang berteduh di sana, Adena terpaksa duduk di dekat seorang perempuan yang tengah merokok sambil menatap kosong ke arah jalanan. Di dekatnya, ada segelas kopi susu yang tampaknya sudah dingin.
“Mang… punten, mau teh hangatnya satu,” ujar Adena pada si penjual. Namun si penjual tampaknya tidak mendengar karena sibuk melayani pembeli lainnya. Adena terbatuk. Napasnya kian sesak, karena setelah berlari, ia malah harus menghisap kepulan asap rokok dari perempuan di sebelahnya. Perempuan itu, memakai jaket denim oversize dan celana kain warna hitam, di balik jaket itu, tampak seragam berkerah yang entah seragam apa. Perempuan melirik Adena yang basah kuyup, lalu menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel.
“Gak usah, makasih. Mang!” Adena memanggil si penjual lagi.
“Minum aja, masih tersegel kok.”
Adena terpaksa menerima air mineral itu, kemudian meneguknya. Adena menatap rokok yang ada di sela-sela jari perempuan itu. Ia seolah mengerti dan langsung mematikan rokoknya. Adena kemudian menyadari sesuatu bahwa perut perempuan itu besar seperti buncit, atau mungkin dia hamil? Dia masih sangat muda, seusia Adena mungkin. Apa dia hamil di luar nikah, seperti ibu kandungnya?
“Iya, aku hamil,” perempuan itu mengusap perutnya, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Adena. 
“Aku ga bermaksud ga sopan.”
Perempuan itu terdiam, sampai akhirnya mengambil batang rokok lainnya, menyalakannya dengan pemantik, lalu menghisapnya dalam-dalam. Tampak, ia mengenakan beberapa gelang tali, dan salah satunya adalah gelang dengan hiasan besi berbentuk dream catcher. Adena membuang wajahnya, berusaha tidak menghirup asapnya. Kenapa juga ia harus memperhatikan perempuan itu. Ia ingin sekali pergi dari sana, tapi hujan masih mengguyur sekitarnya dengan deras.
“Kamu ada masalah juga?” Perempuan itu akhirnya buka suara setelah terdiam menatap Adena.
“Urus aja masalahmu sendiri.”
“Apa pun masalah kamu, pasti aku lebih sial.”
Adena mendengus. Ia merasa hidupnya sudah cukup sial sampai saat ini. Bisa-bisanya perempuan di sebelahnya itu menyombongkan diri. Setidaknya, dia pasti punya orang tua, bahkan pacar yang menyayanginya. Yah, buktinya dia hamil. Adena kemudian terbatuk karena sesak, “Bisa tolong matikan rokokmu?”
“Tau gak? Aku disuruh aborsi,” perempuan itu menatap udara kosong, dengan tatapan yang kosong pula. Pernyataan perempuan itu setidaknya membuat Adena menoleh. “Konyol ya? Dia cinta sama aku, katanya. Tapi begitu aku hamil, aku malah disuruh aborsi. Ketika aku menolak, dia malah ninggalin aku. Dia bilang… sekarang saatnya dia kembali ke keluarganya.”
Adena mencibir, “Pacarmu punya istri?”
“Punya anak juga, masih kecil sih,” perempuan itu tertawa kecil. “Ya… Aku emang ga bisa milih kepada siapa aku jatuh cinta. Tapi aku bisa milih, mau membiarkan anak ini hidup atau ga.”
Oke, kali ini Adena benar-benar kesal mendengar ucapan perempuan itu. Ia benar-benar merasa terganggu dengan ucapannya. Adena lantas berdiri dari tempatnya, mengibaskan tangan untuk mengusir asap rokok di sekitarnya. “Ya terus kenapa kamu ngerokok? Itu mungkin membahayakan bayi di perut kamu! Kalau mau bunuh dia, bunuh yang bener! Aborsi sekalian!”
Teriakan Adena rupanya menarik perhatian para pembeli lain, mereka semua menoleh. Apalagi mendengar soal aborsi. Wajah perempuan itu kaget campur malu. Ia mengecilkan suaranya, lalu mendekatkan diri ke Adena. “Apaan sih, kenapa kamu marah-marah?!” 
“Kenapa banyak sekali perempuan tolol! Udah ngehancurin keluarga orang, main-main sama suami orang, pas hamil malah main-main dengan nyawa bayi! Biarkan dia hidup, atau bunuh sekalian! Dia juga punya hak buat hidup dan disayangi!” seru Adena kesal sambil menitikan air matanya, lalu segera pergi dari warung itu. 
Perempuan itu terpaku menatap kepergian Adena, karena bertepatan dengan itu, terasa suatu gerakan di perutnya. Semua orang masih menatapnya penuh rasa penasaran. Ia hanya menghembuskan napas kencang.