Try new experience
with our app

INSTALL

Kolase Bratadika 

1. Bratadika Bersaudara

Sebagai anak tengah di keluarga Bratadika, Caka Nazril Bratadika tentu tahu tugasnya sebagai kakak sekaligus adik yang baik. Sebagai kakak, dia paham bahwa tugas utamanya adalah menjahili adik bungsunya yang sering ngambek dan tukang ngadu itu. Bah, kalian tidak tahu saja kelakuan maknae di keluarga Bratadika.


 

Namanya Priscilla, biasa dipanggil Cilla. Namun, Caka lebih suka memanggilnya Bocil atau Unyil. Dia merupakan bungsu di keluarga Bratadika. Saat ini dia kelas sembilan SMP, yang artinya sebentar lagi akan masuk jenjang SMA. Walau begitu, manjanya Cilla sering membuat orang rumah puyeng. Sebagai satu-satunya perempuan di rumah itu---lantaran Mami telah meninggal tiga tahun lalu--Cilla diperlakukan layaknya ratu yang harus selalu dilayani. Dan untungnya, seluruh anggota keluarga di rumah itu menyayangi dan selalu menuruti kemauan Cilla, termasuk Caka sendiri.


 

Caka benci mengakui itu. Tapi bagaimanapun, dia sangat menyayangi adik bungsunya tersebut. Tak ada alasan untuk Caka tidak menyukai spesies imut seperti Cilla.


 

Sedangkan sebagai seorang adik, Caka juga paham tugas utamanya, yakni menghabiskan uang Banyu---si sulung---yang sudah bekerja dan satu-satunya orang yang berpenghasilan tetap di rumah itu.


 

"INDIA TEROS!" Caka yang baru saja melewati ruang tengah langsung berbelok menghampiri seorang pria paruh baya yang tampak terpingkal-pingkal menertawakan serial India yang beliau tonton.


 

"Sini, King. Lihat tuh, masa si Gopi nyuci laptop suaminya! Hahaha!" Lelaki itu terbahak sembari memegangi perutnya.


 

Di rumah, orang-orang memang akrab memanggilnya Ceking. Selain tubuhnya memang kurus kering, Caka lebih nyanan dilanggil seperti itu.


 

Caka geleng-geleng kepala. "Dari mukanya aja udah kelihatan idiot gitu, Pi."


 

"Heh, nggak boleh gitu!" tegur Papi sembari memukul tangan Caka.


 

Papi ini memang penggemar berat serial India. Idolanya semasa muda adalah Kajol, sampai sekarang pun beliau masih halu untuk memperistri artis tersebut.


 

"Dah ah, hidup Ceking udah kebanyakan drama, nggak mau lihat begituan." Caka bangkit dan berlalu ke arah dapur.


 

"Mau ke mana, King?" tanya Papi seraya meraih bakwan jagung buatan Mas Wildan.


 

"Mau bantuin Mas Wil masak!" jawab Caka dengan lantang


 

"Mau bantuin apa ngerusuhin?" seru Papi yang tidak dijawab oleh Caka.


 

Muhamad Abdul Bratadika atau orang-orang lebih sering memanggilnya Papi Adul merupakan kepala keluarga sekaligus orangtua tunggal untuk anak-anwknya. Para tetangga sering mencibir Papi Adul tidak tahu diri lantaran beliau menyerahkan tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga pada Banyu, putra sulungnya.


 

Papi Adul memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Beliau hanya membuka jasa servis elektronik kecil-kecilan yang tidak ramai. Dulu, beliau berkerja di sebuah pabrik elektronik dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun sejak Banyu lulus kuliah, dia mengambil alih tugas sang papi dan diterima di sebuah perusahaan. Awalnya, Banyu hanya bekerja sebagai karyawan biasa. Namun, berkat keuletannya dalam bekerja, dia diangkat sebagai kepala divisi salah satu bidang dalam perusahaannya.


 

Hal itu yang membuat para tetangga nyinyir dan menuduh Papi lepas tanggung jawab. Bahkan, Banyu harus membiayai sekolah dan kuliah keempat adiknya. Mereka tidak tahu saja bagaimana perjuangan Papi untuk menyekolahkan anaknya setelah sang istri tiada. 


 

Berat.


