Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

2 Yang Mulia 

7. Air Mata Ketakutan yang Tidak Kunjung Reda

Dzikir dan usapan Sultan Singa berhasil membuat Cendani mengantuk dan tertidur.


"Syukur Alhamdulillah," ucap Sultan Singa lega.


Sultan merasa matanya berat lalu tertidur dengan posisi duduk bersandar.


Beberapa menit kemudian Cendani gelisah dalam tidurnya.


"Tidak, Yang Mulia! Tidak! Jangan! Hamba mohon jangan, Yang Mulia!" Cendani bermimpi.


Sultan Singa menjadi terkejut dan terbangun. Sultan memperhatikan Cendani. Ia kembali mengusap puncak kepala Cendani, mencoba menenangkannya.


"Shhhh ... shhh ... shhh! Shhhh ... shhh ... shhh!" Sultan Singa menenangkannya seperti menenangkan bayi.


"Hamba mohon Jangan, Yang Mulia! Tidak, Yang Mulia!" Cendani bermimpi sampai mengeluarkan air mata.


"Apa sebaiknya aku bangunkan? Akan tetapi, jika dia dibangunkan, dia akan merasakan sakit lagi," pikir Sultan Singa bingung.


Cendani terbangun dari tidurnya. Cendani melihat Sultan Singa, terkejut, ketakutan, dan menangis. Cendani berusaha bangun, tetapi Sultan Singa mencegah dengan memeluknya.


"Akh ...!" pekik Cendani terkejut dan takut.


"Tenanglah Ananda, itu hanya mimpi! Aku kan sudah berjanji kepadamu, Ananda!" kata Sultan sambil memeluk erat Cendani.


"Hamba mohon jangan, Yang Mulia!" Cendani menangis sesenggukan.


"Shhhh ... shhh ... shhh! Shhhh ... shhh ... shhh! Tenanglah, nanti asma Ananda bisa parah lagi!" Sultan Singa menjadi cemas.


Suara pintu diketuk.


"Masuk!" perintah Sultan Singa.


Pelayan masuk membawa baki berisi semangkuk bubur. Pelayan sekilas menunduk memberi hormat.


"Yang Mulia, hamba membawa bubur cair!" kata pelayan itu.


"Kemari, mendekatlah!" perintah Sultan Singa.


Pelayan mendekat. Sambil tangan kiri memeluk Cendani, tangan kanan Sultan Singa meraih sendok dan menyendok sedikit bubur. Sultan Singa mengarahkan ke mulut Cendani.


"Sekarang makanlah!" perintah Sultan Singa dengan lembut. Cendani menggeleng. "Oh, kalau begitu, sebaiknya aku apakan bibir di hadapanku ini?" ancam Sultan Singa sambil menggerakkan lidahnya.


"Jangan! Jangan!" Cendani ketakutan.


"Kalau begitu makanlah!" perintah Sultan Singa sambil menatap tajam mata Cendani. Dengan ketakutan akhirnya Cendani mau memakan buburnya. Sultan dengan sangat telaten menyuapinya.


"Gadis baik kau harus menghabiskan bubur ini!" perintah Sultan sambil menyuapinya.


Sultan melihat tempat tidurnya bersimbah darah. Ternyata transfusi darahnya terlepas. Gerakan Cendani yang mau bangkit, yang membuatnya terlepas.


"Pelayan taruh buburnya di kasur!" perintah Sultan Singa. Pelayan mengikuti perintah Sultan. "Kau pergi panggil suster, katakan jika transfusi darahnya terlepas!" perintah Sultan lagi. Pelayan sekilas menunduk lalu bergegas pergi. Sultan mengambil sapu tangan dari balik bajunya dan menutupkannya pada tangan kiri Cendani.


Cendani gelisah.


"Akh!" keluh Cendani sambil memegang perutnya yang terluka.


"Kenapa sepertinya keadaanmu memburuk?" Sultan Singa melihat darah di perut Cendani menembus pakaian. Wajah Cendani tampak pucat dan tampak hampir kehilangan kesadarannya.


