Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

Cooking 

3. Jangan Datang

*Sebutlah Tuhan dan ingatlah Tuhan di setiap hela napas*


 

Di apartemen Andrew, tiga sahabat berkumpul. Andrew, Peter, dan Edward membicarakan soal undangan mendadak dari Mela, seorang artis, aktris yang sangat cantik yang merupakan idola mereka bertiga. Mereka bertiga akan langsung berangkat ke rumah Mela. Edward sudah siap, tetapi Peter belum. Agar Peter tidak perlu pulang, Andrew menawarkan pinjaman outfit. Peter dan Andrew sibuk memilih pakaian di kamar Andrew, sementara Edward menunggu mereka di ruang tamu sembari menonton televisi.


 

Pada saat menonton televisi suara bisikan saat ia melewati koridor berbisik lagi. Bisikan halus, tipis, samar, tapi tetap jelas di telinga Edward dan hanya Edward yang dapat mendengarnya.


 

"Jangan datang!" Edward merasakan bulu halus di tangannya berdiri. Akan tetapi tidak ia hiraukan dan akhirnya tidak ia rasakan. Sementara suara halus itu dianggapnya suara hatinya yang sedang menimang mau datang atau tidak, dan dengan mantap ia katakan kepada hatinya pasti datang.


 

Siaran televisi tiba-tiba menjadi error. Televisi dari terang menjadi berpita-pita hitam, lalu berubah lagi bersemut-semut. Semenit kemudian gelas-gelas kopi tumpah semua seperti tersenggol padahal tidak ada yang menyenggol.


 

Andrew dan Peter ke luar dari kamar dan mereka melihat gelas-gelas kopi berantakan.


 

"Ada apa?" tanya Andrew.


 

"Entahlah tiba-tiba tumpah semua," jawab Edward.


 

"Sudah lupakan, ayo kita berangkat!" seru pemilik apartemen. Kemudian Andrew melihat televisinya buram. "Tumben buram? Sudahlah biarkan, matikan saya!" katanya kemudian. Edward mematikan televisi. Mereka bertiga bergegas pergi.


 

***


 

Tepat sore hari mereka berangkat ke mansion kuno antik Mela. Ketiga sahabat pergi dengan menaiki mobil Edward. Edward yang mengendarai mobil. Peter duduk di sebelah Edward. Andrew duduk di kursi belakang.


 

"Edward, aku pinjam kameranya!" seru Andrew.


 

"Jangan habiskan baterainya!" pesan Edward yang artinya mengizinkan asalkan tidak membuang banyak baterainya.


 

"Pasti banyak hal menarik di sana yang perlu kita rekam!" kata Peter sembari memberikan kamera Edward kepada Andrew, karena Edwardnya sedang sibuk menyetir.


 

"Tiap sudut mansion Mela akan kita liput! Sekarang sedikit perjalanannya juga perlu diliput!" ujar Andrew. Andrew menyalakan kamera merekam sedikit perjalanan mereka lalu mematikannya. Ia memeriksa rekaman dan ia melihat sosok bayangan tipis transparan, sosok perempuan bergaun putih panjang. Sosok itu melambaikan tangan dan menggelengkan kepalanya yang artinya tidak. Andrew terdiam saja sejenak merasakan aneh lalu seruan Peter membuyarkan semua itu.


 

"Bisakah kita berhenti untuk membeli makanan ringan?!" tanya Peter.


 

"Aku juga mau minuman!" ujar Andrew karena ia merasa melihat bayangan itu karena fatamorgana karena kondisi fisiknya yang kurang cairan.


 

"Tentu!" jawab Edward.


 

"Di sana, di sebelah kanan!" seru Andrew. Edward segera melajukan mobilnya ke pinggir mini market yang ditunjukkan oleh Andrew. Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market.


 

Di dalam mini market Andrew, Edward, dan Peter mengambil beberapa makanan ringan dan minuman ringan. Kemudian setelahnya mereka mengantri di kasir. Andrew berdiri di depan Edward. Edward berdiri di antara Andrew dan Peter. Peter berdiri di belakang Edward. Di belakang Peter berdiri seorang pria tampan berusia di bawah mereka bertiga. Pria itu juga merupakan penggemar berat Nona Mela.


