Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bidadari Kedua 

Nisa dan Fatimah

"Abi ... !" seru seorang anak kecil telah membuyarkan lamunan masalalunya. Anak itulah yang selama tujuh tahun ini telah menjadi pelipur lara serta pengobat rindu hatinya akan sosok gadis bermata madu yang telah menantinya di surga. Mata bulatnya begitu bening. Wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Hidung mancung, berwajah cantik dengan alis tebal. Ada sedikit kemiripan dengan sang ibu, yaitu dari matanya. Senyumnya begitu manis. Apabila tertawa terdengar sangat renyah. Suaranya begitu lembut. Sang ayah selalu mengingatkan bahwa suara wanita adalah sebuah aurat.

Lelaki yang sejak tadi berdiri termangu menatap hujan lewat jendela kaca kamarnya, kini menoleh kepada sang buah hati. Sebuah senyuman ikhlas tersirat di wajah lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Ia berlutut di hadapan gadis kecilnya seraya memegangi kedua lengan kecil anaknya. "Ada apa, Nak? Mengapa anak Abi belum tidur?" tanyanya seraya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Wajah gadis kecil bernama Nisa nampak murung. Matanya merah seperti menahan kantuk.

"Nisa Ndak bisa tidur, Bi." Nisa memberi jeda ucapannya. "Nisa takut ada petir." Lagi-lagi lelaki itu tersenyum. Ia bimbing sang putri berjalan menuju ke ranjang pribadinya. Anak itu pun naik ke atas ranjang. Sementara sang ayah pun turut merebahkan tubuh di samping bidadari kecilnya. Ia dekap kepala gadisnya hingga ke dada. Kemudian disibakkannya rambut panjang sang putri yang terurai sedikit menutupi wajah cantiknya.

"Mengapa harus takut petir, Nak?"

"Suaranya seram, Bi."

Nisa sama persis seperti ibunya. Dulu, jika awan mendung mulai menggumpal, wanita sholeha itu akan meminta suaminya untuk tetap tinggal di rumah bersamanya. Dan setiap ada kilatan berpendar dari langit, ia akan menutup telinga seraya membenamkan wajahnya ke dalam dekapan sang suami. Lagi-lagi lelaki itu tersenyum kepada putrinya. "Sayang, jangan pernah takut pada suara petir! Karena sesungguhnya suara petir itu bentuk tasbih dari para malaikat penjaga langit."

Nisa seperti tercengang mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana mungkin petir disebut tasbihnya para malaikat. "Abi ini aneh, petir kok disebut suara malaikat! Kata Abi malaikat itu makhluk Allah yang baik. Tapi, banyak sekali orang yang meninggal karena petir." Celoteh Nisa dengan polosnya.

"Kematian itu rahasia Allah, Nak. Ndak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput kita, juga bagaimana caranya ajal itu datang." Ia usap-usap kepala putrinya. Sementara Nisa begitu sangat menikmatinya seraya mendengarkan tausiyah sederhana dari sang ayah. "Bukan petir yang membuat orang meninggal. Tapi sambaran kilatnya yang penuh dengan muatan-muatan energi listrik." Gadis kecilnya mulai merasa tertarik dengan pembahasan mengenai petir.

"Dalam Al-Qur'an, surah Ar ra'd 13 menyebutkan kedahsyatan petir dimaknai umat Islam sebagai bentuk tasbih dari para malaikat penjaga langit. "Dan guruh bertasbih memuji-Nya para malaikat karena takut kepada-Nya." Dengan seksama putri kiyai besar itu mendengarkan ucapan sang ayah. "Jadi, ketika mendengar petir, Nabi SAW mengajarkan sebuah doa Subhanlladzi yusabbihur ro'du bi hamdihi wal mala ikatu min khiifatih."

"Artinya apa, Bi?" tanya Nisa ingin tahu.

"Maha suci Allah yang petir dan malaikat bertasbih dengan memuji-Nya."


 

"Tapi, Nisa tetap takut, Bi!" ucap gadis kecil itu seraya memasang wajah sedikit cemas. Lelaki bercambang tipis itu semakin mendekap erat tubuh putrinya. "Sudah, jangan takut, ada Abi di sini yang akan menemani Nisa." Sejenak ayah dari dua orang putri itu terdiam. "O ya, mengapa Nisa pergi ke kamar Abi? Memangnya Mbak Fatimah ke mana?"

