Try new experience
with our app

INSTALL

E 29-33 2 Yang Mulia 

30. Sidang

Cendani menangis di dalam pelukan Sultan Singa hingga bisa berhenti menangis. Setelah berhenti menangis Cendani melepaskan pelukan Sultan Singa.


 

"Ananda tidak diajak Farhan ke meja makan keluarga istana?" tanya Sultan Singa kemudian.


 

"Ananda masih tersangka dalam kasus dan masih harus dikurung jadi lebih baik dan sudah seharusnya Ananda di kamar saja, Yang Mulia," jawab Cendani.


 

"Sepertinya belum ada makanan pagi untuk Ananda?" tanya Sultan Singa


 

"Nanti siang saja Yang Mulia, Ananda tidak suka makan pagi," jawab Cendani.


 

  "Baiklah sekarang bermainlah, bernyanyi, dan bersenang-senanglah di taman, jangan sedih lagi! Aku akan mengurus banyak hal dulu, nanti aku akan ke sini lagi!" Sultan Singa memeluk Cendani lalu beranjak pergi. Cendani dan Jenderal Sauqy segera menunduk sejenak.


 

Setelah Sultan Singa sudah benar-benar keluar dari taman.


 

"Cendani, dari kemarin aku sudah tahu bahwa pelakunya adalah Yang Mulia Ratu Lia," kata Jenderal Sauqy.


 

"Jenderal, tolong jangan asal menuduh," kata Cendani khawatir Ratu Lia ketahuan.


 

  "Aku tidak asal, aku tahu bekal yang ada di meja itu dari Ratu Lia! Kalau aku mau, aku bisa mengumpulkan semua jenderal dan bertanya, apakah Ratu Lia datang di saat aku belum datang dan kau pergi bersama Jenderal Fais! Aku yakin banyak di antara jenderal yang tahu!" kata Jenderal Sauqy.


 

"Jangan lakukan itu hamba mohon!" pinta Cendani.


 

"Dia hampir membuatmu kehilangan nyawa dan membuatmu menangis, apa kau masih mau melindunginya?" heran Jenderal Sauqy.


 

  "Apa pun alasannya, aku mohon jangan! Jika Jenderal Sauqy tidak peduli dengan Ratu Lia, setidaknya pedulilah pada Yang Mulia Sultan!" kata Cendani sangat berharap Jenderal Sauqy tidak mengungkapkan.


 

Mendengar hal itu, Jenderal Sauqy melemah, dan tidak bisa mengungkapkan kebenaran. Jenderal Sauqy dan Cendani saling menatap.


 

Cendani mengalihkan perhatiannya pada kelinci, bermain bersama kelinci, dan seharian bermain dengan kelinci. Sultan Sauqy hanya memandanginya dengan senyum.


 

  Hingga tibalah siang. Jenderal Sauqy pergi ke masjid lalu beberapa saat kemudian kembali lagi ke kamar taman Cendani. Lalu waktu terus berjalan hingga hampir ashar. Jenderal Sauqy merasa Farhan tidak datang ke kamar taman. Jenderal Sauqy menghampiri Cendani yang sedang di dalam kamarnya, sedang memeluk boneka, dan duduk termenung di kursi rotan.


 

"Cendani, dari tadi aku tidak melihat Farhan. Apa Farhan tidak datang ke kamar ini?" tanya Jenderal Sauqy.


 

"Farhan? Dia tidak ke kamar ini. Memang kenapa?" tanya Cendani.


 

"Cendani, kau belum makan dari pagi!" seru Sultan Sauqy.


 

"Lagi pula aku tidak ingin makan!" kata Cendani.


 

"Aku ke luar sebentar!" kata Sultan Sauqy lalu pergi.


 

Cendani segera berdiri dan sejenak menunduk.


 

Beberapa saat kemudian Sultan Sauqy datang membawa sebuah kotak makanan.


 

"Cendani makanlah ini!" kata Jenderal Sauqy. Cendani menggeleng.


 

"Jika kau tidak mau, sekarang juga aku akan ceritakan pada Yang Mulia, jika pelakunya Ratu Lia!" ancam Sultan Sauqy.


