Try new experience
with our app

INSTALL

The Runaway 

TR 1. Lontong Narkotika

Lontong Narkotika TR1


 

Di dalam sebuah bangunan di daerah sepi yang di luarnya sekitarnya penuh rerumputan tinggi-tinggi ada aktivitas haram terencana rapi. Para pekerja sedang sibuk memasukkan narkotika ke dalam setiap lontong. Kemudian seorang pekerja membawa banyak lontong yang telah diisi dan siap dikirim.


 

“Bos, barang sudah dikemas, sudah siap dikirim!” seru salah satu pekerja itu memberitahu sembari menunjukkan yang sudah siap itu. Radika memperhatikan kemasan yang berupa lontong. Beberapa lontong ia perhatikan detail. Setelah yakin ia mengangguk.


 

“Radika hebat, pengemasan yang bagus!” kata Radika memuji diri sendiri bersungguh-sungguh, karena puas dengan cara pengemasan yang digunakannya selama ini, yang menurutnya sangat sempurna tepat menutupi bisnis haramnya.


 

Radika mengeluarkan smartphonenya dan menyentuh sebuah nomor. Ia menggunakan WhatsApp untuk menghubungi nomor itu. Dengan cepat nomor itu terangkat.


 

“Lontong sudah siap! Cepat ke sini, jangan telat!” Radika menutup telepon sembari menghela napas sangat puas. Ia pun tertawa puas karena bisnisnya sukses. “Hahahaha ... lebih cepat kaya menjadi bandar dari pada menjadi pengedar!”


 

***


 

Di sebuah kantor polisi, pagi-pagi sekali, Pak Ferdiansyah dan ketiga polisi bersiap kelapangan dengan menyamar menjadi warga biasa.


 

***


 

Di jalan raya seorang laki-laki pengedar narkotika mengendarai sepeda motor menuju ke sebuah tempat rahasia Radika. Laki-laki itu berhenti di depan sebuah gedung di area sepi penuh rerumputan. Ia turun dari motor dan lekas masuk ke dalam gedung itu. Tidak lama ia ke luar dari gedung itu sambil membawa kantong plastik hitam berisi lontong. Ia kembali naik sepeda motor dan melaju rerumputan.


 

***


 

Masih cukup pagi, keempat polisi yang berpakaian warga sudah berada di dalam mobil yang melaju.


 

Tidak lama kemudian keempat polisi itu menghentikan kendaraan mereka di pinggir jalan raya. Empat polisi itu mengawasi sebuah warteg dari sebrang warteg.


 

Tidak berselang, laki-laki membawa motor berhenti di depan warteg. Ia mengambil kantong plastik hitam yang ia letakkan di depannya. Ia masuk ke warteg sembari membawanya.


 

Empat polisi berpakaian menyamar sebagai warga yang masih sedang mengamati. Salah satu dari mereka melihatnya.


 

“Itu!” tunjuk polisi 1.


 

Ketiga polisi yang lainnya menjadi ikut melihatnya.


 

“Ayo!” seru Ferdiansyah.


 

Keempat polisi langsung menyebrang jalan menyatroni warteg itu.


 

Pagi hari itu juga, pak Ferdiansyah bersama tiga rekannya sesama polisi menghampiri sebuah Warteg yang mereka amati. Di dalam Warteg itu ada seorang pengunjung yang sedang makan. Selain itu nampak juga pengantar lontong yang tadi mereka amati baru turun dari sebuah motor dan baru masuk ke Warteg itu. Selain itu ada pria paruh baya pemilik Warteg itu.


 

“Permisi, Pak, saya mau beli lontong! Berapa satunya?” seru polisi 2.


 

“Maaf, lontongnya sudah ada yang pesan semua,” terang pengedar.


 

“Dua saja kok,” kata polisi 2.


 

“Maaf, sudah pas, tidak ada lebihnya satu pun,” alasan pengedar.


 

“Coba satu saja!” Polisi 2 langsung mengambil salah satu lontong dan membukanya.


 

“Jangan!” larang pengedar, tapi sudah terlambat.


 

Polisi 2 melihat ada narkotika di dalamnya. Polisi 2 menunjukkan isinya kepada kedua rekannya lalu memberikan kepada Ferdiansyah. Pengedar dan pemilik warung ketakutan.


 

“Apa ini, Pak?” tanya Ferdiansyah dengan tegas.


 

“Itu penyedap,” terang pengedar.


 

“Ini narkotika, Pak!” Ferdiansyah menunjukkan identitasnya sebagai polisi. Pemilik warteg dan pengedar terbelalak terhenyak semakin ketakutan. Polisi 3 membuka beberapa lontong lagi dan sama-sama ada isinya narkotika.


