Try new experience
with our app

INSTALL

Zoon Politicon 

Part 4

  Selang beberapa hari Wenas pun melamarku. Dan kami menikah. Kehidupan semakin intim dengan manusia sungguh berbeda dengan kualami hidup jadi kucing. Oh Tuhan, aku baru ingat, setelah pernikahan itu. Setelah rejeki Wenas kembali lancar. Dan karier musiknya memperoleh jalan bisnis yang membanggakan. Oh tidak. Aku baru menyesali. Saat itu Wenas sedang keluar kota. Ijin tiga hari untuk show. Rupanya tidak mudah menjadi manusia seperti yang kubayangkan. Didalam diriku masih terbelah kepribadian. Sebagian naluri kucing tidak kusadari masih terselip. Malam itu. Sebelum kepulangan suamiku Wenas. Persediaan yang Wenas siapkan habis. Aku belum belanja. Dan aku tidak berani keluar belanja sendiri sekalipun sudah diajari suamiku. Lapar sekali perutku. Duduk berdiam diri di meja makan. Saat itu seekor tikus menyusup di ruang makan. Spontan tanpa kusadari. 

  Antara akal ruh manusia dan naluri pemburu seekor kucing menyatu menjadi adrenaline supra surealis. Dan hap maooongg..!!!! Tikus itu kukejar dengan secepat kilat tercengkram dalam tanganku. Lapar memburu nafsuku untuk menyantapnya. Herannya kali ini dengan beringas kulumat makhluk kecil itu ku giring ke perutku. Dan setelah aku merasakan kenyang. Aku jadi seperti keracunan. Mual-mual. Mengejang perut dan kepalaku. Aku meronta menahan siksaan itu. Dan untuk kesekian kali kemalanganku, membuat diriku terpeleset darah tikus yang berceceran itu dan terbanting di dekat toilet. Keesokan harinya aku terkeriap siuman. Aku jadi panik takut ketahuan Wenas. Bergegas aku bersihkan tempat itu. Ku lap. Ku pel. Bersih-bersih sampai tidak terdapat hal yang mencurigakan. Sesegera setelah semua beres, aku mandi dan berdandan cantik menunggu suamiku. Segala rupa tabiatku semalam berhasil aku sembunyikan dari suamiku. Tapi dalam agama manusia itu disebut dosa karena telah berbohong. Kebohongan dalam dunia manusia dapat ditutupi. 

  Tapi pemahaman baru ini bagiku menumbuhkan ciri atau mungkin tanda keburukan. Tumbuhnya ekor kucing dan telinga kucing ditubuh cantikku ini. Aku masih belum bisa berterus terang. Jiwaku penuh teror diri sendiri akan ketahuan tabiat burukku. Hal ini baru kusadari kodrat dan watak makhluk ternyata tidak bisa menipu. Tapi mengenali kodrat dan watak diriku sendiri sering terlupakan. Kalau kodratku memang seekor karniovora. Watakku terbentuk dari naluri kebinatangan. Repot juga berdoa sama Tuhan kalau permintaan itu tidak komplit dipanjatkan. Kadang jadi ingin tertawa sendiri. Jadi manusia itu kebiasaan wataknya komplen dan ingin merasa paling benar. Ego selalu dipelihara manusia. 

  Itu yang ku alami menjadi dan mengamati manusia. Aku tidak selingkuh seperti Mamanya Livi. Aku setia dan memperlancar kehidupan Wenas. Itu yang membahagiakan suamiku. Justru ketika hidup manusia terhindar konflik, menurut suamiku suatu ketegangan akankah sesuatu yang makin buruk akan terjadi. Dari pengalaman pahitnya dia selalu menjaga kewaspadaan diri, bahwa hidup selalu menemui yang tidak diharapkan datang. Traumatik Wenas membuatnya bekerja semakin keras dan berkualitas. Hingga pernah aku diajak ke Berlin untuk event arransement exchange culture. Disana kami bertemu pasangan yang sudah tiga kali berganti pasangan. Dari pembicaraan dengan mereka, Wenas banyak merenung. Semakin waspada menjaga hubungan denganku. Berusaha mengendalikan segala perilaku. Karena dia tertarik dengan peribahasa yang di ungkapkan pasangan Berlin itu. 

  Sampai dicatatnya dalam status handphonenya. Mungkin supaya tidak terlupakan. Moto orang Jerman itu ditulisnya, dibingkai dan dipajang di kamar kami ; Angfangen ist leich, beharen eine Kunst (memulai itu sesuatu yang mudah, mempertahankan itu seni). Moto itu juga menjadi bumerang bagiku. Bagaimana aku mempertahankan hubungan dengan manusia dari sisa kepribadianku yang terbelah naluri binatang. Dan ketakutanku itu pun tak terelakkan dengan tumbuhnya ekor kucing dan telinga kucing pertanda karma ketidakpatuhanku. Oh Tuhan, itu yang membuatku kembali di Rumah Sakit yang sama dengan pertemuan kami dahulu. Sementara ini aku lebih nyaman dalam keadaan koma seperti ini. Tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan. Tapi hidup memang penuh kejutan. “Pak Wenas” Aku dengar suara Dokter itu lagi. “Keadaan istri Bapak semakin membaik. Ekor dan telinganya yang seperti kucing juga sudah berangsur menghilang. Rupanya semua itu gejala kehamilan yang ganjil. Tapi, selamat ya” “Terima kasih Dokter, Syukurlah...” Oh Tuhan. Aku hamil. 

