Try new experience
with our app

INSTALL

E 29-33 2 Yang Mulia 

33. Suara Gadis Budak

Kamar taman Cendani, pada sore hari. Cendani sedang makan makanan kotak ditemani oleh dua Yang Mulia.


 

"Jenderal Sauqy, wanita itu sudah pulang, kirim prajurit militer!" perintah Sultan Singa.


 

"Baik, Yang Mulia!" Jenderal Sauqy menunduk sejenak lalu pergi lagi.


 

"Siapa? Kenapa dikirim prajurit militer?" tanya Cendani sambil makan.


 

"Ada kasus," jawab Sultan Singa singkat, karena tidak mau Cendani mengetahuinya.


 

"Kasus apa?" tanya Cendani.


 

"Obat mematikan," jawab Sultan Singa.


 

Cendani melanjutkan makan tanpa bertanya lagi.


 

"Sebentar lagi ashar, aku pergi dulu, Ananda!" kata Sultan Singa.


 

"Ananda ikut!" pinta Cendani.


 

"Sementara ini, Ananda sholat di kamar saja!" perintah Sultan Singa.


 

"Kenapa?" heran Cendani.


 

Sultan Singa tersenyum, mengusap puncak kepala Cendani, lalu pergi. Cendani segera berdiri dan menunduk sejenak.


 

Di depan kamar Ratu Lia, para prajurit militer berdatangan dan menjaga ketat kamar Ratu Lia.


 

Di depan masjid istana, setelah sholat ashar.


 

Sultan Singa dan Sultan Sauqy sedang memakai sepatu berdekatan.


 

"Yang Mulia Sauqy, beri Cendani libur dua hari, agar ia tidak masuk ke kantor dan mengetahui kasus ini! Bahkan, jangan biarkan ia ke luar dari taman! Cari saja alasannya!" perintah Sultan Singa.


 

"Hamba mengerti, Yang Mulia!" jawab Sultan Sauqy.


 

"Besok, berkas kasusnya harus sudah beres, dan hari ke dua, sudah persidangan!" perintah Sultan Singa lagi.


 

"Baik, Yang Mulia!" jawab Jenderal Sauqy.


 

"Sementara ini aku akan tinggal di kamar taman! Selain agar membuat Cendani tetap di kamar, aku juga sedang enggan berada di dalam sana!" kata Sultan Singa. Sultan Sauqy mengangguk.


 

Malam sudah larut, tetapi Sultan Singa tetap berada di kamar taman ditemani Jenderal Sauqy.


 

"Yang Mulia Sauqy, menginap saja di sini! Aku pikir kursi rotannya cukup panjang, lebar, dan nyaman," kata Sultan Singa.


 

"Hamba akan menginap, tapi hamba lebih suka di atap, Yang Mulia! Hamba akan tidur di atap, Yang Mulia!" kata Sultan Sauqy.


 

"Ah, aku rasa itu ide yang bagus, aku juga akan bersamamu di atap!" kata Sultan Singa.


 

"Kalian menginap semuanya?" heran Cendani.


 

"Ananda keberatan?" tanya Sultan Singa.


 

"Tidak, silakan saja, jika kedua Yang Mulia mau menginap!" jawab Cendani dengan heran.


 

"Jangan heran, Ananda! Tempatmu sangat nyaman, Ananda sangat pintar mendesain kamar. Sultan Hanif saja sangat ingin tidur di sini!" kata Sultan Singa memberi penjelasan.


 

"Silakan, kapanpun, boleh menginap sepuasnya!" ucap Cendani dengan senang hati dan tidak heran lagi.


 

Sultan Singa dan Sultan Sauqy mengambil beberapa bantal dan selimut lalu naik ke atap melalui tangga di dalam kamar Cendani.


 

Pagi tiba, kedua Yang Mulia masih tetap berada di kamar Cendani.


 

"Yang Mulia Singa tidak ada pertemuan?" tanya Cendani.


 

"Tidak ada, Ananda!" jawab Sultan Singa.


 

"Yang Mulia Sauqy tidak ke kantor pertahanan keamanan?" tanya Cendani.


 

"Tidak, sedang tidak ada kasus yang aku urus!" jawab Sultan Sauqy.


 

"Lalu apa Ananda sudah tidak bekerja lagi di kantor pertahanan keamanan?" tanya Cendani kemudian.


