Try new experience
with our app

INSTALL

E 29-33 2 Yang Mulia 

29. Lelah Hati

  Cendani sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit istana. Tiga jenderal dan Sultan Singa menemani. Tidak lama kemudian datanglah Farhan membawa troli yang berisi makanan dan minuman untuk Cendani.


 

"Yang Mulia, hamba membawakan makanan dan minuman untuk Tuan Putri Cendani!" kata Farhan sambil sejenak menunduk.


 

  "Terima kasih Farhan, tinggalkan trolinya, kau pergilah!" kata Sultan Singa. Farhan menunduk lagi sejenak lalu pergi. Sultan Singa mengambil beberapa makanan dan menyuapkannya ke Cendani.


 

"Hamba bisa sendiri, Yang Mulia!" Cendani bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.


 

"Hamba?" tanya Sultan Singa karena kesepakatan mereka Cendani tidak boleh menyebut hamba kepada Sultan Singa.


 

"Ananda, bisa sendiri, Yang Mulia!" ulang Cendani menggunakan sebutan ananda. Cendani menerima makanan yang diambilkan Sultan Singa lalu makan sendiri.


 

"Ah, aku tahu, yang waktu itu wajahmu pucat!" Jenderal Kafi ingat saat pertama kali melihat wajah Cendani pucat. "Berarti kau tidak makan selama itu?"


 

"Malam kemarin sama Yang Mulia makan," jawab Cendani.


 

"Ananda hanya makan sangat sedikit," kata Sultan Singa.


 

  "Cendani biasa makan bubur disuapi Yang Mulia, lalu ia pindah kamar, dan sejak aku tidak mengajaknya lagi makan berarti sejak saat itu dia tidak makan," benak Jenderal Sauqy mengingat semuanya. "Gadis ini apa mau mati bunuh diri?" benak Jenderal Sauqy kemudian sembari menatap ke Cendani lalu geleng-geleng.


 

"Setelah infusnya habis, Tuan Putri bisa kembali ke kamarnya," kata seorang dokter lalu dokter itu menunduk sejenak dan pergi.


 

Makanan di piring Cendani telah habis. Sultan Singa mengambil piringnya dan mengisinya lagi dengan beberapa makanan.


 

"Sekarang, Ananda harus makan yang banyak!" kata Sultan Singa.


 

"Yang Mulia, Ananda sudah kenyang!" kata Cendani.


 

"Makan lagi!" perintah Sultan Singa. Cendani terpaksa memakannya lagi.


 

"Ananda, aku harus ke pertemuan! Nanti kalau infusnya habis akan aku jemput untuk ke kamar taman!" kata Sultan Singa.


 

Cendani mengangguk lalu menunduk sejenak. Para jenderal juga menunduk sejenak. Sultan Singa mengusap puncak kepala Cendani sesaat lalu bergegas pergi.


 

"Cendani aku juga harus mengurus kasus lain dulu!" kata Jenderal Kafi. Cendani mengangguk.


 

"Cendani aku akan mewakili Jenderal Sauqy ke pertemuan! Selain itu masih harus menyelidiki kasus kemarin!" kata Jenderal Fais. Cendani mengangguk.


 

Kedua Jenderal menunduk sejenak ke Jenderal Sauqy lalu pergi.


 

"Aku akan menemanimu!" kata Jenderal Sauqy lalu duduk tenang di bangku kamar itu tanpa berbicara.


 

Jenderal Sauqy hanya meninggalkannya saat waktu sholat dan ke kamar mandi. Selebihnya, waktunya, ia habiskan untuk menemani Cendani.


 

Sementara itu di kamar Ratu Lia.


 

  "Ih, jijik sekali! kenapa aku sampai memeluk gadis budak? Dan sikapnya itu, iih ... risih! Apa dia pikir aku menyukainya? Jangan harap Cendani! Kau tidak level denganku! Aku tidak terima, dia akan makan di meja makan keluarga istana! Aku harus peringatkan dia, agar dia tidak sampai masuk menjadi bagian dari keluarga istana!" Ratu Lia benci sekali dengan Cendani.


 

Rumah sakit istana.


 

  Cendani tidak melihat Jenderal Sauqy makan, tapi Cendani tidak berani menegurnya untuk makan. Cendani hanya memandangi Jenderal Sauqy, jika jenderal itu tidak melihat ke arahnya. Jenderal Sauqy bisa merasakan jika sedang diperhatikan oleh Cendani.


 

"Ada apa? Kenapa kamu memperhatikan aku terus? Apa ada yang kau butuhkan atau kau inginkan? Katakan saja!" kata Jenderal Sauqy.


 

"Jenderal dari tadi pagi belum makan, jadi pergilah makan!" kata Cendani dengan rasa takut tapi ia memberanikan diri.


 

  "Tuan Putri tidak perlu memikirkan keadaanku, pikirkan dirimu sendiri!" jawab Sultan Sauqy dengan kasar. "Aku sudah makan saat selesai sholat duhur!" jawabnya kemudian. Jawaban kasar itu membuat Cendani tidak berani lagi berkata apapun.


