Try new experience
with our app

INSTALL

Protes Tokek kepada Pohon Pisang 

Part 2

  Menari-nari dan menyanyi suka-suka. Tidak hanya itu. Mereka pun bekal persiapan yang unik. Membuat tenda-tenda untuk menginap disekitar situ. Namun ada juga yang pada tidur di bak mobil pick up. Ada yang tidur di bak truk. Bagi yang mampu, pada cari penginapan yang sudah disegel oleh tim proyek. Lewat senja. Api ungun mulai dibikin untuk menghangatkan badan mereka. Lagu-lagu Slank juga mulai dinyanyikan. Ku tak bisaaaa.... jauhhh..... jauuhhhh... darimuuuu..... ku tak bisaaaaa jauuuhhh.... jauhhh darimuuu... sisanya pada foto-fotoan dan mengupload ke medsos. Isinya minta dukungan supaya pohon pisang raksasa ini menjadi keajaiban dunia. Sampai mereka pun kelelahan dan satu per satu terpuruk tidur sekenanya. Jam terus berdetik mengaluni senyap pengantar lelah para pengunjung itu. Tengah malam tepat pukul 00.00 semua orang yang tinggal disekitar situ dikejutkan bunyi tokek yang keras. Pengunjung yang tidur didekat api unggun pun terbangun. “Tokek suaranya kok keras sekali” 

  “Jangan-jangan Tokek raksasa” Tiba-tiba dari luaran terdengar seorang warga teriak “Gila ada Tokek besarrrr, ada Tokek besarrrr......” Semua pada menghambur ke arah pohon pisang raksasa. Berkerumun melihat Tokek yang besarnya seukuran kemoceng. Nemplok di pohon pisang raksasa. Tambah heran aja mereka. “Tokek kok neplok di pohon pisang” “TO itu Two, KEK itu brapa aja kek alias satu, terus PIS itu perdamaian biasanya jari dua, terus SANG itu pasti sanga. Jadi 2129 wah ini nomor keberuntungan. Pasti keluar nih kalau pasang togel” “Nape baru kepikiran Tokek di togel” “Sampingan penghasilan aja, dapat untung syukur, kagak juga gak pape” “Iya ya Bang namanya jaman tambah susah, kerja dapetnya juga gak seberapa” “Kerja mah gak sampe sebulun abis, banyakan bayar utang” “Itu sih banyakan beli mimpi bok” 

  ”Itu udah rumusnya yang kaya makin kaya yang miskin mampus aja lu hahahahaha....” Kericuhan itu seketika dihentikan suara Tokek yang bunyinya aneh Oto otok otok Totokkkkk.... Tok tokkkkk....to oto oto Toktokkkkk ..... to oto oto ... Totokkkkk.....otok otok otok... “Totok darah?” “Tok tok tok ada sepeda...” “Dasar sebego lu. Itu mah tuk tuk tuk ada sepatu.... ini tok tok otok otok toktok totok.... mungkin maksudnya...Tok tok tok... “ “Ketuk pintu?” “Manggil Totok?” “Totok siapa?” “Jangan-jangan panggilan nama Presiden?” Masih ricuh ngomongin Tokek anah itu. Warga juga dikejutkan sekali lagi. Kejutan yang benar-benar bisa diartikan ini tanda sesuatu banget. Diatas. Di sekitaran pohon pisang raksasa itu. Beterbangan kelelawar berputar-putar disekitar pohon pisang raksasa itu. Semakin banyak dan semakin banyak. “Kayak difilm Batman banyak bener, gila tuh kelelawar darimana?” “Sejak kapan kelelawar doyan pisang yak” “Udah gak usah ditogel lagi ntar gak bisa bayar kreditan mampus aja lu” Di tengah kerumunan itu, beberapa warga menyeruak lautan manusia. 

