Try new experience
with our app

INSTALL

Bidadari Kedua 

Kerinduan

Hamparan sawah terbentang luas. Banyak sekali orang-orang yang sengaja memanggang diri di bawah teriknya matahari. Tubuh mereka begitu hitam dan bercucuran keringat. Seolah keringat mampu menjadi pupuk bagi tanaman mereka. Seorang laki-laki paruh baya bergelut dengan rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman padinya. Laki-laki bertubuh kecil itu nampak sudah renta. Di wajahnya sudah semakin banyak guratan-guratan bekas lelahnya. Lelah karena kerja keras sejak muda. Seorang ayah yang begitu menyayangi anak-anaknya. Seorang ayah yang selalu senantiasa bangun di tengah malam hanya untuk bersimpuh di hadapan Sang Khalik demi mendoakan kebaikan serta keberhasilan putra dan putrinya.

"Pak Rahmad, mbok sudahan saja to kerjanya! Lihat, tuh, Pak Rahmad sudah mulai kelelahan," ucap Waluyo, teman sekolah Fauzan waktu SD sekaligus tetangga yang sering membantu pekerjaan Pak Rahmad di sawah.

 Laki-laki tua itu masih saja terus bekerja. "Namanya orang bekerja itu pasti Lelah, Wal. Kalau Ndak mau lelah, ya Ndak usah bekerja saja." Tangannya terus bergerak menyiangi rumput liar.

"Pak Rahmad ini suka sekali ngeyel kalau saya nasihati. Padahal, saya itu benar-benar merasa kasihan sama sampeyan," gerutu Waluyo seraya berdiri menghentikan aktivitasnya memandang laki-laki paruh baya itu. "Nanti bisa-bisa saya dimarahi Fauzan, kalau Pak Rahmad sampai kelelahan dan sakit," gerutu Waluyo lagi.

Sejenak Pak Rahmad pun menghentikan aktivitasnya. Ia balik menatap wajah Waluyo. "Memangnya Fauzan pernah memarahimu, Wal?" tanyanya dengan wajah serius.

"Ya Ndak pernah sih, Pak. Tapi … Fauzan kan, sudah pesan ke saya. Kalau Bapak dan Ibunya itu Ndak boleh lelah!" sahut Waluyo menegaskan.

Pak Rahmad kembali melanjutkan pekerjaanya. "Manusia seusia saya ini, kalau menganggur badan justru menjadi sakit, Wal. Apalagi saya ini sudah terbiasa bekerja kasar. Kalau disuruh diam saja di rumah, yo malah nambah loro kabeh awakku, Wal!" celoteh laki-laki yang usianya hampir enam puluh tujuh tahun itu. Sementara Waluyo hanya menggeleng, merasa Pak Rahmad begitu keras kepala tidak mau mendengarkan nasihatnya.

*****

Matahari meninggi tepat di atas kepala. Pendarnya begitu mengkilat menyapa jalanan hitam di depan sebuah rumah. Terasa sepi, tak banyak orang yang berlalu lalang di sana. Pasti lebih banyak yang memilih untuk beristirahat di rumah masing-masing saat cuaca terik.

Sebuah rumah tua yang di halamannya ditumbuhi sebatang pohon jambu air dan juga pohon mangga, kondisinya sudah menjadi jauh lebih baik. Berada di sebuah desa, yang terletak di Kabupaten Sleman. Dulu rumah itu sangatlah rapuh. Namun, sekarang sudah jauh lebih baik. Jika dulu lantainya berupa semen hitam biasa, kini sudah berubah menjadi ubin keramik. Atapnya yang jika hujan sering bocor, kini sudah tidak lagi. Bahkan, sudah dipasang plafon di bagian dalamnya. Rumah tua itu kini menjadi lebih kokoh.

