Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Bidadari Kedua 

Keinginan dan Kabar

Langit malam begitu indah dengan bintang yang berpendar. Rembulan tampak malu mengeluarkan wajahnya yang bulat, menandakan purnama belum datang. Sayup-sayup terdengar suara indah dengan sebuah ketartilan. Suara menyebut kalimat-kalimat Allah yang membuat hati para pendengarnya seolah bergetar. Suara dari seorang lelaki yang penuh dengan kewibawaan juga kharismatik. Bahkan, kewibawaan dirinya selalu terpancar berkat setiap sisi aspek yang dimilikinya.

Malam itu adalah malam jum'at. Malam di mana kegiatan seluruh penghuni pesantren melakukan Dzikir dan doa bersama. Kegitan itu dilaksanakan bakda shalat isya dan akan dihadiri oleh seluruh santriwan dan santriwati juga ustadz serta ustadzah yang mengajar di pesantren milik kiyai muda itu. Semua peserta majelis dzikir melafadzkan lafadz-lafadz Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir dibaca penuh dengan penghayatan. Lalu, mereka juga akan membacakan lafadz dzikir yang berisi Asmaul Husna, shalawat kepada Nabi Muhammad saw, doa-doa pilihan dan surat-surat pilihan yang memang sunnah dan dianjurkan dibaca pada malam Jum'at. Dan sang pemimpin doa, sebelum melakukan dzikir akan meminta para santri dan agar terlebih dahulu mendoakan pimpinan pondok pesantren beserta staf pengajarnya. Dan tak lupa pula mendoakan orang tua masing-masing serta keluarga yang telah tiada, juga mendoakan untuk kesuksesan di dalam proses belajar. Malam itu semuanya begitu sangat khusyuk, tak terkecuali Furqon Al Khudzaefi.


Lelaki yang kini sudah resmi menduda selama tujuh tahun itu, walaupun usianya semakin tahun semakin dewasa, tetapi pesonanya sama sekali tak berkurang sedikitpun. Masih sama seperti dahulu, wajah Arabnya masih sangat memesona para gadis yang melihatnya. Terutama para santriwatinya. Banyak di antara gadis-gadis itu yang berharap bisa menggantikan kedudukan almarhumah istrinya. Namun sayang, kenyataannya hingga detik ini belum ada satupun gadis yang dapat menaklukkan hatinya seperti Anna Khairunisa.

Pesona gadis asal Jogja itu hingga kini masih menjadi yang paling utama di hati pria bergalabiyya itu. Bahkan, rasa cintanya masih terus bersemi apabila ia memandang wajah putri kecilnya. Anak kecil itu seolah selalu mengingatkannya akan sosok wanita sholeha yang telah tiada.

Waktu pengajian rutin telah usai. Para jamaah telah berhamburan keluar dari dalam masjid. Furqon bersama seorang pria berkacamata menjadi orang yang paling terakhir berada di dalam masjid. Keduanya duduk seraya berbincang di belakang mihrab. Lelaki berkacamata itu tak lain dan tak bukan adalah Akmal. Tetangga sekaligus sahabat bagi Furqon. Malam itu mereka membahas mengenai kehidupan yang sedang mereka berdua jalani. Setelah delapan tahun menjalani biduk rumah tangga, Akmal dan Laila belum juga dikaruniai keturunan. Keduanya sudah melakukan berbagai macam hal pemeriksaan medis. Menurut dokter sesialis kebidanan, tidak ada masalah pada organ reproduksi keduanya. Mereka semua benar-benar sehat.

"Sabar saja, Dokter. Mungkin Allah memang masih menginginkan Dokter Akmal dan Ustadzah Laila menikmati masa-masa berdua dulu," ucap Furqon seraya tersenyum menatap wajah sahabatnya. "Banyak berdoa, semoga Allah segera mengabulkan!" tambahnya.

"Kalau saya, sih, insyaa Allah akan selalu sabar. Tapi ... " Akmal tidak melanjutkan ucapannya. Wajahnya sedikit murung. Pandangan matanya pun nampak kosong. Memunculkan sebuah rasa penasaran di hati Kiyai berturban hitam yang duduk menyudut di sampingnya. "Tapi mengapa, Dok?"

