Try new experience
with our app

INSTALL

The Runaway 

TR 2. Jual Saja

Di suatu pagi, di sebuah trotoar jalan raya, Yure dan Yuri sedang bingung mencari alamat lowongan kerja di koran yang mereka bawa. Sampai kesal fisik dan hati karena belum juga menemukan.


 

“Capek! Di mana sih alamatnya ini?” keluh Yure.


 

Mereka melihat ada tempat duduk untuk umum di trotoar itu.


 

“Mbak, yuk kita istirahat dulu di situ!” ajak Yuri.


 

Yure dan Yuri menghampiri halte itu dan duduk.


 

“Duh ... kenapa sih bapak pakai tidak ada? Kita kan jadi susah cari-cari pekerjaan begini! Mana kita sekolah cuma sampai menengah ke atas!” keluh Yuri saat sudah duduk di tempat itu.


 

“Iya. Ditambah lagi beban mengurus mbak Yura.” Yure pun merasakan hal yang sama, apalagi terbebani dengan Yura, kakak mereka yang memiliki kelainan autis.


 

Di saat bersamaan, di jalan raya ada yang sedang bingung mencari juga. Akan tetapi hal berbeda yang sedang dicari om Sundara. Om Sundara sedang bersama Tono sopirnya di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Mereka sedang keliling-keliling kota karena om Sundara sedang bingung dengan permintaan pelanggannya yang bernama Radika.


 

Sundara mengungkapkan kebingungannya itu kepada sopirnya. “Ton, punya ide tidak, buat dapat perawan? Kalau bisa jangan menculik anak orang, berat resikonya.”


 

Tono pun memberikan saran, “Bagaimana kalau melalui lowongan kerja, Om?”


 

“Lowongan kerja?” Sundara masih gagal paham.


 

Tono melihat ada dua wanita di sebuah halte, di sebuah trotoar. “Om, lihat itu! Di kanan jalan ada dua cewek. Coba kita tanya-tanya, Om! Siapa tahu mereka berdua sedang mencari pekerjaan.”


 

Seketika itu Sundara paham maksud Tono hingga mengangguk. “Ya sudah kita menepi!” perintahnya kemudian.


 

Mobil berhenti dan menepi di pinggir jalan di dekat trotoar itu. Sundara dan Tono turun dari dalam mobil itu.


 

Yure dan Yuri sedang duduk bersebelahan di halte. Sundara dan Tono menghampiri keduanya.


 

“Halo, pagi, Nona-nona! Boleh kita kenalan? Saya Sundara. Kalian bisa panggil saya Om Sundara.” Sundara mengulurkan tangannya. Yure dan Yuri berdiri dengan memandangnya curiga.


 

Yure dan Yuri menyalaminya sembari menyebutkan nama mereka masing-masing.


 

“Yure.”


 

“Yuri.”


 

“Kalian berdua mau ke mana? Mungkin mau Om antarkan?” tanya Sundara sembari berbasa-basi menawarkan pertolongan.


 

“Kami mau ke perusahaan Pratama,” terang Yuri.


 

“Kalian kerja di perusahaan Pratama?” tanya Sundara sekedar untuk basa-basi.


 

“Kami mau melamar pekerjaan ke perusahaan itu,” jawab Yuri.


 

Pucuk dicinta ulam tiba. Sepertinya keberuntungan untuk Sundara.


 

“Kebetulan sekali, saya sedang mencari pegawai wanita. Ikut Om saja, akan saya terima sekarang juga, tidak pakai tes dan gajinya lumayan!” seru Sundara bersemangat.


 

Yure berbisik kepada Yuri. “Sepertinya pekerjaan yang tidak benar.”


 

“Maksudnya?” tanya Yuri berbisik, karena tidak paham maksud kakak keduanya itu.


 

“Prostitusi,” bisik Yure.


 

“Mbak, kalau gajinya lumayan ya tidak apa-apa. Lagian kita kan sudah tidak ...,” ide Yuri.


 

“Hm ... benar juga kamu, Dek. Jadi kita terima saja nih?” tanya Yure yang sepakat dengan Yuri. Yuri pun mengangguk sepakat.


 

Tono juga berbisik kepada bosnya. “Bos dari ciri fisik mereka, sepertinya mereka sudah tidak virgin.”


