Try new experience
with our app

INSTALL

Bidadari Kedua 

Prolog

Gemericik air mengalir menimbulkan alunan-alunan alam. Desiran angin malam menerpa bumi pesantren dan seisinya. Langit gelap seakan hendak meruntuhkan jagat. Hanya ada kekuasaan Tuhan. Kekuasaan di mana Sang Pemilik yang memiliki segalanya, termasuk pemilik hati hamba-Nya.


 

Sang Pemilik kehidupan telah menetapkan yang terbaik di antara yang baik untuk hamba-Nya. Sesuatu yang telah pergi dianggap yang terbaik baginya. Mungkinkah Allah akan memudahkan ia untuk membuka hatinya kembali? Entahlah, hatinya kini hanya milik Allah dan seseorang yang telah menantinya di surga. Kalimat-kalimat suci selalu terdengar dari jiwanya yang hampa. Dirinya meyakini, cintanya kepada Rabb akan membawa kebahagiaan yang kekal pada kehidupannya.

Masih sangat melekat dalam ingatannya. Gadis manis bermata madu yang menjadi penakluk pandangannya. Seorang wanita muslimah yang memutuskan untuk menjadi makmumnya. Sepuluh tahun lalu, di tanah kelahiran Nabi Musa ia menjumpai seorang gadis berhati mulia. Semilir angin Subuh Cairo menjadi saksi perjumpaan keduanya. Gunung dan hamparan laut Nuweiba menjadi tempat pertama kali tumbuhnya perasaan fitrah dalam dirinya.

Bagaimana senyumnya, perangainya, suaranya dan kemuliaannya. Semua itu masih terekam dalam ingatannya. Ia hanya dapat mengingat tanpa bisa menyanding. Sebuah jendela kaca yang berukuran 2x3 meter menjadi tempat favoritnya untuk menikmati renungannya. Di mana dari tempatnya berdiri itu, sang bidadari akan selalu memperhatikannya dari kejauhan. Bahkan, sesekali akan mengiriminya sebuah pesan singkat, memintanya untuk pulang karena perasaan halusnya yang membuncah.