Try new experience
with our app

INSTALL

Kolase Bratadika 

2. Cerita Hari ini

"Mas kok ya nggak nikah aja, to? Masih muda lho Mas Adul ini. Masih banyak yang mau." Lelaki dengan logat jawanya itu menatap ke arah Papi Adul yang menyeruput kopinya.

 

"Biasa, Sar. Si Cilla kagak mau punya ibu tiri, jahat katanya." Papi Adul menggeleng-gelengkan kepala mengingat bagaimana putri bungsunya yang ngambek berhari-hari hanya karena beliau membawa seorang wanita ke rumah.

 

"Anak lo jadi korban sinetron India yang sering lo tonton itu kali, Dul." Lelaki berwajah sedikit bule yang duduk di hadapan Papi Adul ikut menyahut.

 

Kontan saja, Papi Adul memelotot tak terima. "Heh, enak aja lo! Jangan nyalahin India gue, ya! Ini tuh ulah abangnya yang gendeng itu. Tau dah, gue pusing! Hobi banget tuh bocah ngehasut sama bikin adiknya mewek."

 

"Ceking? Kok ya seneng men mbengek adike." (Ceking? Kok ya suka banget sih njahilin adiknya.)

 

"Hah? Anak gue nggak bengek lho, Sar." Dahi Papi Adul berkerut bingung.

 

"Eh, bukan itu maksudku, Mas! Mbengek tuh bahasa jawa, apa yo Indonesianya?" Lelaki itu tampak berpikir. "Nggodani? Oh ya, jahilin!"

 

"Beh, coba deh lo jadi gue aja sehari. Pusing gue jamin!"

 

"Emang Cilla masih ngancem mau bunuh diri gitu, Dul, kalo lo mau kawin?"

 

"Makin parah, Man. Bawa silet dia. Langsung mau ngiris pergelangan tangannya pas gue ngajak cewek ke rumah, padahal gue belum sempet ngenalin."

 

Kedua lelaki berkaus oblong itu sontak tertawa. Mereka sudah hafal betul bagaimana ancaman Cilla ketika papinya meminta izin untuk menikah lagi. Mereka adalah sobat ngopi Papi Adul setiap sore. Yang berlogat Jawa itu namanya Sarwoto. Beliau merupakan orang Jogja asli. Kehadirannya tiga tahun lalu pernah menggegerkan seisi kompleks. Bagaimana tidak, dengan logat serta pakaian adat jawanya, lelaki itu bertanya pada setiap orang yang dia temui. Tidak hanya itu, dia juga membawa oleh-oleh khas kampung yang dianggap norak oleh seisi kompleks.

 

Sementara teman ngopi Papi Adul yang satunya lagi bernama Arman. Dia merupakan teman seperjuangan Papi sejak mereka masih menjadi kuli bangunan. Sekarang, anak Arman juga sudah seumuran Caka.

 

"Fiks, anak lo ketuluran Tapasya si India itu. Kebanyakan drama!" celetuk Arman, menguatkan pendapatnya.

 

Papi Adul sontak melirik sinis Arman. "Lo ada masalah apa, sih, sama India gue? Nuduh mereka mulu perasaan."

 

Sarwoto yang sudah mulai merasakan aura tidak enak pun langsung merangkul keduanya sembari tersenyum. Meskipun paling muda di antara keduanya, Sarwoto ini paling dewasa di antara mereka bertiga.

 

"Wis, wis, Mas. Lanjut ngopi wae. Dek, mana gorengannya?" Sarwoto berteriak, memanggil istrinya.

 

"Sek, Mas!"

 

Rumah Sarwoto memang berada di belakang pos ronda. Maka tak heran kalau ia selalu menyediakan konsumsi bagi para bapak-bapak yang nongkrong di tempat ini. 