"Mbak Fatimah belum pulang, Bi. Tadi sedang menyimak murojaah Mbak Zulfa di masjid," jawab Nisa seraya menahan kantuknya. Agaknya Nisa sudah mulai terlelap. Lelaki itu segera menyelimuti tubuh putri kecilnya dengan selimut kesayangan almarhumah istrinya. Selimut yang selama tujuh tahun terakhir memberikan kehangatan untuk tiap-tiap malam yang ia lalui tanpa si pemiliknya.

Dipandanginya wajah bocah berusia tujuh tahun yang nampak sangat polos itu. Sesaat menyelinap sebuah kesedihan di hatinya. Mengingat gadis kecilnya tumbuh tanpa belaian tangan seorang ibu. Tak jarang anaknya sering menanyakan kapan bisa bertemu ibunya? Seperti apa wajah ibunya? Walau sebenarnya di kamar itu terpampang foto almarhumah Anna Khairunisa, tetapi Nisa seakan masih penasaran dengan wajah cantik ibunya secara nyata.

Rasanya memang tidak mudah membesarkan dua orang putri sekaligus tanpa bantuan dari peran seorang istri. Namun, dirinya selalu berusaha dengan baik untuk merangkap dua posisi sekaligus dalam rumah tangganya. Peran utamanya sebagai seorang ayah, dan peran keduanya sebagai seorang ibu. Memasak, menyiapkan alat sekolah, yang lazimnya dikerjakan oleh seorang istri dan seorang ibu, ia sendiri yang mengerjakannya. Terlebih tugasnya sebagai seorang pengasuh pondok pesantren, juga turut menjadi kesibukannya.

Dulu sewaktu Nisa baru lahir, ada ibu mertuanya yang senantiasa membantunya mengurus bayi kecil yang hidup tanpa ASI. Namun, semenjak istrinya meninggal itulah sang ibu mertua sering sakit-sakitan. Sepertinya beliau sangat merasa syok dan kehilangan sekali, sehingga membuat kondisi kesehatannya menurun. Sang ayah mertua, juga kakak iparnya, meminta ibu mertuanya untuk pulang saja ke Jogja, ke kampung halamannya. Jika wanita paruh baya itu tetap tinggal dengannya, dikhawatirkan semakin drop, bahkan bisa membuat menantunya semakin bertambah beban.

"Andai Humaira masih ada, mungkin Nisa akan terlelap dalam dekapannya." Sesaat dirinya tersadar. Tidak seharusnya ia menjadi manusia yang suka berandai-andai. " Astagfirullahal'adzim," ucapnya seraya mengusap wajah penuh dengan rasa penyesalan.

*****

Hujan deras sudah mulai reda. Hanya tinggal meninggalkan rintik-rintik kecil yang menetes dan membekas di baju tunik berwarma cokelat susu milik seorang gadis berusia lima belas tahun. Wajahnya cantik, tidak jauh berbeda dari wajah Nisa, adik sepupu yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri.

"Kok, Abi belum tidur, sih?" tanya Fatimah yang baru saja melangkahkan kaki ke beranda rumah. Dipandangnya wajah lelaki dewasa yang selama ini menjadi orang kesayangannya, yang nampak tengah duduk dengan tenang. "Abi menunggu Fatimah pulang. Abi mengkhawatirkan anak gadis Abi," jawab Furqon.

Fatimah, gadis kesayangannya, juga kesayangan almarhumah istrinya. Kini sudah mulai tumbuh menjadi wanita belia. Di usia yang masih muda, gadis itu tumbuh dengan lingkungan yang sehat. Kini kedudukannya di pesantren tidak lagi sebagai santriwati. Melainkan menjadi guru murojaah untuk para santriwati yang masih baru memulai pendidikan di pesantren milik keluarganya.

"Abi … Fatimah kan, hanya pergi ke masjid saja. Mengapa mesti Abi khawatirkan?" tanya gadis berjilbab abu-abu itu seraya melangkah menghampiri ayah sambungnya. "Memangnya salah ya, kalau Abi mengkhawatirkan Fatimah?"

