Try new experience
with our app

INSTALL

Senja Tanpa Jingga 

CHAPTER 3 : JINGGA MANTRA AJAIB MAMA

Pagi yang cerah, matahari pagi yang hangat seperti mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku. Aku sebenarnya masih malas bangun pagi karena malam ini kurang tidur.

 

Setelah pulang berjualan di pasar malam di Shilin, tadi malam aku dan Xi Lie pergi nongkrong bersama teman-teman di salah satu club malam disana.

 

Awalnya mau pulang naik MRT, tapi karena ketinggalan kereta kamipun akhirnya pergi minum-minum sampai mabuk dan pulang hampir pagi.

 

“Bangun. Hei bangun!”

 

Seru mama membangunkanku sambil mencurahkan air dingin ke wajahku. Dan tentu saja cipratan air itu akhirnya berhasil membuat aku bangun walaupun badan masih terasa lemas.

 

“Apa-apaan sih ma. Muka aku kok disiram sih ma?”

 

Aku akhirnya berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke sofa kecil yang ada didekat jendela. Aku duduk santai disana sambil mengangkat kaki, yah gaya gua banget lah. 

 

“Ya abisnya susah amat sih dibangunin, seharusnya mama yang omelin kamu. Kalo gak pulang maboklah, yah pulang kumel lah, kucel mana bau lagi.” Protes mama

 

“Inget umur Jingga, kamu itu perempuan, udah waktunya nikah. Kalau kelakuan kamu kayak gini terus kamu gak akan punya pasangan hidup.” Tambahnya lagi masih sambil berdiri.

 

“Aduh mama ribet banget sih. Aku aja enjoy kok sama kehidupan aku yang sekarang. Gak usah ingetin aku kalo aku perempuan, aku yang sekarang udah berubah ma. Aku maunya jadi laki-laki, lagian pacar-pacar aku sekarang cewek semua kok.” Jawabku membantah.

 

“Ya Allah Gusti, kenapa anak ini jadi kayak gini? ngelawan kodrat kamu itu dosa Jingga.” Ucap mama mengingatkan aku akan artinya dosa.

 

“Kamu jangan sampai termasuk dalam golongan Sodom dan gomorah yang dilaknat Allah. Kamu ini perempuan seutuhnya, hiduplah layaknya seorang perempuan, sadar dong Jingga.” Imbuh mama lagi

 

“Udah telat kali ma. Aku nyaman dengan hidup aku yang sekarang, jadi males kalo harus ngerubah diri lagi. Bukannya mama juga dulu gak keberatankan sama perubahan aku?”

 

“Iya memang dulu mama setuju-setuju aja kalo kamu berubah jadi tomboy, karena mama liat kamu lebih percaya diri dan semuanya itu masih normal-normal aja selama kamu happy. Tapi makin dewasa kok kamu malah makin kehilangan arah gini sih. Kamu jadi makin menyimpang Jingga, mana sekarang kamu jauh lebih keras kepala, kamu udah gak mau dengar apa kata mama dan bā bá lagi.” Ucap mama kesal.

 

Aku akhirnya mendekati mama untuk menenangkan dia yang sepertinya sudah mau menangis.

 

“Oke ma, Jingga minta maaf. Tapi rasanya susah buat mengubah semuanya lagi ma. Mama lihat aku”

 

Aku berkata dengan menunjuk diriku sendiri dan mama melihatku dari atas sampai kebawah.

 

“Dengan aku yang sekarang, mana ada laki-laki yang mau memandang aku sebagai wanita dan mau berhubungan dengan aku ma.”

 

“Makanya kamu berubah dong Jingga. Umur kamu tuh sudah mau dua puluh empat tahun, mama ingin sekali kamu punya seorang laki-laki yang sayang sama kamu, menjaga kamu, perhatian sama kamu. Dan mama ingin melihat kamu menikah, punya anak, punya keluarga kamu sendiri.” Ungkap mama penuh harapan.

 

“Tapi aku nyaman dengan aku yang sekarang. Mama jangan paksa aku berubah untuk sesuatu yang belum pasti ma, aku gak bisa.” Tegasku pada mama.

 

“Mungkin nanti aku bisa berubah jadi perempuan sejati seperti yang mama harapkan, saat ada pria yang menerima aku apa adanya dan yang bisa menjadi alasan terbesar aku untuk keluar dari zona nyaman aku ini.” Kataku melanjutkan.

