Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

1. Prolog

"Mas, ini sakit banget mas... Aku nggak kuat... " rintih Rania kesakitan.

Bara semakin memacu laju mobilnya. Dalam kepanikan yang sedang dialaminya sekarang, Bara hanya bisa berdo'a semoga tidak terjadi apa-apa pada istrinya itu. Bagaimana tidak sudah dua kali Rania mengalami keguguran dan ini adalah kehamilan ketiganya, pendarahan yang terjadi tiba-tiba seperti ini selalu menjadi mimpi buruk bagi Bara.

"Tahan ya sayang, ini udah mau sampai kok." Katanya mecoba menenangkan Rania. Rania masih mengendalikan dirinya dan berusaha menahan rasa sakitnya itu.

Tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Bara bergegas turun dari mobilnya dan memanggil perawat yang ada disana. Dengan sigap perawat-perawat itu langsung mengambil emergency bed dan membawanya menuju ke mobil Bara.

Bara mengangkat tubuh Rania dan membaringkannya di atas emergency bed. Perawat membawa Rania menuju ke IGD. Tangan Rania terus menggenggam erat tangan Bara.

"It's okey Rania semuanya akan baik-baik saja. Kamu tenang ya... " Kata Bara yang mencoba menenangkan Rania.

Rania dari tadi terus menangis, pikirannya kalut. Dia sangat takut kalau harus keguguran untuk yang ketiga kalinya.

Rayhan yang merupakan dokter kandungan Rania sekaligus sahabat Bara masuk kedalam bilik Rania di ruang IGD.

"Ray.... " Lirih Bara pada Rayhan dengan raut wajah penuh kekhawatiran. 

Rayhan melihat ke arah Bara. Dia prihatin dengan kondisi sahabatnya itu, dia paham pasti pikiran Bara sedang kalut saat ini, "Bar, lu tunggu diluar. Gue periksa dulu kondisi Rania." Kata Rayhan pada Bara.

Lalu Bara pun keluar dari ruang IGD. Dia terduduk lemas di kursi yang ada didepan ruang IGD.

Setelah kurang lebih 45 menit menunggu, akhirnya Rayhan pun keluar dari ruang IGD. Melihat itu Bara langsung berlari menghampiri Rayhan.

"Ray gimana? Rania dan calon anak gue nggak kenapa-napa kan?" Tanya Bara dengan cemas.

Rayhan bingung harus berkata apa sekarang, jujur dia tidak tega kalau harus mengatakan ini semua pada Bara. Rayhan menghela nafas dalam dan mencoba menyiapkan hatinya, "Lu ikut gue, ada hal penting yang harus gue bicarakan." Kata Rayhan.

Melihat raut wajah Rayhan yang seperti itu, seketika Bara pun putus asa. Perasaan tidak enak langsung muncul dipikran Bara, pikirnya sepertinya Rayhan akan mengatakan berita yang kurang baik setelah ini.

Bara sampai di ruangan Rayhan. Lalu Rayhan duduk dikursinya, "Lu duduk aja dulu." Kata Rayhan mempersilahkan Bara untuk duduk dikursi yang ada didepannya. Bara pun duduk dikursi itu.

"Bar.... Gue tau pasti ini sangat berat buat lu dan Rania. Tapi gue yakin Tuhan punya rencana terbaiknya dibalik semua ini." Kata Rayhan.

Perasaan Bara semakin tidak enak, "Ada apa Ray? nggak ada masalah kan? Semuanya baik-baik saja kan?" Sahut Bara.

Rayhan menatap Bara dengan tatapan prihatin, "Rania keguguran lagi." Katanya dengan perasaan tidak tega.

Deg.

Air mata Bara tidak dapat terbendung lagi, seketika itu menetes membasahi pipinya. Sesak didadanya sangat terasa sekarang.

"Seperti yang udah gue bilang dari awal, kehamilan Rania ini penuh dengan resiko. Kondisinya yang mengalami endometriosis itu jadi penyebab utamanya." Jelas Rayhan.

"Terus apa yang harus dilakukan Ray?" Tanya Bara.

"Gue akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Nanti kalau hasilnya udah keluar, gue akan panggil lu lagi." Jawab Rayhan.

Bara mengangguk, "Apa gue bisa lihat kondisi Rania sekarang?" Tanya Bara.