"Terkadang saya melihat istri saya menangis sendirian di kamar. Terlebih jika dirinya sedang berdoa," ucap Akmal lirih. "Ia selalu memohon kepada Allah agar segera dikabulkan keinginannya untuk memiliki keturunan." Seketika lelaki yang mengenakan baju koko warna merah hati serta celana panjang dan kopiah hitam itu menoleh kepada Furqon.

"Allah hanya ingin menguji kesabaran kalian berdua. Jika sudah menjalani pemeriksaan dan hasilnya bagus, Insyaa Allah doa Dokter Akmal dan Ustadzah Laila akan dikabulkan, entah kapan waktunya. Percayalah, ketentuan Allah adalah yang terbaik." Sejenak Furqon memberi jeda ucapannya. "Kalau boleh ... Saya ingin memberikan saran untuk kalian berdua."

"Saran apa itu, Pak Kiyai?"

"Mengapa Dokter Akmal dan Ustadzah Laila Ndak mengadopsi anak saja?"

Sekejap Akmal terkejut mendengar saran dari Furqon. Selama ini tak pernah terpikir di benaknya untuk melakukan saran dari sahabatnya itu. "Mengadopsi?" tanyanya seraya mata sedikit melotot.

Furqon mengangguk. "Iya, mengadopsi."

"Apa istri saya mau?"

"Mengapa tidak? Barangkali ini bisa menjadi jalan dikabulkannya doa kalian. Walaupun anak adopsi itu tidak lahir dari rahim sendiri, setidaknya anak itu lahir dari hati orang tua angkatnya!" ucap Furqon meyakinkan. "Ndak sedikit juga. Banyak di luaran sana orang-orang yang mau mengurus anak orang lain dengan ikhlas, pada akhirnya mereka bisa memiliki keturunannya sendiri," lanjutnya lagi.

"Saya akan mencoba bicarakan saran dari Pak Kiyai dengan istri saya." Akmal nampak tersenyum begitu juga sebaliknya dengan Furqon. "Lalu, bagaimana dengan Pak Kiyai sendiri?" tanya Akmal seketika membuat Furqon tak mengerti maksud akan pertanyaannya.

"Bagaimana apanya, Dok?"

Akmal menarik kedua sudut bibirnya. "Apalagi kalau bukan tentang masa depan Pak Kiyai!" ujarnya.

Suasana menjadi hening. Kedua lelaki itu saling melempar pandang. Hanya napas yang terdengar sayup dari keduanya. "Masa depan yang bagaimana lagi?" tanya Furqon seraya tersenyum manis.

"Apa Pak Kiyai tidak ingin membangun sebuah rumah tangga lagi?" tanya Akmal yang seolah main tembak saja kepada Furqon.

"Owalah soal itu, to!" Lelaki itu kembali tersenyum. "Saya sama sekali belum punya pikiran seperti itu, Dok."

"Kalau Pak Kiyai berkata belum, itu artinya nantinya akan tetap memikirkan rumah tangga lagi, kan?"

"Lalu, saya harus berkata apa? Saya hanya manusia biasa yang menjalankan titah Tuhan. Kalau saya berkata Ndak, artinya saya mendahului ketetapan Allah. Iya kalau saya benar Ndak menikah lagi. Kalau seandainya Allah menghendaki saya untuk menikah lagi, bagaimana? Apa Ndak sama saja artinya saya ini adalah orang yang munafik. Di awal saya Ndak mau menikah lagi, tapi ujung-ujungnya justru lain," jawab Furqon dengan nada lembutnya.

Akmal merasa bangga atas jawaban dari Furqon. "Masyaa Allah ... Pemikiran yang sungguh bagus!" ucapnya. "Lalu, mengapa sampai saat ini Pak Kiyai belum menikah lagi?" Lagi-lagi Akmal to the point saja dalam memberikan pertanyaan. Ini memang salah satu sifat utamanya. Lelaki berperawakan tinggi dengan rambut belah tengahnya memang tidak suka dengan sesuatu yang bertele-tele. Sama seperti ketika dirinya mengkhitbah Laila.

