Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

2 Yang Mulia 

6. Belas Kasih Yang Mulia

Selesai Sultan Singa berdoa, gadis budak tampak tenang.


“Gadis lemah yang malang, menerima ketakutan, dan banyak luka. Aku merasa aku bukan kesatria,” ucap Sultan Singa dengan mata berkaca-kaca sambil terus mengompres dahi gadis budak.


Setelah beberapa saat Sultan Singa mencoba merasakan lagi, suhu di dahi gadis budak.


“Alhamdulillah, sudah tidak terlalu tinggi,” ucap Sultan Singa lega.


“Beberapa saat lagi subuh. Sudah saatnya sholat malam. Aku harus berdoa agar ia selamat dan bisa sembuh, juga meminta ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahanku kepada budakku. Ananda, maaf, aku tinggal sebentar,” batin Sultan Singa lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Sultan Singa ke luar dari kamar mandi. Ia mengambil sajadah dalam lemari lalu menggelarnya di depan tempat tidur. Setelah beberapa rokaat selesai, Sultan Singa berdzikir, lalu berdoa.


“Ampuni dosa-dosa hamba dan dosa-dosa hamba pada gadis budak hamba ini. Hamba sangat bersyukur Engkau mengirimkan gadis budak spesial ini kepada hamba. Hamba tidak ingin kehilangan dia. Mohon sembuhkan penyakitnya dan panjangkan umurnya. Hamba berjanji, jika ia sembuh, tidak akan memaksanya lagi, melayani hamba di tempat tidur. Hamba juga akan menyedekahkan harta hamba kepada fakir miskin,” pinta Sultan Singa dalam doanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara adzan Subuh.


“Suara Sultan Sauqy? Oh iya aku telah memintanya menginap dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain, di luar tugasnya sebagai jenderal,” batin Sultan Singa 

mengenali suara yang mengumandangkan adzan.


Suara adzan Subuh dari Sultan Sauqy membangunkan gadis budak.


“Akh! Akh!” Gadis budak merasakan tubuhnya sakit semua.


“Tapi saat ini aku sedang tidak bisa berjamaah ke masjid. Aku tidak bisa meninggalkannya. Baiklah, hari ini aku sholat subuh sendiri saja, di sini,” batin Sultan 

Singa mencemaskan gadis budak sehingga ia tidak ikut sholat subuh berjamaah di masjid istana.


Sultan Singa berdiri hendak sholat subuh. Saat itu ia melihat gadis budak terbangun. Sultan Singa mendekat.


“Akh! Akh!” rintih gadis budak.


“Ananda! Ananda sudah sadar?” tanya Yang Mulia. Gadis budak menatap Sultan Singa, terkejut, dan takut. “Jangan takut, Ananda! Tenanglah dan tetap di tempatmu! Sebentar, aku mau sholat subuh dahulu!” kata Sultan Singa lalu kembali ke sajadahnya.


Sultan Singa sedang sholat subuh di depan mata gadis budak. Gadis budak memandang dengan tersenyum kecil dan menjadi tenang. Gadis budak lalu teringat jika ia sudah beberapa saat melewatkan waktu sholat dan ia pun menjadi sedih.


“Sudah berapa waktu sejak menjadi budak, aku kehilangan sholat,” batin gadis budak sedih, sampai air matanya mengalir deras, dan sesenggukan.


Sultan Singa sudah selesai sholat subuh. Ia segera melipat dan menaruh sajadah ke dalam lemarinya. Setelah itu, ia menghampiri gadis budaknya.


“Air mata apa ini, Ananda? Karena sakit di tubuh mu, Sayang? Atau kau masih takut kepadaku, Sayang? Aku berjanji, tidak akan memaksamu lagi, untuk melayaniku di tempat tidur. Demi Allah! Kau bisa pegang janjiku, Ananda!” Sultan Singa menghapus air mata gadis budak.


“Akh! Sungguh, Yang Mulia?” Gadis budak merintih kesakitan sambil bertanya memastikan dengan suara sangat pelan dan dalam alat bantu pernafasan.