"Prajurit ...! Prajurit ...!" teriak Sultan panik sambil memeluk erat Cendani.


Prajurit berlari datang membuka pintu kamar, lalu sekilas menunduk.


"Cepat panggil dokter-dokter wanita, katakan darurat!" teriak Sultan Singa panik. Prajurit sekilas menunduk dan langsung berlari pergi.


"Astagfirullahaladzim! Astagfirullahaladzim!" Sultan Singa panik sambil memeluk erat Cendani. Sultan panik sampai menangis.


"Kalau saja kau tenang, tidak banyak bergerak, tidak akan seperti ini! Aku kan sudah berjanji tidak akan menyetubuhimu! Demi Allah, kau bisa pegang janjiku!" Sultan Singa marah karena khawatir sambil terus memeluk erat Cendani.


Sultan tak kuasa menahan air matanya. Sultan semakin panik dan air matanya semakin mengalir.


"Ya Allah, hamba mohon tolong selamatkan gadis ini!" doa Sultan Singa sembari menangis.


"Kemana dokter - dokter itu?! Kenapa lama sekali?!" Sultan panik hingga marah, tidak sabar menunggu kedatangan para dokter.


Para dokter wanita dan para suster berdatangan sambil berlari, membuka pintu, lalu sekilas menunduk.


"Cepat ambil tindakan!" perintah Sultan Singa lalu membaringkan Cendani, kemudian mengambil baki berisi mangkuk bubur, beranjak pindah ke kursi jati panjang, sambil menaruh baki di meja bundar. "Kalian kerjakan saja, aku akan menutup mata! Aku tidak bisa jauh-jauh darinya!" kata Sultan Singa lagi saat telah berpindah ke kursi jati panjang.


Tanpa banyak bicara para dokter wanita dan para suster segera mengambil tindakan. Sementara itu Sultan Singa menutup mata dengan kedua telapak tangannya dan menangis. Pintu kamar terdengar diketuk.


"Yang Mulia, ini hamba Jenderal Sauqy!" seru Sultan (Jenderal) Sauqy dari balik pintu.


Sultan Singa beranjak ke luar kamar. Sultan Singa menemui Sultan Sauqy sambil menghapus air matanya. Sultan Sauqy terkejut, penuh tanda tanya, melihat Sultannya yang tangguh tampak sangat basah air mata. Sultan Sauqy sekilas menunduk memberi hormat.


"Yang Mulia, apa yang sedang terjadi?" tanya Sultan Sauqy khawatir.


"Dia gadis baik Yang Mulia, gadis baik, tapi ... tapi aku Sultan Singa telah mendzoliminya!" Sultan Singa tak kuasa menahan air matanya ke luar lagi.


"Apa yang terjadi, Yang Mulia?" Sultan Sauqy bertanya lagi.


"Hanya demi nafsuku aku telah mendzoliminya dan sekarang ia kritis," jawab Sultan Singa sambil menghapus air matanya.


Sementara itu di dalam kamar Sultan Singa.


"Kita akan butuh tambahan kantong darah golongan O!" kata dokter bedah.


"Maaf Dok, kantong darah, golongan darah O telah habis!" kata Suster.


"Cepat, laporkan ke Sultan Singa!" perintah dokter bedah.


"Aku hendak melaporkan tugas, tapi sepertinya sekarang tidak tepat waktu," kata Sultan Sauqy.


"Istana aku pasrahkan kepadamu, Sultan Sauqy! Aku percaya kepadamu, Sultan Sauqy!" kata Sultan Singa.


Suster datang, sekilas menunduk.


"Maaf, Yang Mulia, Jenderal! Saya mau melaporkan, stok kantong darah golongan O telah habis dan kami butuh segera!" kata suster cemas.


"Golongan darahku O, ambil saja!" kata Sultan Sauqy dengan yakin.


"Kalau begitu, mari Jenderal Sauqy ke rumah sakit istana!" ajak suster itu.


