Try new experience
with our app

INSTALL

Musala Mini Dompet & Pistol 

5. Mencoba Menumpang

Polisi-polisi sedang memeriksa setiap pengendara dan pejalan kaki juga warga setempat. Kakek Harun, Ari, dan Nina berbisik-bisik ketakutan.


 

“Bagaimana ini, Kek?” tanya Ari berbisik


 

“Kalau mereka memeriksa kita, maka kita bisa ketahuan, Kek,” khawatir Nina.


 

Kakek Harun melihat seorang polisi menghampiri mereka.


 

“Shut, diam!” tegas Kakek Harun meskipun berbisik.


 

Ari dan Nina langsung diam.


 

“Sedang ada pemeriksaan apa, Pak Pol?” tanya Kakek Harun.


 

“Sedang operasi Gepeng ya, Pak Pol?” tanya Nina.


 

“Operasi Gepeng? Operasi apa itu?” tanya Ari.


 

“Operasi gelandangan dan pengemis,” terang Kakek Harun.


 

Ari terbelalak ketakutan. “Ampun, Pak! Bukan mau saya gelandangan, tapi nasib.”


 

“Kami tidak sedang operasi Gepeng. Kami mencari orang yang membawa pistol. Tadi suara pistol terdengar meletus di sebelah sana,” terang polisi yang menghampiri mereka itu.


 

“Berarti bapak tidak akan menangkap saya kan?” tanya Ari memastikan.


 

“Tidak, kecuali kalian yang membawa pistolnya,” jawab polisi itu.


 

“Alhamdulillah!” ucap Ari lega.


 

“Gelandangan seperti kalian tidak mungkin kan yang membawa pistol?” pikir polisi itu.


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina saling pandang dan tersenyum.


 

“Loh, yang ini seragam SD kok belum pulang?” heran polisi itu.


 

“Masih menunggu jemputan, Pak. Tadi saya baru selesai les bahasa Inggris. Saya biasa menunggu ditemani kakek dan kakak ini,” terang Nina.


 

“Ya sudah sana! Mungkin kalian mau bermain,” kata polisi itu.


 

“Terima kasih, Pak!” seru Kakek Harun.


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina kompak penuh semangat senang karena tidak dicurigai sama sekali. “Assalamualaikum!” seru ketiganya heboh.


 

“Waalaikumsalam!” Sangking semangatnya mengucapkan salam sampai membuat polisi yang menghampiri mereka itu terkejut. Sehingga polisi itu seakan sedang berbicara dengan atasannya sampai menghormat. Kakek Harun, Ari, dan Nina membalas menghormat kepada polisi itu.


 

Sambil jalan pergi dari polisi itu. “Alhamdulillah!” ucap Kakek Harun, Ari, dan Nina.


 

***


 

“Kek, Nina punya ide!” seru Nina.


 

“Ide apa?” tanya Kakek Harun.


 

“Bagaimana kalau kita menumpang truk atau pickup?” tawar Nina.


 

“Memangnya di kota besar begini ada orang baik yang mau memberikan tumpangan secara gratis ke kita?” tanya Ari ragu.


 

“Coba dulu!” tegas Nina.


 

Mereka bertiga berhenti berjalan lalu memperhatikan jalan raya. Mereka mencari-cari truk atau pickup yang melintas. Setiap ada mobil yang melintas mereka bersamaan menengokkan kepala mengikuti mobilnya. Jalan raya semakin ramai dan kendaraan-kendaraan melaju kencang. Mereka bertiga juga menengok dengan cepat mengikuti kecepatan mobil sampai pusing dan merebahkan diri masing-masing di tepi jalan itu.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina melanjutkan perjalanan.


 

“Tidak ada truk,” kata Kakek Harun.


 

“Tidak ada pickup,” kata Ari.


 

“Apa semua mobil kita mintai tumpangan saja?” tawar Nina.


 


 

“Coba saja!” kata Kakek Harun.


 

Mereka bertiga kompak merentangkan tangan dan memainkan jari-jari mereka setiap ada mobil yang melintas. Mobil-mobil itu tidak ada yang mau berhenti. Jalan raya semakin ramai dan tangan mereka bergerak terus sampai pegal. Mereka merebahkan diri di pinggir jalan lagi.


 

“Tanganku mau copot,” keluh Kakek Harun.


 

“Tanganku mau patah,” keluh Ari.


 

“Tanganku mau terbang,” keluh Nina.


 

Kakek Harun dan Ari menoleh ke Nina dan sama-sama bertanya, “Kok terbang?”


 

“Hihihihihihi ...!” kekeh Nina.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina jalan kaki dengan lemas.


 

“Aha! Kakek punya ide!” seru Kakek Harun tiba-tiba di tengah lemas-lemasnya mereka.


 

“Ide mau menumpang lagi?” tanya Ari sembari menduga.


 

“Bagaimana caranya agar mereka mau memberi tumpangan?” tanya Nina.


 

“Kita numpang sama Allah SWT,” kata Kakek Harun.


 

Ari dan Nina kompak menoleh ke kakek Harun dan bertanya, “Menumpang sama Allah?”


