Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

Cooking 

5. Welcome

*Sebutlah Tuhan dan ingatlah Tuhan di setiap hela napas*


 

Malam hari, bahan memasak keempat telah tiba. Mereka bertiga menunggu di depan pintu gerbang mansion kuno antik. Mela melangkah cepat-cepat dengan berlari kecil.


 

“Masih setengah jam lagi dari waktu yang ditentukan,” kata Peter.


 

“Itu akan memberi kesan yang baik. Kita tepat waktu,” kata Andrew.


 

“Sepertinya hanya kita yang diundang,” kata Peter.


 

Bayangan hitam melintas di belakang mereka dan Peter merasakannya. Peter menengok ke belakang, tapi tidak ada siapa pun. Peter mencari-cari.


 

“Aku merasa ada orang lain, tetapi tidak ada satu pun,” ungkap Peter.


 

Sedetik kemudian, di atas mereka, beberapa bayangan hitam terbang melintas sangat cepat.


 

“Aku juga merasa seperti ada yang lewat di atas kita,” ungkap Peter lagi. Semua menengok ke atas, tapi tidak ada apa pun.


 

“Tidak ada apa pun, Peter. Kalaupun ada, pastinya burung yang terbang, Peter!” kata Edward. Semua menengok ke atas. Mereka mencari-cari jika mungkin ada burung yang terbang di atas mereka. Akan tetapi sedetik kemudian, mereka melihat yang lain yang terbang. Beberapa bayangan hitam kembali terbang melintas sangat cepat di atas mereka. Semuanya pun terkejut hingga terbelalak, tapi segera memejamkan mata, demi melihat apa yang terbang di atas mereka.


 

“Apa itu tadi?!” tanya Peter.


 

“Aku pikir itu bukan burung-burung!” kata Andrew.


 

“Jika bukan burung-burung lalu apa itu tadi?!” tanya Peter penasaran.


 

“Mungkin saja bisa diterangkan dengan ilmu fisika,” kata Edward.


 

Sesaat kemudian setelah semua tidak mendongak ke atas, Edward tidak sengaja menoleh ke sebelah kanan. Jauh di sebelah kanan itu, di dekat semak-semak, ia melihat sosok berwajah pucat cantik.


 

“Siapa perempuan itu?” tanya Edward.


 

Pada saat pertanyaan itu Edward lontarkan, pintu gerbang mansion kuno antik terbuka.


 

“Selamat datang!” sapa Mela dengan sangat antusias. Semua perhatian langsung tertuju kepada Mela.


 

“Nona Mela, apa Anda mengenal perempuan di sana?” tanya Edward sembari menunjukkan ke arah sosok yang dilihatnya. Akan tetapi saat ia menunjukkan sosok perempuan itu sudah tidak ada.


 

“Perempuan yang mana?” tanya Mela sembari melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Edward, tetapi Mela tidak melihat siapa pun di sana, yang lain pun juga tidak melihat.


 

“Tidak ada siapa pun!” kata Peter.


 

“Aku tidak melihat siapa pun di sana!” kata Andrew.


 

“Tadi di sana ada perempuan, wajahnya cantik, tapi pucat, sungguh!” terang Edward.


 

“Apa lebih cantik dari saya?” tanya Mela.


 

“Oh, tidak, tentu Nona Mela yang jauh lebih cantik!” kata Edward dengan tersenyum.


 

“Tidak ada perempuan selain saya di sini!” terang Mela.


 

“Nona Mela, perkenalkan, saya Andrew!” kata Andrew sembari menyodorkan tangannya. Mela dengan senang hati menjabatnya.


 

“Mela!” kata Mela memperkenalkan dirinya. “Senang bisa berjumpa dengan Anda, Tuan Andrew!” imbuhnya.


 

“Seperti bermimpi di surga, bisa bertemu dengan Anda, Nona Mela,” ujar Andrew.


 

“Oh, Anda berlebihan, Tuan Andrew!” kata Mela. “Bisa menyesal di belakang!” batin Mela sembari mengumbar senyuman sangat menggoda.


 

“Tidak berlebihan kok, Nona Mela!” ujar Andrew. Mela tertawa dalam hatinya.


 

Perkenalkan, saya Peter, Nona Mela!” kata Peter sembari mengulurkan tangannya juga ke Mela. Dengan senang hati Mela pun meraihnya.


 

“Saya Mela!” ujar Mela. Nice to meet you!” kata Mela kemudian.


 

“Nice to meet you too!” balas Peter.


 

“Mari, silakan masuk!” ajak Mela sembari menawarkan dengan uluran telapak tangannya yang terbuka ke atas, tanda mempersilakan.


 

Andrew, Edward, Peter, Mela masuk ke halaman mansion. Sekilas terdengar suara tawa. Peter mendengar suara tawa itu.


 

“Kenapa tertawa?” tanya Peter.


 

“Siapa yang tertawa, Peter?” tanya Andrew.


 

“Tidak ada yang tertawa,” kata Mela.


 

“Apa yang salah dengan telinga aku? Apa telingaku bermasalah?” bingung Peter sambil merasakan keadaan Indra pendengarannya. “Tapi aku merasa pendengaranku baik-baik saja,” katanya kemudian.


 

“Nona Mela, bolekah saya merekam dari sekarang?” izin Andrew.


 

“Ya, tentu, Tuan Andrew!” jawab Mela antusias.


 

“Panggil Andrew saja jangan pakai tuan, Nona Mela!” kata Andrew.


 

“Oh, oke!” Mela memberikan kode oke dengan membuat lingkaran dari ibu jarinya dan telunjuknya.


 

Andrew mengarahkan kamera ke Mela.