 

Lima menit kemudian seorang wanita dengan rambut digelung berjalan dengan langkah ala putri keraton ke arah pos ronda. Asih, dia adalah istri Sarwoto yang tak kalah ramah dan baik hati. Wanita paruh baya itu lantas meletakkan sepiring pisang goreng yang masih hangat dan baru diangkat dari penggorengan.

 

"Monggo, Kangmas-kangmas ...."

 

Papi Adul tersenyum lebar, lalu bertutur lembut. "Matur suwun, Dek Asih sing ayu dewe."

 

"Inggih, sami-sami, Mas Adul."

 

Sepeninggal Asih, Sarwoto melirik kesal ke arah Papi Adul. Menyadari hal itu, Papi pun mengerutkan kening. "Lo kenapa, Sar?"

 

"Ya bener aku nyuruh Mas Adul nikah lagi, tapi mbok ya jangan nggodani bojoku to yo." Kontan saja Papi Adul tergelak mendengar ucapan Sarwoto itu.

 

"Tau, tuh. Inget, Dul, anak lo udah lima. Lo udah otw aki-aki kalo Banyu nikah," ucap Arman dengan nyinyir.

 

"Apaan sih lo, Man?! Kita seumuran ya kalo lo lupa!" Papi Adul melayangkan tatapan penuh permusuhan pada Arman.

 

Ketiganya pun melanjutkan obrolan, seolah melupakan perdebatan barusan.

Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba suara klakson mobil yang nyaring terdengar. Dari arah timur, sebuah mobil mewah berwarna silver melintas dan berhenti tepat di depan pos ronda.

 

Semenit kemudian, kaca mobil diturunkan dan menampilkan seorang lelaki berkacamata hitam yang berpakaian kantor ala-ala CEO.

 

"Halo, Bapak-bapak, lagi pada ngumpul, ya?" sapa lelaki yang seumuran dengan Papi Adul itu dengan sok ramah.

 

Kontan saja Papi Adul melengos, dia tahu betul kalau orang itu tengah mengejek dirinya. Lihat saja, senyumannya itu. Sangat memuakkan.

 

"Inggih, Pak Viko, baru pulang ngantor, ya?" tanya Sarwoto dengan ramah. Papi Adul kesal melihat bagaimana binar kagum yang dipancarkan Sarwoto saat menatap Viko. Bukannya iri, tapi Papi Adul tahu maksud busuk dari orang sok kaya itu.

 

"Iya, nih, Mas Sarwoto. Biasalah, habis meeting sama klien," ucap Pak Viko dengan jemawa seraya melirik sinis ke arah Papi Adul.

 

"Pantes Pak Viko baru pulang," sahut Arman yang semakin membuat Papi Adul dongkol.

 

"Iya, nih, Pak Arman." Lalu secara terang-terangan Pak Viko menatap Papi Adul. "Eh, Adul, di sini juga, ya?" tanyanya dengan nada ejekan.

 

Papi Adul melengos dan berdeham singkat. Dia sedang malas berdebat sekarang.

 

"Ya udah, ya, Bapak-bapak, saya ada janji dinner nih sama anak istri." Pak Viko menatap jam mewah nan bermereknya itu. "Saya pamit dulu!"

 

"Monggo, Pak Viko."

 

Begitu mobil Pak Viko melaju, Papi Adul mengambil sandalnya dan membuat gerakan ingin melempar. "BELAGU LO!"

 

"Mas ini kenapa, to? Kok kayaknya nggak suka gitu sama Pak Viko?" tanya Sarwoto, heran.

 

"Iya, Dul, lo ada masalah apa, sih, sama dia?" Arman menimpali.

 

Papi Adul hanya mendengkus malas, enggan menanggapi.

 

Viko Suwangsa. Jadi begini ceritanya ... dulu Viko dan Papi Adul adalah teman satu SMK. Mereka saling bersaingan dalam segala hal. Dari mulai popularitas, kekayaan, hingga masalah kekuasaan di sekolah.

