Try new experience
with our app

INSTALL

Master of Masters 

4. Sadam Pamungkas Raja Pencuri

Hari sudah gelap. Para pengunjung pameran berlian masih cukup ramai. Andhika Ardan melihat suasana gedung pameran. Suasana tetap tampak aman dan ramai.


 

"Sudah malam, berarti dia tidak datang." Master Andhika Ardan mengira Sadam Pamungkas tidak datang dalam pameran berlian itu. Beberapa saat kemudian Sadam Pamungkas melintas di depannya. Ia dan Sadam Pamungkas sempat bertemu pandang. Ia tidak mengenali jika di hadapannya adalah orang yang sedang diburunya. Meskipun demikian ia merasakan getaran kekuatan master pada diri orang yang sekilas sempat bertemu tatap dengannya.


 

Semua pengunjung masih ramai dan terus lalu-lalang. Sadam Pamungkas yang hendak ke pintu ke luar melihat penjagaan bagian berlian mahal sudah kendor. Ia pun tidak menyia-nyiakan menyempatkan dengan cepat dengan cara menghipnotis untuk mendapatkan kalung-kalung berlian termahal itu. Setelahnya ia segera berjalan ke pintu ke luar bersama para pengunjung yang undur diri dari pameran itu.


 

Pada saat itu intuisi Andhika Ardan menyatakan ada yang aneh dengan orang berkekuatan master yang sempat berpapasan dengannya barusan dan sebelumnya saat ada yang kehilangan kalung berlian.


 

"Aku merasakan ada kekuatan master pada orang barusan, tapi intuisiku menyatakan bukan sekedar itu," pikir Andhika Ardan. Ia pun kemudian menyadari sesuatu dengan terkejut. "Jangan jangan!" Andhika Ardan segera menggunakan HTnya untuk mengomando semua anggotanya dan juga satpam gedung. "Semuanya, cepat periksa apa ada yang kehilangan berlian lagi!" Ia memerintah sembari mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan pria berkekuatan master tadi. Ia menyadari arah pergi pria tadi ke arah pintu ke luar. Ia pun segera berlari ke pintu ke luar untuk mengejar pria itu.


 

HT Andhika Ardan berbunyi ada anggota yang hendak melaporkan.


 

"Ya, bagaimana?" tanya Andhika Ardan.


 

"Ada yang kehilangan, Pak, tetapi di bagian perhiasan emas sederhana dan itu terjadi sedari tadi saat masih siang hari! Counter cincin emas di sudut ujung gedung kehilangan beberapa! Beberapa counter yang lain di bagian emas sederhana juga sama demikian!" terang salah satu anggotanya.


 

"Kita kecolongan! Rupanya dia menyamar dengan sempurna dan dia sudah ke luar dari gedung ini! Semuanya anggota, cepat ke luar, kejar dia ke seluruh penjuru arah di luar gedung ini!" perintah Andhika Ardan. HT tidak terdengar suara lagi.


 

Tidak lama kemudian berbunyi kembali.


 

"Pak, Beberapa kalung berlian termahal belum lama ini hilang!" lapor anggotanya.


 

"Ya Allah! Cepat ke luar dan tangkap Sadam Pamungkas! Dia sudah ada di luar gedung ini!" Andhika Ardan lari ke luar gedung begitu juga dengan para anggotanya.


 

Sementara itu di rumah mewah Alexis, yang sedang santai di ruang televisi, Alexis, Alisya, Bagus dan Bagas duduk santai di kursi dengan televisi menyala.


 

"Bagus, Bagas, aku telah memindahkan transaksi hari ini ke perkampungan pantai! Kalian ceroboh! Seseorang berkekuatan master bernama Maulana Husam melihat transaksi kalian!" kata Alexis. Bagus dan Bagas saling berpandangan terkejut mendengarnya, karena ia jelas tahu di pantai itu sedang sepi.


 

"Tidak mungkin! Di pantai itu saat itu sedang sepi. Saat di sana aku tidak melihat ada orang lain selain kami!" ujar Bagus.


 

"Akan tetapi informanku di kepolisian sangat bisa dipercaya!" ujar Alexis sembari mengganti-ganti chanel televisi. "Aku ingin membalas Master Maulana itu! Ingin sekali kututup mulutnya yang ikut campur!" ujar Alexis. "Bagus, besok kau temui Master Samba Damara yang sedang berlatih di air terjun! Tugaskan dia untuk membunuh Master Maulana Husam itu!" perintahnya kemudian sembari berhenti di chanel berita.


 

Di depan gedung pameran, seorang pembaca berita memulai siaran dengan berita itu.


 

"Raja pencuri, Master Sadam Pamungkas, telah berhasil mencuri lima buah kalung termahal dan dua puluh empat cincin berlian! Polisi saat ini sedang melakukan pengejaran terhadap dirinya," kata anouncher yang sedang dikamerain oleh kameraman.


 

Sementara itu di rumah Alexis, yang sedang menonton chanel berita.


 

"Aku juga ingin membungkam polisi kepala bagian narkotika, saat ia melakukan penggrebekan nanti malam," ujar Alexis.


 

"Bagaimana jika saya yang membereskannya, Tuan Alexis?" tawar Bagus.


