Try new experience
with our app

INSTALL

E 4-6 The Runaway 

TR 6. Belokan

Masih malam sekitar bada isya.


 

Radika melihat dari kaca spion banyak polisi mengejarnya. Ada yang memakai mobil ada yang memakai motor.


 

“Bagaimana sekarang?” Radika berpikir. “Belokan.”


 

Radika lekas putar-putar setir menyalip sembari ke arah tepi. Kemudian ia ada belokan. Ia berbelok ke jalan raya yang lebih sempit dari sebelumnya. Lebarnya hanya cukup untuk dua mobil dua arah dan beberapa motor dua arah. Belokan itu juga banyak belokan jalan raya yang ukurannya juga sama demikian.


 

Sebelum polisi-polisi berbelok ke jalan raya sempit itu, Radika lekas berbelok lagi ke jalan raya yang lainnya yang juga sama sempitnya.


 

Polisi baru belok ke jalan raya sebelumnya dan mereka tidak melihat mobil Radika. Mereka tidak tahu berikutnya Radika belok ke jalan raya mana. Mereka akhirnya berpencar masuk ke setiap belokan.


 

Di jalan raya sempit itu, Radika berbelok lagi ke jalan raya yang lainnya lagi. Kemudian ia berbelok-belok terus. Masuk ke jalan raya satu ke jalan raya yang lainnya.


 

“Semoga sudah lolos,” harap Radika.


 

Yura juga melihat polisi-polisi itu sudah tidak ada. “Ak da.”


 

“Iya mereka tidak ada,” kata Radika juga.


 

Yura berbinar, tersenyum, dan bertepuk tangan. Radika juga melempar senyum ke Yura. Dari jalan raya sempit Radika kembali ke jalan raya yang luas.


 

***


 

Di jalan raya luas seorang polisi lalu lintas mendapatkan telepon informasi mengenai Radika. Saat informasi polisi dapatkan ia melihat Radika. Radika juga melihat polisi itu.


 

“Sepertinya dia tahu aku,” duga Radika. Radika tancap gas dan putar-putar setir lagi. Yura paham jika mereka ada lagi.


 

“Da Agi.” Yura menjadi berekspresi takut lagi, tapi tidak teriak, tidak menangis.


 

“Di mana ada jalan banyak belokan lagi?” tanya Radika sembari melihat kanan kiri mencari belokan seperti tadi lagi. Yura menunjuk jalan. Radika melihat ada jalan beraspal.


 

“Belokan jalan apa itu?” Radika tidak ada pilihan polisi sudah dekat ia belok saja ke jalan itu.


 

“Sial jalan kampung sempit,” lirih Radika. Yura mendengarnya dan paham sepertinya yang ia tunjukkan salah. Yura merasa salah.


 

Radika mencari belokan lain di jalan kampung beraspal itu yang hanya bisa press dilalui dua mobil itu pun harus dengan berhati-hati. Saat menemukan belokan ia lekas saja belok lagi, tapi salah satu polisi sudah melihat arah belokannya dan memberi tahu rekan-rekannya. Polisi bermotor lekas bergerak duluan dari polisi yang menggunakan mobil.


 

Radika melihat polisi bermotor di belakangnya. Dalam kepanikannya, ia terpikir sambil menyetir meraih apa pun di pinggir jalan kampung itu untuk bisa menghalangi dan menghentikan polisi-polisi bermotor. Ia melihat tong sampah ia raih ia gulingkan ke belakang hingga menggelinding, tapi menggelinding ke arah lain tidak ke tengah jalan.


 

Ia melihat ada gerobak sate ia dorong agar ke arah belakang berharap bisa ke tengah jalan menghalangi mereka. Polisi terpaksa menendang gerobak sate hingga jatuh.


 

“Sateku ....” Tukang sate merasa rugi besar hingga geleng-geleng kepala. Warga lekas berlari mengerumuninya.


 

“Sabar ya, Bang,” kata salah satu warga yang berlari mengerumuninya.