 

Namun, semenjak Papi Adul mengenal Karmila---gadis desa yang lemah lembut dan berkulit hitam manis macam Kajol idolanya---perangai Papi Adul menjadi lebih baik. Bahkan lelaki itu bertekad untuk menikahi Karmila setelah lulus SMK.

 

Sayangnya hubungan keduanya ditentang oleh Pak Brata---ayah Adul---yang terkenal sebagai konglomerat dengan saham yang tertanam di berbagai perusahaan. Papi Adul yang sudah sangat jatuh hati pada Karmila pun rela diusir dari kediaman Pak Brata. 

 

Dengan restu dari kedua orang tua Karmila, keduanya menikah secara sederhana dan tinggal di Bandung beberapa bulan. Saat ekonomi Papi mulai membaik, keduanya memutuskan untuk kembali ke ibukota dan menetap di sana. Membangun asmara hingga keduanya dikarunia putra-putri dan maut memisahkan mereka.

 

Dan setelah bertahun lamanya, entah takdir yang suka mempermainkan Papi Adul atau bagaimana, dia dan Viko kembali dipertemukan. Viko menjadi tetangganya tiga bulan lalu, sekaligus menjadi orang terkaya di kompleks. Setiap keduanya bertemu, mereka saling mengejek satu sama lain. Terlebih kondisi ekonomi Papi Adul yang pas-pasan membuat Viko semakin gencar untuk nyinyir.

 

***

 

"Dihabisin aja, King, kita semua udah makan, kok." Caka semakin lahap memakan potongan pizza-nya begitu Mas Haris berkata demikian.

 

"Iya, kamu tuh harus banyak makan, Ka, biar nggak dipanggil Ceking lagi," sahut Tante Jia yang membawa dua gelas jus jeruk itu.

 

"Iya, Tan," jawab Caka dengan penuh antusias.

 

Di sinilah Caka sekarang, di kediaman sang om yang kaya raya dan dermawan, tidak medit seperti keluarganya.

 

Muhamad Gunawan Bratahardi, beliau adalah adik satu-satunya Papi Adul. Beliau-lah yang mewarisi kekayaan keluarga Brata. Meskipun Papi Adul diusir, hal itu tidak menjadikan Om Gun dan Papi Adul bermusuhan, keduanya malah sangat akur. Bahkan, Om Gun ingin membagi harta warisannya tapi langsung ditolak oleh Papi lantaran beliau sadar diri.

 

Sejak tragedi sup jagung tumpah tadi, lewat jendala kamarnya, Caka kabur ke kediaman Om Gun yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kediaman Bratadika. Di rumah ini, Caka diperlakukan dengan sangat baik, kontras dengan bagaimana orang-orang rumah memperlakukannya.

 

Om Gun memiliki satu putra. Singgih Haris Bratahardi namanya. Haris kuliah di Jogja dan beberapa bulan sekali pulang ke Jakarta. Dan baru kemarin kebetulan Mas Haris pulang dari Jogja. 

 

Tidak seperti Bang Banyu yang sangat sulit dimintai uang bensin, Mas Haris akan secara cuma-cuma memberi Caka uang dalam jumlah yang cukup banyak tanpa diminta. Karena selain kuliah, Haris juga mengelola kafe di Jogja.

 

Di rumah ini, Caka akan diperlakukan dengan sangat baik dan dilimpahi kasih sayang. Bahkan, Caka merasa bahwa dirinya adalah anak Om Gun yang dititipkan ke Papi. Bagaimana tidak, wajah Caka lebih mirip Om Gun dibanding dengan Papi Adul.

 

Hal itu yang diyakini Caka. Bahwa dia adalah anak Om Gun yang belum diakui. Makanya dia diperlakukan tidak adil di rumahnya sendiri.

 

Pernah sekali Caka mencoba tinggal di rumah Om Gun lantaran tidak sengaja memecahkan pot tanaman kesayangan Wildan. Selama dua hari tinggal, Caka merasa kesepian. Tidak ada yang ia jahili, ganggu, dan palaki uang.