 

"Masih Cendani, tapi kau libur dahulu dua hari ini!" jawab Sultan Sauqy.


 

"Kenapa?" heran Cendani.


 

"Karena kau baru saja mengalami kasus. Jadi lebih baik beristirahatlah dahulu, segarkan dirimu, baru setelah itu bekerjalah kembali!" Sultan Sauqy memberi alasan.


 

"Yang Mulia, akan hamba panggilkan pelayan untuk mengantar makanan!" kata Sultan Sauqy.


 

"Tidak, Yang Mulia Sauqy! Aku mau makanan kotak saja, seperti Ananda Cendani kemarin!" kata Sultan Singa.


 

"Baiklah kalau begitu, semuanya akan hamba belikan makanan kotak!" kata Sultan Sauqy.


 

"Pakai Dinarku!" kata Sultan Singa.


 

"Tidak perlu, Yang Mulia, biar hamba saja yang membayarnya!" tolak Sultan Sauqy.


 

"Baiklah, terima kasih!" ucap Sultan Singa.


 

"Hamba pergi sebentar!" Sultan Sauqy menunduk sejenak lalu pergi.


 

Beberapa waktu berlalu hingga kembali larut malam dan kedua Yang Mulia tetap menginap di kamar taman.


 

"Ada apa ya kok menginap lagi?" batin Cendani. "Apa benar karena kamarku ini sangat nyaman?" batin Cendani terus bertanya-tanya karena perasaanya merasa ada yang aneh.


 

Pagi datang dan artinya saatnya persidangan Ratu Lia.


 

"Ananda, hari ini aku ada perlu, aku pergi dahulu!" kata Sultan Singa.


 

"Aku juga akan menangani kasus!" kata Jenderal Sauqy.


 

"Assalamualaikum!" ucap Sultan Singa.


 

"Waalaikumsalam!" jawab Cendani.


 

"Assalamualaikum!" ucap Sultan Sauqy.


 

"Waalaikumsalam!" jawab Cendani.


 

Cendani menunduk sejenak lalu kedua Yang Mulia pergi.


 

Area luar taman.


 

"Prajurit, jangan biarkan Putri Cendani ke luar dari taman selangkah pun, apa lagi sampai ke ruang persidangan!" perintah Sultan Sauqy.


 

"Baik, Yang Mulia!" jawab para prajurit.


 

"Aku bosan! Gara-gara kedua Yang Mulia tidak pergi-pergi dari kemarin, berasa aku terkurung di kamar! Hari ini aku masih libur, jadi aku mau jalan-jalan sepuasnya!" kata Cendani.


 

Cendani berjalan ke luar taman tapi para prajurit mencegahnya.


 

"Maaf, Tuan Putri, sementara ini tidak boleh ke mana-mana dahulu!" larang prajurit.


 

"Kenapa? Akukan sudah bebas dari kurungan?" tanya Cendani.


 

"Iya, benar, tapi untuk hari ini saja, Tuan Putri harus tetap di taman! Insya Allah, besok, baru boleh ke luar, ke mana pun Tuan Putri mau!" kata prajurit.


 

Cendani tidak jadi ke luar.


 

"Aneh?" batin Cendani. " Aku harus mencari tahu, aku harus ke luar dari taman!"


 

Cendani melihat di luar taman sekelilingnya di jaga prajurit sangat ketat.


 

"Prajurit menjaga ketat taman ini?" batin Cendani semakin merasakan ada hal yang tidak baik. "Bagaimana caranya aku ke luar?


 

Cendani mengambil sepasang kelinci, lalu memasukkan ke dalam kamar mandi dan menguncinya.


 

"Paman Prajurit! Paman!" teriak Cendani.


 

Beberapa Prajurit menghampiri Cendani.


 

"Paman, tolong di kamar mandi!"


 

"Ada apa?"


 

"Kalian masuklah semua dan tangkapkan dengan segera kelincinya!"


 

  Beberapa prajurit itu masuk, lalu Cendani mengunci pintu kamar mandi dari luar. Cendani segera berlari ke luar taman. Prajurit yang di luar langsung mengejar Cendani. Cendani segera berlari sekencang mungkin menuju kantor pertahanan keamanan. Cendani masuk ke ruang Jenderal Sauqy, tapi tidak ada Jenderal Sauqy. Para jenderal lain juga tidak tampak. Di kantor hanya ada para prajurit militer.


 

"Kenapa tidak ada jenderal sama sekali?"


