Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bertahan Adena 

Part 4

Malam ini hujan masih turun, tapi sudah tidak begitu deras. Sesekali petir menyambar diiringi kilat. Hal itu tidak membuat Adena berhenti melangkah, dengan langkah gontai, dan baju basah kuyup. Sudah berapa lama dan jauh ia berjalan, Adena tidak tahu lagi. Air matanya kini menyatu dengan air hujan. Beberapa pedagang kaki lima dan tukang ojek yang sedang berteduh, sesekali menyapa heran pada Adena, menyuruh Adena berteduh. Tidak. Adena tidak mau berteduh. Ia ingin sakit saja, kemudian mati kalau perlu. Toh hidup juga untuk apa?
Pertemuannya dengan perempuan tadi--yang entah siapa namanya--semakin membuat ia yakin, bahwa hidup memang dinilai tak penting bagi beberapa orang. Dia hidup atau tidak hidup, tidak ada yang sedih, tidak ada yang berubah, tidak ada yang terpengaruh. Bumi terus berputar, hidup terus berjalan. Keluarganya--yang sebenarnya bukan keluarganya--akan tetap bahagia tinggal di Riau. Om Bara mungkin akan berduka, seminggu atau dua minggu, tapi setelah itu dia justru akan tenang bersama keluarganya. Tidak perlu pusing mengurus anak yang susah diatur seperti Adena. 
Selama ini, Adena berusaha bertahan, bertahan sebaik-baiknya. Tapi… untuk apa sih dia bertahan?
Langkah Adena kian gontai, sampai pandangannya mengabur sendiri. Semua terasa semu saat tiba-tiba… SRAK!! Adena terjatuh karena kakinya menyandung suatu besi di atas tanah. Adena mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha mencari tahu, di mana dia sekarang. Belum sempat Adena menyadarinya tiba-tiba, dua lampu besar bergerak ke arahnya dengan cepat, diiringi suara berdenging yang amat sangat keras. Astaga, jangan-jangan itu…
Tiba-tiba sepasang tangan menarik Adena dengan cepat, sekaligus kasar, sehingga tubuh Adena terdorong dan terhempas di bebatuan. Dia… dia adalah perempuan tadi! Perempuan perokok yang membuat Adena merasa amat terganggu. Adena baru menyadari bahwa ia hampir saja tertabrak rangkaian commuterline yang melintas cepat. Ia juga baru menyadari bahwa lengannya terluka karena didorong oleh perempuan itu--perempuan yang menyelamatkannya.
“Kamu sendiri, kenapa jadi perempuan tolol?! Kamu ga sayang sama hidup kamu?!” Perempuan itu memeluk tubuh Adena yang gemetar karena kaget juga karena kedinginan. Entah kenapa perempuan itu berani membentaknya dengan keras seraya memeluknya. Tapi entah kenapa pula… pelukan perempuan itu terasa familiar. Terasa asing, tapi juga dekat. Perasaan apa ini? Adena benar-benar tidak mengerti.
“Kamu ngikutin aku?!”
“Kalo iya, terus kenapa? Aku cemas kamu kenapa-napa!”
Adena mengerutkan kening pada perempuan tersebut. “Apaan sih? Freak banget. Minggir!” Adena segera menyingkirkan tangan perempuan yang memeluknya, lalu pergi.
“Tunggu!” perempuan itu mengejar Adena yang terus berjalan menjauh di tengah hujan. “Nama kamu siapa?” 
“Adena.”
Perempuan itu terdiam mendengar nama Adena. Adena lanjut berjalan lagi, meski langkahnya tetap gontai karena masih lemas dann kaget.
“Adena!”
Adena menoleh, perempuan itu berjalan terseok di antara bebatuan rel kereta, lalu lagi-lagi menyusulnya. “Siapapun yang bikin kamu kacau seperti ini, tolong maafkan dia, Adena.”
“Kamu bicara apa sih? Jangan ngaco,” Adena semakin kesal.
“Bertahan, Adena. Aku yakin kamu bisa bertahan sebaik-baiknya,” ucap perempuan itu, kali ini lebih meracau dari sebelumnya. 
Adena benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Mengapa perempuan ini begitu sok tahu dan berisik? Ia sungguh merasa terganggu. “Aku udah bilang: Urus aja masalahmu sendiri!” Adena mau pergi, tapi perempuan itu menarik tangan Adena. Baru saja Adena mau protes, perempuan itu sudah melingkarkan salah satu gelang yang ia pakai--gelang dengan hiasan besi berbentuk dream catcher--ke pergelangan tangan Adena.
“Kamu harus tetap hidup dan bahagia, Adena… aku juga… aku juga akan berusaha agar anak aku ini tetap hidup… aku ingin dia bahagia dan sehat,” ucap perempuan itu dengan bibir bergetar, sembari mengusap perutnya. Kali ini air matanya menetes, ia terlihat benar-benar sedih dan hancur.
Adena menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir dengan perempuan itu. Apakah dia sudah gila, atau apa? Adena hanya berbalik, kemudian berjalan tergesa-gesa sambil melepaskan gelang yang melingkar di lengannya. Ia enggan memakainya, tapi ketika mau ia buang, ia juga tidak sampai hati, entah kenapa. Adena akhirnya memutuskan memasukkan gelang itu ke dalam tasnya.
Ada suatu perasaan yang mendorong Adena untuk menoleh. Ia ingin memastikan apakah perempuan aneh itu masih di sana atau tidak. Tapi, perempuan itu menghilang. Benar-benar hilang! Adena celingukan, matanya nyalang mencari-cari keberadaan perempuan itu. “Hey, kamu ke mana?! Heyyy!! Perempuan aneh!!!” Adena mempercepat langkahnya, napasnya semakin terengah-engah. Ia benar-benar kelelahan. Ia terus bergerak mencari, tapi kemudian tubuhnya semakin lemas lalu… BRAK!
Pandangan Adena menggelap...