 

“Kami bersedia, Om!” tegas Yure.


 

“Iya, kami bersedia, Om!” ujar Yuri juga.


 

“Em ... tapi ada syaratnya sih. Kalian berdua harus virgin. Kalian virgin tidak?” Sundara memberikan syarat. Yure, Yuri terdiam saling pandang. “Kalau tidak, maaf saja, kalian teruskan saja melamar ke perusahaan itu. Terima kasih atas waktunya. Om, pamit.” Sundara dan sopirnya hendak melangkah ke mobil.


 

“Tunggu! Kami punya saudari yang masih virgin!” seru Yuri mencegah kepergian mereka.


 

Yuri berbisik kepada Yure. “Mbak, mbak Yura kita jual saja daripada kita repot mengurusnya dan lumayan kita bisa dapat uang banyak tanpa capek.”


 

“Kamu pintar juga, Dek,” bisik Yure sepakat.


 

“Iya, Om, kami punya saudari yang masih virgin. Kalau Om mau,” terang Yure.


 

“Di mana dia?” tanya Sundara.


 

“Ada di rumah, tapi ada cuannya. Berapa akan Om bayar ke kita?” kata Yure langsung bertransaksi. Sundara memberikan uang lima ratus ribu kepada Yure. “Gila! Segini, Om? Perawan itu mahal, Om, langkah, Om!” Yure tidak terima dan mengembalikan uang itu kepada Sundara.


 

“Kalian mau berapa?” tanya Sundara.


 

Yure dan Yuri saling pandang. Keduanya sama-sama berpikir dan saling bertanya dengan menggunakan kode.


 

Yuri berbisik ke Yure. “Satu jut?”


 

“Kemurahan untuk perawan,” bisik Yure ke Yuri


 

“Berapa dong? Lima jut?” tanya Yuri berbisik lagi.


 

“Iya, daripada kemahalan, nanti malah mbak Yura tidak laku, secarakan dia autis,” bisik Yure.


 

“Tujuh juta, Om!” tegas Yure kemudian.


 

“Enam ya? Soalnya pas nih di dompet ada enam,” kata Sundara sembari mengeluarkan tambahan uang lima juta lima ratus.


 

“Iya okelah, Om!” Yure membuka telapak tangannya untuk siap menerima uang itu. Sundara memberikan enam juta kepada Yure. Yure dan Yuri saling pandang dan sama-sama berbinar senang.


 

“Sekarang Anda bisa datang ke rumah untuk membawanya,” kata Yure.


 

“Orang tua kalian?” tanya Sundara.


 

“Kami yatim piatu, Om. Di rumah hanya ada kami bertiga,” terang Yure.


 

“Saudari kalian memang pasti mau?” tanya Sundara ragu.


 

“Mau, asal bilang diajak jalan-jalan dan mau dibelikan kue-kue enak, pasti mau,” jawab Yure meyakinkan.


 

“Semudah itu?” heran Sundara. Yure dan Yuri tersenyum penuh misteri. Sundara membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan kedua perempuan itu masuk di bangku belakang. Yure dan Yuri lekas masuk. Setelah itu Sundara duduk di depan bersama Tono. Mobil melaju.


 

***


 

Di jalan raya, pagi, nampak sebuah truk polisi yang membawa beberapa anggota melaju dengan kecepatan sedang. Di antara polisi itu ada pak Ferdiansyah.


 

Sementara itu di pagi yang sama, di dalam sebuah bangunan yang berdiri tegak di area sepi, para pekerja sibuk memasukkan narkotika ke dalam lontong. Radika sang pemilik juga sibuk memeriksa yang sudah siap.


 

Truk polisi telah sampai di tujuan, di mana bangunan milik Radika itu berada. Tak jauh beberapa meter dari area bangunan itu, truk polisi berhenti dan parkir. Semua anggota turun kecuali sopir truknya. Mereka dengan rapi bergerak, sesuai instruksi pak Ferdiansyah.


 

Radika dan para pekerjanya masih sedang sibuk.


 

“Sempurna, siap kirim!” kata Radika.


 

Tiba-tiba polisi-polisi mendobrak pintu dan masuk. Polisi-polisi menyerbu mereka. Mereka mencoba melawan, tapi satu persatu dapat dilumpuhkan polisi. Radika juga mencoba melawan dan ia berhasil ke luar dari bangunan itu. Radika lari.