 

"Mereka ke persidangan Ratu Lia," jawab seorang prajurit militer. Cendani terkejut.


 

"Tapi masih ada Jenderal Kafi dan Jenderal Fais di ruangan introgasi, sedang mengintrogasi kasus yang lain!" Prajurit militer menambahkan.


 

Cendani langsung berlari ke ruangan introgasi. Jenderal Kafi dan Jenderal Fais terkejut.


 

"Lupakan dulu kasus kalian! Cendani mohon, katakan pada Cendani, kenapa Ratu Lia disidangkan?" tanya Cendani panik dan penasaran.


 

"Yang kami tahu, ada dua foto Ratu Lia, pergi ke rumah sakit antara pagi, siang, dua hari yang lalu, saat selesai sidangmu, untuk memesan obat suntik mati, untuk membunuhmu!" jawab Jenderal Kafi.


 

  "Itu tidak mungkin, karena Ratu Lia ada bersama aku! Mana mungkin ada dua orang yang sama pada satu waktu?! Benar Ratu Lia ke rumah sakit, tapi bersama Cendani, dan Ratu ke rumah sakit dalam kondisi pingsan. Cendani dan warga menggotongnya ke rumah sakit umum dan di sana Ratu Lia dinyatakan hamil!" cerita Cendani. Kedua Jenderal terkejut hingga berdiri.


 

"Cendani harus ke persidangan sekarang dan menghentikan sidangnya!" ujar Cendani.


 

"Yang kami tahu Tuan Putri tidak akan dibiarkan masuk!" kata Jenderal Kafi.


 

"Aku tidak peduli, aku akan berusaha masuk dan menghentikan!" ujar Cendani.


 

Dua Jenderal saling pandang.


 

"Kami akan ikut! Kami akan membantumu menghadang prajurit yang ditugaskan menghalangimu!" kata Jenderal Fais.


 

  Cendani segera berlari ke ruang persidangan. Dua Jenderal segera mengunci ruang introgasi dan berlari menyusul Cendani. Prajurit menghalangi Cendani, Jenderal Kafi dan Jenderal Fais segera menjatuhkan prajurit tanpa membuat mereka terluka berat.


 

"Yang Mulia Ratu Lia kau sudah tahu konsekuensinya kita akan berpisah!" kata Sultan Singa.


 

"Tidak bisa!" teriak Cendani.


 

Sultan Singa dan Sultan Sauqy terkejut dengan kedatangan Cendani.


 

"Siapa yang mengizinkanmu masuk? Ke luar! Jenderal Sauqy seret dia ke luar!" perintah Sultan Singa.


 

"Tidak mau, sebelum Yang Mulia Sultan mendengarkan hamba!" kata Cendani.


 

"Mau jadi pahlawan lagi? Siapa kau? Suaramu tidak dibutuhkan di sini!" bentak Sultan Singa.


 

"Cendani, ayo, ke luar!" Jenderal Sauqy menyeret Cendani ke luar tapi Cendani memberontak sangat keras.


 

"Hamba mohon dengarkan hamba dahulu, Yang Mulia!" bentak Cendani.


 

"Lancang, berani sekali bicara sekeras itu kepadaku!" bentak Sultan Singa.


 

"Dengarkan hamba!" bentak Cendani lagi.


 

"Apa aku harus memberimu pelajaran agar kau diam?!" bentak Sultan Singa.


 

Sultan Singa menghampiri Cendani dan mencengkram wajahnya.


 

"Kau hanya gadis budak, berhentilah menjadi pahlawan! Kau pikir, aku akan bisa kau kendalikan sekehendakmu?!" kata Sultan Singa.


 

"Hamba mohon, dengarkan hamba!" bentak Cendani lagi.


 

"Gadis budak tidak punya suara di sini! Pergi!" usir Sultan Singa.


 

  "Yang Mulia jahat!" bentak Cendani lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sangat deras dan sesenggukan. "Hamba mohon dengarkan hamba! Hamba mohon, Yang Mulia!" katanya lagi dalam tangisnya. Sultan Singa tidak tega dan memeluk Cendani.


 

"Baik, bicaralah!" Sultan Singa membuka wajah Cendani yang ditutupi tangannya, menghapus air matanya, dan mengangkat dagu Cendani hingga saling menatap.


 

"Yang Mulia, hamba ingin melihat fotonya!" ujar Cendani.