 

“Hai! Selamat datang di mansion pribadi saya, yang kuno nan antique ini!” seru Mela saat kamera itu mengarah kepadanya.


 

Sosok perempuan berwajah pucat cantik di belakang Mela tertangkap kamera, tapi Andrew tidak menyadari. Kemudian Andrew mengarahkan kamera ke sekitar halaman mansion. Beberapa sosok berbentuk hologram terekam, tapi Andrew tidak menyadari.


 

“Nona Mela, Anda punya berapa mansion?” tanya Peter. Andrew membuat kamera mengarah kembali ke Mela.


 

“Ada beberapa,” jawab Mela.


 

“Punya properti lain selain mansion?” tanya Peter.


 

“Saya punya apartemen,” jawab Mela.


 

“Nona sering tinggal di mansion yang ini?” tanya Peter.


 

“Sangat sering,” jawab Mela.


 

Mereka pun terus melakukan wawancara sembari melangkah masuk. Kamera banyak mengarah ke Mela. Sesekali mengarah ke sekitar mansionnya.


 

“Ini adalah mansion favorit saya!” ujar Mela.


 

“Kenapa mansion ini menjadi mansion favorit Anda, Nona Mela?” tanya Peter.


 

“Karena saya merasa jiwa saya ada di sini,” jawab Mela.


 

“Mansion ini kuno. Apa ini selera Anda, Nona Mela?” tanya Edward.


 

“Iya, karena menurut saya semakin kuno atau tua, semakin bernilai,” ujar Mela.


 

“Hm ... benar juga, sama seperti manusia, biasanya yang lebih tua harus lebih dihormati. Em ... tapi lokasi di sini sangat sepi, Nona,” kata Edward.


 

“Em ... sepi sama dengan ketenangan. Saya butuh itu,” terang Mela.


 

Mereka masih di halaman mansion karena halamannya begitu luasnya sehingga perlu waktu untuk sampai ke bangunan mansion. Saat di halaman itu mereka mendapati sebuah patung. Patung itu tiba-tiba bergerak menghadap ke arah mereka. Semua terkejut, tidak terkecuali Mela, karena memang patungnya bergerak tiba-tiba, tidak ada yang menyangka, termasuk pemilik rumah.


 

“Patungnya bergerak!” seru Edward karena terkejut.


 

“Oh, itu patung selamat datang, memang bisa bergerak!” alasan Mela.


 

“Pasti patung mahal!” kata Peter. Peter mendekati patung dan memperhatikan tiap detail patungnya. Andrew juga ikut mendekat dan mengarahkan kamera ke patung.


 

“Sayang sekali, aku tidak sempat merekam pergerakannya tadi!” sesal Andrew.


 

“Coba saja kita mundur lalu maju lagi!” ide Edward.


 

“Oh iya, pasti seperti pintu kaca otomatis!” kata Peter.


 

“Nona Mela, Anda tidak keberatankan jika kita mundur lagi beberapa langkah?” tanya Andrew.


 

“Tentu!” jawab Mela.


 

Mereka berempat mencoba mundur beberapa langkah lalu melangkah maju lagi, tapi patung itu tidak bergerak lagi.


 

“Kenapa tidak bergerak lagi?” tanya Andrew bingung.


 

“Mungkin saja rusak atau gangguan listrik atau baterainya habis,” duga Peter.


 

“Anda perlu memperbaiki patung Anda, Nona Mela!” kata Edward.


 

“Lupakan patung itu, ayo kita lanjutkan jalan!” seru Mela. Mereka melanjutkan jalan.


 

Pada saat itu Edward menengok ke belakang dan patung itu tampak tersenyum.


 

“Nona Mela, patung Anda tersenyum!” seru Edward.


 

“Tentu saja tersenyum, itukan patung selamat datang!” alasan Mela. “Uuuh dasar setan! Mau apa dia mengganggu tamu-tamuku? Bisa-bisa tamu-tamuku ketakutan dan kabur dan aku gagal!” gerutu Mela dalam hatinya tapi wajahnya tetap menampakkan senyuman.


 

“Tapi tadi patung itu tidak tersenyum, Nona,” kata Edward.


 

“Dari tadi patung itu tersenyum!” tegas Mela. “Sudah, lupakan patung itu!” tegas Mela lagi.


 

“Tapi tadi memang tidak tersenyum,” kata Peter. Mela tidak menanggapi. Mereka melanjutkan jalan.


 

Mereka sampai juga di depan pintu mansion.


 

“Kenapa Anda hanya mengundang kami bertiga, Nona Mela?” tanya Edward.


 

“Karena cukup kalian bertiga,” jawab Mela.


 

“Kenapa memangnya, kalau lebih dari kami bertiga, Nona Mela?” tanya Edward lagi.


 

“Karena saya tidak butuh lebih,” jawab Mela.


 

“Oh, mungkin, Anda, Nona Mela, tipe yang tidak suka banyak orang,” pendapat Peter.


 

“Hm ... iya, bisa dibilang begitu, tapi saya sangat suka banyak penggemar!” kata Mela antusias. Mela membuka pintu bangunan mansion. “Silakan masuk!” serunya setelah pintu terbuka.


 

Pada saat itu sekilas ada bayangan hitam melintas di dalam rumah.


 

“Bayangan apa tadi?!” tanya Peter dengan nada terkejut.


 

“Itu karena cahaya lampu yang bergerak!” terang Mela berbohong agar para tamunya tidak ketakutan dan akhirnya bisa kabur.


 

Andrew, Edward, Peter, dan Mela masuk. Saat mereka masuk di halaman muncul beberapa hologram sosok hantu dengan kegiatan mereka masing-masing.