 

Makanya, ia hanya datang ke rumah Om Gun saat ia menjadi tersangka atau dizalimi orang-orang rumah.

 

"Wah, ternyata ada Caka juga di sini. Kebetulan banget Om bawa sushi kesukaan kamu." Om Gun yang berjalan dari arah pintu sambil menenteng tas lengkap dengan pakaian kerjanya, menatap Caka dengan semringah.

 

Seketika mata Caka berbinar cerah. "Wah, kebetulan banget Caka udah lama nggak makan sushi, Om!" serunya.

 

Sesungguhnya ini adalah rezeki anak-anak saleh yang ternistakan. Biarkan saja orang-orang rumah meratapi sup jagung. 

 

Mampus kalian makan mie lagi, gue makan enak di sini, wleeek!

 

***

 Caka berjalan mengendap-endap memasuki halaman rumahnya saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ia sengaja pulang dari rumah Om Gun saat larut malam agar tidak mendapat hukuman.


Di keluarga Bratadika, hukuman berlaku bagi siapa saja yang sudah membuat kesalahan, termasuk Papi Adul sendiri.


Saat membuka pintu rumahnya, Caka sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia bernapas lega saat pintu terbuka dan melihat bahwa lampu ruang tengah sudah dimatikan, itu tandanya semua orang telah terlelap.


Senyum Caka mendadak lenyap saat dia merasakan telinganya ditarik dengan keras bersamaan dengan lampu yang tiba-tiba menyala.


"Oh, jadi ini si biang rusuh yang abis makan pizza sama sushi itu! Enak ya makan makanan mewah, sementara kita di sini makan mie lagi!" 


"Anjir! Ampun, Mas, ampuun! Udahan njewernya, telinga gue mau copot ini!"


"Biarin copot sekalian! Punya telinga juga nggak pernah dipake!" Mas Wildan terus menarik telinga sebelah kanan Caka tanpa ampun. Sementara di dekat saklar sana, Bang Banyu tampak bersedekap dengan tatapan tajamnya.


"Sini lo, gue cincang-cincang, buat menu sarapan besok." Dengan tangan yang masih menjewer telinga sanh adik, Mas Wildan menyeret tubuh itu menuju ruang tengah. 


ANJIR, ANJROT! HSSSJK! MAS SAKIT MAS, TELINGA GUE!" Caka berteriak kesakitan. Mas Wildan ini kalau sudah menjewer memang tidak pernah main-main.


Di sofa, seluruh anggota keluarga menyambutnya dengan tatapan menusuk. Bahkan Papi Adul yang biasanya memaklumi kesalahan Caka kini ikut menatapnya dengan sorot tak bersahabat.


"Duduk!" Mas Wildan melepaskan jewerannya dan menginstruksikan agar Caka duduk di samping sang kembaran.


Caka menurut. Dia menghela napas panjang saat Mas Wildan mengeluarkan note kecil dari saku dan menatapnya dengan seringaian seolah berkata, 'Hukuman menantimu, Ceking!'


"Saudara Caka Nazril Bratadika, apakah Anda menyadari apa kesalahan yang telah Anda perbuat?" Mas Wildan berjalan mondar-mandir di belakang sofa yang di diduduki Caka, seolah adiknya itu adalah tersangka yang siap dijatuhi dakwaan.


"Ya," jawab Caka dengan ogah-ogahan.


"Coba sebutkan kesalahan-kesalahan itu."


"Gue ngejar Cilla sambil bawa kecoa, terus dia nabrak lo dan numpahin sup, alhasil kalian harus makan malem pake mie. Terus gue nggak tanggung jawab malah kabur dan makan enak di tempat Om Gun."


Mas Wildan menjentikkan jarinya. "Lo tahu nggak gimana perjuangan gue buat nyari jagung di pasar? Susah, King. Mana tuh jagung di pasar tinggal sedikit."