 

"Jenderal Sauqy, berikan!" perintah Sultan Singa.


 

Jenderal Sauqy menunjukkan pada Cendani.


 

"Apa ini saat selesai persidangan hamba?" tanya Cendani.


 

"Iya, benar, Ananda!" jawab Sultan Singa.


 

"Di foto ini jubahnya memang sama, tapi apa Yang Mulia ingat, hamba pernah cerita, selesai persidangan hamba pergi bersama Ratu Lia? tanya Cendani.


 

"Iya aku ingat." Sultan Singa mengangguk.


 

"Katakan kepada hamba, bagaimana ada dua orang yang sama pada satu waktu?" tanya Cendani. Semua terkejut.


 

"Ratu Lia bersama hamba Yang Mulia! Saksinya Pangeran Fikar, tanyakan padanya! Juga Farhan, tanyakan padanya juga!" kata Cendani.


 

"Panggilkan Pangeran Fikar dan bawa Farhan ke sini, jika dia belum pergi dari istana karena sudah ku pecat!" kata Sultan Singa. Cendani terkejut mendengar Farhan dipecat.


 

"Lanjutkan cerita Ananda! Tapi pakai kata Ananda jangan hamba!" perintah Sultan Singa sambil terus mengangkat dagu Cendani dan menatap mata Cendani yang air matanya tidak berhenti.


 

  "Saat itu Ratu Lia melarang Pangeran Fikar pergi dengan Ananda dan Pangeran Fikar pulang bersama Farhan. Saat itu Ratu Lia marah-marah pada Ananda, saksinya ada banyak warga yang melihat. Saat marah itu Ratu Lia pingsan. Ananda dan warga membawanya ke rumah sakit terdekat, rumah sakit umum. Benar, Ratu Lia memang ke rumah sakit, tapi dalam keadaan pingsan, bukan sehat seperti di foto ini!" terang Cendani.


 

"Ananda, kenapa aku tidak mendengar warga membicarakan ratu yang marah - marah, pingsan dan masuk rumah sakit?" tanya Sultan Singa.


 

"Karena hamba yang meminta pada warga untuk diam, agar tidak menjadi masalah," terang Cendani.


 

"Lalu?" tanya Sultan Singa.


 

  "Dokter Nura mengatakan, kalau Ratu Lia pingsan karena hamil!" terang Cendani. Sultan Singa, Sultan Sauqy, Ratu Ana dan semua yang hadir sangat-sangat terkejut. Sultan melepas dagu Cendani dan menghampiri Ratu Lia. Sultan memandangi Ratu Lia.


 

"Ratu Lia memberikan sekantung Dinar untuk membayar rumah sakit dan sisanya sudah hamba tunjukkan kepada Anda, Yang Mulia." Cendani mengingatkan.


 

"Kau berbohong kalau itu sisa membayar kereta!" protes Sultan Singa.


 

"Iya, hamba berbohong! Untuk membayar kereta, Yang Mulia Ratu memberikan sekantung penuh!" terang Cendani. Cendani sesenggukan. "Ratu Lia hamil tua, satu Minggu dan perlu perhatian khusus!" imbuhnya.


 

Sultan Singa mengusap puncak kepala Ratu Lia.


 

"Ibunda Ratu, bisa tolong membawa Ratu Lia ke rumah sakit istana?" pinta Sultan Singa kepada ibundanya.


 

"Baik, Yang Mulia Ananda!" Ratu Ana membawa pergi Ratu Lia.


 

  "Foto ini palsu. Pasti ada orang yang memanfaatkan konsekuensi Ratu Lia untuk menyingkirkan Ratu Lia. Pasti orang dalam, karena mengetahui konsekuensi itu. Mungkin jubah yang sama masih ada di dalam istana ini, jika pelaku belum membuangnya," kata Cendani sambil memperhatikan, menganalisa fotonya.


 

Ratu Farah terkejut, ketakutan dengan kata-kata Cendani.


 

  "Jenderal, geledah semua istana ini! Cari jubah yang sama dengan milik Ratu Lia!" perintah Sultan Singa. "Sebagian cari saksi-saksi, para warga dan Dokter Nura!" Sultan Singa kembali menghampiri Cendani. Memeluk erat Cendani, menghapus air matanya, dan berulang kali mengucapkan kata maaf.


 

"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, sungguh aku minta maaf, maafkan aku, maaf ...!"