  Anakku kelak lahir berupa manusia atau kucing. Atau manusia setengah kucing. Kabar kehamilan ini justru membuatku tidak ingin bangun dari koma. Selama menjadi manusia hidupku selalu diteror diriku sendiri apakah tabiat kucingku bisa benar-benar terbuang. Segala sosialisasi dengan tetangga juga kenalan suamiku telah menguras tenagaku untuk bisa beradab. Kini fase baru yang kualami lebih mengejutkan. Kehamilan. Beberapa hari kemudian aku sudah diperbolehkan pulang. Kehamilanku kini sudah mau genap 2 bulan. Lapar dan haus bertubi-tubi mendorongku memakan ikan kesukaanku. Sampai saatnya dalam kehidupan manusia bahwa wanita hamil itu pasti akan ngidam. Suamiku selalu menanyakan apa makanan yang kuinginkan. Hanya ikan dan ikan. Berbagai macam species ikan sudah pernah aku cicipin. Hingga hinggaplah sifat manusia akan kebosanan. 

  Sudah tidak ingin lagi aku makan ikan. Malam itu hujan cukup deras. Suamiku capek pulang kerja langsung tidur dan lupa membelikanku makanan. Lapar mulai menghantuiku. Aku pun dirundung ngeri akan diriku sendiri. Aku tahan berkali-kali. Tapi suara itu semakin jelas di telingaku. Penciumanku juga memantau. Tengah malam masih belum bisa tidur karena lapar. Ingin kuusir laparku dengan banyak minum. Aku ke dapur untuk memenuhi niatku. Ku tuang air. Ku teguk beberapa. Ketika hendak berbalik kearah kamar ku lihat tikus disudut ruangan menatapku was was. Dengan reflek langsung ku intai dan kuterkam. Sempat beberapa kali meleset. Terkamanku terakhir sangat cepat membuatnya tak bisa berlari lagi. Ku lahap tikus itu dengan rakus. “Mey... Memey...dimana kamu?” Mendengar suara suamiku itu seperti mendengar hantu yang menakutkan. 

  Aku menghambur ke belakang rumah. Taman mungil yang ditanaman bunga-bunga kesukaan suamiku membasah kuyuh. Aku berusaha sembunyi disemak-semak tanaman di pojok taman. Pintu dapur dibuka suamiku. Aku menyembunyikan wajahku dan mengusap mulutku berkali-kali supaya bersih. “Mey... Memey.... kamu dimana?” Secara mengejutkan tubuhku diangkat suamiku. Oh tidak aku sudah kembali menjadi kucing. “Ngapain kamu disitu Pus...Oh my God kamu lagi hamil... Levi pasti senang kalau tahu kamu hamil” Tanya suamiku yang mengenaliku makhluk berbulu kesayangannya. “Kamu tahu dimana Memey... istriku yang baru... malam-malam begini kemana dia ya... padahal dia juga lagi hamil seperti kamu...” Aku dibawa masuk ke dapur rumahnya. Diletakkan di sudut rumah kucing tempat biasa aku dikasih makan dulu. Wenas suamiku itu semakin cemas setelah mencari-cari istrinya yang berwujud manusia itu sudah tiada. Sampai dia keluar dari rumah mencari-carinya. Rupanya untuk menjadi manusia tidak seperti yang kubayangkan. 

  Godaan demi godaan dalam jiwa begitu menggebu. Manusia selalu membutuhkan manusia lain yang sejalan. Bahkan sepaham. Zoon Politicon kata Tinton. Apakah ini zoon politicon era baru, manusia perlu eksplorasi makhluk mutan untuk hubungan sepaham. Seperti Mama Levi sepaham dengan manusia lelaki yang menjanjikan jaminan hidup alias tidak akan pernah kelaparan. Disitu manusia berkembang untuk urusan kenyang bersama secara aman. Kucing sepertiku tak mungkin memenuhinya. Hanya karena berubah manusia jenisku hilang. Sifat dasarku karniovora tidak mungkin kuhindari karena itu takdirku. Sifar dasar makhluk yang terkontrak dari Tuhan sampai ajalnya. Meskipun sudah terkabulkan menjadi manusia aku tak bisa pungkiri sifat dasarku. 

  Aku hanya menambah kepedihan manusia. Sedang manusia dengan manusia sendiri tidak selamanya, tidak semuanya bisa saling memenuhi hati. Suamiku pernah merayuku begini; kamu itu wanita yang tidak pernah punya ego dalam hidupmu, tidak seperti manusia lain, kamu selalu bisa mengimbangi hidupku, apapun mauku kamu memenuhi. Hanya saja kamu itu perilakunya sangat insting sekali. Itulah ungkapan atau rayuan yang tidak bisa membedakan mana kucing dan mana manusia.