Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

Cooking 

7. Ada Hantu

*Sebutlah Tuhan dan ingatlah Tuhan di setiap hela napas*


 

Peter kembali ke depan ruang ballroom karena musik di ballroom belum mati secara otomatis, padahal mereka bertiga sudah ke luar dari ruangan itu. Ia mengintip ke dalam ruangan itu. Ia melihat sepasang bayangan transparan berdansa. Beberapa detik kemudian ia melihat banyak bayangan hologram berpasangan yang sedang berdansa.


 

"Ini kemajuan teknologi atau ...." Peter merasa merinding dan ada sedikit rasa takut. "Ah, apa sih yang aku pikirkan? Pastilah itu karena kemajuan teknologi!" pikirnya dalam benaknya. Peter kembali ke teman-temannya.


 

***


 

Di depan ruang studio musik mansion kuno antik milik Mela pada malam hari.


 

Andrew dan Edward sudah masuk ke dalam studio musik itu. Peter segera menyusul masuk. Setelah Peter masuk bayangan hitam melintas di depan ruangan studio musik itu.


 

Andrew mengarahkan kamera ke seluruh sudut studio musik itu. Edward melihat beberapa alat musik lalu tertarik pada gitar. Edward memainkan gitar itu. Peter mendekatinya sembari bernyanyi mengikuti iringan gitarnya. Andrew segera mengarahkan kamera ke mereka berdua.


 

Cendani Ada Kiss 2 Yang Mulia


 

Dunia berkisah tentang cinta

Orang tua, sejoli, persahabatan

Ada ada kiss

Ada ada kiss

Ada ada kiss kiss kiss kiss kiss

Mahakarya Mahakuasa Mahasempurna

Romantisnya tiada habis, sempurna.

Ada ada kiss

Ada ada kiss

Ada ada kiss kiss kiss kiss kiss

Ada ada kiss

Ada ada kiss

Ada ada kiss kiss kiss kiss kiss


 

Lagu selesai dimainkan.


 

"Kita mainkan lagu yang lain! Cendani Kuingin Selalu Ada di Sini!" seru Peter. Edward menggenjreng gitar Mela lagi. Peter pun bernyanyi lagi.


 

Kulihat di sana ada ada cinta yang hadir tawa yang hadir


 

Beberapa bayangan hitam dan beberapa bayangan hologram tertarik menonton mereka. Mereka tidak menyadarinya.


 

Kulihat di sana cinta yang indah bahagia terindah

Kujuga inginkan dan kau telah hadir kau yang hadir.

Kujuga inginkan dan kau terindah anugerah terindah


 

dan aku ....


 

Kuingin selalu ada di sini di dalam pelukmu hoo ... Cinta

Kuingin selalu ada di sini di dalam benakmu hoo ... Cinta

Kuingin selalu ada di sini di dalam hatimu hoo ... Cinta


 

Cinta tetap Dia yang satu

Dia yang telah menyatukan kita

Dia yang telah menghadirkan cinta kita


 

Kuingin selalu ada di sini di dalam pelukmu hoo ... Cinta

Kuingin selalu ada di sini di dalam benakmu hoo ... Cinta

Kuingin selalu ada di sini di dalam hatimu hoo ... Cinta


 

Cinta tetap Dia yang satu

Dia yang telah menyatukan kita

Dia yang telah menghadirkan cinta kita


 

Oohoo ....

Duruduu ....


 

"Oohoo ... duruduu ...!" suara bayangan hitam.


 

"Oohoo ... duruduu ...!" suara bayangan hologram.


 

Peter selesai bernyanyi dan terdengar suara tepuk tangan. Bayangan-bayangan hitam dan hologram yang bertepuk tangan, tapi mereka tidak menyadarinya walaupun mendengar suara tepuk tangan itu.


 

Edward langsung memainkan musik yang lain dan Peter kembali bernyanyi.


 

Lihatlah dunia semesta alam

Berikan senyuman

Berikanlah tawa

Berikanlah suka

Berikan yang manis


 

Jadilah berkah, pahala, bekal akhirat


 

Manis-manis senyuman

Manis-manis gula kapas

Manis-manis anak baik

Manis-manis meao pusy


 

Lihatlah dunia semesta alam

Berikan yang indah

Berikan sempurna

Berikan semangat

Berikan yang manis


 

Jadilah berkah, pahala, bekal akhirat


 

Manis-manis senyuman

Manis-manis gula kapas

Manis-manis anak baik

Manis-manis meao pusy.


 

Meao


 

Peter selesai bernyanyi. Bayangan-bayangan hitam dan hologram bertepuk tangan lagi. Ketiga pemuda itu kali ini mendengar dan juga melihat bayangan-bayangan itu. Bayangan-bayangan itu sedang berdiri di hadapan mereka. Mereka ketakutan lalu melangkah perlahan untuk ke luar dari ruangan itu. Andrew sambil ketakutan menyempatkan merekam bayangan-bayangan itu.


