Try new experience
with our app

INSTALL

Zoon Politicon 

Part 1

  Sebuah Cerpen ZOON POLITICON Penulis Teguh Santoso Konon dikenal keajaiban, kini manusia menyebutnya fenomena. Beberapa pakar belum mampu memecahkan enigma yang ku alami. Wanita secantik diri ini tumbuh ekor kucing yang panjang. Begitu pun telingaku berbentuk telinga kucing. Suamiku dengan dalih sangat mencintaiku ingin kesehatan yang wajar pada istrinya yang malang ini. Vicuum Dokter ahli yang ditemui menyimpulkan, operasi tidak akan memberhentikan pertumbuhan ekor dan telinga kucing ditubuhku. 

  Justru akan selalu tumbuh selesai operasi. Akarnya sudah menjalar ke syarat. Dia menganjurkan konseling dengan Pakar Psikolog. Analisa Dokter bahwa ekor kucing itu tumbuh akibat obesesi motivasi psikologis. Jadi terdapat gangguan syaraf yang dianulir konseling dulu dengan psikolog. “Medis tak selalu mampu menjawab kita” “Apa pengetahuan terbiasa menyerah Dok? Fenomena hanyalah jalan buntu yang terabaikan.” “Fenomena itu ibarat pintu. Tak semua pintu bisa diketuk berpenghuni penjelasan. Kalau pintu itu dipaksa dibuka tanpa ijin hanya chaos yang terjadi. Waktu dan proses sangat kami butuhkan. Kami tidak bisa berasumsi diluar logika pengetahuan yang anda maksud” “Itu sama saja menganggap Tuhan akan bangkrut atas penciptaan otak” Dokter itu menghela nafas Suamiku langsung menggandengku melangkah pergi dari tempat itu. 

  Sebegitu cepatnya langkah kami dari lift tak terasa sampai parkiran. Kami memburu masuk kedalam mobil. Suamiku tanpa basa-basi lagi langsung tancap gas. Di kepala suamiku penuh pemikiran ingin memecahkan masalahku. Kegelisahannya menyiratkan betapa istimewanya diriku didalam hidupnya. Kasih sayangnya terasa mendalam. Suamiku sibuk menelfon relasinya. Minta alamat dimana Pakar Psikolog yang terdekat yang bisa kami kunjungi. Berbeda dengan anjuran Dokter, ditempat konseling, Psikolog merespon peristiwaku ini diluar daya medis maupun psikis. Namun dia tidak tegas mengarahkan untuk menemui paranormal. Beberapa paranormal ulung yang ditemui. Mereka mengakui baru pertama kali menjumpai supra natural semacam ini. Nisbi. Suamiku suntuk sejurus tidak punya tujuan mesti kemana lagi. 

  Selama perjalanan itu kami hanya terdiam. Suasana diluar mobil kami pun terasa beku dalam hening. Seakan semua membisu. Tak terdengar apapun sekalipun telinga kami masih bekerja. Di dalam benak kami sejurus memikirkan sesuatu tanpa pangkal. Kehidupan yang sedang kami alami hanyalah tetap harus berjalan. Memutar otak. Menghela nafas. Sedikit mengerdipkan mata. Mungkin seperti traffic light. Merah untuk sejenak berhenti. Kuning siap-siap harus berhenti. Hijau meneruskan perjalanan kembali. Dan di traffic light dekat arah jalan tol itu lampu menyala hijau. Mobil masih terus melaju. Lalu linta lumayan tidak padat sore itu. Namun hidup ini penuh kejutan. Brakkk dyarrr.... Seketika sebuah mobil sport menabrak mobil kami. Pas mengenai dimana aku duduk. Blank. Gelap pekat. Spectrum memori gundah. Tak terdengar suara apapun. Tak tergambar pengelihatan apapun. Inikah kematianku? Back Flashes Tiba-tiba dalam gelap itu aku mendengar berbagai suara. Entah apa kok jadi begini. Semua omongan orang bisa aku mengerti. Kurang lebih yang kudengar begini “Kasihan banget tuh kucing, mati terbuang seperti sampah” Seketika ada yang mengangkat tubuhku. “Kucing perempuan secantik kamu, kalau masih hidup bisa aku jodohkan sama kucingku di rumah.” Beberapa saat kemudian tubuhku diletakan ditanah. 

  Terdengar suara-suara dug.. dug.. dug... sepertinya menggali tanah. “Kemalangan apa yang terjadi padamu Puss” Tubuhku juga diangkat dan direbahkan di tanah lagi. Kali ini tubuhku ditimbuni dengan tanah-tanah. Hingga semua semakin gempita. Untung rintik hujan semakin deras. Terdengar suara berkecipak orang itu lari meninggalkanku. Rintik hujan kian deras. Dalam sekejap membanjiri sekitar kuburku juga tubuhku. Air yang bergumal itu menyibak tanah. Airpun sedari tadi meresap ke tanah membasahi tubuhku. Kini air itu mengaliri mulutku. Mengaliri telingaku. Seketika membangunkanku dari mati suri itu. Perlahan kubangkitkan tubuhku. Badan lunglai ini menyibak sisa tanah yang menimbun. Basah dan kotor tubuhku bangkit dari kuburku itu. Baru kurasakan ternyata diriku ini memang seekor kucing malang. Terbuang di tempat sampah. Dikira telah mati. Dikuburkan sekenanya. Tangan dan kakiku sekuat tenaga kugerakkan. Langkah demi langkah ku coba ayun. Semoga memang tidak ada yang retak atau patah tulangku. 

