Save data, watch films offline
with our app

INSTALL

Akulah Mantan 

Chapter II: Hari-hari Menjadi Mantan

  Hari itu, Mantan dan dua orang siswa lainnya yaitu Medy dan Irza berdiri didepan tiang bendera sambil memberi hormat. Selama setengah jam mereka tidak boleh menurunkan tangannya sebagai hukuman karena telatnya. Guru  yang bertugas dalam ketertiban siswa mengawasi mereka hingga dia melihat kotak kue cucur yang berada di atas tas milik Mantan. 

“Kamu jualan kue?” 

“Iya pak, saya harusnya antar ini dulu ke toko kue dekat sekolah tapi karena telat, saya ke sekolah dulu.” 

“Kue apa yang kamu jual?” 

“Cucur, Pak.” 

Medy dan Irza yang mendengar itu pun menahan tawa. Guru itu langsung mendelik ke dua orang itu. Mereka pun terdiam. 

“Lain kali utamakan sekolah, kamu kan bisa menitipkan ini ke keluarga kamu. Kamu siswa yang dapat beasiswa, jadi sebaiknya bersikap lebih baik supaya tidak menurunkan prestasi kamu, Tan.” 

Mantan hanya menghela nafas, “Baik Pak. Saya usahakan.” 

***

Lonceng sekolah berbunyi tanda waktu istirahat. Mantan menatap kotak kue cucur yang berada di sebelahnya. Mantan pun akhirnya coba bawa kotak itu ke kantin berharap bisa dijual di kantin. 

  Di koridor sekolah, siswa-siswa lain melihat Mantan yang kali itu begitu lusuh, dan sebenarnya beberapa hari lalu karena harus mengantar cucur kemana-mana, penampilannya jadi sangat lusuh. Hingga Medy dan Irza yang tadi dihukum bersamanya jalan bersama teman-temannya, termasuk salah satu ketua osis yaitu Lazuardi. 

“Gaes! Sekarang Mantan jualan cucur!” Medy berteriak yang sebenarnya agak membully. 

Mantan dengan polosnya berhenti karena siapa tau teman-temannya itu mau beli kue cucur. Dia membuka kotak cucurnya dan menawarkan kue cucur itu pada teman-temannya. 

“Kalian mau kue cucurnya? seribu lima ratus aja.” 

Semua teman-teman yang melihat Mantan menawarkan kue cucur itu terdiam sejenak. Hingga beberapa hitungan detik, semuanya menertawai Mantan. 

  “HAHAHAHAHA...Huuu Mantan Cucur ge-eran banget sih!” Medy dan Irza meneriaki Mantan dan membuat teman-teman yang lain menertawakan Mantan. Mereka berlarian ke sekitar Mantan hingga kotak kue cucurnya agak tersenggol dan beberapa kue cucurnya terjatuh. 

  Mantan menunduk sedih tapi dia berlalu saja karena hal itu sudah biasa. Nama Mantan menjadi sesuatu yang selalu digunjingkan oleh teman-teman namun Tuhan Maha Adil. Mantan tidak mengambil cucur yang jatuh dan hanya menghela nafas kemudian menutup kotak itu dengan muka pasrah. Hingga Lazuardi  membantunya karena tidak tega. 

“Ngga usah, kecuali kamu mau beli kue cucurnya.” Mantan kesal dan malah menantang Lazuardi. Lazuardi terdiam karena kaget. 

“Ngga mampu?” Mantan tambah kesal dengan terdiamnya Lazuardi. Mantan langsung kesal dan pergi dari situ. 

“Sini saya beli semuanya.” Lazuardi langsung berubah pikiran. 

Mantan kemudian membalik kembali dan membuka kotak kue cucurnya. Dia mau membungkuskan semuanya. 

“Ngga usah, kotaknya saya beli juga.” 

“Oke. Kotaknya dua puluh ribu ditambah kue cucurnya sepuluh jadi tiga puluh lima ribu.” 

“Yang tadi jatuh juga saya beli.” 

“Oh kamu cukup kaya juga. Yaudah itu ada lima yang jatuh.” 

Lazuardi memberikan lima puluh ribu, “Ambil saja semuanya.” 

“Terima kasih.” 

Mantan melenggang biasa dan mau berlalu dari sini. 

“Maafin teman-teman saya, jangan dimasukkan ke dalam hati.” 

Mantan hanya terdiam sejenak dan jalan lagi. Karena itu sudah biasa dan dia tidak ingin menghiraukan. Padahal rasanya tetap menyakitkan. 

***

  Mantan masuk rumahnya lalu terdengar suara piring yang pecah disusul pertengkaran Arsi dan juga Jaia. Gigi kemudian berlarian keluar. Lalu Mantan langsung menyambut dan memeluknya. Gigi terlihat ketakutan. 

hingga terlihat Arsi jatuh ke bawah. Mantan langsung membantu Arsi juga. Mantan sangat marah karena perlakuan Jaia pada Arsi. 

“Mang, ceraikan bibi. Ngga usah datang ke rumah lagi! Apalagi bikin pusing!” 

“Memang itu yang saya inginkan! Tapi bibi kamu ngga mau terima uang dari saya, padahal buat anak-anak.” 

“Saya memang ngga mau terima uang itu, itu pasti dari wanita itu supaya saya ngga ganggu kamu lagi! Tenang aja, saya ngga akan ganggu!” Arsi marah sambil menahan sakit di perutnya. 

“Udah mang, pergi aja!” Mantan mendekap bibinya karena kasihan. 

  Jaia pun mengambil barangnya dan pergi. Arsi menangis, begitu juga Gigi yang ketakutan. Mantan melihat ini sangat miris karena dia langsung berpikir kalau ini semua akan menjadi bebannya kelak, tapi dia sangat menyayangi Arsi dan juga Gigi. 

***