Try new experience
with our app

INSTALL

Protes Tokek kepada Pohon Pisang 

Part 1

  Sebuah Cerpen   PROTES SANG TOKEK Kepada POHON PISANG RAKSASA Penulis Teguh Santoso   Harusnya hanya didalam dongeng keajaiban itu ada. Implementasi dongeng mampu menyiratkan filosofi tertentu. Sekalipun kita tidak hidup di dunia dongeng. Namun sebenarnya kita itu dongeng itu sendiri. Suratan takdir hidup manusia itu lekat dengan filosofi dalam alurnya. Apapun itu kejadiannya. Demikian tulisan si pemburu ulung itu pada foto kekasihnya yang terbingkai di meja kosnya. Setidaknya itu yang menjadi daya tarik Pak RT Kali Loji saat mengunjungi kamar kos warganya yang tidak pernah kembali lagi. Seingat Pak RT, ini semua diawali hebohnya Pohon Pisang raksasa yang tumbuh semakin tinggi dan besar. Secara biologi tidak mungkin bisa terjadi. Apapun penyebabnya. Namun segala cerita yang didengar memang aneh. Beberapa kali buah pohon pisang raksasa itu dipetik warga juga masih tetap bisa tumbuh lagi dan terus berbuah. Setiap usai dipetik justru tambah lebih enak rasanya. Ini tergolong Pisang Emas katanya. Tapi semakin tumbuh tinggi menjadi seperti Pisang Raja. Buah pisangnya tambah besar dan memanjang. Jantung pohon pisang itu, juga sedap kalau dimasak sayur lodeh. Begitu aku beberapa warga yang pernah mencobanya. Daun-daunnya juga sering dipetiki penjual nasi liwet untuk dagangan. Berapa kalipun dipetik cepat tumbuh dan kian banyak. Bahkan pengakuan dari pedagang nasi liwet itu daunnya tidak mudah sobek. Seratnya begitu padat dan pekat. 

  Anehnya kulit batangnya semakin mengeras. Beberapa warga miskin yang rumahnya bocor di saat hujan. Mereka selalu kelupasi sisi kulit batang pohon pisang itu untuk menutup genteng rumahnya yang bocor. Alhasil tidak pernah bocor lagi. Sampai akhirnya semakin tinggi.  Kalau mau memetik daun maupun buah pisang itu harus menggunakan tangga yang cukup panjang. Kelelawar yang penciumannya 40 kilometer terhadap buah yang matang, justru lebih suka mencicipi buah pisang itu daripada buah lainnya. Ini aneh dalam sejarah perkelelawaran. Mereka lebih mengidolakan buah pisang pohon raksasa itu ketimbang pohon buah lainnya. Daun-daun pisang yang panjang dan lebar itu pun berjatuhan kala mengering. Klaras atau daun pisang kering yang besar, lebar dan panjang itu pun, kalau digunakan landasan rangka genting tidak akan bocor rumahnya. Bagaimana tidak, klaras itu kerasnya menjadi semacam melamin plastik yang elastis. Yang paling aneh. Apabila musim hujan semua air mengalir ke pohon pisang raksasa itu. Meresap hingga abis. Sehingga kampung-kampung disekitarnya tidak pernah banjir lagi. Sewaktu setinggi pohon kelapa. Pohon itu sering didatangi orang-orang dari berbagai pelosok negeri ini. 

  Ada yang sekedar foto-foto di pohon pisang itu.  Ada yang membawa segala macam sesaji untuk persembahan. Dari yang minta naik jabatan, yang dagangannya supaya laris, sampai ada yang minta dimudahkan jodohnya dan banyak macam-macam permintaan dipanjatkan disitu. Secara kebetulan sebagian besar permintaan itu terwujud. Semakin ramailah tempat itu. Apalagi video dan foto yang betebaran di media sosial membumbungkan nama desa Keramat Urip itu menjadi semakin terkenal. Viral pohon pisang raksasa ini luar biasa. Tidak hanya para turis asing yang berkunjung. Berbagai paranormal serta dukun anjang sana ingin memastikan, keajaiban apalagi yang sedang terjadi. Para ahli tumbuh-tumbuhan dari seluruh negeri ini juga bergantian melakukan penelitian. Kenapa pohon pisang bisa semakin keras, kuat, besar dan meninggi. “Jaman milenial kok masih ada keajaiban” “Ya itu kebesaran Tuhan” “Tapi gak ada logikanya” “Namanya juga ajaib” “Orang yang ahli metis aja..” “Mistis gok begok” “Iya ahli mestis itu aja tidak ada yang bisa tahu kenapa bisa begitu . Apalagi itu ingsiyur sama dokter-dokter apa profesor itu yak.. ya itulah... gak ada yang bisa tahu itu,-itu sebabnya apa” Dan kian hari tempat itu seperti pasar malam. 

  Banyak para pedagang kaki lima maupun segala macam hiburan meramaikan tempat itu. Orang-orang bilang memang jaman edan ada pohon bisa mendatangkan rejeki untuk banyak orang. Sampai banyak dibuka penginapan dari yang paling murah sampai yang sekelas hotel. Hanya pingin tahu kayak apa pohon pisang raksasa itu. Tanpa tahu sebab musabab kenapa pohon pisang itu menjadi pohon raksasa abad ini. Wilayah itu sangat strategis dari kota. Dalam waktu dekat pembangunan jalan tol harus melalui arah itu. Semua warga resah. Terutama para pedagang. Mendengar issue pohon pisang raksasa itu akan ditebang untuk dijadikan jalan tol antara kota dan propinsi. Berbondong-bondong orang datang melakukan doa bersama supaya pohon pisang raksasa itu tetap disitu. Komunitas tumbuh-tumbuhan juga sibuk mengadakan konsorsium maupun seminar. Isinya membahas pohon pisang raksasa dijadikan keajaiban di dunia yang terdaftar. Sehingga tidak bisa ditebang seenaknya untuk segala apapun kepentingannya. 