 

Ada orang membawa kantong plastik hitam berisi nasi lalapan Radika rebut. Radika lemparkan ke arah belakang.


 

“Lalapanku!” teriak warga itu terkejut dan merasa kehilangan.


 

“Yura raih apa pun di luar di sampingmu dan lempar ke belakang ke arah mereka, seperti yang aku lakukan!” perintah Radika.


 

Yura melihat anak kecil makan ciki sambil jalan. Ia raih dan ia lempar ke belakang. Anak kecil itu terkejut dan langsung menangis. Yura merasa bersalah sampai terdiam. Radika meraih sepeda orang untuk dilemparkan sembari juga merasa bersalah karena ia juga melihat yang diambil Yura dan tahu anak kecil itu menangis, tapi tidak ada waktu untuk itu.


 

“Cepat lakukan lagi!” perintah Radika lagi. Yura melakukannya lagi dan kini ia tidak peduli lagi kesalahan tadi dan tangisan anak itu. Ia mengambil apa pun yang ditemuinya untuk dilemparkan ke belakang.


 

Yura mengambil pisau besar dari tangan warga yang sedang membuat pring dan melemparnya ke belakang. Polisi menjadi reflek berbelok cepat ke kiri lalu terjatuh karena menghindari pisau itu. Rekannya menjadi juga ikut terjatuh. Sedangkan rekan yang lainnya menjadi mengerem mendadak karena ada dua rekannya yang terjatuh dan menghalangi jalan. Karena mengerem mendadak, anggota bermotor yang lainnya juga ada yang terjatuh.


 

“Bagus, Yura!” puji Radika.


 

Radika melihat dari kaca spion bagaimana keadaan polisi-polisi bermotor. Radika lekas tancap gas dan putar-putar setir tidak peduli menabrak apa pun yang ada di sisi kanan dan kiri jalan yang ia lalui.


 

Radika keluar dari jalan kampung beraspal ke jalan raya dengan tetap tancap gas dan putar-putar setir tidak peduli jalan raya sedang ramai atau tidak.


 

Kendaraan-kendaraan yang berpapasan dengannya menjadi mengerem mendadak. Belakang kendaraan-kendaraan itu juga otomatis mengerem mendadak karena kendaraan di depannya berhenti mendadak. Hasilnya kendaraan di belakangnya menabrak kendaraan di depannya dan itu beruntun.


 

Radika masih menyetir dengan ngebut.


 

“Dah ak da,” terang Yura.”


 

“Sudah tidak ada?” tanya Radika memastikan kata-kata Yura yang tidak jelas artikulasinya. Yura mengangguk. “Kita harus tetap ngebut sampai benar-benar aman. Kalau tidak nanti seperti tadi lagi mereka menemukan kita dan mengejar kita lagi,” kata Radika kemudian. Yura mengangguk paham.


 

Beberapa meter perjalanan kemudian.


 

“Sepertinya sudah aman.” Radika melihat kanan kiri pinggir jalan tidak ada polisi. Ia bernapas lega karena sudah aman.


 

Saat itu ia juga melihat ada mall dan hotel satu atap bersebelahan. Bisa masuk hotel lewat mall dengan menggunakan lift. Bisa juga kalau mau langsung ke hotel lewat lobi hotel lewat pintu depan hotel langsung. Ia pun ingat belum menyentuh Yura sama sekali. Ia menatap ke Yura.


 

“Aku belum menyentuhmu sama sekali. Kita ke hotel itu, tapi ke mall dahulu. Gerah aku mau beli baju dulu. Kamu juga harus ganti semua baju kamu bau ompol kan?” kata Radika.


 

“Ula ak uya uit,” terang Yura.


 

“Aku yang akan membelikan Yura baju,” ujar Radika. Yura tersenyum dan menatap polos saja. Radika belok ke mall itu.


 

Radika menggandeng Yura masuk ke mall. Beberapa pengunjung ke luar dari mall karena sudah malam dan mall sudah tidak lama lagi akan tutup. Yura melihat ke sekeliling mall dengan takjub dengan tatapan matanya yang polos.


 

***