Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

Cooking 

2. Tiga Bahan Terakhir Kecantikan

*Sebutlah Tuhan dan ingatlah Tuhan di setiap hela napas*


 

Keberuntungan untuk Mela bahan terakhir menghampirinya.


 

"Oke, kamu harus mengajak mereka berdua! Kamu jangan mengajak yang lain!" tegas Mela.


 

"Oke, Nona Mela! Hanya Andrew dan Peter yang akan datang bersama saya, ke mansion Anda, Nona Mela!" ujar Edward.


 

"Mereka wartawan juga?" tanya Mela.


 

"Iya, mereka sama seperti saya, Nona Mela," jawab Edward.


 

Mela mengeluarkan kartu alamat mansionnya, kemudian memberikannya kepada Edward.


 

"Apa dua teman kamu itu sudah pasti datang?" tanya Mela.


 

"Mereka pasti akan datang, karena mereka adalah penggemar Anda, Nona Mela!" kata Edward dengan yakin.


 

"Pukul dua puluh malam. Jangan lupa dan jangan telat!" kata Mela.


 

"Tidak mungkin akan saya lupakan undangan dari Anda, Nona Mela. Kami akan tepat waktu!" ujar Edward.


 

"Selain wawancara, juga akan ada makan malam, nanti!" terang Mela. Mela tersenyum ke Edward lalu masuk ke dalam mobilnya. "Sampai jumpa nanti!" serunya kemudian.


 

"Sampai jumpa nanti!" seru Edward juga.


 

Mobil Mela pergi. Edward melompat gila karena sangat senang. Setelah sadar dari gilanya yang satu menit saja ia mengeluarkan smartphonenya. Ia mencari nama Andrew lalu menyentuhnya.


 

"Apa Peter sedang bersama denganmu, Andrew?" tanya Edward.


 

"Iya, Peter sedang bersamaku!" jawab Andrew yang berada jauh di tempat tinggalnya.


 

"Aku, Peter, dan kamu, diundang oleh Nona Mela ke mansion pribadinya!" terang Edward dengan antusias.


 

"Ini berita bagus!" seru Andrew sembari meloud speaker.


 

"Pukul dua puluh malam ini, di mansion pribadinya!" terang Edward lagi.


 

"Oh, Tuhan, ini seperti mimpi! Apa kau berbohong, Edward?" Peter yang mendengar ikut bersuara di telepon.


 

"Aku tidak berbohong, Peter!" tegas Edward.


 

"Kau tahu alamat mansionnya, Edward?" tanya Andrew.


 

"Aku punya kartu alamatnya! Nona Mela sendiri tadi yang memberikannya kepadaku!" terang Edward antusias.


 

"Jika demikian, sekarang, kita harus bertemu dan bersiap!" seru Peter.


 

"Aku akan pulang dahulu sebentar, setelah itu langsung ke tempat Andrew!" ujar Edward lalu menutup teleponnya, lalu menyebrang jalan.


 

Di sebuah kamar bersaudara Edward Edwin di siang hari.


 

Edward masuk ke kamarnya dengan senang hati. Di dalam kamar itu, Edwin adik Edward sedang mengetik di komputer.


 

"Apa yang sedang kau ketik, hei Anak Laki-Laki Tampan?!" sapa Edward yang baru masuk ke dalam kamar mereka.


 

"Aku sedang mencoba menulis artikel tentang kehidupan artis," jawab Edwin.


 

"Lalu menurutmu artis itu seperti apa?" tanya Edward.


 

"Beberapa artis demi kecantikan mereka rela bersama setan," kata Edwin.


 

"Hahahaha ... mereka itu operasi dan selalu ke klinik spesial kecantikan!" kata Edward.


 

"Kakak tidak percaya, jika ada cara yang lain?" tanya Edwin.


 

"Em ... mungkin sih, tapi pastinya tidak untuk Nona Mela idolaku," kata Edward.


 

"Hm ... penggemar akan selalu membela idolanya," kata Edwin.


 

"Kau tahu? Dia mengundangku nanti malam pukul dua puluh," terang Edward.


 

"Oh, pantas saja, Kakak tampak bersemangat sekali!" kata Edwin yang walaupun matanya ke layar monitor komputer, tetapi tetap sedikit melirik memperhatikan kakaknya.


 

Edward menunjukkan kartu alamat mansion Mela. Edwin menerima dan membaca alamat kartu itu.


 

"Bagaimana ceritanya, Kakakku tersayang bisa mendapatkan ini dan juga diundang?" tanya Edwin penasaran.


 

"Aku bertemu dia tadi di depan toko bunga di sebelah sana itu," terang Edward sembari menunjukkan arah dengan telunjuknya.


 

"Oh, lalu?" tanya Edwin.


 

"Dia menanyakan umurku lalu mengundangku," terang Edward. Edward mengambil kartu alamat dari tangan Edwin lalu kembali menyimpannya.


 

"Apa aku boleh ikut?" tanya Edwin.


 

"Ah, sayang sekali, maaf tidak bisa!" kata Edward.


 

"Kenapa?" heran Edwin.


 

"Karena hanya aku, Andrew, dan Peter yang boleh datang, oleh Nona Mela," terang Edward dengan sangat menyesal tidak bisa mengajak adiknya.


 

"Mungkin Kakak bisa meneleponnya untuk menambahkan aku," ide Edwin.


 

"Ah, stupidnya aku! Aku lupa tidak meminta nomornya!" kata Edward sembari menepuk halus keningnya.


 

"Hm ... sudah nasibku tidak bisa ikut bersenang-senang!" kata Edwin dengan manyun.


