Try new experience
with our app

INSTALL

Zoon Politicon 

Part 3

  Dari Ayam, Tikus, Ular, Garangan, Blacan termasuk kucing seperti diriku. Tubuhku sudah tertutupi tanah. Arwahku duduk termangu disebelahnya. Tapi belum ada malaikat menjemputku. Tak jauh dari tempatku meratapi nasib, jasad tubuh perempuan itu sudah diangkat dibawa masuk kedalam mobil ambulance. Dan dibawanya ke RS. Petir menyambar-nyambar seketika. Satu per satu kerumunan orang pun pudar. Tinggal diriku sendiri termangu di gumuk itu. Terlintas di ingatanku terhadap Wenas yang pasti juga disekap oleh keheningan seperti diriku. Gemuruh guntur terus menerus begitu menggelegar. Seperti gemetar nya rasaku terhadap Wenas. Makhluk-makhluk yang mengambang dalam hampa kesendiriannya. Ibarat kanvas yang hanya dipandangi calon pelukisnya, torehan apa yang akan terlukis selanjutnya. Di dalam benderang terasa pekat. Pandangan dikabuti pilunya pikir dan rasa. Hanyutnya nyawa dalam partikel udara yang terkucil di alam semesta. Lamat-lamat alunan semesta bak dentingan piano Wenas. 

  Mengalun tak beraturan dari desis angin, gemerak dedaunan, riuh gemericik air. Musikalisasi alam yang menyayat hati. Seakan hidup selalu dibumbui kepedihan sebagai rambu-rambu pengingat seberapa renggang Tuhan dengan kita. Dan musikalisasi lara dalam hidup itu semata dekapan Tuhan atas kasih sayangnya yang melebihi segalanya. Seperti saat ini, tidak banyak yang bisa dilakukan makhluk seperti diriku. Hari-hariku hanyalah sebatas insting tentang lapar harus cari makan, kenyang letih mesti tidur, bangun buang kotoran dan sesekali sua kenikmatan seks yang kutemukan dijalan. Begitu seterusnya. Ibadah binatang seperti diriku hanyalah tugas keseimbangan yang naluriah; makan untuk hidup dengan makanan yang dipertemukan. Imankah lanturanku ini seperti yang dikatakan Tinton. Entah apa ukurannya. Yang kusadari perlahan, apa aku ini sebagian mandat keajaiban dari Tuhan. Flashes Memori Tiba-tiba terdengar suara. Suara apakah itu. Seperti kukenal. Apakah telah datang malaikat menjemputku dengan iringan musik. Menghampiri telingaku semakin dekat. Semakin jelas suara-suara itu mengkristal jadi alunan yang kukenal. Semakin hingar ditelinga. Oh tuhan itu suara musik kesayanganku Air on G string. 

  Darimana suara itu menghampiri. Oh Tuhan itu suara handphone suamiku. Dia telah meletakkan handphonenya diatas bantal berdekatan dengan telingaku. Benar-benar membangkitkan jiwaku kembali. Dimanakah aku. Terbaring di tempat tidur yang bau aroma obat-obatan. Mungkin aku dalam perawatan ditunggui suamiku tercinta. Tapi tak bisa kulihat apa-apa. Hanya kurasakan sentuhan tangan suamiku memegangi jemariku. Membelai rambutku. Mengecup punggung tanganku dan sesuatu meleleh di kulit tanganku. Butiran air matanya mengalun sendu, tanda cinta terdalam kuatir akan kehilangan diriku. Kesadaran yang kurasa saat ini, kembalinya nyawa kucingku pada jasadku manusia kini. Hanya saja, belum memulihkan seluruhnya. Sekedar kurasakan nyawaku masih kembali ke jasad ini. Yang sedari tadi nyawaku mengarungi dimensi-dimensi memory yang pernah ku lalui. 

  Saat-saat aku masih kucing dengan segala musibah yang kuhadapi. Untuk kesekian kali musibah itupun tetap kualami disaat aku menjelma manusia. Musibah sudah menjadi kenakalan dalam takdir yang mengurai pengetahuan hidup dengan bahasa yang sulit diterjemahkan kedalam segala buku. Melalui ilmu Tuhan yang jilid berapa seekor kucing sepertiku menjelma wanita cantik dengan sebuah keinginan mulia; menjadi istri sempurna untuk seorang pria sempurna. Kelangkaan bertemu kepunahan dalam dunia. Serupa impian-impian dalam karya picisan yang diciptakan manusia dengan dalih bisnis. Huft berotak manusia membuatku melantur menjelajah bahasa pikiran yang tak kunjung berhenti. Sementara hidupku sedang koma terbaring di kamar VVIP sebuah Rumah Sakit mewah. Beberapa kuntum bunga menghiasi ruangan seperti pengunjung favoritku yang menemani. 

  Apakah bunga-bunga itu pengantar kematianku atau kelangsungan hidupku selanjutnya. Tunggu, masih belum kuingat bagaimana kucing malang seperti aku menjelma wanita cantik. Transisi alam nyata dan gaib, dimana aku termangu diatas gumuk itu sungguh berbeda. Tidak seperti sore, tidak juga gelap seperti malam, seakan sudah selarut dini hari namun tersinari cahaya yang dikenal manusia dengan bahasa misteri. Ku saksikan beberapa kawanan binatang menumpang kereta kencana. Pengendaranya berkuda setengah manusia dengan kain tudung putih-putih. Seketika suara aneh mengejutkanku. “Tuhan telah mendengar permohonanmu, apa benar-benar ingin menjadi manusia berkelamin wanita, jika diijinkan hidup kembali?” “Iya,” jawabku singkat Diriku yang berupa partikel-partikel menyerupai udara berbalut asap hangus maupun bening bergerak-gerak. 

