Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bertahan Adena 

Part 5

Seberkas sinar matahari yang masuk dari jendela, membangunkan Adena yang terlelap. Adena terbangun dengan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Adena menatap sekitarnya dengan heran, ia ada di kamar di rumah Om Bara? Bagaimana bisa? Perempuan aneh itu… ke mana dia? Adena heran melihat laptopnya yang masih menyala, menampilkan foto-foto yang ia ambil saat hari kematian kakeknya.
Om Bara yang membawa bahan makanan, melintas di depan kamar Adena yang pintunya tidak ditutup. Ia duduk di kursi di dekat meja belajar. “Kamu apa-apaan sih Adena, kamu mau pergi ke Bogor tanpa izin Om atau tante! Bahkan kamu sampai kecapaian, pingsan sore-sore di terminal!”
“Terminal?” 
“Iya, kayaknya kamu mau ke makam Kakek, tapi malah pingsan!  Untung orang-orang di terminal nolongin kamu! Mana kamu gak sadarnya lama banget lagi. Bikin khawatir aja,” Om Bara menahan kesal.
Adena mengerutkan kening, makin tak mengerti. “Artinya aku ga sempet pergi ke Bogor?”
“Ya enggak. Kamu…” Saat itulah tercium bau gosong dari arah dapur, Om Bara kaget dan pergi dari sana. “Bentar ya!”
Sementara Adena memegangi kepalanya yang sakit. Kalau kemarin ia tidak sempat pergi ke Bogor, artinya… ia tidak mengunjungi makam Kakeknya? Dan pertemuannya dengan perempuan aneh itu… hanya mimpi? Tapi mengapa lengan dan kakinya terasa sakit. Bukankah itu sakit karena Adena jatuh di atas kerikil di dekat rel kereta? Adena benar-benar tidak mengerti.  Kalau itu semua hanya mimpi, mengapa terasa sangat nyata?
Adena meneguk air minum yang ada di sisi tempat tidurnya, lalu tak sengaja melihat layar laptopnya yang masih menyala. Entah apa yang mendorong Adena bergerak pelan menuju meja belajarnya, lalu melihat sekumpulan foto-foto di sana. KLIK! KLIK! KLIK! Ia menekan tombol next, melihat semua foto dan orang-orang yang hadir di hari kematian almarhum kakeknya. Hingga akhirnya, telunjuknya membeku.
Mata Adena terpaku melihat satu foto. Ada perempuan berusia 40 tahunan yang mirip sekali dengan perempuan aneh kemarin. Tampak, perempuan itu sedang meneguk anggur di foto itu, sedang melihat ke arah Adena. Yang membuat Adena terpaku adalah gelang yang melingkar di lengan perempuan itu. “Gelang itu…”
Adena terbeliak kaget ketika ia membuka tasnya. Sebuah gelang tali dengan hiasan besi berbentuk dream catcher terjatuh dari sana. Tubuh Adena berguncang karena gelang itu benar-benar mirip dengan yang dipakai oleh perempuan di foto tersebut. “Di… dia… apa dia…” Lidah Adena kelu, kehilangan kata-kata.
“Adena…” Om Bara yang melangkah masuk ke dalam kamar Adena, membeku melihat Adena tengah terpaku menatap foto di layar laptopnya. “Bagaimana bisa kamu menemukan ibu kandung kamu, Adena? Om pikir kamu ga mau tau siapa orang tua kandung kamu.”
Adena bagai disambar petir mendengar ucapan Om Bara. Dia menatap om-nya itu dengan tatapan tak percaya, “Perempuan ini… ibu kandung aku Om? Ibu yang sudah membuang aku dua puluh tahun lalu?”
Om Bara terdiam, ia hanya menutup laptop Adena, lalu merengkuh tangannya. “Adena…”
“Om tau dia di mana sekarang?”
“Namanya Mirante… dia sudah meninggal, Adena… tepat seminggu setelah kematian Kakek.”
Adena terkesiap. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Perempuan itu… perempuan yang merupakan ibu kandungnya, sudah meninggal dunia? Sebenarnya apa yang terjadi? Yang kemarin itu, mimpi atau apa? Mengapa gelang itu sekarang ada di tasnya? Adena berteriak menahan banyak pertanyaan yang ada di otaknya. Kepalanya sakit, amat sakit, “Aaarrghhhhh!”
“Adena!! Ada apa?? Adena!!” 
Adena mencoba bangkit, tapi malah jatuh di tepian kasurnya. Napasnya sesak, sesak sekali. Apa yang diinginkan perempuan aneh itu? Apa yang coba perempuan itu sampaikan? Ini semua benar-benar tak masuk akal.
“Bertahan, Adena. Aku yakin kamu bisa bertahan sebaik-baiknya. Kamu harus tetap hidup dan bahagia, Adena… aku juga… aku juga akan berusaha agar anak aku ini tetap hidup… aku ingin dia bahagia dan sehat,” ucapan perempuan aneh itu terngiang di kepalanya.Lalu apa itu artinya, anak yang sedang dikandung olehnya adalah Adena? Kemudian perempuan itu berusaha melahirkan Adena, memberikan kesempatan pada Adena untuk hidup dan bahagia tanpa dirinya?
Adena makin sakit kepala dan kesulitan bernapas, sementara Om Bara memeluknya dengan panik. 
“Adena ada apa?! Adena? Jawab Om!” 
Adena berusaha mengatur napasnya, hingga bisa bernapas dengan normal. Tapi entah mengapa… air matanya mengalir di pipinya. Ada kesedihan yang terasa melegakan. Apa pun maksud kedatangan perempuan aneh itu, yang diinginkan Adena kini adalah berusaha hidup dengan baik, dan berusaha bertahan sebaik-baiknya.
“Kamu gapapa Adena?”
Adena menatap Om Bara yang tampak amat cemas, sambil menyeka air mata di pipinya. Adena menarik napas dalam-dalam, “Aku ingin datang melayat Ibu…”

 

***