 

Papi bahkan harus bekerja serabutan untuk membiayai sekolah mereka. Apa yang mereka lihat saat ini adalah hasil kerja keras Papi selama puluhan tahun.


 

"Wih, masak apaan, tuh?" Caka melongokkan kepala di balik tubuh tegap kakak keduanya--- Wildan---yang tengah mengaduk sup jagung yang akan menjadi menu makan malam mereka


 

"Ck, nggak nerima perusuh." Wildan berdecak tanpa menoleh.


 

"Orang gue mau bantu, kok. Mana ada ngerusuh," ucap Caka seraya memanyunkan bibirnya.


 

"Bisa apa lo? Palingan cuma ngemilin doang," cibir Mas Wildan dengan sewot.


 

"Ya itu, Mas. Gue mau bantu makan doang! Jahahaha!" Caka berlari kencang saat mas-nya itu bersiap memukulnya dengan sendok sayur.


 

Wildan Atma Bratadika, anak kedua Papi Adul itu sekarang berkuliah jurusan ekonomi dan memasuki semester lima. Mas Wildan, begitulah para adik-adik memanggilnya. Dialah pengganti Mami dalam mengurusi rumah dan memasak, alih-alih si bungsu yang notabene adalah perempuan satu-satunya di rumah itu.


 

Wildan ini tidak kalah bawel dengan Mami semasa hidup, bahkan lebih parah. Wildan lebih disiplin dalam segala hal. Bahkan Caka selalu masuk daftar hitam dalam catatan kepengurusan masnya itu lantaran selalu melanggar peraturan yang disepakati di rumah.


 

Walaupun begitu, Wildan adalah tipe kakak yang penyayang dan lembut. Dialah pengemban tugas terberat di rumah. Dari mulai mencuci, menyapu dan mengepel, hingga memasak. Papi memang sengaja tidak menyewa asistem rumah tangga agar anak-anaknya yang berlimpah itu bisa mandiri.


 

Dari dapur, Caka melangkahkan kaki menuju kamar Banyu, kakak pertamanya yang baru sejam lalu pulang kerja. Sebenarnya Caka tidak ingin menganggu abangnya, hanya saja dia ingin menagih uang bensin pada Banyu. 


 

Begitu pintu terbuka, Caka langsung mendapati Bang Banyu yang yang tidur dalam keadaan tengkurap. Lelah tampak tergurat jelas di wajah yang katanya tampan itu.


 

"Kasian Abang, mana masih muda," gumam Caka dengan raut prihatin. Lalu dengan tidak tahu dirinya, Caka loncat ke kasur dan mendaratkan tubuhnya di atas punggung sang abang. Hal itu kontan membuat Bang Banyu terlonjak kaget.


 

"CEKING, LO MAU BUNUH GUE? GUE KAGET TAU NGGAK! TURUN!" Bang Banyu yang posisinya masih ditindih oleh Caka berteriak marah pada adik laknatnya itu.


 

"Duit bensin dulu, dong," bisik Caka tepat di telinga abangnya.


 

Banyu terdengar mendengkus kasar. "Kagak, kagak ada. Baru kemarin gue kasih perasaan," tolaknya.


 

"Ya udah gue di sini sampe pagi," ujar Caka santai.


 

"Gue tuh capek, King. Gue tuh kerja buat siapa coba? Ya buat kalian, tolong kerja samanya dong!" Nada bicara Banyu sedikit naik beberapa oktaf. 


 

Banyu tidak berbohong saat dia berkata bahwa dirinya lelah. Badannya terasa remuk lantaran beberapa hari lembur.


 

"Tinggal kasih aja napa sih, Bang." Caka yang masih menggelayuti punggung sang abang berdecak malas.


 

Begitulah Caka, kalau masalah uang, goceng pun akan dia perjuangkan sampai titik darah penghabisan.


 

Tak mau diganggu, Bang Banyu merogoh celana kolornya lalu melempar dua lembar uang sepuluh ribuan. "Tuh, sana minggat!"


 

Caka bersorak riang dan langsung turun. Dipungutinya uang yang sudah lusuh itu bagaikan menemukan bongkahan berlian.


 

"Makasih, Abang!" 


