Try new experience
with our app

INSTALL

E 8-9 Musala Mini Dompet & Pistol 

8. Hasil Mengamen

Ari menghampiri warga yang ada di sekitar depan kantor polisi.


 

“Assalamualaikum!” sapa Ari.


 

“Waalaikumsalam!” jawab warga yang dihampiri Ari.


 

Ari menunjukkan sebuah KTP ke warga itu. “Dari sini ke alamat ini naik apa?”


 

Kebetulan bus jurusan ke tempat itu sedang berhenti di pinggir jalan.


 

“Itu!” Warga menunjuk ke bus tersebut.


 

“Kakek, Nina! Ayo, naik bus itu!” seru Ari.


 

Ari, kakek Harun, Nina, dan pak Roy naik ke bus itu.


 

***


 

Setelah Ari, kakek Harun, Nina, dan pak Roy naik ke bus, copet naik ke bus.


 

“Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh!” seru antusias Kakek Harun, Ari, dan Nina.


 

Para penumpang terkejut. Penumpang yang tidur sampai terbangun.


 

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab semua penumpang bus itu.


 

“Perkenalkan, saya Ari!” seru Ari.


 

“My name is Ni - na, dibaca Nina!” seru Nina.


 

“Saya Harun!” tegas Kakek Harun dengan sangat berwibawa.


 

“Pak Sopir, Pak Kernet, mohon izin untuk menghibur!” kata Ari.


 

“Boleh ya?” tanya Nina.


 

“Tentu boleh, Gadis Cilik,” jawab sopir.


 

Ari bernyanyi penuh semangat. Semua memperhatikan kehebohan Ari.


 

“Ini kesempatanku,” benak copet. Copet mulai beraksi. ia beraksi sampai Ari selesai bernyanyi. Beberapa dompet penumpang berhasil ia dapatkan.


 

“Sekarang giliran Nina,” kata Nina. Nina menyanyikan lagu anak-anak sehingga para penumpang anak-anak menjadi ikut bernyanyi. Ibu anak-anak itu juga ikut bernyanyi. Copet mendapatkan kesempatan lagi karena perhatian para penumpang sedang terfokus pada Nina. Alhasil beberapa dompet penumpang didapatkannya lagi.


 

“Sekarang saya juga mau bernyanyi,” kata Kakek Harun. Kakek Harun menyanyikan lagu masa mudanya dahulu. Para penumpang tua menjadi bernostalgia dan ikut bernyanyi. Copet kembali beraksi dan mendapatkan hasil.


 

“Sekarang Nina lagi ya? Ikuti Nina ya? If you happy and you know it clap your hand! Clap! Clap!” Semua mengikuti Nina.


 

Selain milik para penumpang, copet juga berhasil mencopet dompet dan pistol milik Pak Roy, dompet sopir bus, dan dompet kernet bus. Hanya tiga orang yang tidak kecopetan yaitu Ari, Nina dan kakek Harun.


 

“Sekarang Kakek mau ceramah,” ujar Kakek Harun. Kakek Harun ceramah menggetarkan hati copet, membuat copet cukup ketar-ketir. Mendengar ceramah itu copet menjadi maju ke depan.


 

“Jadi jika ada yang salah pasti dimaafkan, Kek?” tanya copet penuh harap.


 

“Insya Allah, asalkan benar-benar bertaubat,” jawab Kakek Harun.


 

“Apa semua orang di bus ini juga akan memaafkan?” tanya copet penuh harap lagi.


 

“Memaafkan memang susah, tapi harus bisa. Kita harus ingat tidak ada manusia yang sempurna,” kata Kakek Harun.


 

“Jadi apakah kalian akan memaafkan saya, kalau saya salah?” tanya copet memastikan.


 

“Bagaimana, Bapak-bapak, Ibu-ibu?” tanya Kakek Harun.


 

“Insya Allah akan kami maafkan!” seru para penumpang bus.


 

“Janji?” tanya copet.


 

“Insya Allah!” jawab para penumpang.


 

“Saya mengakui telah mencopet kalian semua,” aku copet.


 

Semua penumpang terdiam mencerna kata-katanya. Kemudian memeriksa barang berharga masing-masing. Semua marah mau menghakimi copet.


 

“Stop! Stop! Kalian sudah janji akan memaafkan!”


 

“Dia harus dibawa ke kantor polisi!” tegas Pak Roy.


 

“Jangan! Saya punya istri, anak!” pinta copet.


 

“Suruh saja dia mengembalikan dompet barang berharga masing-masing dengan utuh!” saran Kakek Harun.


