Try new experience
with our app

INSTALL

E 29-33 2 Yang Mulia 

32. Talak dan Pecat

Cendani memapah Ratu Lia ke luar dari rumah sakit.


 

"Yang Mulia Ratu, kita akan menyewa kereta umum," kata Cendani. Ratu mengeluarkan kantung Dinar lagi. "Tidak perlu Yang Mulia Ratu, tadi masih sisa sangat banyak!" terang Cendani.


 

  "Aku bilang sisanya buat kamu saja! Anggap itu tanda terima kasihku, karena kau telah menolongku! Aku memang sangat membencimu, tapi aku bukan orang yang tidak tahu balas budi dan terima kasih!" kata Ratu Lia.


 

"Baiklah, terserah Yang Mulia Ratu! Hamba akan mencari kereta dahulu. Ah, itu, sepertinya di sana ada kereta umum, Yang Mulia Ratu!" Cendani melambaikan tangan ke kusir kereta.


 

Kusir kereta menjalankan kudanya menghampiri Cendani dan Ratu Lia.


 

"Pak, tolong antar Yang Mulia Ratu Lia ke istana Rubi! Tolong jalannya pelan-pelan ya Pak, karena Yang Mulia Ratu Lia sedang hamil!" kata Cendani.


 

Mengetahui penumpangnya adalah seorang Ratu, kusir itu turun dari kereta, lalu menunduk sejenak ke Ratu Lia.


 

"Sungguh kehormatan bagi hamba, Yang Mulia Ratu Lia menumpang kereta hamba! Silakan, Yang Mulia Ratu!" kata Kusir dengan sangat senang.


 

Ratu Lia dibantu Cendani naik ke kereta kuda. Setelah itu Cendani juga naik. Kusir lalu naik di depan kemudi dan memacu kudanya perlahan.


 

Istana Rubi, kamar Sultan Singa.


 

Jenderal Sauqy menemui Sultan Singa.


 

"Yang Mulia, hamba sudah mendapatkan hasil labnya, dan benar, ini sama seperti yang lalu!" terang Jenderal Sauqy. Sultan Singa terbelalak.


 

"Kali ini aku tidak bisa memaafkannya Yang Mulia Sauqy!" ujar Sultan Singa. "Satu lagi, aku ingin bertanya kepadamu, Yang Mulia Sauqy!" katanya kemudian.


 

"Apa itu, Yang Mulia?" tanya Jenderal Sauqy.


 

"Aku belum punya buktinya, tapi Yang Mulia Sauqy tahukan aku sangat sensitif dan bisa menilai? Apa Ratu Lia juga, yang menjebak Cendani?" tanya Sultan Singa.


 

Jenderal Sauqy menunduk tidak mau menjawab. Sultan Singa mengangkat dagu Jenderal Sauqy dan menatap mata Jenderal Sauqy.


 

"Yang Mulia Sauqy juga tahukan? Bahkan Jenderal punya buktinyakan?" tanya Sultan Singa menebak.


 

"Ampun, Yang Mulia!" Jenderal Sauqy segera menunduk lagi.


 

"Apa putriku juga tahu?" tanya Sultan Singa kemudian.


 

"Cendani? Iya, Cendani juga tahu!" jawab Jenderal Sauqy.


 

Kereta umum sampai di depan gerbang istana Rubi. Di depan gerbang sudah tidak ada aktivitas bagi-bagi emas dan Dinar. Kereta lalu masuk ke dalam gerbang istana. Kusir turun dari kereta dan membukakan pintu.


 

"Kasihkan semua satu kantung Cendani!" perintah Ratu Lia. Cendani memberikan Dinar satu kantung penuh kepada kusir kereta.


 

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu, terima kasih, Nona!" Kusir menunduk sejenak ke Ratu Lia. Kusir kembali naik ke kereta dan pergi.


 

Cendani memapah Ratu Lia sampai ke kamarnya.


 

"Yang Mulia perlu apa biar saya ambilkan?" tanya Cendani sesampainya di kamar Ratu Lia.