"Terima kasih!" ucap Sultan Singa.


Jenderal Sauqy mengangguk, lalu menunduk sekilas. Suster juga menunduk sekilas. Lalu mereka berdua bergegas ke rumah sakit istana.


Suster dan Jenderal Sauqy berjalan cepat menuju ke rumah sakit istana.


"Siapa pasiennya, Suster?" tanya Sultan Sauqy sambil melangkah cepat.


"Gadis budak, Jenderal Sauqy," jawab suster itu.


"Dia kenapa bisa kritis?" tanya Sultan Sauqy.


"Dia terkena cambukan di punggung dan di dada, ada luka tusukan di perut dan itu yang membuatnya membutuhkan transfusi, lalu ia juga ada asma dan masuk angin," terang suster itu.


"Apa suster tahu bagaimana ia tertusuk?" tanya Sultan Sauqy penasaran.


"Hamba tidak tahu, Jenderal," jawab suster sambil menggeleng.


"Apa mungkin Yang Mulia Sultan Singa menusuknya? Ah, tidak mungkin, aku tidak percaya jika Yang Mulia Sultan Singa bisa melakukan hal itu!" benak Sultan Sauqy sungguh tidak percaya.


"Sebenarnya semalaman kami para medis sudah menanganinya dan ia sudah melewati masa kritis, tetapi entah kenapa, tadi saat kami datang tranfusinya lepas dan luka di perutnya berdarah lagi," terang suster itu lagi.


"Oh, jadi kemarin karena gadis itu, Yang Mulia Sultan Singa tampak cemas dan menyuruhku menginap," pikir Sultan Sauqy.


Sultan Singa masuk ke dalam kamarnya lagi. Ia duduk di sofa jati, menunduk dengan sangat cemas. Ia menunggu sambil berdzikir dalam hatinya dan suai bibirnya. Sementara itu para medis sibuk, konsentrasi penuh menangani Cendani, agar bisa bertahan hidup.


"Tidak, Yang Mulia! Hamba mohon ampuni hamba, Yang Mulia!" Cendani meracau dan gelisah.


"Sepertinya dia mengalami trauma!" kata dokter umum.


"Tambah sedikit biusnya, biar dia benar-benar tidur! Jika sampai ia bergerak akan semakin buruk untuk perutnya!" kata dokter bedah.


Mendengar kata-kata para dokter, Sultan Singa semakin cemas dan merasa semakin bersalah.


"Hanya Allah yang bisa menyelamatkannya," batin Sultan Singa lalu beranjak keluar dari kamarnya.


Masjid istana.


Sultan Singa sholat, berdzikir, dan berdoa untuk kesembuhan Cendani.


"Musibah tidak bisa mendahului amal," batin Sultan Singa selesai berdoa.


Halaman istana.


"Prajurit ...!" seru Sultan Singa.


Seorang Prajurit datang lalu sekilas menunduk.


"Ambil sembako satu gudang dan Dinar satu peti! Bagikan ke rakyat miskin sekarang juga!" perintah Sultan Singa.


"Baik, Yang Mulia!" jawab prajurit lalu sekilas menunduk dan kemudian bergegas pergi.


Sultan Singa bergegas kembali ke kamarnya.


"Bagaimana keadaanya, Dokter, Suster?" tanya Sultan Singa pada para medis.


"Tinggal menunggu kantong darah, golongan darah O, Yang Mulia!" jawab dokter bedah.


Seorang suster masuk membawa kantong darah golongan darah O.


"Ini Dokter!" seru suster yang baru masuk itu.


"Syukurlah Alhamdulillah!" ucap Sultan Singa. "Cepat selamatkan dia!" perintah Sultan Singa dengan masih cemas.


"Tenang Yang Mulia, Insya Allah, gadis anda akan baik-baik saja!" kata dokter bedah menenangkan Sultan Singa.


"Insya Allah!" kata Sultan Singa yang masih cemas.


"Suster, cepat pasang!" seru dokter bedah.