 

Di depan bangunan itu, Radika mencoba melawan lagi para polisi yang mengepungnya. Radika berhasil melawan para polisi itu. Radika lekas masuk ke dalam mobilnya dan ngebut. Beberapa polisi termasuk Ferdiansyah, lari mengejarnya sembari melepaskan tembakan, tetapi Radika sangat handal meliuk-liukkan mobilnya, sehingga tembakan tidak mengenai yang fatal pada mobilnya. Radika pun sudah melaju sangat kencang.


 

“Kalian bawa yang tertangkap ke markas!” seru Ferdiansyah lalu berlari sekencang-kencangnya, ke arah mobil Radika melaju.


 

Saat Ferdiansyah sampai di tepi jalan raya, terlihat mobil polisi PATWAL melintas. Ferdiansyah menghentikannya. Ada seorang polisi di dalamnya. Mereka saling memberi hormat.


 

“Pak, bantu saya mengejar buronan bandar narkotika!” seru Ferdiansyah.


 

“Siap, Pak!” tegas polisi PATWAL. Ferdiansyah naik ke mobil PATWAL, duduk di sebelah yang mengemudi.


 

Ferdiansyah menunjuk ke arah mobil yang terhalang beberapa kendaraan. “Itu, sedan putih!” Mobil PATWAL melaju kencang.


 

***


 

Sementara itu ....


 

Mobil Sundara berdiam di depan sebuah rumah sederhana. Sundara dan Tono menunggu. Tidak lama kemudian dari dalam rumah sederhana itu ke luar Yure dan Yuri membawa Yura.

Yura nampak memakai Midi dress, yaitu dress yang panjang di bawah lutut, tapi tidak sampai semata kaki, pas sebetis saja. Lengan midi dress itu panjang menggelembung dan gelembungnya sampai ke pergelangan tangan. Dress itu bermotif bunga-bunga dan berwarna dasar cream kecoklatan. Meskipun keluarga miskin, Pak Yahya selalu membelikan Yura baju yang bagus, meskipun jadinya hanya memiliki tujuh setel saja, pas cuci pakai untuk tujuh hari.


 

“Ini, Om, kakak saya, namanya Yura. Dijamin, mbak Yura masih perawan tingting,” kata Yure.


 

“Mbak Yura, hari ini ada yang mau mengajak Mbak jalan-jalan,” terang Yuri.


 

“Ula alan-alan?” tanya Yura memastikan.


 

“Iya, Mbak Ula, alan-alan,” jawab Yuri.


 

“Kok kayak idiot ya?” Sundara menyadari kecacatan Yura.


 

“Bukan idiot, Om, autis,” terang Yure.


 

“Ah, sama saja! Masak saya bayar mahal-mahal dapat yang begini?” Sundara merasa rugi.


 

“Memang ada, Om Sundara, yang normal, yang virgin, yang mau?” tanya Yure.


 

“Bener, Bos! Malah bagus bos!” kata Tono membela Yure.


 

“Bagus apanya?” tanya Sundara dengan nada protes.


 

“Diapain saja tidak akan berontak, daripada yang terpaksa, jatuhnya pasti ribet. Kalau ini, asal dibaikin, pasti nurut. Selain itu, yang pentingkan sesuai pesanan pelanggan,” terang Tono meyakinkan.


 

“Benar juga sih. Iya oke yang penting dia virgin. Yura, ayo masuk, kita jalan-jalan!” Sundara akhirnya setuju dan tidak mempermasalahkan kecacatan Yura. Sundara membukakan pintu mobil belakang. Yura masuk ke mobil.


 

“Berapa umur mbak kalian ini?” tanya Sundara.


 

“Tiga puluh,” jawab Yure.


 

Sundara masuk ke bagian belakang duduk bersebelahan dengan Yura. Tono juga lekas masuk ke mobil ke bagian kemudi.


 

“Ule, Uli, ak iut?” tanya Yura.


 

“Tidak, Mbak Ula. Dada, Mbak Ula!” kata Yure dengan sangat senang hati melepas kepergian Yura.


 

Yure, Yuri melambaikan tangan ke Yura.


 

“Da, Ule, Uli!” Yura membalas melambaikan tangan.