"Bisa, lu udah bisa liat Rania. Tadi juga udah dilakukan tindakan dilatasi dan kuretase. Jadi mungkin Rania masih dalam pengaruh bius sekarang. Kalo lu mau lihat dia, dia udah dibawa ke kamar rawat inap. Di VVIP Mawar." Jawab Rayhan.

"Iya, thank's ya." Kata Bara dengan wajah lesu dan sedih.

Bara bergegas pergi ke kamar rawat inap Rania. Sepanjang jalan padangannya kosong, di kepalanya hanya memikirkan apa yang harus dikatakannya nanti pada Rania.

 

---

 

Langkah Bara terhenti didepan pintu kamar rawat Rania. Perasaannya cemas, keberaniannya belum terkumpul sepenuhnya. Beberapa menit Bara hanya terdiam mematung didepan pintu. Bara menyiapkan hatinya sebelum menemui Rania. Dia menghirup nafas dalam-dalam, "Gue harus kuat demi Rania." Katanya menyemangati dirinya sendiri.

Ketika dirasa hatinya sudah siap, Bara dengan perlahan mulai membuka pintu itu. Pintu terbuka, Bara berjalan masuk ke ruang inap Rania. Dilihatnya disana Rania yang masih terlelap. Kemudian Bara menggeser sebuah kursi dan meletakkannya di dekat ranjang. Lalu Bara duduk di kursi itu.

Perlahan tangan Bara meraih tangan Rania. Jemarinya menggenggam erat tangan wanitanya itu. Jujur perasaanya saat ini sedang hancur. Tapi Bara paham, sehancur-hancurnya perasaannya lebih hancur lagi perasaan Rania.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Rania pun mulai tersadar. Perlahan-lahan dia mulai membuka matanya, "Mas... " Panggilnya pada Bara.

"Sayang kamu udah siuman.... Gimana kondisinya? Apa ada yang sakit?" Tanya Bara.

Rania menggeleng, "Enggak kok." Jawab Rania.

"Syukurlah kalo begitu."

Rania merasa seperti ada yang aneh dengan dirinya. Tangannya mengelus-elus perutnya, "Anak kita masih disini kan sayang?" Tanya Rania sambil tersenyum.

Mendengar pertanyaan itu seketika mata Bara langsung berkaca-kaca. Bara terdiam, lidahnya seolah kelu. Dia benar-benar tidak sanggup mengatakan kenyataan itu pada istrinya.

Melihat mata Bara yang berkaca-kaca, perasaan Rania langsung tidak enak. Dia merasa ada hal buruk yang telah terjadi, "Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rania sambil menggengam erat tangan Bara.

Rania menarik tangan Bara, lalu meletakkannya diperutnya, "Anak kita masih disini kan?" Tanyanya lagi. Bara masih terdiam, tidak sanggup untuk mengatakan apapun.

"Sayang jawab dong. Jangan diem aja, anak kita masih disini kan?" Tanya Rania lagi. Kali ini raut kecemasan sangat terlihat jelas diwajah Rania. Matanya juga sudah mulai berkaca-kaca.

Air mata Bara sudah tidak bisa terbendung lagi, air mata itu menetes membasahi pipinya, "Dia sudah tidak ada." Jawabnya dengan lirih.

Sontak tangis Rania pun langsung pecah, "Aku udah sangat hati-hati Bara, bahkan aku udah bed rest total kan? Tapi kenapa? Kenapa.... Bara... Kenapa gini..??" Kata Rania sambil menangis.

Bara langsung memeluk dan menangkan Rania, "Sayang... Pasti dibalik semua ini rencana Tuhan akan lebih indah."

"Apa aku tidak pantas menjadi seorang ibu? Apa aku nggak layak?" Sahut Rania.

"Jangan bicara seperti itu, kamu tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. Jangan berkata seperti itu lagi ya..." Jawab Bara sambil mengeratkan pelukannya lagi pada Rania.

 

---

 

-Keesokan Harinya-

 

Cahaya matahari menembus kaca dari jendela-jendela kamar rawat Rania. Sinar itu mengenai Bara, perlahan dia mulai membuka matanya. Dilihatnya Rania yang masih terlelap, sepanjang malam Rania terus-terusan menangis. Dia baru bisa tertidur tadi subuh.

Seseorang mengetuk pintu kamar, lalu orang tersebut membuka pintu itu. Rayhan muncul dari balik sana.