 

"Akan aku makan!" Cendani segera mengambil kotak makanan dari tangan Jenderal Sauqy. Cendani memakannya. Jenderal Sauqy duduk menemani.


 

Setelah beberapa suap Cendani makan.


 

"Cendani, jika mendapatkan waktu yang tepat aku akan melamarmu!" ujar Sultan Sauqy. Cendani tersedak. Sultan Sauqy segera mengambilkan air minum. Cendani meminumnya.


 

"Aku budak milik Yang Mulia Sultan Singa!" ujar Cendani.


 

  "Karena itu, aku akan melamar mu ke Yang Mulia. Aku hanya butuh persetujuannya bukan persetujuan darimu. Selama ini aku belum pernah meminta apa pun darinya, sementara aku mempunyai banyak jasa, dan akan aku gunakan itu, untuk meminta dirimu! Lanjutkan makannya dan harus habis, kau tahu konsekuensinya jika tidak habis!" Sultan Sauqy naik ke atap melalui tangga di dalam kamar Cendani. Jantung Cendani menjadi berdetak cepat.


 

Waktu terus berlalu, malam pun Farhan tidak datang dan Cendani kembali makan dengan makanan kotak dari Jenderal Sauqy.


 

"Menurutku Farhan tidak datang karena Ratu Lia!" kata Jenderal Sauqy. "Aku tidak bisa diam Cendani. Yang Mulia Sultan Singa harus tahu kebenarannya!" ujar Jenderal Sauqy.


 

"Tidak! Tolonglah pikirkan Yang Mulia Sultan Singa!" kata Cendani.


 

"Yang Mulia Sultan Badar Saifulah Husam tiba!" seru prajurit militer di luar taman.


 

Jenderal Sauqy dan Cendani segera berdiri. Sultan Singa masuk. Jenderal Sauqy dan Cendani menunduk sejenak. Sultan Singa melihat makanan kotak.


 

"Ananda, kenapa makan makanan kotak? Apa Ananda tidak suka makanan dari Farhan?" tanya Sultan Singa.


 

"Em ... Jenderal Sauqy yang memberikan, jadi Ananda makan ini saja Yang Mulia!" alasan Cendani.


 

  "Ananda Cendani, aku ke sini hanya ingin mengatakan jadwal persidangan Ananda besok. Ananda jangan khawatir, semua masalah brankas akan selesai besok, dan Ananda akan baik-baik saja!" Sultan Singa mengusap puncak kepala Cendani lalu bergegas pergi. Sultan Sauqy dan Cendani menunduk sejenak.


 

"Apa Yang Mulia mengetahui kebenarannya?" tanya Cendani.


 

"Kita lihat saja besok!" kata Jenderal Sauqy. Habiskan makanannya lalu tidurlah!" katanya lagi.


 

"Jenderal akan pulang?" tanya Cendani.


 

"Aku akan tidur di atap!" Sultan Sauqy naik ke atas melalui tangga di dalam kamar Cendani.


 

Cendani duduk di ranjang rotan memeluk boneka. Cendani tidak bisa tidur, ia mengkhawatirkan Ratu Lia dan Sultan Singa.


 

"Aku tidak ingin mereka berpisah," batin Cendani. "Semoga faktanya tetap aku yang bersalah."


 

Cendani teringat Jenderal Sauqy.


 

"Dia pasti dingin, sebaiknya aku bawakan selimut dan bantal," batin Cendani.


 

  Cendani membawa selimut dan bantal naik ke atap. Membuka pintu jendela atap perlahan, takut kalau Jenderal Sauqy sudah tidur dan mengganggunya. Sampai di atap, benar Jenderal Sauqy sudah tidur. Cendani melangkah pelan mendekati, menaruh bantal di dekat kepalanya, lalu menyelimutinya. Jenderal Sauqy sangat peka, sehingga terbangun, dan refleks menangkap Cendani


 

"Akh!" pekik Cendani yang terjatuh.