 

“Menumpang kaki pemberian Allah sambil sholawat. Insya Allah kita akan kuat berjalan sejauh apa pun,” kata Kakek Harun.


 

Ari memulai sholawatan dengan super heboh sampai mengejutkan kakek Harun dan Nina. “Shalatullah salamullah, ala Thaha Rasulillah. Shalatullah salamullah, ala Yasin Habibillah.”


 

Berikutnya Ari bersama-sama dengan Nina dan kakek Harun. “Tawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah. Wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri ya Allah.”


 

Mereka bertiga semangat jalan kaki sambil terus bersholawat. “Shalatullah salamullah, ala Thaha Rasulillah. Shalatullah salamullah, ala Yasin Habibillah. Tawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah. Wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri ya Allah.”


 

Setelah beberapa kali shalawat, mereka bertiga melihat pickup terparkir di pinggir jalan raya menghadap ke arah yang sama dengan tujuan mereka.


 

“Itu pickup!” tunjuk Ari.


 

Kemudian tampak pemiliknya mau menaiki pickup itu. Kakek Harun, Ari, dan Nina saling pandang sejenak lalu segera berlari menghampiri pemilik pickup.


 

“Assalamualaikum!” Kakek Harun, Ari, dan Nina berseru lantang sangking senangnya menemukan pickup. Pemilik pickup terkejut dan langsung asma. Mau memakai obat hirupnya, tetapi obat itu terjatuh. Pemilik pickup asma sambil menunjuk ke obat hirupnya yang terjatuh. Kakek Harun, Ari, dan Nina berebut mengambilnya. Oleh karena berebut obat hirup itu menjadi tidak terambil-ambil. Akhirnya terambil tangan mereka bertiga secara bersamaan. Kemudian sama-sama pula memberikan ke pemilik pickup. Pemilik pickup lekas menghirup dan akhirnya sembuh.


 

Pemilik pickup masih teringat salam ketiganya dan lekas menjawab salam ketiganya meskipun terlambat. “Waalaikumsalam!”


 

“Permisi! Apa bapak akan jalan ke arah sana?” tanya Kakek Harun.


 

“Iya, betul,” jawab pemilik pickup. “Ada apa?” tanyanya kemudian.


 

“Izinkan kami menumpang,” jawab Kakek Harun.


 

“Nanti saya belok,” terang pemilik pickup.


 

“Yang penting boleh menumpang walau sebentar. Lumayan mengistirahatkan kaki kami,” kata Kakek Harun.


 

“Ya sudah, silakan naik!” Pemilik pickup memperbolehkan.


 

Mereka bertiga naik di bak belakang. Mereka bertiga saling pandang melemparkan senyum karena sama-sama senang telah mendapatkan tumpangan pickup.


 

“Alhamdulillah ini pasti karena kita bersholawat,” kata Kakek Harun.


 

Pickup jalan sepuluh meter. Setelah itu belok ke sebuah teras rumah.


 

Pemilik pickup turun dari mobil. “Saya sudah sampai tujuan saya. Silakan kalian teruskan perjalanan kalian!”


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina saling pandang.


 

“Bohong!” kata Nina.


 

“Penipu!” tuduh Ari.


 

“Dusta!” kata Kakek Harun.


 

“Loh, saya bohong di mananya? Coba katakan!” tanya pemilik pickup.


 

“Katanya Bapak ke arah sana?” tanya Ari.


 

“Betul kan?” tanya balik pemilik pickup.


 

“Terus katanya belok?” tanya Nina.


 

“Betulkan? Bohong tidak saya?” tanya balik pemilik pickup lagi. Kakek Harun, Ari, dan Nina kompak menggeleng. “Jadi tiada dusta di antara?” tanya pemilik pickup lagi untuk menegaskan bahwa ia tidak bohong.


 

“Kita,” jawab Kakek Harun, Ari, dan Nina serempak. Kakek Harun, Ari, dan Nina turun dari pickup itu.


 

“Terima kasih!” ucap Kakek Harun.


 

“Sama-sama, jangan sungkan!” kata pemilik pickup.


 

“Assalamualaikum!” seru Ari.


 

“Waalaikumsalam!” jawab pemilik pickup.


 

“Goodbye!” seru Nina.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina berjalan lemas.


 

“Semua tidak bersemangat,” lirih Kakek Harun.


 

“Semua tidak tersenyum,” lirih Ari.


 

“Semua tidak mood,” lirih Nina.


 

“Mood?” tanya Kakek Harun dan Ari bersamaan sembari menoleh ke Nina.


 

“Itu bahasa kerennya, bahasa Inggris,” terang Nina.


 

“Oooooooooooooooooo!” seru serempak Kakek Harun dan Ari. Nina dengan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O bergantian tangan kanan dan tangan kiri terus-menerus sampai O kakek Harun dan Ari berhenti.


 

“Ayo kita sholawatan lagi!” ajak Ari.


 

“Ayo, semangat!” seru Kakek Harun.


 

“Excited!” seru Nina


 

Kakek Harun dan Ari menoleh ke Nina dan serempak bertanya lagi, “Esaited?”