 

“Maaf, Pak, Anda harus ikut kami! Anda juga, Pak!” Ferdiansyah menatap ke pengedar lalu ke pemilik warung.


 

“Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Sungguh! Saya tahunya ada orang pesan lontong,” kata pemilik Warteg.


 

“Sa saya juga hanya mengantar lontong. Saya tidak tahu kalau di dalamnya ada narkotikanya,” bohong pengedar.


 

“Beri penjelasan di kantor saja!” tegas Ferdiansyah.


 

Dua polisi memborgol pemilik warteg dan pengantar lontong. Pada saat itu seorang pria pembeli lontong datang.


 

“Lontongnya sudah datang ya?” tanya pria yang baru datang itu, yang sudah janjian membeli semua lontongnya.


 

“Lontong Anda berisi narkotika. Anda harus ikut kami!” tegas Ferdiansyah. Pembeli terkejut dan lekas lari. Polisi 3 mengejar.


 

Di pinggir jalan di pagi hari itu. Warga sedang lalu-lalang dengan tenang meskipun di antara mereka ada yang terburu-buru. Akan tetapi pembeli lontong lari dan polisi 3 mengejar, membuat kepanikan warga.


 

“Semua minggir ada penjahat!” teriak polisi 3. Warga panik dan lekas menyingkir dari jalan. Polisi 3 terus mengejar pembeli lontong.


 

“Berhenti!” perintah polisi 3 dengan berteriak lantang. Pembeli lontong terus berlari.


 

“Berhenti!” teriak kedua kalinya polisi 3 kepada penjahat itu. Polisi 3 berteriak kedua kalinya itu sembari memberikan letusan ke langit. Pembeli lontong tetap saja terus berlari.


 

“Berhenti!” Polisi 3 berteriak ketiga kalinya sembari memberikan letusan ke langit untuk yang kedua kalinya. Pembeli lontong masih tetap berlari. Akhirnya polisi 3 mengejar sembari terpaksa menembak kaki pembeli lontong.


 

“Akh!” pekik pembeli lontong ketika kaki kirinya tertembak. Ia kesakitan dan memegangi kakinya yang terluka. Ia menjadi berdiri satu kaki lalu jatuh terjungkal. Polisi 3 lekas mendekati dan memborgol kedua tangannya.


 

***


 

Di kantor polisi, Ferdiansyah dan beberapa polisi sedang menginterogasi pengedar, pembeli lontong, dan pemilik warteg sembari mengetik di komputer.


 

***


 

Di meja terdapat foto Radika. Ferdiansyah dan beberapa polisi berkumpul untuk membahasnya.


 

“Dari hasil pemeriksaan dan penyelidikan ternyata target utama adalah buronan yang sudah lama kita cari. Namun rupanya saat ini ia sudah bukan lagi menjadi pengedar melainkan menjadi bandar. Kita harus hentikan dia! Kali ini kita tidak boleh gagal lagi untuk menangkapnya!” tegas Ferdiansyah.


 

***


 

Di suatu pagi, di sebuah ruang tamu sangat sederhana, di sebuah rumah gadis autis berusia tiga puluh tahun.


 

Yura duduk di ruang tamu dengan acak-acakan. Pak Yahya, ayahnya Yura ke luar dari dalam ke ruang tamu, hendak berangkat kerja.


 

“Yura, adik-adik kamu belum memandikan kamu?” tanya Pak Yahya. Yura memandang Pak Yahya lalu menggeleng.


 

Pak Yahya sedih melihat nasib Yura yang autis dan sudah tidak ada lagi ibunya yang biasa mengurusnya dengan telaten. “Kalau saja ibumu masih hidup, pagi-pagi, kamu pasti sudah cantik. Yuri, Yure, cepat kalian mandikan kakak kalian! Kalau tidak, Bapak tidak akan kasih kalian uang jajan!”


 

Yure dan Yuri ke luar dari dalam.


 

Yure kesal dengan perintah itu. “Iya, Pak, ini baru mau kami mandikan! Kami kan juga perlu mengurus diri kami sendiri!”


 

“Bapak mau berangkat nguli dulu di rumah Pak Drama. Atap rumah Pak Drama bocor katanya. Awas, kalau sampai Bapak pulang, Yura masih acak-acakan! Assalamualaikum!” tegas Pak Yahya.


 

“Waalaikumsalam!” Yure dan Yuri menjawab salam dengan artikulasi yang jelas sedangkan Yura tidak.


 

“Ayo, Mbak, cepetan!” Yuri menarik kasar Yura.


 

***


 

“Assalamualaikum, Pak Drama!” seru Pak Yahya saat telah sampai di depan rumah Pak Drama dan melihat ada Pak Drama sedang duduk di bangku bata semen di depan rumah itu.