 

  Jenderal Sauqy menangkap Cendani hingga Cendani jatuh ke pelukannya dan berguling hingga berada di bawah tubuh Jenderal Sauqy. Beberapa saat mereka terdiam dalam posisi itu. Jenderal Sauqy merasakan naluri laki-lakinya datang, tapi ia segera mengendalikan dan melepaskan pelukannya ke Cendani, lalu segera bangkit duduk.


 

"Hamba membawakan selimut!" kata Cendani sambil bangkit duduk.


 

"Tidak baik kita berdua di sini, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku dan merusak mu! Cepatlah masuk!" perintah Sultan Sauqy. Cendani menunduk sejenak lalu bergegas masuk ke kamar.


 

Pagi kembali tiba dan saatnya persidangan.


 

Ruang persidangan.


 

Semua menteri, para Jenderal dan semua keluarga istana menghadiri. Cendani duduk menunduk di ruangan itu.


 

"Semoga aku tetap ditetapkan bersalah. Aku tidak apa-apa, yang penting Yang Mulia Sultan dan Ratu baik-baik saja," batin Cendani.


 

  "Dari hasil penyelidikan diketahui Cendani baru memegang kunci brankas sore hari. Malam setelah Isyak ia bersamaku. Di waktu itu, cukup, jika ia mau melakukannya. Akan tetapi pada saat itu Jenderal Sauqy masih di ruang kerjanya dan masih banyak para jenderal, jadi tidak mungkin. Sementara malamnya sampai hingga subuh, Cendani bersamaku, makan malam, dan tidur bersamaku. Saat itu ada waktu sangat banyak untuk ia ke ruang kerja Jenderal Sauqy dan kantor juga sedang sepi. Akan tetapi Cendani sedang bersamaku dan tidak lepas dari pantauanku, jadi juga tidak mungkin. Setelah subuh sampai ia berangkat, ada waktu sedikit tapi cukup. Kantor masih sepi, Jenderal Sauqy juga belum datang. Akan tetapi di saat itu ia sedang bersama Ratuku Lia. Benar Ratu Lia?" Sultan Singa bertanya kepada ratunya. Ratu Lia terdiam sejenak.


 

"Iya, pagi itu kami mandi bersama." Ratu menjawab, tapi hatinya tidak suka, tapi ia tidak mempunyai pilihan.


 

  "Sejak datang ke kantor pagi Jenderal Sauqy belum datang, tapi menurut kesaksian Jenderal Fais, Cendani langsung ke dapur membuat kopi, lalu pergi bersama Jenderal Fais untuk bertemu denganku seperti biasa pertemuan pagi, dan setelah itu langsung pergi menyelidiki kasus pembunuhan bersama Jenderal Fais dan Jenderal Kautsar. Benar demikian Jenderal?" tanya Sultan Singa.


 

"Benar, Yang Mulia!" Jawab Jenderal Fais.


 

"Benar, Yang Mulia!" Jawab Jenderal Kautsar.


 

  "Cendani, Jenderal Fais, dan Jenderal Kautsar baru kembali ke kantor setelah ashar. Saat itu Jenderal Sauqy sudah ada di ruangannya. Saat itu juga Jenderal Sauqy meminta kunci dan Cendani tidak membawa kuncinya. Kuncinya berada di kamar taman. Cendani mengambil kunci dan Jenderal Sauqy membuka brankas dan diketahui beberapa emas dan beberapa kantung Dinar hilang. Baik dari semua urutan kejadian dapat disimpulkan Cendani tidak melakukan pencurian atau korupsi, karena tidak ada celah sedikit pun ia bisa melakukan itu. Dengan bukti-bukti dan saksi-saksi ini aku putuskan Cendani tidak bersalah dan dibebaskan! Untuk selanjutnya pelaku sesungguhnya akan tetap di cari oleh para Jenderal!" keputusan Sultan Singa.


 

Ratu Lia terkejut, tidak suka, dan merasa tidak tenang. Cendani juga tidak senang, karena itu artinya hubungan Ratu Lia dan Sultan Singa masih akan bermasalah.


 

"Selain itu, aku memutuskan, sebagai ganti Cendani terkurung, satu kotak berisi emas, dan Dinar yang hilang ini, aku putuskan menjadi milik Cendani! Jenderal Sauqy berikan padanya!" kata Sultan Singa.