 

"Aku tidak mau kau layani!" tolak Ratu Lia. "Panggilkan saja Farhan biar dia yang melayaniku!" perintah Ratu Lia.


 

"Baik, Yang Mulia!" Cendani pergi mencari Farhan.


 

Saat mencari Farhan, Cendani bertemu Ratu Ana.


 

"Ada apa, Cendani?" tanya Ratu Ana.


 

"Yang Mulia Ratu Ana!" Cendani menunduk sejenak. "Hamba mencari Farhan, karena Ratu Lia membutuhkan Farhan," terang Cendani.


 

"Farhan biasanya paling sering di dapur. Pergilah cari ke sana!" kata Ratu Ana.


 

"Maaf, Yang Mulia Ratu, dapurnya di mana?" tanya Cendani.


 

"Lurus ke sana, lalu belok, dan cari ruangan yang sedikit di bawah tanah!" Ratu Ana menunjukkan.


 

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu Ana!" Cendani menunduk sejenak lalu bergegas ke dapur.


 

Dapur istana.


 

"Tuan Farhan!" seru Cendani.


 

"Ada apa? Apa kau lapar? Ambil sendiri! Di sini banyak makanan, kau bisa pilih mana yang kau suka!" kata Farhan. Cendani menggeleng.


 

"Lalu ada apa, kau mencariku?" tanya Farhan.


 

"Yang Mulia Ratu Lia memanggil Tuan Farhan ke kamarnya sekarang juga!" terang Cendani.


 

"Oh, baiklah!" Farhan bergegas pergi.


 

  Cendani kembali ke kamar tamannya. Cendani merebahkan diri di tempat tidurnya sambil memeluk erat boneka pemberian Sultan Singa. Peristiwa yang terjadi menguras jiwanya hingga ia tidak merasakan lapar walaupun lapar dan tidak bernafsu makan sekalipun seandainya ada makanan. Tetapi ia tersenyum sangat bersyukur dengan kehamilan Ratu Lia. Duhur sudah beberapa saat, tapi masih belum habis. Cendani segera bangkit untuk sholat.


 

Kamar Sultan Singa.


 

"Yang Mulia, hamba permisi sebentar karena takut Cendani belum makan," kata Jenderal Sauqy.


 

"Kenapa bisa begitu? Waktu makan sudah berlalu, pastinya Farhan sudah mengirimnya makanan!" kata Sultan Singa.


 

  "Ampun Yang Mulia, hamba menjaga Cendani saat dikurung, dan selama itu Farhan tidak pernah mengantarkan makanan, satu kali pun ke kamar taman. Maka dari itu hamba membelikan Cendani makanan kotak," terang Jenderal Sauqy. Sultan Singa marah besar.


 

"Prajurit!" teriak Sultan Singa.


 

Prajurit masuk dan menunduk sejenak.


 

"Panggilkan Farhan sekarang juga!" perintah Sultan Singa dengan nada marah. Prajurit menunduk sejenak lalu pergi.


 

Farhan yang hendak ke kamar Ratu Lia segera dihadang prajurit dan dibawa ke kamar Sultan Singa.


 

"Tunggu sebentar, Yang Mulia Sauqy, sampai Farhan datang!" kata Sultan Singa. Jenderal Sauqy mengangguk.


 

Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu diketuk.


 

"Masuk!" perintah Sultan Singa.


 

Farhan masuk dan menunduk sejenak.


 

"Apa kau ingin berhenti bekerja, Farhan?" tanya Sultan Singa.


 

"Tentu tidak, Yang Mulia!" jawab Farhan.


 

  "Lalu kenapa aku tidak pernah melihat dirimu mengantarkan makanan ke kamar taman? Aku juga tidak pernah melihat Putriku Cendani ada dalam meja makan keluarga istana. Apa Putriku Cendani sudah makan hari ini Farhan? Katakan, hari ini Putriku Cendani sudah makan apa? Pagi tadi makan apa dan siang ini makan apa?" tanya Sultan Singa bertubi-tubi. Farhan diam dan bingung.


 

"Jawab, Farhan! Sudah makan apa dia?!" bentak Sultan Singa.