  Perlahan menjelma bauran cahaya. Dengan kecepatan super, melesat kedalam gelap tanpa pengelihatan. Ku alami kembali masa-masa kelahiranku dulu. Hampir sama. Dalam dimensi benih gaib. Dalam bahasa manusia mungkin ini yang dimaksud pertumbuhan sel-sel. Terus ku arungi kegelapan itu sampai meresap di dinding. Perlahan membersit memasuki dimensi putih yang bukan udara, bukan asap. Mungkin bisa kukatakan sebagai kedalaman cahaya. Dari cahaya berangsur-angsur mengkristal inti nyawa. Tidak gelap tidak terang lebih lembut dari udara. Mungkin inilah prosesku dari nyawa kucing, bermutasi menjadi nyawa manusia wanita. Seketika seperti tertiup, memasuki kepompong yang penuh dengan segala kepadatan ragawi. 

  Aku seperti bersemayam didalam yang disebut jasad manusia. Detik demi detik, menit demi menit, hingga berjam-jam baru bisa kurasai secara komplit. Dari merasai mempunyai jemari lentik dan kaki jenjang, rambut lembut juga tubuh semampai. Genap satu hari aku baru merasakan siuman. Nafas dan detak jantungku bekerja normal. Mulai merasakan jarum infus, juga nafas oxygen yang berkungkung dihidung dan mulutku. Dan suara-suara manusia dikejauhan. Hingga derit pintu terbuka serta langkah-langkah menghampiri diriku. “Dia sebatang kara, Dok dan tidak ditemukan identitas apa-apa” jelas suara perempuan “Yang penting dia sudah mulai membaik, tolong bantu akomodir dia kalau sudah pulih. Kalau Bapak ini....” “Bapak Wenas Dok,” “Iya Bapak Wenas yang baru masuk semalam ya” “Iya Dok, over dosis percobaan bunuh diri, untung segera dibawa temannya kemari” Wenas? Aku ingat sesuatu yang disebut Wenas. Ah dia pianis itu bukan? Over dosis? Percobaan bunuh diri? Apakah dia masih hidup? Tidak. Jangan engkau mati setelah ku dihidupkan kembali menjadi manusia wanita. Tuhan tolong sembuhkan Wenas. 

  Tolong jangan ambil Wenas setelah Engkau kabulkan diriku menjadi manusia wanita. “Wanita ini menangis Dok, keluar air matanya” Suara langkah Dokter menghampiriku. “Kedua matanya mengeluarkan air mata Dok” Dan sekonyong-konyong ruh yang menghuni jasad wanita itu bangkit “Auonggg.. Meoooonnggg......Arkrkrkrkhhhhh.....” Hah aku masih bersuara kucing. Oh tubuhku benar-benar menjelma wanita “Tenang Bu... Ibu minum dulu” Suster itu menyodorkan air putih dan membimbingku meminumnya. Ku minum air di gelas dengan kebiasaanku menjilat. Tapi perempuan yang disebut Suster itu mengajariku minum seperti manusia. Ku minum dua tiga teguk, sambil kulirik disebelahku. Wenas terbaring dalam penanganan. “Eee.....Sa...sa...sa-ya... di..ma..ma..ma-na...” “Ibu di Rumah Sakit.... dibawa ambulance kesini.....ibu kecelakaan...” “Ibu tenang dulu... “ kata Dokter itu penuh kesabaran Mendengar itu aku berusaha menyesuaikan diri. Oh begini jadi manusia. Bisa ngomong dengan bahasa. Aku masih tampak kebingungan tapi aku coba menenangkan diri untuk menutupi kejanggalan yang kurasa. Aku meminum air putih lagi dan sekali lagi melirik kearah lelaki disebelahku. “Ibu kenal Bapak Wenas?” 

  Aku Cuma menggeleng kemudian rebahan lagi. Memejamkan mata menghindari pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa kujawab. Karena suara dari mulutku masih kuatir bahasa kucing yang keluar. Rupanya pertemuanku dengan Wenas di Rumah Sakit ini. Mungkin ini memang keberuntungan doaku. Beberapa hari Wenas pun pulih. Dan kami saling kenal. Kian hari kian akrab. Bahkan Wenas memperkenalkanku dengan Tinton, setelah kami semakin intens bersua di Rumah Sakit. Berhubung aku tidak punya keluarga yang kukenal, aku ditawari tinggal di rumah Wenas. 

  Banyak yang diajarkan oleh Wenas dari kebiasaan dan tata cara manusia. Bagiku hanya cukup ribet tapi dalam bahasa Tinton itu disebut peradaban. Yang bagiku cukup significant dari kutipan Tinton. Akal harus mengendalikan segala perilaku. Tidak seperti duniaku. Sempat Wenas curiga siapa aku sebenarnya. Namun Wenas memaklumi kecelakaan membuatku tak ingat apa-apa. Aku hanya menuruti dan melayani saya selama ikut di rumah Wenas. Katanya kehilangan itu ternyata untuk menemukan dirinya sendiri terlebih dahulu, untuk kemudian dipertemukan seseorang yang menjadi sawang sinawange urip (saling bercermin dalam hidup). Begitu rayu Wenas terhadapku. Sesuai penantianku akan kebersamaan kami selama ini. Gelisahku juga gelisahnya dalam harapan masing-masing yang terpendam.