 

Mobil melaju.


 

***


 

Sementara itu di sisi lain.


 

Radika masih kejar-kejaran dengan polisi menggunakan mobil. Jalan raya tampak ramai dan kadang lenggang. Saat lenggang segera Radika manfaatkan untuk tancap gas gas dan gas sehingga berhasil menjauh lagi dari mobil PATWAL yang mengejarnya.


 

***


 

Di saat bersamaan, di jalan raya yang berbeda.


 

Sundara memperhatikan Yura. Yura juga memperhatikan Sundara. Yura tersenyum tulus lalu tersenyum malu kepada Sundara. Sundara tersenyum membalas senyuman Yura.


 

“Pasti di rumah, kamu sering dijahatin oleh kedua adik kamu itu,” duga Sundara.


 

“Tega juga mereka menjual mbaknya,” celetuk Tono.


 

“Jaman sekarang, Ton, uang lebih berharga daripada saudara,” pendapat Sundara.


 

***


 

Radika, Ferdiansyah, polisi PATWAL, dan pengguna jalan raya di jalan raya yang lainnya.


 

Mereka masih kejar-kejaran, kadang mereka terpaksa mengganggu masyarakat pengguna jalan raya.


 

***


 

Di saat bersamaan ....


 

Sundara masih di dalam mobil bersama Yura dan Tono dalam perjalanan menuju ke vila. Di saat itu, Sundara mengambil smartphonenya dan menelepon Radika.


 

***


 

Akan tetapi di saat yang sejak tadi memasuki siang itu, di jalan raya yang lainnya, Radika masih di kejar mobil PATWAL. Pada saat itu terdengar smartphone Radika berdering bersama suara lagu yang menandakan ada yang menelponnya menggunakan WhatsApp. Akan tetapi Radika yang sedang harus fokus menyetir menjadi acuh dengan yang meneleponnya.


 

Lama kejar-kejaran dengan polisi PATWAL yang bersama Ferdiansyah, akhirnya Radika berhasil mengelabui. Mobil Radika berhasil lolos dari pandangan kedua polisi berbeda bagian tugas itu.


 

“Sial!” kesal polisi PATWAL.


 

“Dia sudah lama buron sejak menjadi pengedar dan sekarang sukses menjadi bandar, aku tidak akan membiarkannya terus-terusan bisa lolos!” Ferdiansyah lebih kesal lagi.


 

Polisi PATWAL bersama Ferdiansyah masih mencari keberadaan mobil Radika.


 

“Pak, minta bantuan saja sama polisi-polisi lalu lintas!” seru polisi PATWAL yang tiba-tiba mendapatkan ide.


 

“Anda benar, Pak!” seru Ferdiansyah sepakat. Ferdiansyah lekas mengeluarkan smartphone dan menghubungi polisi lalu lintas. “Halo, saya Ferdiansyah! Saya sedang mengejar buronan lama narkotika bernama Radika. Mohon kerja samanya. Sedan putih xxxxx. Terima kasih!”


 

Sementara itu, akhirnya Radika mengendarai mobilnya dengan sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Saat itu, Smartphonenya kembali berdering. Radika lekas mengangkatnya.


 

“Iya, halo! Maaf, tadi sedang sibuk,” jawab Radika yang mengenali siapa yang menghubunginya sejak tadi.


 

***


 

Sundara yang ada di jalan raya yang berbeda lega panggilannya mendapatkan jawaban.


 

Aku sudah dapat gadis. Transfer aku 50 juta jika kau mau!” kata Sundara.


 

***


 

“Cepat sekali. Iya aku mau, sangat mau, Om Sundara! Jangan diberikan kepada orang lain! Sekarang juga akan aku transfer 50! Sekarang juga, aku juga akan ke vila Om!” kata Radika yang tidak menyangka akhirnya keinginannya akan terwujud.


 

***


 

“Deal!” kata Sundara sembari menatap ke Yura.


 

Tono yang menyetir tersenyum ikut senang, bosnya akan mendapatkan keuntungan besar. Yura tidak mengerti pembicaraan mereka, tatapannya begitu polos dan murni.


 

***


 

“Kebetulan, sekalian aku bersembunyi dari polisi.” Radika melajukan mobilnya ke arah vila.