  Kerumunan manusia yang berjejalan itu, tiba-tiba membelah jalan. Beberapa warga menyeruak dengan menggandeng seorang tua bangka yang buta, kurus tapi bersih pancaran wajahnya. Yang bukan warga sekitar tidak mengenal orang tua bangka itu. Dari kanan kiri kerumunan itu saling tanya siapa orang tua itu sebenarnya. Ada yang mampu menjelaskan. Ada yang bilang itu Karuhun disini. Yang lain dengungan, saling tanya tak jelas terdengar. Hanya satu kesan yang memang terpendar dari orang tua itu tampak mumpuni dan digdaya. “Mbah Wo ini pertanda apa” Mbah Wo minta berhenti. “Diam semua... harap tenang...tolong ya semua tenang... tenang sebentar...” Lima warga yang mengiringi Mbah Wo membantu supaya semua orang tenang tidak bersuara. Juga tidak boleh bergerak yang bisa menimbulkan suara. Semua seperti sedang mengheningkan cipta. Gak ada satu suara pun berani dikeluarkan. Gak ada satu gerak pun menimbulkan suara. Dan Mbah Wo mendengarkan suara Tokek itu dengan seksama. Sampai tiba-tiba Mbah Wo  berucap. 

  “Minta dipanggilkan orang bernama Totok dari Pekalongan” “Kok dari Pekalongan jauh amat Mbah” “Kelewar-kelelawar ini penghuni Kali Loji Pekalongan” “Totok juga banyak di Pekalongan” “Totok yang dekat dengan Kali Loji, ada desa Bugisan di dekat Kali Loji. Cari sana” “Totok Bugisan Kali Loji Pekalongan?” “Lo udah ngerti pake mastiin” “Udah jangan bengong, cari di Bugisan Pekalongan yang deket Kali Loji itu, yang namanya Totok bawa sini semua” “Pake kas uang jimpitan kampung, bilang Pak RT, buat nelfon Lurah Bugisan Kalongan, suruh ngirim Totok kesini” Satu dari pengiring Mbah Wo segera lari melaksanakan tugasnya. Mbah Wo minta diantar kembali ke rumahnya. Sambil berjalan kearah pulang Mbah Wo menegaskan. “Tokek itu mau bicara sama Totok” “Jadi hanya Totok yang bisa bahasa Tokek, Mbah” “Gue juga bisa tapi Tokek itu maunya ama Totok” 

  “Kenapa begitu Mbah” “Meneketehe bro” “Gaul juga Mbah Wo ini” Mbah Wo pun terus berjalan diantar ke arah rumahnya. Ada yang berbisik “Mbah Wo millenium rek...” Kini semua orang menyalakan obor yang mati. Lilin-lilin itu juga dinyalakan. Pendaran lilin-lilin itu seperti lautan kunang-kunang yang menghampar mengelilingi pohon pisang raksasa itu. Mereka terus memperhatikan kearah Tokek sebesar kemoceng itu. Dan terus memperbincangkan apa yang sedang terjadi. Orang-orang seperti kuatir, momen melihat keajaiban adanya Tokek besar nemplok di pohon pisang raksasa itu akan segera berakhir. “Lihat pohon pisang itu sudah lebih tinggi dari pohon kelapa” Petugas keamanan kampung secara suka rela berjajar melingkari pohon itu. Begitu pula polisi proyek yang sedari tadi menyaksikan semua keanehan itu. “Kita harus jaga yang bener. Jangan ngantuk. Jangan tidur. Hajar kopi aja terus, ngerti semua?” “Ya jaga itu melek, Tidur itu merem. Hajar kopi itu yang belum ada bos. Mana kopinya” “Maksudnya jangan sampai diantara orang-orang disini mencuri Tokek itu.” “Berapa juta ya kalau dijual?” 

