Try new experience
with our app

INSTALL

Zoon Politicon 

Part 2

  Mungkin kehadiranku merusak moodnya. Lebih baik aku segera cari makan dulu. Langkahku bersamaan derit pintu kayu rumah unik itu dibuka. “Puss.. Puss... nih ada ikan kesukaanmu” Aku menoleh kearahnya. Dia meletakkan piring plastik pink berisi ikan. Aroma ikan yang terhirup di hidungku begitu lezat dirasa. Aku menghampirinya. Piring yang biasa digunakan memberiku makan itu ditaruh di depan pintu. Aku menghambur. Segera melahap ikan itu. Laki-laki itu masih jongkok didekat aku menghabisi ikan itu. “Lahap bener makannya. Berapa hari kamu belum makan Puss? Biasanya Livi sama Mamanya suka ngasih makan kamu ya... Selagi mereka ada... “ Dalam sekejab ikan itu sudah pindah ke perutku. Meow.. Meow... pintaku lagi. “Sebentar...” Aku hanya berdiri di depan pintu yang masih terbuka. Laki-laki itu kulihat berjalan masuk ke arah belakang. Aku hanya melongok kedalam. Semua barang berantakan. Berjatuhan sendiri itu tidak mungkin. Tidak ada gempa seminggu ini. 

  Ruangan itu berhamburan kertas-kertas. Perabotan disana-sini saling tindih tak beraturan. Abu rokok menumpuk dimanapun asbak berada. Foto keluarga nya sengaja dirusak. Gambar istrinya yang cantik itu tertancap obeng. Kaca pelapisnya retak-retak pecah. Tak bisa kelihatan cantik lagi foto istrinya itu. Sobek-sobekan gaun disana-sini berceceran. Belum selesai ku amati semua. “Puss...sini masuk... makan sama aku sini....” panggilnya sambil memamerkan ikan Aku melangkah kedalam perlahan. Melewati segala kekacauan itu. Bungkus makanan yang berserakan ku endus-endus. Di foto keluarga itu terdapat goresan lipstik bertuliskan: PENGKHIANAT! Laki-laki itu meletakkan ikan diatas bungkus mie instan. Aku berlari menghampiri santapan lezat itu. “Wen... Wenasss...” Dari luar rumah terdengar seseorang memanggilnya. Aku hanya menoleh sejenak lalu makan lagi. Wenas nama lelaki itu. Dia melangkah ke ruang tengah. “Kalian sama saja dengan binatang” “Live never expect unexpected, sama dengan aku. 

  Tidak penah menyangka jadinya begini” “Air yang kau lemparkan itu pasti bikin basah. Kamu tahu itu. Tapi kamu lakukan juga” “Kamu tidak bisa begini terus Wen. Dunia selalu berkembang. Hadapi sesuai keadaan” “Omonganmu hanya membuat setan tertawa” “Oh oke, aku telah membiarkan Tuhan sinis terhadapku” “Percuma, ” “Semua boleh berantakan, tapi harus satu per satu diberesin” Tinton, temennya itu mengeluarkan sebotol wine. Dan membukanya. Seteguk diminumnya. Lalu botol itu diserahkan ke Wenas. Aku memperhatikan saja. Perutku sudah aman. Mendengarkan pembicaraan mereka. Aku jadi sedih. Ternyata Mamanya Levi ketahuan selingkuh sama temannya Tinton. Fatalnya kepergok melakukan seks di rumah unik ini. “Levi sekarang dimana Wen?” “Kutitipin ibuku di Jokja” Semua yang berantakan seperti kapal pecah ini rupanya amarah yang tak terbendungkan lagi. Perselingkuhan itu kalau tidak salah tangkap, berujung juga karena lapar. Lapar memang ujung pangkal masalah. Arransement Wenas selama 3 bulan tidak menghasilkan uang. Sampai istrinya harus berhutang sana sini untuk bertahan hidup. Berakhir dengan semua hutang ditutup temannya Tinton yang pengusaha itu. 

  Sedangkan hubungannya dengan suami dipenuhi percekcokan selama dua bulan belakangan ini. Pantas saja mereka jarang ngasih aku makan. Botol wine itu hampir habis dibiarkan tergeletak di meja dekat piano. Keduanya telah stone. Seperti es batu. Sumber aslinya lunak tapi mekar memerah seperti pembekuan. Ujung pembicaraan kedua sahabat itu mengurai hati untuk saling menerima kesalahpahamannya. Tinton mengakui kesalahannya dengan ungkapan dead end mistake. Tinton juga cerita, telah berantem dengan temannya gara-gara ingin menghalangi terjadinya khilaf. Demikian juga dengan Mamanya Levi yang apatis dengan segala nasehat Tinton. Jadi khilaf milik pelaku perselingkuhan itu, yang membawa mereka kabur ke Eropa. Yang tersisa hanya persahabatan di ujung dermaga kekecewaan. Malam itu Tinton pamit pulang dengan sedikit sempoyongan. Wenas masih duduk terpaku di sofa. Tinton berjalan keluar sendiri. Pintu ditutupnya lagi, setelah aku menyeruak diantara kedua kakinya. Piano mulai berbunyi lagi. Suaranya tidak melodius. Seperti Jazz yang ori. Lebih tidak ada batasan irama sama sekali. Tidak mengenal aturan. Mengalun sesuai emosinya. 

