Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Al yang Lain 

Chapter 3

"Andin!" Aldebaran melotot. Tak percaya dengan apa yang terjadi tepat di depan matanya.

Andin menghilang di bawah hidungnya! Tubuh istrinya itu terlalap cahaya berwana putih yang sangat menyilaukan, hingga membuat Al menutupi matanya dengan lengan.

"Andin! Andiiiiin!" Kesetanan, Al memanggil Andin dan mengobrak-abrik tempat istrinya menghilang.

Ia tak memedulikan orang-orang yang memandangnya dengan heran.

Al terus berteriak-teriak, memanggil nama Andin.

***

Andin merasa aneh dengan sikap Al yang sangat berlebihan. Al menangis meraung-raung sembari memeluknya erat sekali. Membuat bajunya basah terkena air laut. Al tidak perduli, ia terus mendekap Andin hingga beberapa menit.

Saat ini, Andin tengah berada di dalam kamar resort. Menunggu Al yang sedang membersihkan diri di kamar mandi. Televisi menyala, memberitakan tentang cuaca yang sedang ekstrim dan tidak bisa diprediksi. Namun, Andin tidak konsentrasi pada tayangan berita. Otaknya dipenuhi dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia tidak tahu apa itu, tetapi hati kecilnya merasakan keanehan.

"Sayang, baju kamu basah. Tunggu sebentar. Aku akan belikan. Kamu jangan ke mana-mana. Tunggu di sini, oke?" Al memegang bahu Andin dengan kedua tangannya setelah selesai mandi.

"Aku kan bawa baju banyak, Mas."

"Bajumu hilang semuanya. Mungkin ada pencuri. Hahaha!" Al tertawa garing. "Pokoknya tunggu di sini, ya. Atau kamu mau ikut beli?"

Andin menggeleng sambil merebahkan badan di sofa. "Aku di sini aja, Mas. Capek."

Baru beberapa langkah Al berjalan, Andin pun terlelap. Aldebaran membalikkan badan, ia mendekatkan wajah dan mengecup kening Andin.

"Istirahatlah, Sayang. Kamu pasti lelah." Wajah Al tak bisa dibaca. Tanpa ekspresi.

***

Polisi dan team SAR menyusuri tepi pantai. Mereka mencari Andin yang hilang seperti ditelan Bumi. Hingga dini hari, Andin tidak juga ditemukan. Petugas memutuskan untuk istirahat dan mencari lagi keesokan harinya.

Di dalam pondokan, Al tidak bisa tenang. Otaknya berpikir keras kenapa bisa Andin menghilang di depan kedua matanya.

"Apakah dunia pararel itu nyata?" gumamnya sembari memijit pelipis.

"Andin ... kembalilah, di manapun kamu berada, kembalilah."

***