"Bar, Gimana kondisi Rania?" Tanya Rayhan.

"Selamalaman dia nangis, baru bisa tidur tadi subuh." Jawab Bara.

Rayhan sangat prihatin dengan itu, "Ada yang mau gue bicarain. Ini tentang kondisi Rania." Kata Rayhan.

"Yaudah kita ngomong didepan." Sahut Bara.

Lalu Bara dan Rayhan pun berjalan keluar kamar. Tapi belum sampai mereka membuka pintu, Rania memanggil mereka berdua.

"Ray... Gue juga mau tau kondisi gue. Ngomongnya disini aja." Sahut Rania yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Langkah Bara dan Rayhan pun terhenti, mereka saling melihat satu sama lain. Rayhan bingung, apa dia harus membicarakan ini didepan Rania? Jujur, dia takut Rania akan terpukul dengan apa yang akan dikatakannya ini.

"Ngomong aja Ray, nggak papa. Aku udah siap dengan kemungkinan apapun kok." Kata Rania memohon.

Rayhan mengatur nafasnya, dia berjalan kembali menuju ke Rania. Bara mengikutinya.

"Tapi kamu janji ya, setelah aku ngomong ini. Kamu harus tetap tenang." Kata Rayhan memberi pengertian pada Rania.

Rania mengangguk. Lalu Rayhan mulai menjelaskan semuanya.

"Sebelumnya aku udah pernah bilang kalau kehamilan kamu ini adalah kehamilan yang penuh dengan resiko. Karena kondisi kamu yang mengalami endometriosis, maka resiko kamu mengalami keguguran juga akan lebih tinggi."

"Berdasarkan hasil pemeriksaan kemarin, ternyata endometriosis kamu semakin parah Ran. Maka dari itu tim dokter menyarankan untuk melakukan tindakan histerektomi. Tindakan itu akan menghilangan jaringan endomitrium yang menyebabkan rasa sakit atau nyeri yang sering kamu alami selama ini." Jelas Rayhan.

Deg!

Bara dan Rania sangat syok mendengar apa yang disampaikan oleh Rayhan.

Mendengar penjelasan dari Rayhan, tangis Rania pun pecah, "Histerektomi?" Katanya tidak percaya, "Haruskah melakukan itu Ray? Apa nggak ada cara lain?" Tanya Rania dengan tatapan penuh harap.

"Cara lain sebelumnya sudah pernah kita coba kan Ran, terapi juga sudah pernah dilakukan sebelumnya, dan ini adalah cara terakhir Ran, cara yang bisa meringankan sakit kamu." Jawab Rayhan.

"Tapi ini histerektomi Ray! histerektomi! Itu artinya.... " Kata Rania sambil menggeleng tidak percaya.

Histerektomi, membayangkannya saja membuat Rania tidak sanggup. Melakukan tindakan Histerektomi, itu artinya rahimnya harus diangkat. Kalau sudah begitu maka kesempatannya untuk memiliki keturunan akan tertutup.

"Kalau begitu bagaimana caranya aku akan punya anak Ray?" Kata Rania sambil menangis.

Bara memeluk Rania, dia mencoba menenangkan istrinya itu.

Rayhan terdiam. Tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim tentunya akan membuat seseorang tidak akan bisa hamil lagi. Karena ketika rahim atau uterus sudah diangkat, maka sudah tidak ada lagi tempat bagi janin untuk tumbuh saat proses kehamilan. Secara tidak langsung, peluang untuk hamil bagi seseorang yang telah melakukan prosedur ini sudah tidak ada lagi.

"Kenapa kamu diem? Jawab Ray! Apa itu artinya aku nggak akan bisa hamil lagi? Aku nggak akan bisa punya anak?" Kata Rania sambil menangis dan memeluk Bara, "Bara... Aku nggak akan bisa punya anak Bar, aku nggak bisa ngasih kamu keturunan Bar." Lanjut Rania sambil menangis sesenggukan dipelukan Bara.

"Itu memang benar Ran. Tapi jika tindakan ini tidak dilakukan maka endometriosis kamu akan semakin parah!" Sahut Rayhan.

"Bara akau nggak mau Bara.... Aku nggak mau... " Kata Rania menggeleng dengan tatapan memohon.

"Iya, kamu tenang dulu ya.... Jangan seperti ini, kamu harus tenang." Sahut Bara mencoba menenangkan Rania.

