Try new experience
with our app

INSTALL

Arwah di Gedung Tua & Cerita-Cerita Lainnya (Kumcer) 

3

Pukul 20.45. Jo belum juga kembali. Aku mulai cemas. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan dia. 

Ya, Tuhan. Aku membayangkan tubuh Jo yang terbalut jas hujan plastik hitam itu tengah terhuyung menaiki jalan berbatu. Ah, kasian cowok itu. Pasti kedinginan. Seharusnya dia bisa menunggu hujan reda untuk turun ke sana.

Jarak pandang tidak lebih dari satu jangkauan tangan. Gelap. Pekat. Dalam keadaan seperti ini, betapa aku sangat mengharapkan kehadiran Jo. Atau… siapa pun yang datang ke tempat ini. Sekarang aku menyesali keputusanku; meninggalkan diri di sini dan menunggu Jo kembali entah kapan. Jujur, tidak ingin sendirian di tempat seperti ini.

Pet! 

Satu-satunya lampu di ruangan ini mendadak mati. Gelap seketika. Aku mencoba memeriksa ransel milik Jo yang kutaruh pada bangku kayu di tengah ruangan, barangkali ada senter atau apa pun yang bisa dijadikan alat penerangan. Dalam tasku, jelas tidak ada apa-apa, selain makanan dan beberapa botol air mineral. Tapi, ah! Kenapa ransel itu tiba-tiba tidak tampak di tempatnya? Rasanya… sedari tadi aku tidak memindahkannya.

Dalam samar, aku terus mencari ransel milik Jo dan tasku hingga ke pojok ruangan. Kuperiksa tumpukan kursi-kursi kayu usang dan berdebu. Benar saja, tas kami teronggok begitu saja di pojok ruangan, di sebelah tumpukan kursi dan besi-besi tua. Baru saja bermaksud meraih tas itu, aku melihat dua bayangan hitam berkelebat menaiki tangga. Dari bentuknya, bisa dipastikan laki-laki dan perempuan. Aku terkesiap ketika bayangan itu menghilang di balik pintu. Tiba-tiba kurasakan hawa hangat menjalari tengkuk. Namun, segera kubuang jauh pikiran jelek yang tiba-tiba hadir di kepala. Bisa saja ini hanya halusinasi.

\tDengan senter kecil yang kutemukan dalam ransel milik Jo, perlahan aku menaiki tangga. Aku harus mencari korek api atau apa pun yang bisa dijadikan alat untuk membuat api. Siapa tahu di dua ruangan yang terkunci rapat itu bisa kutemukan. 

\tAda yang aneh. Ketika kakiku hampir meniti anak tangga terakhir, tiba-tiba bau anyir darah meruap dan menyergap penciuman. Aku merasakan sepatuku menginjak sesuatu yang licin dan... basah. Kuarahkan cahaya senter ke kakiku. Namun tiba-tiba….

\t“Halo! Jo, Nela?! Kalian di sana?” Terdengar suara Andi di depan aula. Kemudian disusul suara Ela, meneriakkan namaku, Jo, Rangga dan Lily.

\tMeskipun aku sempat heran kenapa Ela menyebut-nyebut nama Rangga dan Lily, aku bergegas kembali ke aula menghampiri mereka.

\t“Nela? Mana yang lain?” Suara Andi terdengar cemas. “Kamu sendirian?”

\t“Yang lain siapa? Nggak ada orang lain di sini.” Dengan bantuan cahaya senter, aku menatap wajah Andi dan Ela bergantian. “Jo pergi hampir dua jam lalu untuk mencari bantuan. Dari tadi sore aku sendiri di sini.…”


 


 

\t

\tBeraambung....