 

“Waalaikumsalam! Alhamdulillah, Pak Yahya sudah datang!” Pak Drama berbinar melihat kedatangan Pak Yahya.


 

“Mana, Pak, atap yang mau dibetulkan?” tanya Pak Yahya.


 

Pak Drama menunjukkan, “Itu, Pak, sepertinya geser karena kucing-kucing sering kejar-kejaran di atas atap. Jadinya kalau hujan airnya masuk ke dalam. Itu tangganya sudah saya siapkan.”


 

Pak Yahya naik ke tangga bambu. Pak Darma memegangi tangganya.


 

Sembari memegangi tangga Pak Drama berpesan, “Hati-hati ya, Pak!"


 

Pak Yahya sudah sampai di atap. Ia membetulkan atap-atap yang geser. Beberapa saat kemudian naas, ia terpeleset dan terjatuh.


 

“Astaqfirullahaladzim!” pekik Pak Drama.


 

Warga mengerumuni. Pak Darma memeriksa denyut nadi dan napas Pak Yahya. Beberapa warga juga memeriksa. Mereka saling pandang terhenyak.


 

Pak Drama mengelus dadanya sendiri karena merasa ngenes. “Astaqfirullahaladzim! Inalillahi! Ya Allah kasihan sekali. Kasihan ketiga putrinya. Sudah tidak punya ibu, sekarang tidak punya bapak juga. Mana yang putri pertama autis.”


 

***


 

Pak Drama bersama warga kampung berbondong-bondong ke rumah Yura sambil menggotong Pak Yahya. Seorang warga perempuan mengetuk pintu rumah Yura dengan tergesa-gesa dan panik. Jatuhnya menjadi menggedor pintu bukan mengetuk pintu.


 

“Assalamualaikum!” seru warga perempuan yang menggedor pintu itu.


 

“Waalaikumsalam!” Yura menjawab dengan artikulasi yang tidak jelas. Ia lalu membuka pintu.


 

Warga perempuan yang mengetuk pintu langsung menarik Yura masuk ke dalam pelukannya. “Ya Allah, Yura, pak Yahya tiada karena tadi jatuh dari atap, Nak,” kata warga perempuan itu sembari mengusap-usap puncak kepala dan punggung Yura. Yura tidak paham.


 

Yure dan Yure ke luar dari dalam rumah. Yure dan Yuri heran.


 

“Ada apa kok ramai-ramai?” tanya Yuri.


 

“Bapakmu jatuh dari atap dan langsung meninggal di tempat, Yuri,” terang warga perempuan itu.


 

Deg, napas Yure dan Yuri tertarik cepat. Mereka melihat jasad Pak Yahya yang digotong warga. Keduanya langsung shock dan teriak-teriak memanggil-manggil ayah mereka. Yura melihat juga dan perlahan memahami yang telah terjadi. Yura berkaca-kaca dan perlahan setetes demi setetes air matanya jatuh.


 

Langit terang yang sendu berubah menjadi gelap lalu terang lagi


 

***


 

Di sebuah villa di puncak, yang dijadikan om Sundara pemiliknya, sebagai tempat bisnisnya yang berupa bisnis hiburan prostitusi.


 

PSK mengantar Radika turun dari tangga sembari bergelayut dan bersandar manja di bahu Radika. Sampai di bawah tangga Radika memberikan uang kepada PSK itu.


 

“Terima kasih untuk servisnya,” kata Radika sembari memberikan uangnya.


 

“Terima kasih cuannya,” balas PSK.


 

PSK mengecup pipi Radika lalu pergi. Pada saat bersamaan om Sundara, bos pemilik tempat sekaligus usaha prostitusi itu menghampiri pria langganannya itu.


 

Saat itu juga Radika mempertanyakan janji Sundara kepadanya. “Aku belum puas jika belum mencicipi yang perawan. Mana janjimu, Om, yang katanya mau mencarikan aku gadis perawan?”


 

“Susah cari yang virgin. Mana mau virgin jual diri? Yang mau jual diri itu yang sudah tidak virgin,” terang Sundara.


 

“Culik saja bisa kan?” celetuk Radika.


 

Sundara berkeberatan, “Wah berat urusannya dengan aparat!”


 

“Ah, payah, aparat saja dirisaukan! Kayak aku nih, seribu akal lewat dari aparat! Buron dari aku yang pengedar hingga sekarang bandar!” Radika membanggakan dirinya.


 

“Baik, aku akan berusaha keras segera memenuhi permintaanmu!” ujar Sundara.


 

“Nah, gitu dong, Om! Aku pamit dulu, Om, mengurus bisnis lontongku!” kata Radika. Sundara dan Radika bersalaman. Radika pergi.

 

Esok harinya...


 

***