 

"Edward, boleh aku melihat kartu alamat mansion Nona Mela?" tanya Peter. Pria tampan di belakangnya langsung tertarik dengan pembicaraannya, karena mendengar nama Mela artis idola sang pria muda tampan itu.


 

"Tentu!" jawab Edward. Edward mengambil kartu alamat itu dari saku kanan celana panjangnya lalu memberikannya kepada Peter. Andrew mengambilnya, membantu mengulurkan ke Peter. Peter menerima kartu itu dari tangan Andrew. Peter melihat kartu itu. Pria muda itu ikut melihat dengan mengintip dari belakang Peter. Pria muda itu bahkan mengajar alamat itu sampai hafal di luar kepala.


 

"Hm ... kita beruntung diundang Nona Mela ke mansion pribadinya," ucap Peter saat telah membaca alamat mansion Mela.


 

Andrew sudah membayar. Edward sudah membayar. Peter kemudian juga membayar. Mereka bertiga telah ke luar dari mini market. Zaky pria muda tampan itu juga membayar. Setelah itu Zaky pun memikirkan pembicaraan ketiga orang di depannya.


 

"Nona Mela punya pesta? Hm ... tidak bisa! Kenapa hanya mereka? Aku penggemar sejatinya juga harus datang!" ujar Zaky. Zaky ke luar dari mini market.


 

Di luar tampak mobil Edward sudah melaju. Zaky masuk ke mobilnya.


 

"Aku harus memakai jas terbaik! Aku harus lebih baik dari mereka! Nona Mela, tunggu aku!" kata Zaky bermonolog di dalam mobilnya. Zaky memperhatikan wajahnya di kaca mobil. "Aku rasa aku lebih tampan dari mereka bertiga!" ujarnya. Ia menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi.


 

***


 

Edward menjalankan mobilnya pelan-pelan. Andrew dan Peter bagian melihat-lihat ke luar, mencari-cari.


 

"Kita harus turun dan bertanya!" saran Andrew.


 

"Berhenti di sana saja!" saran Peter sembari menunjuk.


 

Edward melajukan mobilnya menuju tempat yang ditunjuk Peter. Sesampainya ia menghentikan laju mobilnya. Andrew dan Peter turun dari mobil dan bertanya kepada beberapa orang yang mereka temui.


 

"Pak tahu alamat ini?" tanya Peter sembari menunjukkan kartu alamat.


 

"Maaf, tidak," jawab orang yang ditanya Peter.


 

"Pak tahu alamat mansion Nona Mela?" tanya Andrew.


 

"Saya hanya pernah dengar mansionnya katanya kuno dan antik. Mansionnya berada di daerah sepi tanpa tetangga. Selain itu ada gosip tempatnya angker dan kata orang jangan ke sana," jawab wanita muda yang ditanya Andrew.


 

"Tapi Anda tidak tahu lokasi tepatnya?" tanya Andrew lagi.


 

"Maaf, tidak," jawab wanita itu.


 

Seorang melintas lagi. Andrew mencegah langkahnya.


 

"Tunggu sebentar! Apa kau tahu di mana mansion artis Nona Mela?" tanya Andrew.


 

"Sepuluh kilometer lagi dari sini!" jawab orang yang dihadang Andrew lalu bergegas pergi.


 

"Pak, apakah Anda tahu alamat ini?" tanya Peter sembari menunjukkan kartu alamat.


 

"Masih jauh ini, sepuluh kilometer lagi dari sini!" jawab pria itu. "Aku sarankan sebaiknya jangan ke sana!" kata pria itu kemudian.


 

"Kenapa?" tanya Peter.


 

"Jangan ke sana!" kata pria itu lagi lalu pergi tanpa menerangkan alasannya. Peter diam saja, membiarkannya pergi.


 

"Ya sudahlah, biarkan saja! Melarang tapi tidak jelas!" gerutu Peter. "Andrew aku sudah dapat!" seru Peter sembari melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Andrew. Andrew bergegas mendekat ke Peter.


 

"Bagaimana? Di mana?" tanya Andrew.