 

Jenderal Sauqy memberikan kota kayu berisi emas dan Dinar yang ditemukan di kamar Cendani kepada Cendani.


 

"Yang Mulia, hamba tidak menginginkan emas dan Dinarnya!" kata Cendani.


 

"Ini sudah keputusanku, kau harus menerimanya!" kata Sultan Singa.


 

"Baik, jika begitu! Apa aku bisa menggunakan sesuka hatiku?" kata Cendani.


 

"Tentu," jawab Sultan Singa.


 

"Jika habis dalam satu waktu tidak mengapa?" tanya Cendani lagi.


 

"Tentu," jawab Sultan Singa.


 

"Baiklah, hamba akan menerimanya. Terima kasih, Yang Mulia!" Cendani menerima kotak kayu dari tangan Jenderal Sauqy.


 

"Syukurlah, Ananda terbukti tidak bersalah. Aku dari pertama mendengar beritanya sudah yakin, Ananda tidak bersalah!" kata Ratu Ana.


 

"Ya sudah, kau bebas, kau bisa pergi!" perintah Sultan Singa. Cendani menunduk sejenak lalu pergi.


 

Di depan gerbang istana. Beberapa Prajurit sedang menjaga. Cendani ke luar dari istana. Pangeran Fikar mendatangi Cendani.


 

"Cendani! Kamu Cendanikan? Gadis Permata Ayahanda Sultan Singa? Gadis budak yang dianggap Ayahanda Sultan Singa sebagai putrinya?" tanya Pangeran Fikar.


 

"Tuan Muda siapa?" tanya Cendani.


 

"Aku Pangeran Fikar, putra pertama dan satu-satunya Ratu Lia dan Yang Mulia Sultan Singa," terang Pangeran Fikar. Cendani langsung menunduk sejenak memberi hormat.


 

"Terima kasih, kau sudah pernah menolong ibundaku Ratu Lia dan syukurlah hari ini kau tidak terbukti bersalah," kata Pangeran Fikar.


 

"Alhamdulillah, Pangeran," jawab Cendani yang sebenarnya merasa khawatir atas keselamatan Ratu Lia.


 

"Kau sudah seperti putri bagi ayahandaku berarti kita saudaraan kan?" tanya Pangeran Fikar.


 

"Mana pantas hamba Pangeran? Hamba ini hanya budak," kata Cendani.


 

"Panggil aku Fikar saja dan jangan menyebut dirimu pakai hamba kepadaku! Aku masih lima belas tahun, jadi kau adalah Yundaku! Yunda Cendani!" kata Pangeran Fikar dengan tegas.


 

"Baiklah, terserah Pangeran Fikar saja!" kata Cendani.


 

"Yunda Cendani, Yunda mau ke mana? Apa mau menggunakan Dinar itu untuk belanja?" tanya Pangeran Fikar. Cendani menggeleng.


 

"Kau mau emas atau Dinar gratis? Silakan!" Cendani menawarkan pada seseorang warga yang melintasi gerbang istana.


 

"Terima kasih!" kata orang itu. "Bagai-bagi emas gratis! Kemarilah! Kemarilah!" seru orang itu kemudian.


 

Warga menjadi berkumpul. Cendani dibantu Pangeran Fikar membagikannya sampai habis. Warga yang berkumpul berjumlah banyak dan banyak yang belum kebagian.


 

"Maaf ya, yang lainnya, cuma ada satu kotak ini!" terang Cendani.


 

"Aku mau!"


 

"Aku mau!"


 

"Aku belum dapat!"


 

"Aku butuh, tolong beri aku!"


 

Teriak warga bersahut-sahutan.


 

"Maaf ya aku tidak punya lagi!" terang Cendani.


 

Tetapi warga tidak mau tahu dan terus bersahut-sahutan berteriak meminta.


 

"Bagaimana ini?" Cendani bingung.


 

"Sudah biarkan saja! Kita masuk saja!" ajak Pangeran Fikar. Cendani dan Pangeran Fikar segera masuk ke dalam gerbang.