 

Semua duduk manis. Copet mengembalikan dengan menyebut nama pemilik dompet lewat KTP. Saat pemilik dompet maju pemilik dipersilakan melihat benda berharga lainnya jika ada yang hilang. Setelah beberapa nama.


 

“Pak Roy!” panggil copet. Pak Roy tidak menyangka dirinya menjadi korban. Ia juga tidak menyangka di antara barang berharga ada pistolnya. Ia merasa tidak jauh beda teledornya dengan pak Selamat Santosa Jaya. Saat pak Roy mengambil pistol semua mata tertuju kepada pak Roy.


 

“Dua dompet terakhir atas nama Pak Agus Budiana dan Pak Nanang Karya. Sopir,” baca copet pada kartu identitas di kedua dompet itu.


 

Pak Nanang Karya langsung mengerem mendadak. Kernet langsung mendekat ke copet.


 

“Gila lo! Dompet gua, lo embat juga!” geram kernet sembari merebut kasar dompetnya dari tangan copet.


 

Sopir mendekat dengan marah, merebut dompetnya, lalu menjambak bajunya. “Lo berani Ama gue?”


 

“Ampun, Bang!” Copet ketakutan dihajar.


 

“Kalau bukan karena menghargai kakek ini, lo ancur! Sekarang lo cepat angkat kaki!” kata sopir.


 

“Satu kaki kan, Bang? Kalau dua mana sanggup?” duga copet. Copet mengangkat satu kakinya.


 

“Maksud gue, lo, out!” tegas sopir.


 

“Ot, apa, Bang?” Copet gagal paham lagi.


 

“Pergiiiiiiii!” pekik sopir.


 

“Bilang dong dari tadi!” seru copet yang akhirnya paham. Sopir semakin kesal, mau menghajar, tapi copet keburu lari turun.


 

Sebagai tanda terima kasih para penumpang memberikan uang kertas biru ada pula yang memberikan yang warna merah kepada kakek Harun, Ari, dan Nina. Pak Roy memberikan selembar merah dan selembar biru.


 

***


 

Ayah Nina datang ke kantor polisi terdekat guna melaporkan kehilangan anaknya.


 

“Saya mau melaporkan anak saya hilang,” terang ayahnya Nina.


 

“Penculikan? Bagaimana kronologinya?” tanya Polisi 1


 

“Putri saya kelas satu SD namanya Nina. Pulang sekolah menunggu jemputan saya. Akan tetapi saat saya sampai sekolah dia sudah tidak ada. Penjaga sekolah juga tidak melihat siapa yang menjemput putri saya itu,” terang ayahnya Nina.


 

“Ada fotonya?” tanya Polisi 1


 

Ayah Nina menunjukkan foto Nina. “Saat hilang ia memakai seragam merah putih.”


 

“Kami akan proses!” ujar tegas Polisi 1. Ayah Nina mempercayakan kepada polisi lalu pamit.


 

Kedua polisi sama-sama seperti pernah melihat anak di foto itu. Akan tetapi keduanya sama-sama lupa pernah melihat di mana.


 

“Kayaknya aku baru saja melihatnya, tapi di mana?” Polisi 1 mengingat-ingat.


 

“Aku juga sepertinya baru melihatnya. Di mana ya?” Polisi 2 juga mengingat-ingat. Keduanya berusaha terus mengingat-ingat.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, Nina, dan pak Roy turun dari bus. Kakek Harun, Ari, dan Nina menghitung uang hasil mengamen. Tanpa mereka bertiga sadari pak Roy memperhatikan mereka dari jauh. Mereka mendapatkan hasil yang sangat lumayan.


 

“Alhamdulillah!” ucap Kakek Harun, Ari, dan Nina serempak penuh syukur mendapati begitu banyaknya uang yang mereka dapat yang tidak mereka sangka-sangka.


 

“Masya Allah! Baru pertama kali Ari mengamen mendapatkan uang sebanyak ini. Melihat uang sebanyak ini juga baru dua kali yaitu tadi di dompet polisi dan ini hasil mengamen!” seru Ari berbinar-binar.


 

“Sekarang kita bagi tiga sama rata,” kata Kakek Harun.


 

Terdengar suara adzan mahgrib.


 

“Mahgrib,” kata Nina.


 

“Alhamdulillah!” ucap Kakek Harun, Ari, dan Nina.


 

“Kalau begitu uangnya bagi empat sama rata dengan masjid atau musala yang akan kita tempati sholat mahgrib saat ini,” ide Kakek Harun.


 

“Ide bagus, biar berkah.” Ari sepakat.


