Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Al yang Lain 

Chapter 5

"Mas Aaaal!" Andin terbangun dengan peluh bercucuran.

Ia melihat Aldebaran tengah memegang jemarinya dengan erat. Sejenak, mereka saling berpandangan. Andin menyadari sesuatu, setelah sekian lama berada di sana.

"Andin, kamu nggak apa-apa, Sayang?" Al hendak memeluk Andin.

"Tidak!"

Entah dapat kekuatan dari mana, Andin bisa berkata-kata lagi. "Jangan ... jangan mendekat."

"Sayang ...."

"Kamu bukan Mas Al. Kembalikan, kembalikan aku kepada Mas Al. Kembalikan ....." Susah payah Andin menggeser tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada ranjang. Lalu ia menangis terisak-isak.

"Andin ...."

"Mas Al ... di mana kamu, Mas? Aku takut di sini ...." Tangis Andin semakin kencang. "Jemput aku, Mas. Jempuuut ...."

Al tidak tega melihat Andin terpuruk seperti itu. Ia pun meningglkan kamar dan membiarkan Andin sendirian.

Di luar, Aldebaran duduk bersandar pada pintu resort. Samar-samar ia mendengar isakan tangis Andin yang membuat jiwanya guncang.

Andin yang ini bukan miliknya. Andin-nya telah lama mati.

Lalu, bagaimana bisa Andin yang ini sampai ke sini?

Bagaimana mungkin?

Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Aldebaran. Ia berniat mencari jawaban saat Andin sudah tenang.

Tiga jam kemudian, Aldebaran masuk ke dalam resort. Andin masih duduk memeluk lutut dengan kedua tangan. Al duduk di kursi, agak jauh dari Andin.

"Ceritakan, bagaimana kamu sampai bisa datang ke sini." Al Membuka percakapan.

Andin mendongak, ia menatap Al dengan matanya yang bengkak. "Aku pikir ini adalah dunia pararel. Kamu mungkin nggak percaya, tapi aku bukanlah Andin-mu."

Al mengangguk. "Ya, aku percaya. Sekarang ceritakan semua, agar kamu bisa kembali ke duniamu dan bersatu lagi bersama Aldebaran-mu."

Cerita meluncur dari bibir Andin. Matanya menerawang mengingat detil-detil ketika ia bisa sampai di dunia ini. Hingga pad akhir cerita, mereka berdua menyebut sebuah kata berbarengan.

"Cincin!"

Andin melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis kanannya. Cincin itu serupa dengan cincin kawin yang dulu pernah diberikan oleh Al. Tetapi ... mata Andin terbelalak saat menyadari sesuatu.

"Mas! Batu permata di cincin kawinku agak besar. Sementara cincin ini lebih kecil."

Al merasakan dadanya seperti tercubit. Ia masih ingin melihat Andin lebih lama lagi.

"Aku tau cara kembali ke duniaku. Aku harus melepas cincin ini," ujar Andin dengan semangat. Ia pun duduk tegak dan menatap Al dengan lembut.

"Makasih buat kebersamaan selama ini, Mas Al. Semoga Mas Al bahagia."

Andin melepas cincin itu perlahan. Dalam sekejap, tubuhnya diselimuti cahaya dan lenyap seketika. Tinggal cincin berlian yang teronggok di atas ranjang.

Dalam angannya, ia melihat Andin tersenyum dalam rengkuhan Aldebaran. Cantik sekali. Seperti bidadari.

"Makasih, Andin. Aku akan meneruskan hidup dengan bahagia."

End.