“Sungguh, Ananda Sayang!” Sultan Singa mengangguk.


“Terima kasih, Yang Mulia.” Gadis Budak merasa lega.


“Ah, tapi ada syaratnya!” ujar Sultan Singa.


“Apa syaratnya, Yang Mulia?” tanya gadis budak.


“Kau harus menurut kepadaku, harus menjalani pengobatan dengan baik, dan sembuh!” kata Sultan Singa.


“Baik, Yang Mulia! Akh! Insya Allah, hamba akan menurut kepada Yang Mulia, menjalani pengobatan dengan baik, dan sembuh! Akh!” jawab gadis budak sambil terus 

mengeluh kesakitan.


“Bagus! Sekarang boleh aku tahu namamu, Ananda?”


Gadis budak ragu mau menjawab. “Hamba Cendani, Yang Mulia,” jawab gadis budak dengan suara lemah.


“Berapa umurmu sekarang, Ananda Cendani?” tanya Yang Mulia lagi.


“Sembilan belas, Yang Mulia,” jawab gadis budak dengan suara lemah.


“Memang badanmu merasa kesakitan, tetapi usahakan jangan banyak bergerak, karena berbahaya buat luka di perutmu, Ananda! Aku akan beristirahat di kursi panjang. Kalau Ananda Cendani perlu sesuatu, bangunkan saja aku!” kata Sultan Singa penuh perhatian dan terasa hangat di hati gadis budak.


“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap gadis budak sambil tersenyum kecil.


Sultan Singa membelai puncak kepala Cendani lalu beranjak merebahkan dirinya di kursi jati panjang. Sultan Singa segera telah terlelap karena terlalu letih.


Sementara itu Cendani sudah tidak bisa tidur lagi karena merasakan kesakitan.


“Akh! Ah!” keluh Cendani.


Suara keluhan Cendani membuat Sultan Singa terbangun. Sultan Singa bangkit menghampiri Cendani dan duduk di pinggir tempat tidur.


“Maaf, hamba telah membuat Yang Mulia terbangun.” Cendani merasa bersalah.


“Tidak mengapa, Ananda. Pasti Ananda merasakan sangat kesakitan. Maafkan aku Ananda. Ananda sabar sebentar. Kalau fajar benar - benar telah terang, aku akan meminta dokter untuk memberimu obat bius lagi,” ucap Sultan Singa sambil mengusap puncak kepala gadis budak.


“Ah! Ah!” Cendani berusaha menahan suara keluhannya.


“Jika mau mengeluh, mengeluh saja, tidak usah ditahan.” Sultan Singa terus mengusap puncak kepala Cendani.


Sultan Singa mengambil secangkir air dan sebuah pipa plastik.


“Sebaiknya minum dahulu!” perintah Sultan Singa sambil membantu Cendani minum melalui pipa plastik.


Sultan Singa menaruh cangkir lalu kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia merasa mengantuk berat. Ia lalu merubah posisi duduk menjadi duduk bersebelahan dengan Cendani dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Kemudian ia meluruskan kakinya ke atas tempat tidur. Ia bersandar sambil mengusap puncak kepala Cendani dan beristigfar sampai akhirnya ia tertidur.


“Sepertinya aku telah membuat Sultan Singa tidak tidur semalaman,” batin Cendani merasa bersalah.


Akhirnya fajar benar - benar telah terang. Sultan Singa masih tertidur dengan bersandar. Sementara Cendani masih menahan sakit. Cendani menahan suara keluhnya, agar tidak membangunkan Sultan Singa.


“Akh…!” akhirnya Cendani tidak bisa menahan suara keluhnya.


Sultan Singa terbangun. Sedikit meregangkan badannya.


“Fajar telah terang, aku akan memanggilkan dokter!” Sultan Singa beranjak menuju pintu.


Sultan Singa membuka pintu kamar.


“Prajurit …!” seru Sultan Singa. Prajurit datang, sekilas menunduk untuk menghormat. "Cepat panggilkan dokter wanita untuk memeriksa gadis yang ada di kamarku!” perintah Sultan Singa. Prajurit sekilas menunduk untuk menghormat lalu bergegas pergi.