 

Matahari sudah ke Barat dan hampir mahgrib. Cairan infus Cendani telah habis. Cendani di papah Sultan Singa menuju ke kamar taman di temani Jenderal Sauqy.


 

  "Kami tinggal dulu untuk sholat mahgrib, Ananda Cendani! Nanti setelah Isyak kita akan makan malam bersama!" kata Sultan Singa. Cendani berdiri menunduk sejenak. Sultan Singa dan Sultan Sauqy pergi.


 

Cendani memanfaatkan waktu itu untuk memetik bunga dan mandi bunga. Kemudian lanjut sholat mahgrib, mengaji, sholat isya, dan mengaji lagi.


 

"Yang Mulia Sultan Badar Saifulah Husam tiba!" suara prajurit militer di luar taman.


 

  Sultan Singa, Jenderal Sauqy, Jenderal Fais, Jenderal Kafi, dan Farhan datang. Cendani yang terlalu konsentrasi dengan kegiatannya sendiri baru menyadari saat mereka telah di hadapannya. Cendani segera menaruh Alquran nya, membuka mukenanya, dan menggantungnya. Cendani segera menghampiri dan menunduk sejenak. Cendani melanjutkan menyimpan sajadahnya. Farhan masuk dan menata makanan di meja.


 

Sultan Singa mencium baru harum, begitu juga yang lain.


 

"Ananda mandi bunga lagi?" tanya Sultan Singa.


 

"Iya, Yang Mulia!" jawab Cendani dengan suara lembut.


 

Farhan telah selesai menata meja. Farhan menunduk sejenak dan pergi.


 

"Para Jenderal, Ananda Cendani, silakan duduk!" Sultan Singa mempersilahkan duduk. "Silakan!" Sultan Singa mempersilahkan makan.


 

Sultan Singa mengambilkan makanan untuk Cendani.


 

"Ananda bisa sendiri, Yang Mulia!" kata Cendani. Sultan Singa hanya tersenyum dan terus mengambilkan makanan untuk Cendani.


 

"Terima kasih, Yang Mulia!" ucap Cendani. Sultan Singa tersenyum lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


 

Beberapa saat kemudian, setelah Sultan Singa selesai makan dan semuanya juga telah selesai.


 

"Yang Mulia Sauqy, sampai kasus Ananda Cendani selesai, tugasmu hanya menjaganya! Urusan lain serahkan kepada para jenderal!" perintah Sultan Singa.


 

"Baik, Yang Mulia!" jawab Sultan Sauqy.


 

  "Aku tinggal, kalian lanjutkan interogasinya! Ananda Sayang, aku yakin Ananda tidak bersalah! Ananda tidak usah takut, para jenderal bisa menilai, mana yang benar, mana yang salah!" Sultan Singa berdiri. Semua ikut berdiri, lalu menunduk sejenak, kemudian Sultan Singa pergi.


 

"Cendani, ayo jujurlah, siapa pelakunya?" tanya Jenderal Kafi.


 

"Cendani, memang siapa lagi yang kau lindungi? Kenapa kau selalu melindungi yang salah? Itu bukan hal bagus, Cendani!" kata Jenderal Fais.


 

Jenderal Sauqy tidak ikut berbicara, karena ia sudah tahu kebenarannya, dan ia juga tidak bisa memberi tahukan kebenarannya.


 

"Paman Jenderal Kafi, Paman Jenderal Fais, pelakunya adalah hamba, jadi silahkan proses hamba sesuai hukum!" kata Cendani dengan lembut.


 

"Kau tahu apa hukumannya? Kejahatanmu sama dengan korupsi dan di negeri Rubi hukumannya mati," kata Jenderal Kafi.


 

"Ya sudah, kalau begitu hukum mati saja, aku tidak apa-apa!" kata Cendani.


 

"Cendani!" bentak Jenderal Kafi gemas.


 

  "Jenderal tahu, aku sudah memegang kunci dari sore. Aku punya sekali banyak waktu untuk ke kantor dan mengambilnya. Jadi sudah bisa dipastikan akulah pelakunya!" kata Cendani.


 

"Cendani!" bentak Jenderal Kafi lagi yang semakin gemas.


 

"Atau saat Jenderal Fais makan bersama Jenderal Kautsar, aku punya waktu untuk pergi ke kantor dan melakukannya!" kata Cendani lagi.


 

"Cendani, dari restoran itu ke istana butuh waktu, dan apa kau berlari atau kau bisa naik kuda?" kata Jenderal Fais.


 

"Bisa, aku bisa naik kuda!" Cendani berbohong lagi.


 

"Oh, coba kalau begitu, aku akan ambilkan kuda, dan tunjukkan kalau kau bisa!" tantang Jenderal Kafi.


 

"Saat itu tidak mungkin Cendani, karena aku sudah ada di kantor!" kata Jenderal Sauqy.


 

"Cendani, sudahlah bermain-main dengan kami! Kebohonganmu hanya membuat kami semakin gemas denganmu! Kau pikir kami anak kecil begitu?" kata Jenderal Fais.