 

“Oke. Kalau begitu mama berdoa semoga ada laki-laki yang bisa menaklukkan keliaran kamu ini, yang mau menerima kamu apa adanya dan semoga dapat membawa kamu kembali ke kodrat kamu yang sebenarnya. Mama pastikan itu Jingga, kalau perlu mama akan paksa Allah untuk mengabulkan doa dan harapan mama ini. Denger itu Jingga!” Tandas mama yang seketika membuat aku merinding.

 

Perkataan mama barusan seperti perkataan seorang penyihir yang dengan kekuatannya memberikan aku mantra ajaib, entah itu mantra berkah atau kutukan, entahlah. Setelah percakapan pagi yang emosional itu, mamapun meninggalkan kamarku tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia mengerti kalau aku memiliki pendirian yang kuat, sama seperti dirinya.

 

Masih dalam lamunan memikirkan ‘mantra’ mama barusan, dering handphone membuyarkan lamunanku dan spontan saja aku langsung mengambil handphone diatas tempat tidurku. Dan ternyata dari papa di Jakarta.

 

“Hallo pa.”

 

Sapaku saat menerima telepon dari papa.

 

“Hallo Jingga, my princess.”

 

Ucap papa membalas sapaanku, seperti biasa papa selalu memanggilku dengan kata ‘my princess’. Mungkin waktu aku kecil, dipanggil seperti itu sangat menyenangkan, tetapi sekarang rasanya sangat menggelikan.

 

“Papa jangan panggil aku my princess lagi dong pa, udah gak cocok kali pa. Oh ya gimana kabar papa?” Aku bertanya karena sudah seminggu aku dan papa tidak berkomunikasi lagi via telepon.

 

“Papa sehat. Seharusnya papa yang tanya keadaan kamu, sudah seminggu kamu gak hubungi papa lagi.” Ucap papa menyindir.

 

“Aku baik-baik aja kok, cuma yah maaf aku udah jarang hubungi papa lagi. Aku lagi sibuk banget sama pekerjaan aku disini.”

 

“Walaupun kamu sibuk, bisakan kamu telepon papa. Atau memang kamu gak kangen sama papamu ini?”

 

“Iya pa, nanti aku akan sering-sering telepon papa lagi.”

 

“Kamu kapan ke Jakarta? sudah hampir setahun kan kamu gak kesini lagi. Papa, tante Sandra dan adek-adekmu udah kangen sama kamu Jingga. Udah kangen buat kumpul-kumpul lagi.”

 

“Aduh pa kayaknya belum bisa kesana deh. Soalnya beneran, pekerjaan aku lagi gak bisa ditinggalin.” Jawabku yang sepertinya membuat papa kecewa.

 

“Atau gini aja, bulan depan mungkin aku akan ke Bali untuk urusan pekerjaan. Jadi aku bisa mampir sebentar ke Jakarta setelah urusanku di Bali selesai, gimana?”

 

Kataku lagi sambil bertanya pendapat papa.

 

“Oh ya udah Jingga, gak apa-apa. Biar cuma sebentar, papa senang sekali kalo kamu bisa pulang, bisa ketemu kamu lagi Jingga. Papa mau menebus waktu kebersamaan kita yang sempat hilang dulu.” Ucapan papa membuatku kembali mengingat pertama kali aku nekad ke Jakarta untuk mencari dan menemui papa.

 

Saat itu aku berusia dua puluh tahun, dan rasa rindu kepada papa sudah tidak bisa aku bendung lagi walaupun kali ini aku harus menentang mama. Aku merasa kalau saat itu aku sudah dewasa, aku berhak menentukan hidupku sendiri termasuk keputusan untuk kembali ke Indonesia dan akupun melakukannya.

 

Saat berusia delapan belas tahun dan lulus dari SMA, aku sengaja tidak menuruti keinginan mama dan bā bá untuk kuliah.

 

Melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas bukanlah pilihanku. Karena aku tahu dengan berkuliah aku akan lebih lama lagi berada dalam segala aturan dan doktrin yang dibuat mama sejak aku masih kecil, termasuk larangan untuk pulang ke Indonesia dan berhubungan lagi dengan papa.