  Badai galau yang tersirat dari alunan pianonya, membuatku ikut merasakan sedih perih yang telah melintahi hatinya. Merasakan derita yang sama dengan Wenas. Tidak tahu tiba-tiba begitu. Aku jadi sensitif. Bisa membaca. Bisa mengerti bahasa manusia. Bisa merasakan hatinya. Semua perasaan seperti manusia ini kudapat sejak bangkit dari kubur. Apa mungkin sejak kesambar petir diatas loteng. Persisnya tidak bisa ku pahami. Hanya begini jadinya aku; sosok kucing berisi arwah setengah manusia. Sekarang hatiku sangat iba pada Wenas. Mungkin inikah yang dinamakan cinta seperti yang diungkapkan temennya Tinton sama Mamanya Levi. Atau ini khilafnya manusia binatang yang tak tau diri. Seandainya Tuhan mengizinkan, aku jadi perempuan, yang bisa memenuhi kebutuhan Wenas untuk berkarya, aku rela. Aku salut sama manusia yang punya aturan hubungan seks hanya sama pasangan. Tidak seperti kehidupanku. Kucing tidak punya aturan seperti manusia. Kucing sudah biasa berganti-ganti pasangan seks. 

  Ah aku hanya kucing. Semua khayalanku sekarang tidaklah mungkin terjadi. Instingku sebagai kucing berkembang macam-macam sampai bisa berkhayal, merasa dan sepertinya ini yang disebut manusia jatuh hati. Wenas ? Ah malang betul lelaki itu. Setahuku Wenas juga bukan tipe suka ganti-ganti pasangan. Dalam bahasa manusia disebut setia. Mereka bilang mudah ngomongnya tapi ngelakuinnya susah. Hanya iman yang bisa menjaganya. Begitu kata Tinton. Iman itu siapa aku belum tahu. Aku hanya menirukan Tinton. Setia juga kata favoritku dari Tinton. Duh Tuhan kenapa otak kucingku berubah begini. Terasa aneh kalau seekor kucing jadi sok manusia begini. Ku tinggalkan rumah unik Wenas itu. Ingin ku buang semua keganjilan yang aku rasakan. Sialnya jalanan masih saja basah. Aku hanya terus berjalan. Keluar dari perumahan terbatas itu. Ingin kubuang jauh-jauh keanehan yang kualami dalam diri ini. Menghindar dari ketidakmungkinan harapan. Membenci diriku sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk manusia malang yang kutemui. Kenapa ada pertemuan kisah sebegini rupa. Siksaan didalam hati ini terus kubawa berlari. Lupakanlah semua itu. Langkahku terhenti di sudut tikungan jalan. 

  Terlihat sebuah mobil berhenti. Kulihat seorang laki-laki dan perempuan didalam mobil itu. Ingin aku menghangatkan badanku dibawah mobil itu. Seperti mobil Wenas setiap parkir memberi kehangatan tidurku. Urung niatku melangkah saat ku perhatikan sesuatu yang berbeda. Sepertinya mereka bertengkar entah apa. Si perempuan membentak-bentak. Seperti dalam dunia kucing saja mereka cakar-cakaran. Si perempuan terantuk kaca jendela mobil. Dia keluar dari mobil sambil menangis. Laki-laki itu turut keluar mengejarnya. Ditariknya kembali perempuan itu. Tangan lelaki dihempaskannya. Perempuan itu berhasil berlari lagi. Lelaki mengejarnya kembali. Secara mengejutkan sebuah pick up yang melaju cepat dari tikungan spontan menabrak kedua manusia itu. Pick up itu terus saja melaju. Menggilas keduanya. Mereka terpental terkapar dijalanan. Ingin ku lihat wajah wanita itu. Kakiku membawaku berlari kearahnya. Namun Pick up itu oleng panik melihatku lari. Dan Brakkk...Jedarrr... Tiba-tiba aku hilang pengelihatan. 

  Blank. Gelap semua. Namun seketika itu, wajah perempuan malang itu bisa ku lihat sangat dekat. Darah yang membasuh seluruh paras anggunnya itu mengelabui kecantikannya. Ingin ku tukar diriku dengan perempuan itu jika Tuhan mengijinkan. Tapi beberapa orang telah berlari kearahnya. Menggotong kedua manusia itu ditepikan. Tempat itu jadi ramai dipenuhi orang-orang. Aku masih mencoba menyeruak diantara kerumunan orang-orang. Terdengar riuh rendah suara-suara... Telfon ambulance... Seseorang mengambil handphonenya mendial salah satu nomor Rumah Sakit. Diantara keriuhan suara-suara itu kudengar seseorang teriak... Pick up setan itu juga nabrak kucing... Tuh itu kucingnya... aku baru sadar memandangi diriku sendiri tergeletak di tepi jalan. Kakiku patah kepalaku remuk. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin Tuhan tidak membiarkan kucing sepertiku, bisa bahasa dan indera bathin manusia. 

  Mustahil in karma bagiku. Bagi binatang sepertiku hidupnya tersurat sangat standar. Lahir, bertahan hidup, berkembang biak dan mati. Inilah fase terakhirku melalui semua. “Mak itu kucingnya dikubur dekat gumuk saja... kasihan...” Emak-emak tua itu pun langsung membungkus tubuh naas ku itu dengan kain gombal bekas. Dibawanya tubuhku ke dekat gundukan tanah yang tinggi. Konon gumuk itu bekas kuburan orang-orang kuno asli daerah ini. Tapi sejak tidak ada yang merawat semakin tidak terurus dan tanahnya semakin meninggi. Orang-orang sekitar masih menganggap gumuk itu keramat. Namun sekarang sering digunakan mengubur segala macam binatang yang disekitar daerah ini ditemukan mati.