Namun sayang, rumah itu terlihat sangat sepi. Tiada tawa lagi di dalamnya. Rumah itu hanya dihuni oleh sepasang paruh baya tanpa anak dan cucu mereka. Dua orang anaknya memiliki kesibukan masing-masing. Si sulung, Fauzan, kini sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaannya sebagai Kepala Sekolah, terlalu padat jadwal. Si bungsu, Hanna Khairunisa, masih berada di Mesir untuk menyelesaikan program S1-nya di Al Azhar Cairo, Mesir.

Awalnya Hanna ragu meninggalkan kedua orang tuanya. Akan tetapi Fauzan dan Furqon meyakinkannya. Enam tahun yang lalu, tepat setelah satu tahun kepergian Anna. Kedua laki-laki itu duduk bersamaan dengan Hanna di beranda rumah Pak Rahmad. Mata gadis berlesung pipi itu sungguh penuh dengan kesedihan.

"Kalau Hanna pergi, bagaimana dengan Bapak dan Bue, Mas!?" tanyanya sedikit keras, lalu menundukkan wajahnya. "Kan, ada Mas dan Mbakmu, Nduk!" sahut Fauzan menegaskan. Gadis belia yang baru memasuki fase dewasa itu terlihat tidak yakin dengan ucapan sang kakak.

"Apa Mas yakin, Bapak dan Bue Ndak akan merasa sedih jika Hanna pergi? Apa Mas yakin, Mas bisa senantiasa mengunjungi mereka kapan pun mereka minta?" Fauzan terdiam. Ia tak dapat menjawab pertanyaan dari adik bungsunya. Karena ia tahu, orang tuanya pasti sedih jika Hanna jauh dari mereka. Sementara dirinya, jam kerjanya juga penuh. Terlebih ini adalah tahun pertama ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Namun, di hatinya menginginkan sang adik dapat meraih cita-citanya. Apalagi sudah jelas-jelas Hanna telah terdaftar sebagai salah satu peserta untuk pengajuan beasiswa ke Al Azhar, Cairo.

"Apa kamu Ndak ingin mewujudkan keinginan Mbakmu?" tanya Furqon seketika seraya menatap wajah adik iparnya yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Hanna yang sejak tadi menekuri lantai beranda rumah seketika itu lekas mendongak, menoleh ke arah kakak iparnya. "Han, program beasiswa ini jarang sekali diadakan. Mbak Anna menginginkan kamu pergi ke sana untuk meraih cita-citamu," tambah Furqon.

Laki-laki yang tengah sibuk merawat serta membesarkan buah hatinya sendirian itu memang benar. Almarhumah istrinya-lah yang menginginkan sang adik bisa kuliah di Al Azhar. Bahkan, di saat ada informasi pembukaan program beasiswa, tanpa bertanya-tanya dulu kepada Hanna, almarhumah Anna langsung saja mendaftarkan sang adik. Pikirnya ini kesempatan yang langka, dan adiknya pasti akan senang jika bisa merasakan kuliah di tempat yang sama dengannya.

Masih tersirat keraguan di hati pemilik wajah manis itu. "Hanna sudah pernah bilang ke Mbak Anna. Kalau hasrat Hanna untuk kuliah di Mesir sudah Ndak menggebu. Bahkan, jauh dari sebelum Mbak Anna meninggal. Apalagi sekarang … rasanya Hanna semakin berat jika harus meninggalkan Bapak dan Bue," ucapnya lirih.

Furqon tersenyum mendengar ucapan gadis yang memasuki usia tujuh belas tahun itu. Sementara Fauzan masih tetap terdiam. "Han, menurut Mas, alangkah baiknya kamu bicarakan dulu dengan Bapak dan Bue. Kamu tanya kepada mereka, bagaimana pendapat mereka!" Furqon menghentikan ucapannya sejenak seraya menghirup oksigen dan mengembuskan karbondioksida. "Jika Bapak dan Bue Ndak menginginkan kamu pergi, turutilah mereka. Tapi jika Bapak dan Bue ikhlas melepaskanmu, kejarlah cita-citamu. Karena sesungguhnya cita-citamu itu juga merupakan cita-cita Mbak Anna!" tambah Furqon seraya tersenyum.