"Ray, kita bicarakan ini lagi nanti ya... Aku mau nenangin Rania dulu." Kata Bara pada Rayhan.

"Iya." Jawab Rayhan. Kemudian Rayhan pun keluar dari kamar rawat Rania.

Bara masih mencoba menenangkan Rania. Jujur sebenarnya perasaannya juga hancur saat ini, tapi lebih dari itu yang terpenting adalah Rania membutuhkan support dari dirinya.

 

---

 

Setelah diberikan obat penenang oleh Rayhan, Rania pun akhirnya bisa tertidur. Bara memanfaatkan waktu ini untuk menemui Rayhan diruangnnya. Bergegas Bara pergi ke ruangan Rayhan.

"Ray, apakah tindakan histerektomi itu benar-benar harus dilakukan?" Tanya Bara pada Rayhan.

"Iya Bar, tindakan itu harus dilakukan secepatnya sebelum sakit Rania semakin parah." Jawab Rayhan.

"Ini sudah kegugurannya yang ke tiga kali Bar. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan yang demikian,  tindakan itu harus segera dilakukan untuk Rania." Lanjut Rayhan.

"Rania sangat ingin memiliki anak Ray, gue nggak tega... " Kata Bara dengan cemas dan bingung.

"Bisa, kalian masih bisa memiliki anak." Sahut Rayhan.

Bara terkejut, dia langsung menatap Rayhan, "Hah? Gi...gimana caranya?" Tanya Bara dengan tidak percaya.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan kemarin, kedua indung telur dari Rania masih sehat dan normal. Jadi saat tindakan histerektomi tidak perlu dilakukan pengangkatan."

"Jadi nantinya ovarium Rania masih bisa menghasilkan sel telur."

Bara mendengarkan penjelasan dari Rayhan dengan serius, "Terus?" Tanya Bara.

"Okey, jadi gini, mungkin saranku ini terdengar agak gila. Tapi aku harap ini bisa menjadi pertimbangan bagi kalian."

"Sebelum sakit Rania semakin parah dan mempengaruhi organ reproduksi yang lain, kita lakukan tindakan histerektomi itu secepatnya. Tujuannya satu, yaitu menyelamatkan indung telur Rania."

"Indung telur akan selamat dan Rania akan tetap bisa menghasilkan sel telur. Sel telur inilah yang nantinya bisa menjadi harapan bagi kalian untuk memiliki keturunan." Jelas Rayhan panjang lebar.

"Gimana caranya?" Tanya Bara lagi.

"Surrogacy, kalian bisa menggunakan jasa surrogate mother." Jawab Rayhan.

"Sel telur Rania dan spermamu akan diambil dan dilakukan fertilisasi secara in-vitro. Setelah itu embrio yang akan dihasilkan nantinya akan ditanamkan pada rahim si ibu pengganti itu."

"Prosesnya sama seperti bayi tabung, tapi bedanya embrio yang dihasilkan bukan ditanamkan pada rahim sang ibu. Melainkan rahim wanita lain, atau yang disebut dengan surrogate mother." Jelas Rayhan panjang lebar.

Bara masih terdiam, dia masih bingung harus menjawab apa.

"Bukannya hukum di Indonesia tidak memperbolehkan itu?" Tanya Bara.

"Iya, di Indonesia memang praktik surrogate mother tidak diperbolehkan. Tapi kalian bisa melakukan itu diluar negeri. Beberapa negara di Eropa dan Amerika sudah melegalkan itu." Jawab Rayhan.

Bara berpikir kalau saran dari Rayhan ini bisa dipertimbangkan. Kesehatan Rania memang yang terpenting, tapi dilain sisi dia Rania juga sangat mendambakan seorang anak.

"Gue punya temen spesialis obstetri dan ginekologi di Amerika, tepatnya di California. Kalo emang kalian setuju dengan saran gue, gue akan menghubungkan kalian dengan temen gue itu. Dia pasti bisa bantu kalian untuk prosedur surrogacy."

"Kalian pikirkan saja dulu saran dari gue." Jelas Rayhan.

 

---

 

Bara kembali lagi ke kamar rawat Rania, dia membuka pintu kamar itu. Terlihat Rania yang sudah bangun, Rania duduk bersandar dengan tatapan kosong.

"Sayang.... Kamu udah bangun?" panggil Bara pada Rania.

Rania tersadar dari lamunannya, dia melihat ke arah Bara.

