Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Ingatan Ibu yang Disimpan Tuhan 

Chapter 4: Secercah Ingatan Ibu yang Kembali

  Di malam itu juga, Rinka balik lagi dari jualan pernak perniknya di taman kota. Dia melihat Vincent masih mengerjakan pernak pernik itu sendiri, nampak dua karyawan lainnya tertidur. Rinka lalu membantunya sambil bertanya, 

“kamu itu laki-laki tapi keterampilan kamu bagus sekali.” Vincent lalu memegang salah satu bintang dari pohon natal. 

“Ibu yang mengajari ini, karena dari kecil ibu tau aku suka ini.”

Rinka lalu bertanya, “memang sebelumnya apa pekerjaan kamu?”

“Aku jadi tour guide di sebuah perusahaan travel. Hingga ada masalah di kantor dan aku harus cabut. Tapi sepertinya ibu pengen aku jadi kaya Aldo, anak dari tanteku yang sekarang jadi dokter spesialis. Karena ibu ngga mengingatku.” 

  Rinka lalu menanggapi dengan, tapi walaupun begitu ibu kamu tetap menyayangi kamu kan. Vincent termenung. Keduanya lalu melanjutkan pernak pernik dalam kediaman. Keesokan harinya, Rinka pamit untuk pergi menjual pernak-perniknya di sebuah taman kota.  Terlihat Irene yang lusuh, menghampiri booth Rinka melihat hiasan natalnya. Irene terkagum dengan hiasan bintangnya. Vincent ternyata di perjalanan menyusul Rinka. Dia terkejut melihat ibunya ada disana dan terdengar ibunya bilang kalau hiasan bintang itu kesukaan anaknya. Saat Vincent mau menghampirinya, Aldo lalu muncul membelikan Irene bintang itu. 

  Irene lalu memeluk Aldo yang disebutnya Vincent. Vincent yang memperhatikan dari jauh lalu pergi. Aldo lalu berbalik membawa Irene pulang. Namun Rinka terlanjur melihat Vincent yang meninggalkan jalanan taman. Rinka memanggil Vincent. Aldo mendengar. Aldo pun melihat kalau Rinka sedang memanggil Vincent yang berlari. Firasat Aldo tidak enak. 

  Sore hari itu, Rinka balik lagi ke booth, ternyata Aldo sudah menunggunya disana. Aldo tanya di mana Vincent sekarang. Aldo menggambarkan Vincent yang dia maksud. Rinka langsung mengerti dan bilang dia kehilangan jejak Vincent. Aldo kemudian bercerita semua pada Rinka. Dia pun mengerti kenapa kemarin malam Vincent cerita kalau dia sudah tidak diingat oleh ibunya. Aldo jadi merasa bersalah. 

  Sementara itu, Hardi mendapatkan kabar dari kantornya Vincent kalau telah diskors dari perusahaan travelnya itu karena melakukan kerugian/kecelakaan kerja, sehingga dia harus membayar sejumlah uang yang cukup besar. Vincent susah untuk dihubungi. Hardi sedih sekaligus kesal, ternyata anaknya menyembunyikan hal ini. Aldo tak lama pulang. Dia telah menemukan Vincent yang telah kerja di toko pernak pernik. Namun Vincent pergi lagi. Sedangkan besok sudah malam natal. Irene lalu muncul di tengah kepanikan, dia ingin bertemu dengan Piping (panggilan kecil Vincent). Mereka semua kaget tapi akhirnya mengikuti Irene. Irene ternyata mengajak semua ke gereja tempat di mana dulu keluarganya berkumpul untuk natal. Vincent sedang membantu persiapan natal di gereja itu. 

“Vincent.”

  Lalu seseorang menyentuh tangannya Ternyata itu adalah Irene. Vincent terkejut melihat ibunya datang sendiri. Vincent lalu bertanya-tanya,

“ibu tersesat lagi? mana Aldo? Talita atau Ayah?

“Ibu hanya ingin bertemu dengan Piping yang sudah dua kali natal tidak datang dan Bintang ini adalah kesukaan Piping.” Vincent melihat bintang itu lalu terharu kemudian memeluk ibunya erat sambil menangis. 

“Vincent minta maaf kalau tidak bisa menjadi apa yang ibunya inginkan dan malah bikin ibu susah. Vincent malu.”

“Piping boleh jadi apapun yang Piping mau, ibu mau Piping bahagia.” 

  Hardi, Talita, disusul Aldo yang membawa Rissa melihat mereka terharu. Semua berhamburan memeluk Vincent. 

“Kenapa sih kamu ngga cerita yang sebenarnya Vin?” 

“Vincent malu kalau pulang dengan keadaan ada utang seperti ini. Sedangkan ayah harus bayar rawat jalan ibu juga.” 

“tidak masalah dengan itu, semua sudah dibayar oleh ayah. Semua pasti ada jalannya Vin.” 

“Terima kasih ayah, maafkan Vincent. Vincent janji akan melunasi utang itu, sambil membantu ayah bayar rawat jalan ibu.” Vincent lalu bertanya kenapa ibu ingat dengannya. 

  Aldo jawab, “tante memang selalu ingat dengan kamu. Masakan kesukaan kamu, barang favoritmu, dan tempat di mana kita berkumpul. Tapi tantetadi ingat kamu sebagai Piping, yang senang bikin pernak pernik natal. Kalau kamu sering berada di dekat tante Irene, tante lama-lama akan melihat Piping jadi Vincent yang tumbuh besar.” Vincent menangis mendengar semua itu dan berjanji akan punya waktu buat ibu supaya tetap ingat pada Vincent. Vincent berterima kasih dengan Aldo yang malah menggantikan posisinya. Semua terharu menyaksikan berkah natal yang menyambut keluarga mereka. Di malam natal itu, semua keluarga berkumpul dan bahagia. Rinka dan beberapa karwayannya yang diundang ke rumah pun sudah selesai menata pohon natal dan segala pernak perniknya. Saat Rinka hendak pulang, Irene menahannya karena Piping senang kalau Rinka disini. Semua tertawa. Rinka dan Vincent hanya saling tatap canggung lalu tersenyum. Mereka semua terlihat bahagia.