Try new experience
with our app

INSTALL

Air Mata Mualaf 

Chapter 1

  Masih banyak teman-temanku meragukan ucapanku Insyaallah setiap bikin janji apapun. Katanya insyaallah itu tidak pasti. Aku bahkan dilarang mengucapkan insyaallah lagi kalau bikin janji. Katanya kalau janji harus pasti bisa ya bisa enggak ya enggak, jangan insyaallah. Kebanyakan orang kalau sudah mengucapkan insyaallah seperti tidak punya beban untuk memenuhinya, begitulah dalih mereka. 

  Kita ini di Indonesia, teman-teman kita juga berbeda-beda agama, jadi berjanjilah secara nasional saja, begitu tambahnya. Saat ditegur begitu di grup whatsapp, aku seperti ingin pergi dari dunia milenial ini. Aku jadi ingin menjauh dari kemajuan teknologi yang semakin menjamur seantero dunia ini, gara-gara aku dilarang mengucapkan insyaallah di grup nasional. 

  Tidak ada genangan air mata, tidak ada tetesan air mata, tapi hatiku serasa menangis. Entah kenapa begitu sedih. Penuh tanda tanya di benakku tentang insyaallah itu apa. Dan aku selalu mengingat Nabi Muhammad SAW ingin bertanya sebenarnya apa hakekat Insyaallah itu. Kenapa teman-temanku tidak bisa terima aku mengucapkan itu padahal aku muslim sekalipun aku tidak hapal Al Qur an. Sekalipun aku tidak fasih mengaji. Sekalipun aku hanya bisa sholat 5 waktu. Karena aku hanyalah mualaf.

  Akhirnya kuberanikan menemui seorang Ustadz di sebuah mushola. Sore itu aku sengaja menyempatkan sholat maghrib berjama’ah di sebuah mushola sebuah kampung dekat perumahanku yang tergolong terpencil. Aku mengikuti sholat maghrib berjama’ah hingga akhir dengan segala urutan doa-doa yang dipimpin Ustadz itu yang diakhiri dengan saling bersalaman dalam barisan. Ketika ustadz itu keluar dari mushola hendak memakai sandal jepitnya, ku hampiri. “Pak Ustadz, ada waktu gak saya ingin bicara,” “Insyaallah ada,” jawab Ustadz itu singkat.

  Pak Ustadz itu duduk bersila di teras mushola dan kuikuti bersila di depannya “Sebenarnya Insyaallah itu artinya apa Pak Ustadz?” “Atas seijin Allah,” “Tapi pengertiannya bagaimana Pak Ustadz?” “Setiap apapun yang akan kita lakukan selalu harus atas ijin Allah” “Maaf Pak Ustadz saya ini mualaf, jadi saya ingin paham betul apa itu Insyaallah, apa itu atas ijin Allah. Soalnya teman-teman saya selalu meragukan saya kalau saya bilang Insyaallah, maaf teman-teman saya itu beda-beda agamanya. Saya harus bagaimana?” “Tetap harus yakin mengucapkan Insyaallah. Apapun yang akan, yang akan kita lakukan itu pasti atas ijin Allah bakal terwujud. Bukan kita yang menentukan itu pasti terwujud. Coba bayangkan, seandainya kita berjanji kemudian ada sesuatu yang darurat terjadi apakah kita bisa memenuhi janji? Kalau kita memastikan janji kita dan terjadi sesuatu yang menghalangi janji itu berarti belum ada ijin Allah untuk memenuhi janji. Makanya wajib mengucapkan Insyaallah.” 

  “Tapi teman-teman saya berbeda-beda keyakinan” “Sekalipun begitu tetap kamu sebagai muslim harus mengucapkan Insyaallah. Apa kamu sering melanggar janjimu?” “Begitulah Pak Ustadz, ada aja keperluan yang lebih penting” “Janji itu seperti hutang yang harus dibayar, makanya perlu mengucapkan insyaallah apabila terjadi sesuatu yang menghambat kita.” Aku terdiam merenungi kata-kata Pak Ustadz, apalagi yang harus aku tanyakan mumpung lagi ketemu Pak Ustadz. “Kamu suka baca Nak?” “Suka” “Begini, bagaimana kalau kamu saya pinjami buku riwayat Nabi Muhammad dan didalamnya terdapat sejarah asal usul kenapa seorang Rasul juga diwajibkan mengucapkan Insyaallah” “Senang sekali saya Pak Ustadz” “Mari ikut saya ke rumah” Pak Ustadz berdiri dan memakai sandal jepitnya. Begitu pun aku mengikutinya.