 

Afrizal Banyu Bratadika, seperti yang sudah diceritakan di awal, dia adalah tulang punggung keluarga. Meskipun galak dan suka ngatur, Bang Banyu ini tidak pelit. Dia memberikan kebutuhan dan keinginan adik-adiknya tanpa pilih kasih. Meskipun kadang sangsi terhadap Caka adik laknatnya itu, dia tetap menyayangi cowok itu.


 

Caka beranjak ke kamarnya dan langsung menemukan keberadaan sang kembaran yang tengah membaca novel setebal kamus bahasa Inggris. Caka memang memiliki kembaran selisih tiga menit dengannya. Naka Fazril Bratadika. Mereka kembar, tapi tak seiras. Tidak hanya rupa yang berbeda, karakter mereka juga bertolak belakang. Walaupun begitu, mereka tidak bermusuhan. 


 

Dulu, Naka sangat ceria. Dia selalu tertawa dan berbagi kebahagiaan. Namun, hal itu tak lagi sama semenjak sang mami pergi meninggalkan dunia ini. Di Bratadika bersaudara, Naka-lah yang paling dekat dengan maminya. Bahkan Cilla hanya murung beberapa hari lalu ceria lagi. Namun tidak dengan Naka, cowok itu berubah menjadi tak tersentuh. Terlebih dengan orang lain. Kalau dengan keluarganya, Naka masih sedikit terbuka. Namun, keceriaannya sirna, ikut tiada bersama perginya Mami.


 

"Baru lagi?" tanya Caka seraya merebahkan tubuhnya di samping Naka yang terduduk di pinggir kasur.


 

"Hm," jawab Naka sekenanya.


 

"Nggak pusing otak lo baca gituan mulu?"


 

Naka menutup novelnya, lalu menatap ke arah sang kembaran. "Lo nggak akan paham, King," ucapnya.


 

"Iye, iye, Es Batu!"


 

Naka hanya menanggapi dengan sedikit kekehan. Kalau di luar rumah, mana mau dia tersenyum. Menjawab sapaan saja ia enggan. Separuh jiwa cowok itu seolah pergi.


 

"Si Cilla mana, ye? Mau gue gangguin. Sehari nggak gangguin dia rasanya hidup gue hambar." Caka bangkit sembari mengedarkan pandangannya.


 

"Mandi kali," jawab Naka yang kembali fokus pada bacaannya


 

"PAPI, BANG BAY, MAS WIL, BANG CEKING, KAK NAKA TOLONGIN CILLA, HUA! HUSH!"


 

"Bang Ceking, Kak Naka, tolong dong cek adiknya itu kenapa teriak-teriak." Mas Wildan yang berada di dapur berseru. Sedangkan Papi Adul telah pergi ke pos ronda sepuluh menit lalu. Biasa bapak-bapak, main catur.


 

Caka dan Naka saling pandang. Tanpa dikomando, keduanya berlari ke arah kamar mandi, tempat Cilla berada.


 

Saat Naka berhasil membuka pintu, sang adik langsung menghambur dalam pelukan sang Kakak. 


 

"Kenapa, Dek, ada apa?"


 

"I-itu ada kecoa. Hua! Cilla takut!"


 

Caka tergelak. Dengan tangan kosong, dia mengambil kecoa yang berada di dinding kamar mandi, lalu menggoyang-goyangkannya di depan Cilla.


 

"Ngihaaa! Orang lucu gini kok takut."


 

"Abang, geli ih!" Cilla bergidik dan berusaha menghindar


 

"Hayo, mau ke mana! Cilla, kecoanya naksir kamu!"


 

"Pergi! HUSH!"


 

Cilla sontak berlari, dan langsung dikejar oleh Caka. Saat di depan tangga, tanpa sengaja Cilla menubruk Wildan yang membawa semangkuk besar sup jagung. Kontan saja mangkuk terjatuh dan isinya tumpah ke lantai.


 

Atmosfer di rumah itu seketika tegang. Caka yang tadinya sudah berada di anak tangga terakhir, diam-diam naik ke atas lantaran sadar bahwa dirinya menjadi tersangka.


 

"Hua, Mas Wil maafin Cilla! Ini semua salah Bang Ceking!"


 

Dengan muka penuh amarah, Wildan berseru, "Ceking, sini lo, gue cincang!"


 

Bersambung ....