"Menikah itu mudah, tapi untuk menjalankannya butuh pemikiran yang matang. Dulu ... bagi saya almarhumah itu sosok istri yang sempurna. Jauh sebelum saya menikahi beliau, Allah sudah mengirim petunjuk baik kepada saya. Dan jika sampai saat ini saya masih sendiri, itu juga karena Allah yang belum memberikan saya petunjuk baik lagi," jawab Furqon dengan tenang.

*****

Tujuh tahun setelah kepergian almarhumah Anna, banyak sekali perubahan yang terjadi. Fauzan dan Amira yang dulunya menempati rumah peninggalan dari orang tua Amira, kini mereka sudah tak tinggal di sana lagi. Keduanya sudah membeli rumah yang kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Rumah itu tidak jauh dari tempat Fauzan mengajar. Kedua anak kembar mereka pun, sekarang sudah besar. Si kembar sudah berusia lima belas tahun, dan mereka berdua lebih memilih untuk nyantri di Jawa timur. Sehingga nasib Fauzan dan Amira pun sama persis dengan kedua orang tua mereka. Hidup berdua saja di rumah. Namun, Amira memiliki kesibukan tersendiri. Fauzan memberinya modal untuk buka usaha toko kecil-kecilan di rumah. Toko Amira layaknya seperti minimarket kecil yang menyediakan aneka jajanan ringan, sembako, isi ulang air minum, dan ATK.

Walaupun hanya usaha rumahan biasa, tetapi toko Amira sangat banyak pelanggannya. Amira juga mempekerjakan dua orang perempuan. Satu untuk membantu bersih-bersih rumah dan memasak, dan yang satunya lagi untuk membantunya di toko. Khusus untuk air minum isi ulang, dirinya sudah memiliki pelanggan mingguan. Jadi, setiap hari minggu Fauzan yang akan mengantarkan galon-galon itu ke rumah konsumen.

Siang itu, selepas shalat dzuhur Amira merapikan lemari ATK yang berantakan karena ulah anak-anak sekolah yang kurang rajin ketika memilah dan memilih ATK yang ingin dibeli. Dengan cekatan wanita berjilbab cokelat bertali belakang itu menata buku-buku serta peralatan yang lainnya. Tiba-tiba saja, telepon genggamnya bernada notifikasi. Menandakan ada pesan whatsapp masuk. Lekas dibukanya pesan itu. Tersungging sebuah senyuman manis di sudut bibirnya ketika membaca pesan yang diterimanya. Dirinya pun lekas membalas pesan whatsapp itu dengan hati gembira.

*****

Matahari mulai bergeser ke ufuk barat. Langit senja telah tiba dengan semburat berwarna jingga, menandakan mega mulai menyapa dunia. Terdengar langkah kaki seorang gadis memasuki rumah dengan hentakan yang cukup keras dari alas kakinya. Seketika itu lelaki dewasa yang sedang duduk di ruang tamu seraya membaca sebuah buku terkejut atas kedatangan sang putri sulung.

"Astaghfirullahal'adzim," ucap Furqon seraya mengelus dada lalu menutup buku bacaannya.

Fatimah, gadis berjilbab putih yang mengenakan baju terusan baby terry berwarna hijau muda polos, melemparkan tasnya dan lekas duduk di kursi berseberangan dengan ayahnya sambil bersedekap. Wajahnya begitu terlihat kesal. Bibir mungilnya mencebik seraya mengembuskan napas kasarnya. Entah apa yang dialaminya hari ini. Yang diketahui Furqon, tadi selepas shalat dzuhur gadisnya itu berpamitan ingin pergi ke Mall dengan teman-teman sekolahnya.

"Ada apa, Fatimah?” tanya Furqon. “Masuk ke dalam rumah bukannnya mengucap salam justru mengagetkan Abi," Furqon merasa penasaran atas sikap kasar putrinya.

Fatimah menarik badannya ke arah depan. Diraihnya tangan kanan sang ayah dan mencium punggung tangan itu dengan ta'zhim seraya mengucap salam. Dan lelaki itu pun menjawab salam santun dari putrinya. Sementara gadis belia itu pun kembali duduk seraya menatap wajah Furqon.

"Fatimah kesal dengan teman-teman, Bi!" 