 

"Kau ....? Aku pikir kau tidak sepadan dengannya. Dia itu polisi yang tangguh," terang Alexis.


 

Jalanan gang, dekat gedung pameran berlian. Sadam Pamungkas dan Andhika Ardan kejar-kejaran. Andhika sanggup menyusul Sadam, sehingga terjadi pertarungan di antara mereka berdua. Sadam kalah dan berhasil ditangkap olehnya.


 

"Cepat susul aku di Gang mawar! Aku sudah berhasil melumpuhkan Sadam Pamungkas!" seru Andhika Ardan melalui HTnya.


 

"Baik, Pak!" jawab salah seorang anggotanya. Ia segera meletakkan HTnya. Mobil polisi melaju kencang ke tempat Andhika.


 

Sementara itu Andhika Ardan sedang memegangi dan menahan Sadam Pamungkas yang berusaha meloloskan diri. Mobil polisi datang. Andhika menyeret Sadam ke mobil itu. Sadam masuk ke mobil bersama Andhika Ardan. Mobil melaju agak sedikit kencang.


 

Di jalan raya, di depan gedung pameran berlian.


 

"Polisi Master Andhika Ardan telah berhasil menangkap Sadam Pamungkas!" berita Anouncher.


 

Sementara itu di ruang televisi, di rumah Alexis.


 

"Bagus! Bawa anak buah yang banyak! Hadang mobil polisi dan bawa Sadam Pamungkas kepadaku!" perintah Alexis.


 

"Baik, Bos!" jawab Bagus lalu berdiri sembari melihat ke Bagas dan ke yang lainnya. "Ayo! serunya kepada Bagas dan anak buah Alexis lainnya.


 

Sementara itu yang sedang berada di dalam mobil polisi.


 

"Kenapa kamu mencuri, Master Sadam Pamungkas? Seharusnya kekuatan lebih yang kamu miliki digunakan untuk kebaikan dan kebenaran!" kata Master Andhika Ardan.


 

"Tanpa mencuri aku juga menjadi pencuri dan dipenjarakan!" terang Master Sadam Pamungkas dengan senyuman sinis, karena masa lalunya itu.


 

"Di mana kamu simpan semua emas dan kalung berlian yang kamu curi?" tanya Master Andhika Ardan. Sadam Pamungkas bergeming. Andhika Ardan segera menggeledah baju Sadam Pamungkas. Ia menemukan semua hasil curian itu di kantong-kantong baju Sadam Pamungkas. Sadam Pamungkas meludahi wajah Andhika Ardan. Andhika Ardan menghantamnya keras hingga pingsan.


 

Di jalan raya, di perjalanan menuju ke kantor polisi, kendaraan polisi tiba-tiba diserang. Sebuah mobil melaju kencang dan tiba-tiba berhenti memalang, menghadang mobil polisi yang membawa Sadam Pamungkas. Mobil polisi mengerem mendadak. Beberapa orang dari gerombolan penjahat yang kepalanya tertutup masker penuh hingga hanya terlihat bola matanya, ke luar dari mobil yang menghadang. Mereka menembaki mobil polisi itu.


 

Dua polisi yang ada di dalam mobil polisi itu dan Master Andhika Ardan ke luar dari mobil. Mereka merunduk dan berusaha membalas menembaki para penjahat itu. Pada saat itu Sadam Pamungkas tersadar dari pingsannya. Ia melihat Andhika Ardan dan dua polisi yang bersamanya sedang sibuk menghadapi penyerang yang entah siapa mereka, yang entah dari mana mereka. Sadam Pamungkas pelan-pelan membuka pintu mobil lalu ke luar. Ia lari kabur.


 

Anak buah Alexis melihat Sadam Pamungkas incaran mereka kabur.


 

Dia kabur!" seru Bagas sembari menunjukkan ke arah Sadam Pamungkas yang sedang lari.


 

"Ayo, kita susul!" seru Bagus. Semua bergegas naik ke mobil. Mobil mereka segera melesat kencang.


 

Andhika Ardan melihat pintu mobil terbuka dan Sadam Pamungkas tampak tidak ada.


 

"Cepat, kejar, Master Sadam Pamungkas!" seru Andhika Ardan.


 

"Ban mobil kempes karena peluru, Pak!" kata salah seorang polisi yang ikut dalam mobil itu.


 

"Gunakan kaki kalian, kejar Sadam Pamungkas!" seru Andhika Ardan.


 

Sadam Pamungkas lari dengan susah payah. Andhika Ardan yang level kekuatannya melebihi dirinya larinya sungguh cepat dan hampir menyusulnya. Mobil anak buah Alexis datang.


 

"Cepat masuk!" Anak buah Alexis menarik Sadam Pamungkas masuk ke dalam mobil secara paksa. Melihat Andhika Ardan semakin dekat, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti, menuruti saja mobil itu membawanya. Mobil anak buah Alexis langsung melaju melesat.


 

"Empat empat enam satu," Andhika Ardan membaca plat nomor mobil yang dinaiki Sadam Pamungkas. "Master Sadam Pamungkas, malam ini kau masih beruntung," ujar Andhika Ardan kemudian dengan hanya suai bibir.