 

"Kalau kesulitan mencari alamatnya, aku akan menelepon siapa?" bingung Edward.


 

"Hm ... berarti agar mudah mencari alamatnya, sebelum gelap, Kakak harus berangkat!" saran Edwin.


 

"Em ... iya kau sangat benar adikku, dan sekarang memang aku mau berangkat!" kata Edward.


 

Edward memilih baju di lemarinya. Ia mengambil kemeja dan jas lalu memasukkannya ke dalam tas punggungnya. Ia mengganti celana panjang santainya dengan celana panjang formal. Selanjutnya ia memakai sepatu formal.


 

"Kakak sudah siap? Begitu saja penampilannya?" tanya Edwin.


 

"Aku akan mengganti bajuku nanti, biar tidak kotor, tidak bau, dan biar tetap rapi, karenakan masih lama, masih nanti pukul dua puluh malam," terang Edward.


 

"Benar juga sih." Edwin mengangguk-angguk. Selamat bersenang-senang!" ucapnya kemudian.


 

Edward memeluk erat Edwin seakan-akan mau pergi untuk selamanya dan tidak akan bertemu lagi dengan adiknya. Edwin mendorong Edward.


 

"Kenapa kau ini? Kau aneh!" kata Edwin saat mendorong Edward.


 

"Artikel yang sedang kau tulis yang aneh!" kata Edward. Edward kembali memeluk erat Edwin. Edwin mendorong tubuh Edward lagi.


 

"Apaan sih, Kak?" protes Edwin. Edward mencubit gemas pipi Edwin.


 

"Anak laki-laki tampan, adik terbaikku!" kata Edward. Edward mencium kening Edwin.


 

"Kakak! Jangan jadi gila karena senang!" protes Edwin. Edward hanya tersenyum.


 

Edward mengambil tas punggung dan kameranya.


 

"Sampai jumpa!" seru Edward.


 

"Sampai jumpa!" seru Edwin. "Salamnya mana?" tanya Edwin.


 

"Assalamualaikum!" ucap Edward.


 

"Waalaikumsalam!" jawab Edwin. "Ingat Allah, jangan macam-macam tanda kutip!" pesannya kemudian.


 

"Iya!" jawab Edward. Edward pergi.


 

Di depan sebuah apartemen tempat Andrew tinggal.


 

Edward menghentikan mobilnya di depan apartemen itu. Ia turun dari mobil lalu masuk ke apartemen. Ia menelusuri jalan menuju ke unit yang Andrew tempati. Sekelebat bayangan hologram muncul lalu menghilang. Lalu tepat di telinganya ada suara berbisik.


 

"Jangan datang ...."


 

Edward mendengar tetapi tidak ia pedulikan, pokonya masa bodoh.


 

Edward sudah masuk ke apartemen Andrew. Ia dan Peter sedang duduk di sofa. Andrew sedang membuatkan kopi.


 

"Di mana kau bertemu dengan Nona Mela?" tanya Peter.


 

"Di depan toko bunga tidak jauh dari rumahku," terang Edward.


 

"Dalam rangka apa dia mengundang kita ke mansionnya?" tanya Peter.


 

"Dalam rangka mewawancarai dia dan makan malam," jawab Edward.


 

"Bagaimana awalnya?" tanya Peter.


 

"Nona Mela bertanya apa aku wartawan, saat melihat kameraku dan aku merekamnya. Aku bilang jujur, iya aku masih belajar," terang Edward.


 

Andrew datang memberikan kopi pada Edward dan Peter.


 

"Terima kasih!" ucap Edward.


 

"Terima kasih!" ucap Peter.


 

"Dia lalu bilang kalau mau mewawancarainya nanti saja," terang Edward lagi. Edward meminum kopinya. "Kemudian ia bertanya usiaku dan apa aku punya teman seusiaku," terangnya kemudian.


 

"Oh, lalu kau menceritakan kepada Nona Mela tentang Aku dan Peter?" tanya Andrew. Edward mengangguk.


 

"Dan lalu dia mengundang kita bertiga, hanya kita bertiga!" imbuh Edward dengan antusias.


 

"Pakai baju apa nanti?" Aku harus pulang dahulu untuk mengambil baju!" kata Peter.


 

"Ukuran kita sama, pakai saja punyaku!" kata Andrew.


 

"Oh, boleh? Oke deh, kalau begitu aku pinjam!" kata Peter dengan berbinar senang.


 

"Kita harus menemukan alamatnya sebelum gelap!" terang Edward.


 

"Kenapa?" tanya Andrew.


 

"Aku takut akan susah mencari alamatnya dan akan bisa membuat kita terlambat," kata Edward.


 

"Jangan sampai kita terlambat dan mengecewakan Nona Mela! Itu tidak baik untuk citra kita sebagai wartawan muda! Kalau banyak yang mendengar, itu akan berpengaruh saat kita mencari pekerjaan menjadi wartawan kedepannya!" kata Peter.


 

"Kalau begitu, sekarang, ayo bersiap dan berangkat!" seru Andrew.


 

"Aku akan mengganti baju saat sudah dekat dengan mansionnya!" ujar Edward.


 

"Kenapa?" tanya Andrew.


 

"Agar bajuku masih bersih dan harum saat bertemu dengan Nona Mela nanti!" ujar Edward.


 

"Hm ... kau benar juga, Edward! Kalau begitu aku juga nanti saja!" kata Andrew.


 

"Aku juga!" kata Peter ikut-ikutan.


 

"Peter, ayo pilih, mana yang akan kamu pinjam!" seru Andrew sembari melangkah ke kamarnya. Peter mengikuti Andrew masuk ke kamar Andrew. Edward menunggu di sofa.