"Ya gimana, udah telanjur tumpah. Kan yang nabrak lo itu si Cilla, Mas. Dia harusnya juga disalahin, dong," ucap Caka tak terima. Sejujurnya ia sudah lelah untuk berdebat lantaran hari sudah sangat larut.


"Heh, kok jadi Cilla?! Kan Abang yang ngejar-ngejar Cilla!" sahut Cilla dengan berapi-rapi.


"Mas, langsung ke intinya aja. Ini udah malam, besok kalian harus bangun pagi," sela Papi Adul menengahi.


Mas Wildan langsung mengangguk. "Oke, berdasarkan kesepakatan bersama, lo harus menjalani tiga hukuman. Dengerin baik-baik."


Kontan saja Caka mendengkus malas. Selalu saja begini, dia tidak sepenuhnya salah, tapi harus tetap mendapatkan hukuman.


"Yang pertama, lo harus bersihin kandang Salman plus keluarganya, ngasih makan plus bersihin kotoran Gopi sama Tapasya selama seminggu." Mas Wildan memberi jeda sejenak, yang langsung ditanggapi Caka dengan helaan napas panjang.


Salman merupakan ayam jantan peliharaan Papi Adul. Jangan heran, semua hewan peliharaan Papi memang diberi nama serba India. Sedangkan Gopi merupakan kelinci milik Cilla hadiah ulang tahun dari Mas Wildan. Kalau Tapasya, dia adalah kucing oren yang ditemukan Bang Banyu di jalan dalam keadaan pincang. Jangan salah, galak-galak begitu Bang Banyu ini penyayang binatang.


Awalnya, Bang Banyu menolak keras saat Papi Adul ingin menamainya Tapasya. Namun, Papi mengancam akan kembali membuang kucing oren tersebut jika Bang Banyu tidak menurut. Bukan tanpa alasan Papi menamainya Tapasya. Kucing itu terlalu banyak drama dan akan mengamuk jika telat diberi makan.


"Yang kedua, lo harus nyuci motor gue si Hye Kyo selama seminggu juga." Caka kembali mendengkus.


Kalau Papi Adul pencinta serial India, maka Mas Wildan adalah penggemar berat drama Korea. Terlebih pada Song Hye Kyo, Mas Wildan sangat mengidolakan artis tersebut. Lagi, banyak yang menyebutnya mirip Song Hye Kyo saat dia dalam mode imut.


"Ketiga, uang jajan lo dipotong setengah dari jatah biasanya." Kali ini Caka tidak hanya mendengkus, melainkan sudah memelotot.


"Apa? Dipotong? Uang jajan gue yang nggak seberapa itu dipotong? Ayolah, Mas, ini cuma kesalahan kecil," protes Caka.


"Kesalahan kecil kata lo?! Kita cuma makan malem seadanya gara-gara lo, Ceking!" Mas Wildan berseru marah.


"Kalo waktu itu gue nggak tidur, muka lo udah gue bonyokin sampe mampus!" sahut Bang Banyu berapi-api.


Sedangkan Cilla tampak menjulurkan lidahnya, meledek kakak terlaknatnya itu. Kalau Naka seperti biasa, dia hanya menjadi penyimak dengan tampang bawaannya.


"Ka, bilangin gih sama mas lo suruh ngeringanin hukuman gue," bisik Caka pada Naka.


"Lo harus pertanggungjawabin apa yang udah lo lakuin, King. Gue nggak bisa bantu," ucap Naka.


"Pi ...," rengek Caka seraya menatap ke arah Papi Adul dengan tampang memelas.


"Bang, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Kali ini Bang King harus belajar tanggung jawab." Papi Adul berucap tenang. "Ya udah, kalian semua ke kamar masing-masing, harus langsung tidur jangan begadang."


Caka berjalan gontai ke kamarnya, baru tadi ia bersenang-senang di rumah Om Gun, ternyata hukuman telah menantinya di rumah.


Tamat




"



"