Try new experience
with our app

INSTALL

Air Mata Mualaf 

Chapter 3

  Beberapa orang mulai datang. Memang tidak seramai berjama’ah sholat maghrib yang hampir memenuhi ruangan mushola. Subuh itu hanya segelintir orang yang bangun berjama’ah. Setelah salah satu orang mengumandangkan adzan baru datang lagi 3 orang, mereka menyalamiku. Kami semua yang membaca sholawat sekitar 9 orang termasuk aku. Pak Ustadz belum datang juga. Semua sepertinya menunggu Pak Ustadz untuk mengimami sholat subuh. Akhirnya diputuskan untuk segera dimulai sholat subuh. Salah seorang mengumandangkan Qomat. Dan kami sholat subuh berjama’ah. Aku mengikuti sholat subuh hingga pembacaan doa-doa seusai sholat dan saling bersalaman. Saat kami keluar dari mushola, terdengar suara mobil ambulance meraung-raung memasuki kampung itu. Ada beberapa warga kampung sampai keluar dari rumahnya. Sama seperti para jama’ah sholat subuh itu ingin tahu ambulance itu mau kemana. 

  Kami semua terkejut melihat mobil ambulance itu berhenti di rumah Pak Ustadz. Kami pun langsung menghampiri rumah Pak Ustadz. Para petugas ambulance dengan sigap langsung mengusung Pak Ustadz dengan brankar. Beberapa jama’ah bertanya dengan istrinya Pak Ustadz yang sambil terburu-buru mengikuti suaminya dibawa masuk ke mobil ambulance. “Pak Ustad mau dibawa ke Rumah Sakit mana?” tanyaku pada petugas ambulance “Rumah Sakit Islam kota Mas” Pak Ustadz dengan diiringi istrinya memasuki mobil ambulance yang membawanya ke Rumah Sakit. Aku mendengar dari pembicaraan para warga kampung yang tadi sempat ngobrol dengan istrinya tadi kalau Pak Ustadz kena serangan jantung. Tidak ada yang menduga hal ini terjadi. Katanya para warga juga baru kali ini Pak Ustadz mendadak kena serangan jantung. Sebelumnya sehat-sehat saja katanya. 

  Aku pamit sama warga kampung yang masih berkerumun di rumah Pak Ustadz. Aku langsung berjalan pergi dari rumah Pak Ustadz menuju ke rumahku. Tanpa disadari buku riwayat Nabi Muhammad yang berniat mau kukembalikan masih tergenggam ditanganku saat aku membuka gerbang pagar rumahku. Semenjak aku masuk islam, rumah yang paling kecil diantara rumah Papiku ini, diberikan kepadaku, karena aku memang dianggap paling lain diantara saudara-saudaraku. Papi Mamiku meninggal tiga bulan setelah aku masuk islam. Rumah ini diberikan padaku supaya aku tinggalin sendiri, daripada aku tinggal di rumah Papiku tapi selalu terjadi perdebatan soal agama diantara kakak-kakakku dan adik-adikku. Lingkungan bisnis maupun lingkungan keluarga kami kebanyakan nasrani. Aku tertarik masuk islam karena penasaran bahwa islam memang agama terakhir dari semua agama yang ada. Tapi sering dituduh sebagai agama teroris karena banyak kejadian peledakan bom dan kerusuhan lainnya disebabkan oleh seorang muslim. Hal itu tidak membuatku benci maupun apatis dengan islam.

  Rasa penasaranku memang dipicu dari berbagai kejadian bahwa para muslim itu merasa paling benar dan menyuarakan semua tindakannya yang berdasar agama disebut jihat. Merasa paling benar itu aku kaitkan dengan islam sebagai agama yang terakhir dari yang dibawa nabi-nabi. Dari situ aku mulai pelajari sejarah islam dan Nabi Muhammad. Dan dalam sejarah agama memang tidak ada lagi nabi yang membawa agama setelah Nabi Muhammad. Dari situlah aku merasa yakin agama yang terakhir ini yang paling benar sekalipun aku belum pelajari seluruhnya bahkan membaca riwayat Nabi Muhammad juga baru malam ini. Aku melangkah menuju kamarku yang di lantai atas. Terkejut aku membuka pintu kamarku melihat poster-poster itu sudah tersusun dilantai dan dilipat kertas serta ikatan tali rafia. Semua atribut budaya asing juga sudah dimasukkan kardus besar. Aku benar-benar lupa mau aku bawa kemana poster-poster dan atribut hiasan asing itu. Aku masih tidak peduli dengan semua itu karena aku teringat Pak Ustadz. Aku harus kesana dulu.

  Dalam sekejap pun aku telah sampai Rumah Sakit Islam. Aku seperti orang beruntung yang langsung dapat mengetahui kamar rawat Pak Ustadz. Aku pun memasuki ruangan dimana Pak Ustadz terbaring di ruang rawat ICU. Aku duduk di sisi kiri berhadapan dengan istrinya yang masih terus membacakan doa-doa. Aku pegang tangan Pak Ustadz. Dia mengernyitkan matanya seakan menolehku. Tapi terpejam kembali matanya. Aku hanya ingin mengembalikan buku itu dan mengucapkan banyak terima kasih. Tak lama dokter dan perawat memasuki ruang itu mau memeriksa terpaksa aku harus keluar dari ruangan itu. Melalui lorong-lorong Rumah Sakit itu aku mencari tempat sholat ingin mendoakan Pak Ustadz sebagai rasa terima kasihku atas jawaban yang lengkap tentang insyaallah dari buku riwayat Nabi Muhammad yang dipinjamkannya padaku. Buku yang telah memberi gambaran bagaimana sejarah lahirnya agama islam, perilaku Nabi Muhammad yang begitu mulia dalam kesederhanaan dan segala ajaran-ajarannya tentang kedamaian hidup berdampingan dengan segala perbedaan. Segala kearifan seorang Rasul. Kebersahajaan seorang Rasul yang down to earth yang begitu membumi selayaknya manusia pada umumnya. Yang tidak mau dikultuskan.