  Dan benar saja. Aku masih hidup. Masih utuh. Puji Tuhan. Kontrak hidupku masih berlangsung. Ada yang menyentak dari jantungku. Memulihkan diri ini secara berangsur. Ah yang tadi kurasa hanya kejadian yang pernah kualami. Yang ku rasakan barusan hanya penggalan memoriku yang berceceran dari tumpukan lama. Ku coba merasai lagi apa yang sebenarnya. Aku mendengar kembali suara teriakan dan tangisan suamiku. “Selamatkan istri saya Dok” “Iya pasti. Kami lakukan yang terbaik” “Jangan tinggalkan aku Sayang” Suara suamiku menghilang. Suara-suara lain kudengar. Tak bisa kupahami semua omongan itu. Flashes back to Yang ku ingat saat mengejar tikus. Begitu cepatnya dia naik ke atap loteng susun dua. Laparku seperti kerasukan energi naluriah yang menggebu. Mengejar tikus itu secepat mungkin. Sore itu mendung gelap pekat. Lari dan terus berlari untuk hasrat mencengkram santapan lezat itu. Dan cetarrr. Kilat yang menyambarku. Tubuhku terpental. Terguling-guling dari genting atap rumah. Whuzzzsss. Braakk. Jatuh terbanting. 

  Tumpukan batu kolam ikan itu menerimaku apa adanya. Tidak ada yang bisa kurasakan. Bukan seperti tidur. Tak juga pingsan. Blank. Gelap. Hanya gelap sekali. Malaikat seksi perhewananpun tak kunjung menjemput. Mati tidak hidup masih tanda tanya. Ini hanya salah satu dari kesekian resiko lapar yang pernah kualami. Lapar kadang memperbudak makhluk hidup. Nekat mendapatkan apapun yang diinginkan. Tidak perduli resiko yang harus dihadapi. Kadang mengorbankan hakikat apapun. Ujungnya hanya kenyang untuk sekedar diam. Oh hidup tersambung lagi. Sepertinya semakin jelas kuingat. Siapa diriku sebenarnya. Aku hanyalah seekor kucing. Coba ku ingat kembali bagaimana seekor kucing seperti diriku bisa menjadi manusia. Menjelma wanita cantik. Apa benar ini keajaiban? Atau ini fenomena? Kembalinya Memori Sudah seminggu lebih rumah unik terpencil itu tidak memberiku makan. Itu sebabnya membuatku nekat. Kembali menjadi pemburu makanan. Sebelumnya hidupku cukup termanjakan dari keluarga rumah unik itu. 

  Anak perempuan dan istrinya tidak hanya selalu memberiku makan. Mereka suka mengelus-elus bulu-buluku. Memandikanku. Sekalipun itu hal tidak begitu kusuka. Mereka bahkan menyiapkan tempat pup ku. Mengajari berbagai hal yang hanya bisa coba aku tirukan. Kasih sayang terhadap binatang seperti diriku ini adalah anugrah. Entah kenapa hal itu tidak pernah kualami lagi. Sirna begitu saja. Bagiku sebagai makhluk jalanan. Bertahan hidup sesuatu yang biasa kuandalkan. Dan hal itu yang membuatku terkapar saat ini. Memoriku mengingat jatuh dari atap loteng gara-gara mengejar tikus. Memori yang mengantarkanku terbuang ke tempat pembuangan sampah hingga aku terkuburkan. Nah hujan deras itu yang menyelamatkanku sampai aku bangkit kembali. Langkahku mengantar diriku sampai di rumah unik itu lagi. Untuk kesekian kali kukibaskan kotoran dari tubuhku. 

  Aku berteduh dibawah pot-pot tanaman didekat pintu samping rumah unik itu. Disitu air hujan hanya tampias sedikit. Anehnya yang kutatap itu bisa aku baca. Tertulis angka 31 di rumah unik itu. Tulisan Soul of Music terpampang di sebelahnya. Terbuat dari apa entah kurang tahu tapi indah sekali. Rintik hujan mulai mereda. Haus rasanya. Ku bangkit. Melangkah ke tepi keramik. Menjilati air yang menggenang dibawah. Dahagaku terlunasi. Dilengkapi udara yang sejuk. Indah sekali senja itu. Lamat-lamat kudengar suara dari dalam rumah. Alunan denting piano dari dalam rumah unik itu mengiringi senjakuku. Dari tempo suara yang kudengar menyiratkan kesedihan. Ku toleh kearah jendela. Dimana suara musik itu berasal. Korden jendela itu tersibak. 

  Rasa ingin tahuku menggerakkanku mengintip kesitu. Di dalam kulihat seorang lelaki memainkan piano kesayangannya. Oh itu yang jadi suamiku tadi. Yang membawaku konseling ke psikolog. Membawaku ke dokter-dokter dan paranormal. Oh tidak. Sekalipun hanya memori yang kembali. Tapi sungguh membuatku terkejut. Aku melihat suamiku di masa lalu. Bagaimana aku bisa dinikahi dia. Bagaimana aku bisa menjadi manusia. Tunggu-tunggu. Dalam dunia manusia ada istilah mimpi dan de ja vu. Ah tapi tidak. Ini benaran perjalanan memoriku berputar kembali. Baiklah kuikuti dulu memoriku Tidak biasa sosok tubuhnya tampak tanpa semangat. Bisa jadi menghayati lagu yang dimainkannya. Dalam sekejap tolehan kepalanya kearahku. Dia menghentikan permainannya. Menoleh kearahku. Tatapannya tidak jelas. Senang atau tidak senang. Dia bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju belakang. Aku hengkang dari jendela itu.