  “Emang ada yang mau beli?” “Namanya barang langka biasanya orang berduit mau aja” “Hush hush udah udah jaga yang bener ntar ngiler kalau ngomong duit lu” “Iya tuh kan kemaren ikut demo juga karena duit wkwkwkwwk...” “Sialan lu buka kartu aja” KEESOKAN MALAMNYA..... Tepat pukul 23.50 wib Mbah Wo berjalan. Digandeng seorang setengah baya yang kurus berpeci. Mereka diiringi beberapa warga menuju pohon pisang. Para warga yang sedari tadi berjaga. Saling membangunkan temen-temennya yang tertidur. Waktu menunjukkan pukul 23.55 wib. “Kemaren Tokek besar itu muncul tengah hari dan memanggil-manggil kamu” “Kenapa harus saya Mbah Wo” Mbah Wo hanya terdiam mengisyaratkan ia juga tidak tahu maksud toket itu. “Jadi anda yang namanya Totok?” “Iya Mas, saya Totok” “Maaf emang kamu siapa sih...ehm maksudnya kerjaan atau profesinya gitu” “Saya cuma muadzin di mushola” 

  “Tukang adzan mushola aja? Beneran gak punya ilmu kebathinan atau ilmu gaib apapun?” Lelaki setengah baya itu menggelengkan kepalanya. Para warga mendengar itu merasa aneh. Yang diperhatikan setiap ujung jarinya sudah tidak tumbuh kuku. Ujung-ujung jarinya tidak panjang. Seperti pernah dipotong-potong. Semua kukunya sudah tidak ada. Bahkan kedua telunjuk jarinya telah terpotong. Tumpul dan kaku jari jemarinya itu. Selain masalah jari. Tatapannya begitu tajam. Gerak-geriknya sedikit tapi meyakinkan. Akhirnya juga ada yang penasaran. “Maaf Om itu jari-jarinya kenapa pada putus” Lelaki itu mengangkat tangannya memperhatikan jari-jarinya yang putus dan tersenyum “Mau jujur apa enggak jawabannya?” 

  “Iya jujur dong Om masak boongan” Mbah Wo memegang jari-jari itu dan merabanya “Dia dulu pemburu ulung,” ujar Mbah Wo,”Ada orang yang iri padanya akhirnya melukai jarinya” Totok lelaki setengah baya itu tersenyum dan mengangguk “Mbah Wo ini waskito banget bisa tepat menebak orang” Tepat pukul 00.00 wib terdengar bunyi Tokek itu lagi Tok otok otok Toktokkk to kekkk.... Tok otok otok toktok to kekkk... otok otok Toktok toktokkkk....Totokkk.... “Itu tokeknhya datang, kamu mendekatlah Totok” perintah Mbah Wo Totok pun mendekat menghadap Tokek itu. “Benarkah kamu memanggilku Tokek?” Tokek itu akhirnya bicara dengan bahasa yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Mbah Wo. Kurang lebih demikian pembicaraan Tokek itu dengan Totok “Totok aku panggil kamu untuk memberitahukan rahasia yang tersimpan dibawah pohon pisang raksasa ini. Dan kamu pasti masih ingat kejadian waktu itu. Benar tidak?” 

  “Benar apa semua perkataanmu, tapi saya tidak tahu maksud kamu” “Euphimisme” jawab Tokek itu Totok tersenyum,”Memang mungkin harus begitu” Tokek coba menjelaskan “Kekasihmu yang terpendam didalam tanah ini. Didalam akar pohon pisang raksasa ini. Dia berjiwa besar. Begitu juga kamu. Dia berkorban sekalipun belum tercapai tujuannya. Tapi dia mengingatkan umat manusia untuk berani menegakkan kebenaran” “Apa masih penting kamu sampaikan ini kalau keadaan disini masih euphimisme” “Masih inget saat kekasihmu ini jadi kordinator pembantu para pejabat?” “Tentu saya tidak pernah lupa” “Kenapa kamu masih malu-malu menyembunyikan kebenaran?” “Untuk kebaikan semua orang” “Bodoh kamu” “Apalagi yang harus saya lakukan selain menerima keadaan yang belum berubah”