"Benar apa kata Mas Furqon, Nduk!" timpal Fauzan dengan tegas. "Coba kamu bicara dengan Bapak dan Bue." tambahnya lagi. Sementara Hanna hanya terdiam seraya menatap kedua laki-laki dewasa di hadapannya.

*****

Setelah berhari-hari memikirkan ucapan kakak kandung juga kakak iparnya, Hanna mencoba untuk shalat istikharah guna menentukan pilihan yang terbaik. Di hatinya terjadi pergolakan yang sangat dahsyat. Kuliah ke Al Azhar adalah cita-cita lamanya yang sudah ia urungkan. Namun, mendengar ucapan Furqon yang menegaskan bahwa Anna menaruh harapan besar kepadanya, hati dan pikirannnya menjadi bimbang. Antara kembali mewujudkan cita-cita lamanya, atau mempertahankan kebersamaannya dengan orang tua.

Setelah selesai melakukan shalat istikharah, kebetulan kedua orang tuanya juga baru selesai melaksanakan shalat tahajjud dan witir, Hanna melakukan saran yang diberikan Furqon. Gadis yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 3 SMA, mencoba untuk bicara kepada kedua orang tuanya.

"Bapak pengin anak-anak Bapak itu jadi orang sukses dan bermanfaat bagi orang-orang banyak," ucap Pak Rahmad seraya menatap wajah putri bungsunya. Hanna masih terdiam.

"Nduk, Bapak sering mendengar sebuah pepatah "Uthlubul 'ilma walau bishshiin, Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri Cina." "Dan pepatah itulah yang menjadi pedoman almarhumah Mbakmu, sewaktu masih sekolah dulu." Laki-laki paruh baya itu mengambil napas panjang. "Menurut Bapak, Ndak ada salahnya jika kamu juga memiliki pedoman yang sama dengan almarhumah."

Hanna menatap wajah ayahnya, sesekali menoleh kepada ibunya. Melihat wajah kedua orang tuanya, terpancar aura kesedihan yang berasal dari hatinya. "Jadi, Bapak mengizinkan Hanna untuk pergi ke Mesir?" tanyanya lirih. Sementara sang ayah hanya mengangguk dalam memberikan jawaban.

Gadis belia itu menoleh kepada sang ibunda. "Walaupun Bapak mengizinkan, tapi Hanna juga ingin tahu pendapat dari Bue." Ibu Aisyah masih terdiam. Namun, tak lama sebuah senyuman manis terukir dengan indah di wajahnya. "Bue ingin anak Bue bisa meraih cita-cita. Bue ingin kamu bisa melanjutkan cita-cita Mbakmu," ucapnya lirih.

Mendengar jawaban dari ibunya, membuat Hanna lekas menghambur ke dalam dekapan wanita bermukena warna putih. Ada rasa kebahagiaan sesaat. Terukir senyuman manis dari wajah ketiganya. Sesaat kemudian, Hanna merenggangkan pelukannya. Ia kembali memasang wajah sedih. "Tapi ... kalau Hanna pergi, bagaimana dengan Bapak dan Bue. Siapa yang akan menemani Bue di rumah kalau Bapak pergi ke sawah? Rumah ini juga pasti akan sepi. Ndak ada yang berdebat lagi," ucapnya sedikit konyol. 

"Kamu ini aneh, Nduk. Kok ya sampai mikir segitunya. Bapak dan Bue, kan, punya banyak tetangga. Ada pesantren juga. Jadi Ndak bakalan kesepian!" sahut Pak Rahmad menegaskan.