“Akh!” suara keluh Cendani terdengar.


Sultan mengambil cangkir lalu menuang air ke dalam cangkir.


“Bismillah,” ucap Sultan Singa lalu meminumnya.


Sultan Singa menuang air lagi di cangkir yang lain lalu mengambil sebuah pipa plastik. Kemudian ia menghampiri gadis budaknya.


“Ah!” keluh Cendani lagi.


“Minumlah, Ananda!” perintah Sultan Singa sambil membantu Cendani minum menggunakan pipa plastik. Sultan menaruh cangkir dan pipa plastik. Sultan kembali 

duduk di pinggir tempat tidur.


“Ah! Ah!” Cendani terus mengeluh kesakitan.“Apa Ananda masih takut denganku?” tanya Sultan Singa sambil mengusap puncak kepala gadis budak. Cendani mengangguk.


“Apa Ananda marah dan membenciku?” tanya Sultan Singa sambil masih mengusap puncak kepala Cendani. Cendani menggeleng.


“Tapi aku sudah menyiksamu sampai kau menderita seperti ini.” Sultan Singa menyesal.


"Hamba sadar hamba budak milik Yang Mulia. Yang Mulia memang berhak atas hamba. Semua luka ini karena salah hamba sendiri. Akh! kata Cendani sambil terus mengeluh. Sultan Singa terkejut dan tersentuh dengan jawaban gadis budaknya.


“Akh! Akh! Ah!” rintihan Cendani tak tertahan.


“Aku minta maaf telah membuatmu kesakitan seperti ini!” ucap Sultan Singa terus-terusan menyesal.


“Yang Mulia tidak bersalah. Akh! Ah!” kata Cendani sambil terus merintih.


Dokter wanita mengetuk pintu.


“Masuklah!” perintah Sultan Singa.


Dokter wanita masuk bersama seorang suster. Dokter wanita dan suster sekilas menundukkan kepala memberi hormat.


"Dokter dia kesakitan, apa bisa diberi bius lagi? tanya Sultan Singa.


“Akan hamba periksa terlebih dahulu, Yang Mulia!” kata dokter wanita.


Dokter menempelkan stetoskopnya ke dada pasien. Suster mengecek suhu tubuhnya dengan termometer.


“Perutnya sangat kosong, Yang Mulia. Lebih baik diberi makan dengan bubur yang sangat cair terlebih dahulu,” kata dokter wanita.


Sultan Singa melangkah ke pintu dan tubuhnya sedikit ke luar dari pintu.


“Pelayan!” seru Sultan Singa. Pelayan yang berjaga di luar datang, sekilas menundukkan kepala menghormat. “Tolong segera buatkan bubur yang sangat cair!” perintah Sultan Singa. Pelayan sekilas menunduk lalu bergegas pergi. Sultan Singa kembali menghampiri Cendani.


“Mungkin agak siang, dokter-dokter wanita yang lain akan visit memeriksa pasien, Yang Mulia,” kata dokter wanita.


“Baik, akan aku sesuaikan jadwalku! Aku mau dia dalam pengawasanku sepenuhnya, karena dia tanggung jawabku! Jadi aku harus melihat pemeriksaannya!” ujar Sultan Singa yang merasa bertanggung jawab.


“Dokter dan suster boleh pergi dahulu, nanti jika gadis ini sudah makan, akan aku panggil lagi!” kata Yang Mulia lagi.


“Baik, kami permisi, Yang Mulia!” kata dokter wanita. Dokter dan suster sekilas menunduk menghormat lalu pergi.


Sultan duduk bersebelahan dengan Cendani sambil bersandar pada sandaran tempat tidur. Sultan menaikkan kakinya ke atas tempat tidur.


“Astaghfirullahaladzim … Astaghfirullahaladzim …!” Sultan Singa berdzikir sambil mengusap puncak kepala Cendani. Berharap rasa sakit yang Cendani rasakan bisa berkurang.