 

"Pokoknya semua salah hamba titik!" kata Cendani.


 

  "Sudah tidurlah Cendani!" perintah Jenderal Sauqy. "Kita lihat saja pengadilannya seperti apa! Biar Yang Mulia Sultan Singa sendiri yang memutuskan!" imbuhnya. Ketiga Jenderal keluar dari kamar Cendani.


 

  Detik, menit, jam berlalu, matahari sudah kembali bersinar cerah. Cendani sedang dalam kurungan di kamarnya sendiri. Ratu Lia berkunjung ke kamar taman itu. Jenderal Sauqy khawatir dengan Cendani dan mengintip diam-diam.


 

  "Cendani, jangan kau pikir aku menyukaimu dan jangan pernah berharap aku menyukaimu! Aku membencimu, sangat membencimu! Kau hanya gadis budak dan kampungan, tidak level denganku! Iya, aku memang jijik mandi bersamamu! Apa lagi sikapmu kemarin kepadaku! Muak, mau muntah rasanya! Memelukmu? mimpi apa aku sampai harus memelukmu kemarin?! Aku peringatkan kamu, jangan pernah makan di meja makan keluarga istana! Makan saja di kamarmu, Farhan akan mengirimkan makanannya! Dasar budak bodoh! Kuharap kau segera menyingkir dari istana ini! Dengan kejahatan mencuri isi brankas, kau akan dijatuhi hukuman mati! Dengar itu?! Mati!" Ratu Lia mendorong Cendani hingga terjatuh lalu bergegas pergi.


 

Cendani meneteskan air matanya sedikit, lalu ia hapus, dan menahan air matanya yang lain, agar tidak jatuh lagi.


 

  "Ratu Lia, apa Ratu lupa konsekuensinya, jika sampai Yang Mulia Sultan Singa mengetahui, yang melakukannya adalah Ratu? Apa aku harus mengungkapkan kebenarannya? Akan tetapi aku tidak sampai hati mengungkapkannya," benak Jenderal Sauqy bimbang.


 

  Cendani menghibur dirinya agar air matanya tidak jatuh. Ia mengejar-ngejar sepasang kelinci pemberian Sultan Hanif dan juga kupu-kupu yang berterbangan di tamannya.


 

"Yang Mulia Badar Saifulah Husam tiba!" seru prajurit militer di luar area taman.


 

Cendani sibuk bermain dan berusaha membuat air matanya tidak jatuh, sehingga tidak menyadari kehadiran Sultan Singa.


 

  Cendani masih berusaha menghilangkan matanya yang berkaca-kaca. Cendani terpikir untuk bernyanyi. Sultan Singa dan Sultan Sauqy membiarkan, dan memperhatikan diam - diam.


 

Burung-burung bernyanyi syalala

Kupu-kupu menari syalala

Daun-daun bergoyang diajak

Oleh angin syadu lalalala

Burung-burung bernyanyi syalala

Kupu-kupu menari syalala

Daun-daun bergoyang diajak

Oleh angin syadu lalalala

Semua bertasbih dengan caranya


 

Burung-burung bernyanyi syalala

Kupu-kupu menari syalala

Daun-daun bergoyang diajak

Oleh angin syadu lalalala

Burung-burung bernyanyi syalala

Kupu-kupu menari syalala

Daun-daun bergoyang diajak

Oleh angin syadu lalalala

Semua bertasbih dengan caranya


 

  Akan tetapi ia tidak kuasa menahan air matanya dan ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia segera menghapus air matanya lagi dan berusaha lagi untuk tidak menangis dengan bernyanyi lagi.


 

Mentari bersinar

Meski kadang

Rintik datang

Hadirkan pelangi

Tetap jaga hati baik


 

  Cendani kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis lagi. Ia kembali berusaha untuk tidak menangis, menghela nafas, dan menghapus air matanya lagi. Pada saat itu sepasang kelinci menghampirinya. Cendani menggendong kelinci salah satu kelinci itu sembari melanjutkan bernyanyi


 

Mentari bersinar

Meski kadang

Rintik datang

Hadirkan pelangi

Tetap jaga hati baik


 

Cendani melepaskan kelinci lalu menghapus air matanya.


 

"Tetap jaga hati baik." Cendani kembali menutup wajahnya dan kembali menangis.


 

  Sultan Singa dari arah belakang Cendani perlahan mendekati dan mengusap puncak kepala Cendani. Sultan Sauqy juga ikut mendekati. Cendani terkejut dan berbalik badan. Cendani cepat-cepat menghapus air matanya dan diam menunduk.


 

  "Ananda tidak mau mengatakan apapun tentang air mata ini?" tanya Sultan Singa. Cendani menunduk bergeming. Sultan Singa memeluknya erat. "Tidak mengapa jika tidak mau cerita. Menangislah jangan di tahan!" kata Sultan Singa. Cendani akhirnya menangis sesenggukan dalam pelukan Sultan Singa.


 

"Aku bisa merasakan, hati Ananda sangat lelah. Semoga lelah menjadi Lillah," ucap Sultan Singa sembari mengusap-usap puncak kepala Cendani.