"Mengapa kesal? Coba ceritakan ke Abi!" pinta Furqon.

Sejenak Fatimah terdiam. Ditatapnya wajah sang ayah yang tampan itu dengan sorot mata yang dalam penuh arti. Sementara Furqon justru semakin heran atas sikap gadis yang sudah menjadi seorang hafidzah di usia yang masih relative muda sekali. "Mengapa, sih, Bi, teman-teman Fatimah itu jika sedang berkumpul bersama selalu membicarakan tentang Abi?" ucapnya kemudian.

Furqon meletakkan bukunya di atas meja di hadapannya. Sejenak ia menarik napasnya dan tersenyum kepada Fatimah. "Memangnya, teman-teman Fatimah membicarakan apa tentang Abi?" 

"Mereka terlalu memuji ketampanan Abi. Mereka bilang, Abi belum pantas memiliki anak sebesar Fatimah, apalagi memiliki dua orang anak. Abi lebih pantasnya menjadi kakaknya Fatimah ketimbang menjadinya Abinya Fatimah!" ujar Fatimah menceritakan kekesalannya dengan nada sedikit ketus.

Furqon menarik badannya ke depan. Sikunya bertumpu pada kedua lutut. Lalu, ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya beristighfar dengan pelan. Terkadang dirinya merasa bersalah atas ketampanan wajah yang dimilikinya, membuat dosa para kaum Hawa yang mengaguminya dengan cara berlebihan. Namun, jika dikembalikan kepada kodrat, wajah tampan yang dimilikinya adalah pemberian Allah, bukan dirinya yang meminta. Dan selama ini, yang mampu melihat Furqon dari sisi hatinya hanya almarhumah istrinya, yaitu Anna Khairunisa.

Ya, ketampanan lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu memang tidak luntur termakan usia. Sungguh benar yang dikatakan oleh teman-teman Fatimah. Furqon memang belum pantas jika dianggap memiliki anak sebesar Fatimah. Karena sesungguhnya Furqon memang baru memiliki anak berusia tujuh tahun. Dan Fatimah hanyalah keponakannya.

"Lalu, Abi harus bagaimana? Apa perlu Abi operasi plastik menjadi buruk rupa saja. Agar teman-teman Fatimah Ndak membicarakan Abi lagi!" ucap Furqon sedikit bergurau.

Agaknya gadis yang mengenakan softlens berwarna biru itu sedang tidak berminat untuk bergurau. "Ih … Abi apaan, sih!? Ndak lucu tahu, Bi!"

"Ya habisnya Fatimah marah-marah, sih," sahut Furqon seraya mengambil kembali buku yang sebelumnya sudah diletakkannya di meja.

Fatimah merapikan duduknya. Sejenak ia mengatur napasnya. Lalu kembali memulai pembicaraan dengan ayahnya dalam kondisi lebih tenang. "Bi … " Fatimah tak melanjutkan ucapannya. Agaknya ia sedikit ragu.

"Hmm … ada apa?" tanya Furqon yang kini sudah kembali ke posisi semula, duduk bersandar dengan kaki kanan bertumpu di atas paha kaki kirinya seraya kembali membaca bukunya.

"Abi mengapa Ndak menikah lagi saja, sih?" tanya Fatimah pelan penuh dengan kehati-hatian lantaran tidak ingin menyinggung perasaan lelaki yang diajak bicara olehnya.

Namun, ternyata ucapan Fatimah yang terdengar begitu lirih justru sontak membuat Furqon terkejut. Ia lekas menutup kembali buku bacaannya. Sementara Fatimah, di hatinya ada sedikit rasa ketakutan, khawatir sang ayah akan marah kepadanya, dan menganggapnya sudah bertindak serta berucap kurang sopan.

Lelaki itu kembali menatap wajah anak gadisnya dengan sorot mata yang dalam. Ada seulas senyuman terpancar dari sudut bibirnya. Namun, kemudian menghilang kembali. Digantikan oleh sebuah pertanyaan darinya. "Memangnya Fatimah ikhlas jika Abi menikah lagi?"