"Kamu dari mana? Dari tempat Rayhan?" Tanya Rania.

Bara mengangguk, "He'em."

"Ngomongin apa? Ngomongin histerektomi lagi?" Tanya Rania lagi.

"Iya...." Jawan Bara.

"Pokoknya aku nggak mau mas ngelakuin itu." Sahut Rania.

"Aku mau punya anak, aku nggak mau rahimku diangkat." Lanjutnya.

Bara menggenggam erat tangan Rania, "Sayang..., kamu tenang dulu ya... Kamu tenang dulu." Kata Bara menenangkan Rania. "Aku tau ini sangat berat buat kamu. Bukan cuma kamu sayang, ini juga berat buat aku."

"Rayhan pernah bilang ke kita, kalau dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kita. Dari kehamilan kamu yang pertama sampai sekarang, dia sudah berusaha semaksimal mungkin."

"Keputusannya untuk menyarankan kita melakukan prosedur histerektomi tentunya sudah diambil dengan pertimbangan yang matang sayang. Ada alasan kuat kenapa dia menyarankan itu ke kita."

"Rayhan bilang, jika prosedur itu tidak dilakukan maka endometriosis kamu akan semakin parah dan akan mempengaruhi ovarium kamu. Tindakan Histerektomi itu harus secepatnya dilakukan untuk menyelamatkan ovarium kamu."

"Kalau ovarium kamu selamat, itu artinya kita masih bisa punya harapan untuk memiliki anak." Bara mencoba memberikan penjelasan panjang lebar pada Rania.

"Rahimku akan diangkat mas, sekalipun aku masih punya ovarium dan bisa menghasilkan sel telur, aku tetep nggak akan bisa hamil!" Sahut Rania.

"Kamu memang tidak akan bisa mengandung nantinya, tapi kita masih bisa melakukan surrogacy." Jawab Bara.

"Prosedurnya sama seperti bayi tabung, hanya saja embrio yang dihasilkan nantinya akan ditanam dirahim ibu pengganti atau surrogate mother."

"Kesehatan kamu adalah yang terpenting bagi aku, aku tidak mau ngelihat kamu kesakitan lagi sayang. Memiliki anak juga penting bagiku. Sekarang ada solusi seperti ini, bisa saja ini merupakan jawaban dari Tuhan untuk do'a-do'a kita selama ini." Jelas Bara.

Rania terdiam, dia berpikir apa yang dikatakan Bara memang ada benarnya juga. Berbagai tindakan medis sudah pernah dia tempuh, dari mulai terapi hingga menjalani prosedur bayi tabung. Tapi semuanya masih belum membuahkan hasil, justru sakitnya semakin parah sekarang.

"Bukannya praktik surrogacy di Indonesia itu dilarang?" Tanya Rania.

"Kita bisa melakukan itu di Amerika, Rayhan bilang dia memiliki teman spesialis obstetri dan ginekologi disana. Nanti dia akan bantu kita." Jawab Bara.

"Semua keputusan akan aku serahin ke kamu, jadi kamu pikirkan ini baik-baik terlebih dahulu."

"Kalau kamu sudah menemukan jawabannya, besok atau lusa kita akan bicarakan ini lebih jauh lagi dengan Rayhan. Sekarang kamu istirahat saja dulu." Lanjut Bara.

Bara menyerahkan seluruh keputusan pada Rania, karena Bara tahu ini adalah keputusan yang sangat berat bagi Rania.

 

---> Bersambung.......

Ket :

Endometriosis : Kondisi ketika  jaringan yang membentuk lapisan dalam dinsing rahim tumbuh di luar rahim atau disebut juga dengan jaringan endomitrium.

Histerektomi : Prosedur medis untuk mengangkat rahim wanita.

Surrogacy atau surrogate mother : Metode yang dilakukan saat seorang wanita melahirkan bagi pasangan yang tidak dapat menghasilkan anak dengan cara yang biasa.

 

***

Btw aku mau berbagi sedikit nih perihal praktik surrogate mother.

Fyi praktik surrogate mother di Indonesia ini secara impilisit tidak diperbolehkan oleh pemerintah. Dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”) diatur bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:

• Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
• dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;
• pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

Jadi, yang diperbolehkan oleh hukum Indonesia adalah metode pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. Metode ini dikenal dengan metode bayi tabung. ( www.hukumonline.com )