 

“Excited! Itu bahasa kerennya. Bahasa Inggris,” terang Nina.


 

Kakek Harun dan Ari berseru lagi serempak, “Oooooooooooooooooo!”


 

Lagi-lagi Nina dengan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O bergantian tangan kanan dan tangan kiri terus-menerus sampai O kakek Harun dan Ari berhenti.


 

Setelah suara O berhenti, ketiganya bersholawat lagi. “Shalatullah salamullah, ala Thaha Rasulillah. Shalatullah salamullah, ala Yasin Habibillah. Tawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah. Wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri ya Allah.”


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina semangat bersholawat. Kakek Harun berjalan di tengah di apit Ari dan Nina. Oleh karena terlalu bersemangat mereka menjadi tidak melihat ke depan dengan benar. Mereka tidak melihat jika di depan mereka ada seekor anjing. Kakek Harun yang posisinya di tengah kedua anak kecil itu tidak sengaja menginjak ekor anjing itu. Ari dan Nina berlari kencang. Kakek Harun berlari dengan meraba-raba karena rabun, takut jatuh. Kakek Harun melemparkan apa saja yang ia temui di jalan untuk menghalau kejaran anjing itu. Anjing itu mulai dekat dengan kakek Harun. Kakek Harun ketakutan dan bingung. Kakek Harun melihat di dekatnya ada kaleng ember berisi air. Kakek Harun lekas melemparkan kaleng ember berisi air itu ke arah anjing tersebut. Ari dan Nina yang sudah berlari jauh, tiba-tiba kembali lagi dengan menjadi dua ekor anjing galak menyalak-nyalak ke anjing asli yang sedang terkena kaleng ember berisi air. Anjing asli menjadi takut, kapok, dan lari berbalik arah.


 

“Bagaimana kalau dia masuk angin?” khawatir Kakek Harun.


 

“Kasihan ekornya sakit terinjak. Kepalanya juga benjol kena kaleng ember.” Ari juga merasakan kasihan kepada anjing tidak bersalah itu.


 

“Kasihan, dia pasti sedih dan mengadu kepada ibunya,” kata Nina yang juga iba.


 

“Ya Allah, maafkanlah kami bertiga,” doa Kakek Harun.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina berjalan sambil bersholawat. Kemudian sore hari tiba, terdengar suara adzan.


 

“Alhamdulillah!” seru Kakek Harun dan Ari bersamaan.


 

“Ada apa, kok hamdalah?” heran Nina.


 

“Ashar,” jawab kompak Kakek Harun dan Ari.


 

“Oooooooooooooooooo!” seru Nina.


 

Kakek Harun dan Ari mengikuti gaya Nina. Kedua pria berbeda usia jauh itu dengan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O bergantian tangan kanan dan tangan kiri terus-menerus sampai O Nina berhenti.


 

“Hm, ikut-ikutan!” celetuk Nina.


 

Ari melihat sebuah masjid besar. “Itu masjid, Kek!”


 

Kakek Harun melihatnya dengan takjub. “Allahuakbar! Besar sekali masjidnya! Ayo kita ke sana!”


 

“Nina tidak membawa mukenah,” keluh Nina.


 

“Di masjid besar biasanya ada mukenah. Insyaallah,” kata Kakek Harun.


 

Mereka bertiga lekas melangkah menghampiri masjid besar itu.


 

***


 

Mereka bertiga memuji masjid dengan berteriak heboh. Kehebohan mereka bertiga membuat perhatian semua pengunjung masjid itu tertuju kepada mereka bertiga.


 

“Wow wow wow megahnya!” seru Kakek Harun.


 

“Keren, keren, keren!” seru Ari.


 

“Cute ... deh!” seru Nina.


 

“Ini belum seberapa dibandingkan pemiliknya,” kata salah seorang warga.


 

“Siapa yang punya?” tanya Ari.


 

“Rumahnya di mana?” tanya Nina.


 

“Yang punya pasti yang rumahnya besar itu ya?” tanya Kakek Harun sembari menduga.


 

“Itu rumah saya, tapi saya bukan pemilik masjid ini,” kata warga tadi.


 

“Lalu siapa pemilik masjid ini?” Ari penasaran.


 

“Allah SWT,” jawab warga itu.


 

“Allahuakbar! Iya iya!” seru Kakek Harun. Ari dan Nina mengangguk-angguk membenarkan.


 

***


 

Di tempat wudu pria, di masjid besar itu. Tempat wudu pria tertata satu baris lurus yang cukup panjang. Ari seperti biasa wudu penuh semangat dan heboh. Kakek Harun yang di sebelahnya menjadi terkena air. Kakek Harun membalas dengan berwudu heboh juga sehingga air mengenai Ari dan orang lain di sisi lain kakek Harun. Orang di sebelah kakek Harun juga membalas dendam berwudu super heboh sehingga mengenai kakek Harun dan orang di sebelahnya lagi. Orang di sebelahnya lagi juga demikian sampai orang paling ujung. Begitu seterusnya sampai selesai wudu. Selesai wudu mereka semua saling tengok kanan kiri dan tengok baju mereka masing-masing yang sama-sama basah kuyup.