 

Peter, Edward, dan terakhir Andrew ke luar dari studio musik itu dengan ketakutan. Pada saat itu bayangan-bayangan hologram anak-anak yang sedang berlarian kejar-kejaran kembali menabrak Andrew yang kali ini sedang ketakutan. Andrew merasakan dan melihat bayangan-bayangan tipis anak-anak itu dengan yakin tidak ragu seperti sebelumnya.


 

"Jadi anak-anak itu benar-benar ada dan mereka adalah ...." kata Andrew.


 

"Ini namanya kita sedang meliput istana hantu!" kata Peter.


 

"Seram sih, tapi tidak apa-apa, justru ini bagus buat kita! Kita akan bisa mendapatkan banyak uang dengan liputan horor seperti ini!" kata Andrew kemudian.


 

"Kau benar Andrew, kita sedang mendulang emas!" kata Peter.


 

"Iya, ini memang akan sangat menarik, tapi ...." Edward bergidik ketakutan.


 

"Lihatlah Nona Mela, Edward! Nona Mela seorang wanita, tapi dia berani tinggal sendiri di istana berhantu ini! Kita pria, jangan memalukan kaum pria!" kata Andrew.


 

"Menjadi wartawan sejati harus bisa meliput apa pun, Edward!" kata Peter.


 

"Oke, ayo kita lanjutkan meliput ke ruangan yang lain! Kita lihat, apa akan muncul hantu lagi! Kita lihat, hantu apa yang akan muncul lagi!" kata Edward kemudian yang berusaha memberanikan diri demi menjadi wartawan sejati.


 

***


 

Ruang olahraga.


 

Andrew, Edward, dan Peter berjalan pelan memasuki ruang olahraga dengan rasa takut. Peter dan Edward melihat sekeliling ruang olahraga. Andrew menyalakan kamera kembali dan mulai merekam ruangan itu.


 

"Apakah di ruangan ini juga berhantu? Sepertinya aman-aman saja!" kata Edward dengan yakin.


 

"Nanti kita akan tanyakan kepada Nona Mela soal hantu yang ada di mansion ini!" ujar Andrew sembari mengedarkan pandangannya melalui kamera rekam yang dibawanya.


 

"Aku sudah merasa ada hantu sejak di ruangan ballroom tadi!" terang Peter.


 

"Aku tidak merasakan atau melihat apa pun di ballroom!" terang Andrew.


 

"Aku juga tidak!" ujar Edward. "Apa maksudmu karena musiknya menyala sendiri?" tanyanya kemudian.


 

"Bukan karena musiknya menyala sendiri," terang Peter.


 

"Lalu apa yang membuatmu merasa ada hantu di ballroom?" tanya Edward.


 

"Aku melihat beberapa pasang bayangan transparan sedang berdansa," terang Peter.


 

"Bagaimana bisa Nona Mela sangat suka tinggal di tempat angker seperti ini?" heran Edward.


 

"Sepertinya di sini memang aman! Mumpung di sini dan gratis, ayo, kita coba beberapa alat olahraga!" kata Andrew.


 

"Boleh tuh, lama juga aku tidak berolahraga!" kata Peter.


 

"Apa tidak masalah?" tanya Edward.


 

"Nona Mela tadi mempersilakan kita menikmati rumahnya!" kata Andrew.


 

"Nona Melanya sih oke, tapi bagaimana dengan para hantu?" tanya Edward cemas dan takut.


 

"Jika hantu-hantu itu muncul lagi akan aku rekam lagi!" ujar Andrew.


 

"Oh, Tuhan!" seru Edward.


 

Peter melihat barbel-barbel berbagai ukuran dan bahan. Ia lalu mendekati dan mencoba satu barbel kecil dahulu yang terbuat dari plastik. Beberapa menit kemudian ia mencoba dengan dua barbel kecil plastik yang sama ukurannya.


 

Andrew menaruh kamera lalu menyalakan alat fitness lari. Andrew mencoba kecepatan berjalan santai dahulu. Setelah satu menit ia membuatnya sedikit cepat sehingga ia menjadi berlari pelan. Satu menit kemudian ia setel lebih cepat di mana ia harus berlari cukup cepat.


 

Edward tertarik pada samsak tinju. Ia pun menghampiri samsak itu. Di sekitarnya ia melihat ada beberapa sarung tinju. Ia memakainya dan mencoba meninju samsak di dekatnya.


 

Beberapa saat mereka berolahraga tiba-tiba barbel-barbel kecil lainnya yang tidak digunakan oleh Peter berterbangan dan menjatuhi Peter. Pada saat itu Peter sudah berganti ke barbel cukup berat yang terbuat dari besi. Peter segera menghindari barbel-barbel yang terbang dan menjatuhinya. Ia berhasil menghindar, tetapi barbel yang ada di tangannya jatuh menimpa kakinya.