 

"Tatadi baru saja Cendani ke dapur, hamba tawarkan makanan tapi dia menggeleng," jawab Farhan.


 

"Lalu pagi? Apa kau sudah membawakan makanan atau menawarkan makanan?" tanya Sultan Singa. Farhan menggeleng.


 

"Lalu buat apa tadi dia ke dapur?" tanya Sultan Singa.


 

"Dia memanggil hamba karena Ratu Lia mencari hamba," terang Farhan.


 

"Berarti Ratu Lia sudah pulang?" tanya Sultan Singa. Farhan mengangguk.


 

"Jadi sudah saatnyakah aku menjatuhkan talak kepada Ratu Lia?" tanya Sultan Singa. Farhan terkejut.


 

  "Sebaiknya tahan dulu, Yang Mulia, sampai kasusnya benar-benar jelas dan Ratu dinyatakan bersalah secara sah!" Jenderal Sauqy berusaha menenangkan Sultan Singa. "Sekarang izinkan hamba membawakan makanan untuk Cendani!" pinta Jenderal Sauqy kemudian.


 

  "Farhan, memberi makan putriku saja, kau tidak sanggup. Farhan, kau sudah tidak berguna! Tinggalkan istana ini dan carilah pekerjaan yang lain!" perintah Sultan dengan tegas dengan menahan amarah. Farhan terkejut dengan pernyataan itu dan ia segera bersimpuh.


 

"Ampuni hamba, hamba telah lalai! Lain kali hamba tidak akan lalai lagi! Hamba akan pastikan Cendani makan, Yang Mulia!" kata Farhan.


 

"Kau tidak lalai Farhan, kau sengaja! Itu sama dengan kau jahat!" murka Sultan Singa.


 

"Ampuni hamba, ampuni hamba, hamba janji tidak akan mengulangi lagi! Hamba janji akan membawakan Cendani makanan!" kata Farhan memohon.


 

  "Bagaimana aku bisa mempercayakan makanan putriku kepadamu, sedangkan kau sudah berbuat jahat padanya? Bisa-bisa suatu saat makanan putriku kau beri racun! Sama seperti Ratu Lia yang terus berusaha membunuhnya dan mencelakainya!" murka Sultan Singa.


 

"Yang Mulia, izinkan hamba sekarang mencari makanan untuk Cendani!" kata Jenderal Sauqy.


 

"Di istana banyak makanan, biar aku saja yang membawakan!" kata Farhan.


 

"Kepercayaan harganya mahal, Farhan! Aku tidak mau membahayakan nyawa putriku! Pergilah Yang Mulia Sauqy!" kata Sultan Singa. Jenderal Sauqy menunduk sejenak lalu pergi.


 

"Kemasi barangmu dan tinggalkan istana! Aku akan memberimu harta yang banyak, untuk kau bisa bertahan hidup dengan layak selama hidupmu, meski kau tidak bekerja!" ujar Sultan Singa.


 

"Hamba tidak butuh itu, hamba hanya ingin mengabdi di istana, Yang Mulia! Hamba mohon izinkan hamba tetap menjadi pelayan Anda, Yang Mulia!" mohon Farhan.


 

"Tapi kau sudah tidak berguna, Farhan, maaf." Sultan Singa pergi meninggalkan kamarnya, meninggalkan Farhan yang masih bersimpuh.


 

Farhan menemui Ratu Lia di kamar Ratu Lia.


 

  "Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Sultan Singa telah memecat hamba karena beliau mengetahui hamba tidak mengirimkan makanan untuk Cendani! Hamba juga dengar sendiri, beliau berniat menalak Yang Mulia Ratu!" Farhan menceritakan.


 

"Apa?!" Ratu Lia terkejut dan sangat ketakutan.


 

"Tolong mohonkan kepada Yang Mulia Sultan, agar tidak memecat hamba!" pinta Farhan.


 

"Jika aku sendiri akan ditalak, bagaimana caranya aku menolongmu Farhan?" Ratu Lia bingung dan takut.


 

Sultan Singa pergi ke kamar taman Cendani. Cendani sedang rebahan dengan tersenyum karena Ratu Lia sedang hamil.