 

"Masih sepuluh kilometer lagi dari sini!" terang Peter.


 

"Sama aku juga mendapatkan jawaban sepuluh kilometer lagi! Ya sudah yuk kita jalan lagi!" ajak Andrew.


 

Andrew dan Peter kembali naik ke mobil Edward.


 

"Edward, masih sepuluh kilometer lagi dari sini!" kata Andrew.


 

"Ada yang bilang jangan ke sana," terang Peter.


 

"Kenapa?" tanya Andrew.


 

"Entahlah pria itu tidak mengemukakan alasannya," kata Peter.


 

"Aku mendapatkan cerita dari wanita muda jika tempat itu katanya sih angker," cerita Andrew.


 

"Sudahlah jangan dengarkan gosip, dunia artis memang penuh gosip!" kata Edward lalu segera melajukan kembali mobilnya.


 

***


 

Sementara itu, Zaky penggemar berat Nona Mela, sedang mencoba beberapa jas mewah di kamar pribadinya yang juga mewah. Ia akhirnya menentukan pilihannya pada sebuah jas merah setelah beberapa kali mencoba.


 

"Merah, aku pikir merah akan lebih menarik perhatian!" ujar Zaky tersenyum menang karena merasa menang dari ketiga pria yang diundang Nona Mela.


 

***


 

Edward melajukan mobilnya dengan konsentrasi. Beberapa saat kemudian ia yang tidak mengantuk merasa seperti dipaksa mengantuk, kesirep. Ia akhirnya meminggirkan mobil dan berhenti.


 

"Kenapa?" tanya Peter.


 

"Entahlah, aneh aku pikir, karena aku tidak mengantuk, tapi kok tiba-tiba mengantuk," jawab Edward.


 

"Aku saja yang menyetir!" ujar Andrew.


 

Edward turun dari mobil. Andrew turun dari mobil. Mereka bertukar posisi, Andrew duduk di depan kemudi, menjadi sopir. Edward duduk sendirian di belakang sembari membawa kameranya.


 

***


 

Zaky ke luar dari rumahnya dengan memakai jas merah.


 

"Sebelum ke sana, sekarang, aku harus membeli buket mawar merah terlebih dahulu!" ujar Zaky. Zaky masuk ke mobilnya lalu dengan segera melajukan mobilnya.


 

***


 

Edward tertidur di kursi belakang mobilnya. Edward bermimpi lalu terbangun sembari berteriak.


 

"Akh ... !" pekik Edward. Hal itu membuat kedua temannya terkejut. Andrew pun sampai mengerem mendadak.


 

"Ada apa?" tanya Peter.


 

"Maaf, aku hanya bermimpi!" ucap Edward sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


 

"Kau bisa membuat kita celaka, karena terkejut!" protes Andrew. Andrew kembali menyetir. Mobil kembali melaju.


 

"Kau bermimpi apa sampai berteriak seperti itu, Edward?" tanya Peter.


 

"Wajah Nona Mela," jawab Edward.


 

"Wajahnya begitu cantik rupawan, kenapa kamu berteriak ketakutan?" heran Peter.


 

"Wajahnya dari cantik jelita berubah menjadi tua lalu berubah penuh luka lalu berubah lagi menjadi seram dan terakhir sangat seram," terang Edward.


 

"Tidak mungkin wajah Nona Mela seperti itu," kata Andrew.


 

"Iya, aku tahu! Akukan hanya bermimpi buruk!" kata Edward.


 

"Wajahnya itu cantik alami, tanpa makeup, tanpa operasi," kata Andrew.


 

"Akan tetapi ada cara lain untuk cantik," kata Edward.


 

"Cara lain?" tanya Andrew.


 

"Menjadi pengikut setan," jawab Edward.


 

"Apa kau pikir Nona Mela cantik karena bersama setan?" tanya Peter.


 

"Tidak, tapi mungkin aku bermimpi buruk karena artikel itu. Artikel cara-cara artis dan selebritis, atau orang-orang yang ingin cantik menjadi cantik," terang Edward.


 

"Kau membaca artikel seperti itu di mana?" tanya Peter.


 

"Adikku Edwin, sedang menulis artikel tentang hal itu," terang Edward.