Try new experience
with our app

INSTALL

Arwah di Gedung Tua & Cerita-Cerita Lainnya (Kumcer) 

4

\t“Nela? Mana yang lain?” Suara Andi terdengar cemas. “Kamu sendirian?”

\t“Yang lain siapa? Nggak ada orang lain di sini.” Dengan bantuan cahaya senter, aku menatap wajah Andi dan Ela bergantian. “Jo pergi hampir dua jam lalu untuk mencari bantuan. Dari tadi sore aku sendiri di sini.…”

\t“Jadi, Rangga sama Lily nggak ke sini?” tanya Ela dengan suara yang terpenggal-penggal. “Ketika kami menyadari kalian tertinggal, kami meminta mereka kembali turun untuk menyusul kalian. Seharusnya mereka ke sini, karena Rio memberikan petunjuk yang benar.”

\tSeketika aku teringat bayangan yang berkelabat di tangga tadi. Mungkinkah itu mereka? Jangan-jangan Rangga dan Lily memang sengaja menakut-nakutiku. Ah, sialan mereka! 

\tKubawa Andi dan Ela ke ruang atas untuk memastikan dugaanku. Senyap. Lantai dua dengan dua ruangan itu kosong. Bahkan kedua pintu ruangan itu juga masih tertutup rapat. Hmm… aku sempat mendengar suara benturan cukup jelas dari salah satu ruangan. Entah keberanian dari mana yang mendadak datang, aku mencoba memeriksa ruangan dengan pintu persis menghadap tangga. Aku mendorongnya. Pintu ini tak terkunci. Ini aneh!

\t“Sepertinya ada orang yang masuk ke sini.” Suara Ela terdengar yakin.

\tKami memeriksa ruangan itu. Hanya ada satu lemari kayu tua dan beberapa kursi besi yang dibiarkan berantakan. Selebihnya hanya ruang kosong yang kumuh dan berdebu. Namun, jantungku seakan berhenti berdegup ketika masuk ruangan yang kedua. Dalam sorotan tiga senter, kami melihat tubuh Rangga dan Lily terikat pada dua tiang besi di tengah ruangan. Pakaian keduanya acak-acakan dan… bersimbah darah. Ada benda yang terlihat semacam mata tombak di dada meraka. Menancap dengan darah segar yang masih menetes. Astaga! Wajah mereka begitu mengerikan; mulut menganga lebar dengan bola mata yang hampir ke luar. Siapa yang tega melakukan perbuatan kejam seperti ini?

\t“Lily! Rangga! Apa yang terjadi?” Ela dan aku berteriak hampir berbarengan.

\t“Ini pasti ulah arwah itu!” Andi mendadak berseru yakin. “Arwah keluarga Tawikrana, leluhur tanah ini yang melakukannya. Dugaan Rio benar. Mereka akan marah karena kita memasuki daerah larangan, wilayah kekuasaanya. Aku yakin merekalah pelakunya!”

\t“Andi, nggak usah mulai deh!” bentakku. “Mending kita bawa mereka ke bawah!”

\t“Kalian tahu? Ini malam Jumat Kliwon, seharusnya kita nggak ke sini!”

\t“Andi, udah deh!” bentak Ela membelaku. “Apa yang harus kita lakukan?!”

\t“Kita pergi!” Andi menyeret tangan Ela dan bergegas keluar dari ruangan.

\tAku berjingkat, mengikuti mereka yang sudah menuruni tangga. Tapi… Bugh! Bugh! Dua suara hantaman keras terdengar persis di depanku. Belum sempat berpikir apa yang tengah terjadi, aku menyaksikan dua benda melesat dan tertancap persis di punggung Andi dan Ela. 

\tMereka ambruk seketika. Aneh, tubuh keduanya bukan jatuh, melainkan seperti ada yang menyeretnya kembali ke atas, melewati kakiku dan masuk ke ruangan di mana Rangga dan Lily berada. Darah segar membasahi lantai. Bau anyir kembali menyergap penciuman. Aku mual dan perutku seperti diaduk-aduk.

\t“Nel, bakar, Neell….” Andi merintih. Lalu mengejang beberapa saat sebelu. Akhirnya mendadak diam.

\t“Bunuh aku, Nel. Bunuuh!” Suara Ela serak menyeramkan.

\tBersamaan dengan lenyapnya tubuh mereka di pintu ruangan, mataku terasa berkunang-kunang. Dengan lutut yang mendadak lemas, aku bergegas menuruni tangga. Aku ambruk begitu mencapai lantai aula. 

\tYa, Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Aku berusaha menguatkan diri dan berdiri ketika ada dua bayangan memasuki pintu aula. Kuarahkan senter yang semakin meredup pada dua sosok yang mendekat. Jantungku berdegup semakin kencang ketika dua sosok itu dengan gegas menyongsong.

\t“Apa yang terjadi, Nel?”

\t


 


 

\tBersambung....