Setelah mendapatkan jawaban dari kedua orang tuanya, menurutnya ini juga merupakan jawaban dari istikharahnya. Hanna mulai melangkahkan kaki keluar rumah dengan semangat mengurus proses program beasiswa miliknya yang didaftarkan oleh almarhumah kakak perempuannya. Semua prosedur ia jalani dengan diiringi doa oleh kedua orang tuanya. Hingga akhirnya ia pun terbang ke Mesir untuk menjalani Pendidikan kuliahnya di Fakultas Dirasat Islamiyah, Cairo, Mesir.

Setelah kepergian Hanna, hari-hari Pak Rahmad dan Ibu Aisyah berubah. Jika siang hari Pak Rahmad pergi ke sawah, sedangkan Ibu Aisyah menggantikan pekerjaan suaminya membersihkan pesantren. Terkadang ada juga tugas tambahan bila dirinya dibutuhkan untuk membantu Bu Hajjah Maemunah di rumahnya. Aktivitas itu mereka pergunakan untuk membuang pikiran penat setelah kepergian Hanna. Terlebih bagi wanita paruh baya itu. Semenjak Anna meninggal, ia lebih sering sakit-sakitan karena terlalu banyak pikiran. Maka dari itu, semenjak putri bungsunya pergi ke Mesir, ia selalu mencari kesibukan. Jika malam hari tiba, keduanya akan saling bercerita dan berkeluh-kesah, saling mencurahkan perasan. Terutama perasaan rindu kepada putra-putri mereka, juga cucu-cucu mereka. Sesekali putra sulungnya akan datang menjenguk mereka membawa keluarga kecilnya. Begitu juga dengan menantu laki-laki mereka, akan datang membawa kedua putrinya.

*****

Lima tahun telah berlalu. Kini ada secercah harapan yang mereka inginkan. Berkumpul kembali dengan putri bungsu mereka, yang entah kapan akan tiba waktu kepulangannya. Seorang wanita paruh baya duduk di beranda seraya menunggu suaminya pulang dari sawah. Wajah wanita itu nampak lesu. Tak ada senyum di wajahnya. Langit yang nampak mendung gelap membuatnya gelisah dan cemas.

Tak berapa lama kemudian, nampak seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan baju surjan warna kombinasi cokelat dan hitam yang dipadupadankan dengan celana panjang komprang berwarna hitam, serta blangkon yang merupakan ciri khas lelaki Jawa, dengan mengendarai sepeda onthelnya, datang.

"Assalamu'alaikum!" seru Pak Rahmad seraya melangkahkan kaki di beranda rumah.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ibu Aisyah seraya mencium punggung tangan suaminya dengan ta'zhim.

Pak Rahmad lekas duduk di sebuah ranjang kecil yang biasa digunakannya untuk beristirahat. Sementara Ibu Aisyah menuangkan air minum dari teko yang sudah ia sediakan di meja dan lekas memberikannya kepada sang suami. Pak Rahmad segera meneguk air minum itu.

Nampak jelas olehnya wajah sang istri yang begitu murung. "Ada apa to, Bue? Kok, kelihatannya Bue itu murung sekali," tanyanya setelah meneguk air minum.

"Kira-kira kapan Nduk Hanna akan pulang ya, Pak? Bue sudah Ndak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Ibu Aisyah dengan mata berkaca-kaca.

Pak Rahmad dapat memaklumi sekali bagaimana perasaan istrinya. Karena dirinya pun turut merasakan hal yang sama. Rasa rindu yang tiada tara. Terlebih semenjak kepergian Hanna mereka jarang dapat berkomunikasi dengan gadis cantik itu. Tentu saja karena pekerjaan Fauzan yang terlalu sibuk.

"Sabar saja, Bue. Bapak yakin, Ndak lama lagi Nduk Hanna pasti pulang." Hanya itu yang dapat ia katakan kepada istrinya. Sementara Ibu Aisyah masih terdiam dengan pandangan kosong di matanya, menahan lara, rasa rindu yang membuncah dalam relung kalbunya.