  Namun kepentingan adalah kepentingan. Keajaiban bisa menyebabkan hal positif dan negatif. Pro dan kontra. Daripada membodohkan masyarakat terjebak percaya pada hal yang tahayul dan klenik, maka diputuskan untuk ditebang demi manfaat jalan tol. Diadakanlah hajatan besar-besaran. Sebelum memotong pohon pisang raksasa itu. Doa-doa dari para pemuka agama dibacakan bersama-sama. Dengan harapan pohon pisang raksasa itu bisa ditebang untuk dilalui jalan tol. Daripada menurunkan mental dan kejiwaan masyarakat yang masih percaya klenik dan tahayul. Keesokan hari, tim penebang pun tiba. Gergaji mesin dan buldozer sudah lengkap dipersiapkan. Warga berbondong-bondong menyaksikan dari berbagai arah. Ada yang naik pohon dari kejauhan. Ada rombongan yang datang naik mobil pick up. Pada berdiri diatas pick up. Begitu pun yang pada naik diatas truk engkol, yang sengaja ditumpanginya kesitu.. Semua memenuhi sekitaran proyek itu. Para penebang gergaji mesin mulai bergerak. 

  Di depan pohon itu mereka berdoa bersama sekali lagi. Demi kepastian dibalik keraguannya. Langkah-langkah mereka mendekati pohon pisang raksasa itu secara bersama. Tim penggergaji melakukan persiapan pemotongan. Mesin gergaji dihidupkan. Semua warga yang menonton melongo tegang. Gergaji mesin yang besar dan panjang itu berbunyi nyanyi memekakkan telinga. Gigi-gigi gergaji diarahkan ke pohon itu. Semua was was. Gak ada suara yang bunyi, hanya mesin gergaji itu yang sangat menegangkan. Dari kejauhan hanya terlihat percikan api yang berjelantikan diantara para penggergaji. Semua semakin berjinjit tungkak kakinya ingin melihat lebih jelas. Suara clang... cling... clang... cling... mengagetkan para hadirin. Para penggergaji tergoyang keras dan terpental. Gergaji mesin itu bergerak-gerak sampai patah. Patahnya terpental keatas bangunan seng proyek. Semua yang didekat bangunan seng proyek itu menyingkir. Aneh. Gerigi gergaji mesin pada ambrol hingga mesinnya rusak. 

  Semua warga menertawakan. “Huuuu.... pohon ajaib dilawan.. “ “Gelok siak... Mesin mau ngalahin Tuhan” “Yakin itu dari Tuhan?” “Lha terus sopo? Setan? Setan itu juga yang nyiptain Tuhan.. On o-on” “O iyo yo Kang... “ Semangatlah dia teriak “Itu dari Tuhaaaan untuk rakyat, jangan main potong” “Kesambet tau rasa lu” Warga semakin riuh rendah menyoraki. Celoteh dengan umpatan dan makian bertaburan. Polisi-polisi yang sedari tadi berjaga, mencoba menenangkan. Tapi tetep semakin ramai suara-suara dari mereka. “Ora bakal bisa rika” “Alam ora bisa dilawan mesin ndeyan” “Orang kota itu ndak tahu sasmito” “Tahulah, masa gak tahu.. Sasmito itu penjual bakso terkenal di kota ini” “Parahmen... pertanda kiamat juga gak gini-gini amat kayaknya” Remaja kampung ada yang berteriak “Kae mesin e mlaku maning” Majulah bolduzer. Untuk mengeruk tanah disekeliling pohon pisang raksasa itu. Semakin dekat dan semakin dekat. 

  Warga menyoraki ramai-ramai. Ayo, hajar terus... Hancurkan... Bantai men... kalau bisa.... Kagak bakalan bisa mesin londo ngalahin ampuhe mitos jowo.... Bolduzer sudah dalam jangkauan terdekat. Berhenti di pohon pisang raksasa itu. Moncong bolduzer mulai diayunkan ke tanah di depan pohon. Bukannya terkeruk tapi malah patah bolduzer itu dibuatnya. Mandor mulai panik. Serius panik “Ini pasti masih ada penunggunya” “Lha semalam sudah dikirim doa-doa masa gak mempan, gila kali ini pohon ya” “Sampai kapan orang-orang kampung itu percaya klinik sama tahayul” “Sampai kiamat lah Pak” “Jangan-jangan ini pertanda kiamat” “Pasti Bapak belum tuntas baca tanda-tanda kiamat itu bagaimana” 

  “Lha terus ini apa Ndul?” “Ini tanda yang kita belum tahu” Ada yang berbisik disebelahnya “Pingin poso kowe, gawe migran bos, cangkemmu mingkem jo kakehan mengo” (ingin puasa kamu, bikin bos sakit kepala, tutup mulutmu jangan banyak bicara) Tim proyek pun pusing tujuh keliling. Mereka berembug. “Ini tidak main-main harus didatangkan karuhun yang beneran” “Kata orang sini sudah pernah dicoba” “Dicoba gimana” “Paranormal, dukun, ilmu kebatinan tidak ada yang bisa naklukin” “Lah kita cuman orang proyek mana bisa” Proses penebangan pun ditunda. Tim proyek akan mencari solusi yang masih dirahasiakan. Orang-orang yang sudah berdatangan tidak pada bubar. Mereka bersorak kegirangan.