"Abi Ndak salah, kok. Hanya berlebihan saja. Kalau Fatimah pergi keluar pesantren, wajar saja kalau Abi khawatir. Nah ini … Fatimah masih berada di dalam lingkungan pesantren, Bi … " celoteh gadis yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA itu yang memang sedikit bawel.

"Maaf, ya, jika Abi terlalu berlebihan. Tapi, Abi sama sekali Ndak bermaksud untuk mengekang anak gadis Abi ini." Fatimah tersenyum manis kepada ayahnya. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah bersamaan.

*****

Adzan shubuh berkumandang bersaut-sautan di seantero kota Surakarta. Sungguh suara yang sangat menggetarkan kalbu. Membangunkan jiwa-jiwa Islami para manusia beriman. Langit pagi mulai menyapa para penduduk bumi. Fajar mulai tumbuh bercahaya, membuat aliran deras dalam hati seorang lelaki yang memiliki rasa takjub luar biasa akan Dzat yang menciptakannya.

Kalimat Takbiratul ikhram yang ia lafadzkan seperti menggetarkan hatinya. Memuji akan kebesaran Allah di setiap sujudnya. Seluruh jamaah santriwan dan santriwati mengikutinya. Tak terkecuali Fatimah dan Nisa. Kedua gadisnya itu senantiasa patuh kepada setiap titah Tuhannya.

"Bi, Nisa rindu dengan kakek dan nenek," ucap Nisa seraya melangkah pulang dari masjid bergandengan tangan dengan ayahnya. Sementara Fatimah juga turut di sampingnya seraya membawa mukena yang terlipat di pergelangan tangan yang ia tempelkan di depan dadanya. "Iya, Bi. Fatimah juga!" timpalnya.

Lelaki bergalabiyya itu sejenak menghentikan langkahnya. Dirinya tersenyum menatap kedua wajah buah hatinya. "Abi juga rindu dengan mereka. Sabar, ya. Nanti jika sudah ada waktu luang kita akan berkunjung ke Jogja." Keduanya tersenyum seraya mengangguk. Dan ketiganya kembali melangkahkan kaki menuju ke rumah.

*****

"Bi, bukankah sebentar lagi Ammah Hanna pulang, ya?" tanya Fatimah seraya menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya. Tiga porsi nasi goreng dilengkapi dengan telur ceplok mata sapi ia hidangkan di hadapan sang ayah dan sang adik, juga bagiannya.

"O ya? Abi justru Ndak ingat," jawab lelaki yang sedang duduk menikmati kopi racikannya sendiri. Sejak kepergian almarhumah sang istri, lelaki itu selalu meracik kopinya sendiri. Pada awal-awal, Fatimah mencoba untuk meracikkan kopi panas untuk ayahnya. Namun, selalu tidak pernah pas dengan lidah lelaki itu. Itullah sebabnya ia lebih memilih meraciknya sendiri. Walau kopi racikannya memang tidak seenak racikan almarhumah istrinya.

"Iya, Bi." Fatimah menuangkan air putih di gelas yang sudah ia siapkan. "Kan, Ammah Hanna sudah hampir lima tahun, Bi." Mendengar sebuah nama seseorang yang sering disebut-sebut oleh kakaknya, membuat Nisa yang sedang menyantap sarapannya merasa penasaran dengan sosok Hanna. Maklum saja, sang Ammah pergi sejak usia Nisa masih memasuki dua tahun. Jangankan mengenalnya, mengingat seperti apa wajahnya pun ia tak mampu. "Ammah Hanna itu seperti apa sih, Bi?"

Lelaki bergalabiyya abu-abu itu sekejap menggerakkan matanya ke arah kiri atas. Mencoba mengingat kembali seperti apa sosok adik ipar yang sudah sejak lama tak dijumpainya. "Ammah Hanna itu orangnya baik dan cantik. Tubuhnya kecil, suaranya sangat nyaring," sahutnya. "Jangan lupa, Bi. Ammah Hanna itu sangat cerewet. Sering sekali berdebat dengan kakek Rahmad!" timpal Fatimah seraya melempar senyumannya kepada dua orang yang berada di hadapannya.

 "Berarti, Ammah dengan Ummi itu berbeda jauh ya, Bi!" tukas Nisa. Sang ayah hanya tersenyum mendengar celoteh kedua putrinya.