Kini justru Fatimah yang dibuat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan ayahnya. "Ya ampun, Bi. Kok, Abi bertanyanya seperti itu, sih? Tentu saja Fatimah ikhlas, Bi. Kalau Fatimah Ndak ikhlas, untuk apa Fatimah meminta Abi menikah lagi!" jawabnya dengan semangat.

"Maaf, Abi belum sanggup, Nak!" jawab Furqon singkat, lalu beranjak bangun meninggalkan Fatimah sendiri di ruang tamu.

Fatimah terdiam dan tertegun memperhatikan punggung ayahnya pergi menghilang di balik pintu ruang kerjanya.. Wajahnya mulai memancarkan kesedihan. Kesedihan itu bukan karena Furqon menolak keinginannya. Melainkan karena dirinya mengetahui, bahwa ayahnya itu masih belum dapat melupakan almarhumah ibunya Nisa.

*****

Rindu, sebuah kata yang tepat untuk mewakilkan perasaan dari seorang ibu yang telah berpisah lama dari buah hatinya. Rasa itu begitu menyiksa batinnya selama hampir lima tahun. Setiap malam ia sulit memejamkan matanya untuk terlelap dalam tidur. Dipandanginya bulan dan bintang dari balik jendela kaca. Berharap sang putri turut merasakan perasaan yang sama dengannya.

Malam itu sepasang paruh baya duduk di sudut ruang tamu yang ukurannya tidak terlalu besar dengan beralaskan sebuah permadani. Di sana mereka ditemani oleh putra sulungnya yang tampan dan berwibawa mengenakan baju koko putih, beserta menantunya yang cantik dan anggun mengenakan hijab berwarna merah marun. Kedatangan mereka kali ini membawa secercah harapan indah. Sebuah kabar menggembirakan mereka bawakan untuk kedua orang paruh baya itu.

"Kamu Ndak bohong kan, Nak?" tanya Ibu Aisyah seraya menatap wajah putranya.

"Iya, Bue …! Tadi siang Amira yang menerima pesan dari Nduk Hanna," jawab Fauzan meyakinkan ibunya.

"Apa benar itu, Nduk?" tanya Ibu Aisyah seraya menoleh kepada menantunya yang duduk berdampingan dengannya, tepat di samping kirinya. Wajah wanita tua itu masih menampilkan ekspresi kurang percayanya.

"Inggih, Bue," jawab Amira seraya mengangguk dan tersenyum. "Kalau Bue masih belum yakin, Amira masih menyimpan pesannya kok, Bue," lanjutnya. Kemudian wanita yang berusia tiga puluh lima tahun itu mengambil telepon genggam dari dalam tasnya yang sejak tadi ia letakkan di samping kirinya. Amira berniat memperlihatkan pesan whatsaap yang dikirim Hanna tadi siang kepada kedua mertuanya, tapi ayah mertuanya menolak.

"Sudah, Nduk. Untuk apa kamu mengeluarkan handphone-mu itu. Bapak dan Bue juga Ndak bisa membaca!" ucap Pak Rahmad.

"Kalau begitu, biar Amira bacakan ya, Pak!" ujar Amira.

Assalamu'alaikum, Mbak. Apa kabarnya? Semoga semua keluarga di Indonesia dalam keadaan sehat wal afiat. Alhamdulillah, Hanna di Cairo juga sehat dan Ndak kurang suatu apa pun. Kuliah Hanna juga Alhamdulillah sudah selesai, Mbak. Hanna sangat rindu dengan semuanya. Hanna ingin segera pulang ke Indonesia. Insyaa Allah, kalau Ndak ada halangan sepuluh hari lagi Hanna berniat pulang. Tapi, sebelum sampai di Indonesia, Hanna mau mampir dulu di Malaysia. Mengunjungi rumah sahabat Hanna yang selama ini tinggal bersama Hanna di asrama. Tolong sampaikan kabar ini ke Bapak dan Bue ya, Mbak. Titip salam rindu untuk mereka. Wassalamu'alaikum.

Tersirat rona bahagia di wajah Pak Rahmad dan istrinya. Ibu Aisyah begitu merasa sangat terharu setelah Amira membacakan pesan dari putri bungsunya. Sepertinya ia semakin tidak sabar ingin segera bertemu dan berkumpul dengan Hanna Khairunisa.