 

“Nina sangat setuju!” kata Nina. Nina melihat musala. “Eh, itu ada musala!”


 

“Berarti yang keempat musala itu,” kata Kakek Harun.


 

“Ayo kita ke sana!” seru Ari bersemangat.


 

“Let's go!” seru Nina bersemangat juga.


 

Kini mereka bertiga telah berada di sebuah musala, tapi bukan musala mini. Musala ini cukup lumayan luas.


 

“Nina kamu masukkan ke kotak amal!” perintah Kakek Harun.


 

“Oke!” Nina memberikan ibu jarinya.


 

“Nina, kita berpisah di sini nanti selesai bertemu di sini lagi!” tegas Kakek Harun.


 

“Aku akan merindukan kalian,” kata Nina melankolis.


 

“Aku juga akan merindukan Ni – na,” kata Ari ikutan melankolis.


 

“Kita di sini sampai isya bukan seabad!” gemas Kakek Harun.


 

Mereka masuk. Pak Roy juga masuk.


 

Di tempat wudu pria.


 

Kakek Harun dan Ari wudu dengan heboh. Datang pak Roy di belakang mereka. Pak Roy kesiram air wudu mereka.


 

Di ruang sholat bagian pria.


 

Kakek Harun dan Ari paling baris belakang. Sajadah tinggal satu mereka bagi dua. Kemudian datang pak Roy. Kakek Harun melihat bajunya basah.


 

“Basah. Kehujanan ya, Pak?” tanya Kakek Harun yang tidak paham jika itu kesalahan dirinya dan Ari. “Sajadah tinggal satu, mari bertiga dengan kami!” ajaknya.


 

“Saya tidak pakai sajadah tidak apa-apa,” kata Pak Roy.


 

Ari dan kakek Harun langsung menarik pak Roy untuk bersama mereka. Kakek Harun merasa pernah melihat pak Roy, tapi lupa di mana. Kakek Harun mengamati wajahnya. Pak Roy berusaha menyembunyikan wajahnya, tapi diikuti terus oleh kakek Harun.


 

“Kakek kenapa? Tidak sopan!” tegur Ari saat melihat tingkah kakek Harun yang memperhatikan wajah pak Roy sedemikian rupa.


 

“Maaf,” ucap Kakek Harun.


 

Sholat dimulai. Kakek Harun sholatnya menjadi tidak konsentrasi karena melirik-lirik pak Roy sembari berusaha mengingat-ingat.


 

Mahgrib juga isya telah selesai. Mereka telah berada di pelataran masjid untuk mengenakan kembali alas kaki masing-masing.


 

Kakek Harun mengenakan alas kakinya sembari pikirannya melayang ke pak Roy sehingga tanpa sadar ia memakai alas kakinya terbalik kanan kirinya.


 

“Aku pernah melihat pria tadi, tapi di mana ya? Siapa ya dia?” kata Kakek Harun.


 

“Kapan? Di mana?” tanya Ari.


 

Setelah berusaha mengingat-ingat, kakek Harun tetap tidak ingat. “Selain rabun, aku juga sudah mulai pikun.


 

“Sudah mahgrib sudah isya, rencana selanjutnya apa?” tanya Nina.


 

“Kita tanya warga alamat rumahnya,” jawab Kakek Harun.


 

Ari menunjukkan KTP ke warga yang sedang memakai alas kaki di sisinya. “Permisi, Pak, tanya. Alamat ini di mana ya?”


 

“Jalan ke sana, terus ke sana. Tinggal masuk kompleknya dan cari nomor rumahnya,” terang warga tersebut.


 

“Terima kasih,” ucap Ari.


 

“Terima kasih, Assalamualaikum!” seru Kakek Harun.


 

“Waalaikumsalam!” jawab warga itu.


 

“Let's go!” seru Nina.


 

“Kakek itu mengenaliku. Untungnya tidak mengingatku,” lirih Pak Roy.


 


 

Mereka jalan kaki menuju ke tempat yang telah ditunjukkan warga tadi. Jalanan kebetulan sedang sepi. Ari mengeluarkan dompet pak Selamat Santosa Jaya untuk memasukkan KTP. Seorang jambret merebut dompet dan lari.


 

“Jambretttt ...!” pekik Ari. Ari dan Nina mengejar. Pak Roy ikut mengejar.


 

“Inna lillahi! Bagaimana ini?” Kakek Harun Rabun, alas kakinya terbalik kanan kirinya, dan ditambah gelap malam membuat langkah kakek Harun yang berhati-hati jadi aneh.


 

***