 

Sebenarnya passion dan soul aku ada di dunia seni musik sama seperti papa , tetapi karena mama lagi-lagi aku harus memendam hasrat itu dan berusaha menghilangkan rasa suka pada musik dengan mengalihkan minat dan hobiku di bidang lainnya yaitu otomotif.

 

Dan benar saja, karena minat dan hobi otomotif yang sudah aku tekuni sejak SMA, membuat aku akhirnya bekerja sebagai montir di salah satu bengkel terkemuka di Taipei.

 

Sebagai seorang montir perempuan satu-satunya disana, tidak membuat pekerjaan dan team work dengan pekerja-pekerja pria menjadi terhambat. Aku dapat dengan cepat beradaptasi dan berbaur dengan pekerja lainnya, bahkan merekapun hampir lupa kalau aku adalah seorang wanita. 

 

Awalnya mama dan bā bá tidak setuju aku bekerja sebagai montir, tetapi karena aku sudah bertekad merekapun dengan terpaksa harus menerimanya.

 

Begitu juga halnya ketika aku memutuskan pulang ke Indonesia untuk menemui papa untuk yang pertama kalinya. Mama memang tidak suka pada keputusan ini, namun akhirnya ia menyadari bahwa tidak selamanya ia bisa menjauhkan aku dengan ayah kandungku Roman. Karena bagaimanapun juga tidak ada yang namanya mantan anak dan mantan orangtua, lagipula izin dan restu dari bā bá sudah aku dapatkan. 

 

Pertemuan pertama dengan papa adalah pertemuan yang penuh dengan keharuan walaupun pada awalnya papa masih tidak percaya dengan penampilanku yang sekarang. Dalam memorinya,

 

Jingga adalah gadis kecil yang manis dan cantik. Namun Jingga yang ada dihadapannya kini seperti layaknya laki-laki dewasa yaitu aku.

 

Dan Roman yang aku lihat saat ini masih sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah. Papa masih terlihat muda dan sehat untuk usianya, hanya saja rambutnya yang sudah memutih tidak bisa membohongi usia pria tua asal tapanuli selatan ini. Ternyata tante Sandra sudah merawat papa dengan sangat baik, ia juga begitu baik padaku.

 

Hal itu juga yang membuat aku perlahan-lahan menerima kehadirannya sebagai ibu tiriku. Apalagi sewaktu kecil, aku juga pernah merasakan kasih sayangnya. Kehidupan rumah tangga papa dengan sepupuh mama ini kelihatannya berjalan harmonis dengan dua orang anak laki-laki yang diberi nama Edward dan Andrew.

 

Kehadiran Edward dan Andrew mengingatkan aku pada adik-adikku yang lain Siao Xing dan Siao Xiang.

 

Menjadi putri satu-satunya dalam keluarga sebenarnya membuatku merasa bersalah telah tumbuh menjadi saqngat tomboy seperti sekarang, tetapi justru rasanya nyaman berperan sebagai ‘kakak laki-laki’ bagi keempat adik tiriku itu. 

 

Semenjak pertemuan saat itu, akupun rutin pulang ke Indonesia. Yah paling tidak selama tiga tahun ini, aku sudah bolak-balik Jakarta-Taipei selama tujuh kali.

 

Hanya saja hampir setahun belakangan ini aku semakin disibukkan dengan pekerjaanku di bengkel, dan kini aku juga merambah bisnis jajanan kuliner disebuah street vendor di Pasar malam Shilin.

 

Sehingga rasanya sulit untuk menemukan waktu yang pas untuk pulang lagi ke Indonesia. Kadang aku merasa lelah dengan rutinitas pekerjaan yang aku jalani sekarang. Tubuhku juga punya keterbatasan dan jiwaku juga butuh tempat untuk bersandar, mungkin karena naluri dan hormon kewanitaanku.

 

Tetapi hidup di Taipei bagiku terlalu keras untukku jalani, namun aku tidak mau bergantung pada orang lain. Aku harus menghasilkan uang untuk memenuhi gaya hidupku yang menyukai dunia gemerlap malam, alcohol dan travelling.

 

Ditambah lagi aku harus mempunyai tabungan yang cukup untuk membiayai pacar wanitaku dan untuk biaya pulang pergi Jakarta-Taipei, yang semuanya itu tidak mungkin aku minta pada mama dan bā bá walaupun hidup kami di Taipei sangatlah berkecukupan.