 

"Sultan Badar Saifulah Husam tiba!" seru prajurit biasa di luar taman.


 

Ya karena Cendani sudah tidak dikurung prajurit militer yang ditugaskan menjaga taman, diganti lagi dengan prajurit biasa.


 

Cendani sedang melamun dengan tersenyum jadi tidak mendengar seruan prajurit.


 

"Ananda Sayang, Cendani!" seru Sultan Singa. Cendani terkejut, segera bangkit dan menunduk sejenak.


 

  "Kau tersenyum? Apa yang membuat Ananda tersenyum? Apa karena sudah bebas, mendapat hadiah, lalu Ananda habiskan ke warga yang melintasi gerbang?" tanya Sultan Singa yang heran melihat Cendani tersenyum. Cendani menggeleng. "Lalu?" Sultan Singa penasaran.


 

"Maaf, hamba tidak mau menjawab." Cendani menolak memberi tahu.


 

"Hal bahagia pun, Ananda sembunyikan?" heran Sultan Singa. Cendani menunduk.


 

"Baiklah, jika tidak mau cerita, asal Ananda Cendani bahagia." Sultan Singa mengusap puncak kepala Cendani. "Ananda sudah makan?"


 

Cendani bingung mau menjawab bagaimana, karena bohong pasti ketahuan, bicara jujur nanti jadi masalah.


 

"Aku tahu, Ananda belum makan. Sebentar lagi Jenderal Sauqy akan membawakan Ananda makanan kotak. Sambil menunggu, Ananda mau menceritakan, Ananda pergi ke mana dengan Pangeran Fikar?" tanya Sultan Singa.


 

"Jalan-jalan, jalan kaki lewat pintu belakang sampai ke kota kuno," terang Cendani.


 

"Lalu?" tanya Sultan Singa. Cendani diam sebentar karena berpikir tidak mungkin berbohong karena pasti ketahuan.


 

"Pangeran Fikar pulang dan hamba pergi dengan Ratu Lia!" kata Cendani.


 

"Mana mungkin?!" Sultan Singa tidak percaya.


 

"Takdir! Tidak ada yang tidak mungkin, jika Yang Maha Kuasa menghendaki!" jawab Cendani dengan sangat senang.


 

"Oh, apa buktinya dan kelihatannya Ananda sangat senang?" Sultan mengangkat dagu Cendani dan melihat mata Cendani penuh selidik tapi Sultan tidak menemukan kebohongan.


 

"Ini!" Cendani menunjukkan kantung berisi Dinar.


 

"Dari Yang Mulia Sultan sudah habis dan ini dari Yang Mulia Ratu," terang Cendani.


 

"Dalam rangka apa, ratu memberi Ananda Dinar?" tanya Sultan Singa penasaran.


 

"Ratu membayar kereta umum saat pulang, karena kami berangkatnya tadi jalan kaki. Ini sisanya!" terang Cendani.


 

  Sultan melihat di mata Cendani ada sedikit kebohongan, tapi tidak sepenuhnya bohong, dan Cendani tampak bahagia. Sultan melihat kebohongan yang disembunyikan Cendani adalah hal yang membahagiakan.


 

  "Hal membahagiakan apa sampai dirahasiakan?" benak Sultan Singa berpikir keras karena penasaran. "Melihat kebahagiannya bersama Ratu Lia, menurut ku, jika saat ini Ananda Cendani tahu aku akan menalak ratu, dia akan habis - habisan membela ratu. Ananda tidak boleh tahu dulu. Aku akan menahan talak seperti yang Jenderal Sauqy sarankan," keputusan Sultan Singa dalam benaknya.


 

Jenderal Sauqy datang membawa makanan kotak.


 

"Assalamualaikum!" ucap Jenderal Sauqy.


 

"Waalaikumsalam!" jawab Sultan Singa dan Cendani.


 

"Makanlah, Ananda!" perintah Sultan Singa.


 

Cendani sebenarnya tidak nafsu, tapi demi Yang Mulia Singa tidak berpikir negatif ia berusaha memakannya.