Try new experience
with our app

INSTALL

Musala Mini Dompet & Pistol 

2. Tertinggal

Kakek Harun mengumandangkan adzan duhur. Selesai adzan kakek Harun mengajak Ari menunggu, barang kali ada yang mau sholat duhur berjamaah dengan mereka.


 

“Ar, kita tunggu sebentar! Biar berjamaah banyak orang!” perintah Kakek Harun.


 

“Oke, Kek! Insya Allah banyak yang akan datang!” kata Ari dengan sangat yakin.


 

Ari duduk bersila dengan penuh semangat, yakin banyak yang akan datang. Akan tetapi setelah beberapa saat, ternyata, tidak ada satu pun yang datang.


 

“Kek, kok belum ada yang datang?” tanya Ari dengan nada mengeluh.


 

“Ya ... kita sholat berdua saja. Semoga surga buat kita. Ayolah, kita sholat!” ajak Kakek Harun. Ari berdiri melompat penuh semangat. Kakek Harun mengimami shalat.


 

Kakek Harun dan Ari telah selesai sholat duhur. Terdengar suara mobil datang dan berhenti di halaman tanah musala. Ari dan kakek Harun menengok ke arah mobil itu. Terlihat oleh keduanya seorang polisi turun dari mobil dan berjalan ke tempat wudu. Kakek Harun dan Ari saling pandang. Keduanya sama-sama bersujud syukur dengan heboh karena masih ada manusia lainnya yang mau sholat.


 

“Alhamdulillah!” seru serempak Kakek Harun dan Ari.


 

Tiba-tiba Ari teringat sesuatu hingga terkejut, berdiri, dan berteriak. Otomatis kakek Harun ikut terkejut.


 

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! Astaqfirullahaladzim! Ibuku belum makan dari semalam, Kek! Kek, Ari pergi dulu! Assalamualaikum!”


 

“Waalaikumsalam! Jantung copot jantung copot! Jangan copot jangan copot!” kata Kakek Harun sembari mengelus dadanya.


 

Polisi selesai wudu melihat kakek Harun seperti mengelus dada. Polisi itu menghampiri musala mini sambil seakan bersiap seperti mau menangani masalah.


 

“Ada masalah apa, Kek?” tanya Selamat Santosa Jaya.


 

“Tidak ada masalah, Pak,” jawab Kakek Harun. “Silakan! Bapak mau sholat kan?” kata Kakek Harun. Polisi tersebut mengangguk. Kakek Harun berkata lagi, “Silakan, surga menanti Anda, Pak!”


 

“Aamiin,” ucap Selamat Santosa Jaya.


 

Polisi itu menaruh dompet dan pistolnya, lalu mendirikan sholat. Sementara itu kakek Harun melanjutkan berdzikir.


 

***


 

Ari masuk ke warung nasi Padang dengan semangat seperti biasa. Dia anaknya memang selalu semangat dan heboh setiap saat


 

Ibu penjaga warung sedang melayani para pengunjung warung yang sedang makan. Ari datang memberi salam dengan berteriak super heboh.


 

“Assalamualaikum!” serunya. Semua pengunjung terkejut dan kompak tersedak, sedangkan ibu warung sampai melepaskan japitan ayam goreng. Ayam goreng jatuh dan langsung diserbu dibawa kabur seekor kucing.


 

“Waalaikumsalam!” jawab ibu pemilik warung dan para pengunjung warung.


 

“Bu, beli nasi!” seru Ari


 

“Mau makan di sini apa bungkus?” tanya ibu warung.


 

“Bungkus,” jawab Ari.


 

Ibu penjaga warung mengambil kertas bungkus dan mengisinya dengan nasi. “Lauknya?” tanyanya kemudian.


 

“Ari mau kuah rendang, kuah itu, sama kuah itu,” terang Ari. Ibu penjaga warung mengambilkan.


 

“Lauknya?” tanya ibu warung lagi.


 

“Udah itu saja,” jawab Ari. “Berapa, Bu?” tanyanya


 

“Sepuluh ribu.”


 

Ari menghitung uang koin dan kertas sambil memberikannya kepada ibu warung satu persatu sampai semuanya.


 

“Pas ya, Bu?” tanya Ari memastikan.


 

“Pas.”


 

Ari kembali memberi salam super heboh. “Terima kasih! Assalamualaikum!” Pengunjung kompak terkejut dan tersedak lagi.


 

“Waalaikumsalam!” jawab ibu warung dan semua pengunjung warung.


 

***


 

Di sebuah kolong jembatan, Alma Ardiningrum, ibunya Ari sedang yang sedikit kurang waras sedang duduk melamun melihat orang-orang yang tampak olehnya hidup senang. Lihat orang makan ice cream, Alma Ardiningrum menjilat-jilat tangannya sendiri, membayangkan makan ice cream. Ari datang membawa sebungkus nasi Padang untuk ibunya itu. Ari melihat ibunya yang sedang menjilati tangan dan melihat apa yang sedang dilihat ibunya, yaitu orang yang sedang makan ice cream. Ari geleng-geleng dan mengelus dada.


 

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Astaqfirullahaladzim. Ya Allah berilah hamba rezeki berlimpah. Berilah hamba rezeki untuk membahagiakan ibu hamba. Aamiin,” doa Ari dengan lirih.


 

Ari mendekat sembari memberi salam dengan lantang antusias semangat seperti kebiasaannya. “Assalamualaikum!”


 

Alma Ardiningrum tersadar dari lamunannya. “Waalaikumsalam!” serunya menjawab salam dari putranya satu-satunya.


 

“Ibu, Insya Allah, suatu hari ibu bisa makan ice cream. Sekarang ibu makan nasi Padang pesanan ibu tadi pagi ya?” kata Ari sembari memberikan bungkusan nasi. Ibu Ari berbinar dan segera menerima bungkusan yang Ari berikan dan membukanya.


 

“Mana paruh, ayam, atau ikannya?” tanya Alma Ardiningrum saat tidak menemukan lauk satu pun.


 

“Ibu bayangin saja seperti makan ice cream tadi. Ari mau ke kakek Harun. Assalamualaikum,” kata Ari yang lalu berpamitan.


 

“Waalaikumsalam,” jawab Alma Ardiningrum sembari punggung tangannya dicium Ari. Kemudian ia memperhatikan Ari sampai berlalu dari pandangannya. Setelahnya Alma Ardiningrum makan dengan super lahap karena sangat kelaparan.


 

***


 

Kakek Harun telah selesai berdzikir dan sudah sendirian lagi di musala mini itu. Ari datang dengan penuh semangat.


 

“Assalamualaikum!” seru Ari yang lagi-lagi mengejutkan.


 

Kakek Harun terkejut untuk kesekian kalinya. “Inna lillahi! Waalaikumsalam! Kamu selalu saja mengagetkan!”


 

Ari merebahkan tubuhnya di karpet musala.


 

“Kamu sudah makan?” tanya Kakek Harun.


 

“Belum, kan belinya cuma satu bungkus. Kasihan ibu kalau paruhan, biar ibu saja yang makan,” jawab Ari.


 

“Kamu memang anak yang berbakti!” puji Kakek Harun.


 

Ari melihat ada dompet dan pistol di karpet. Ia membuka-buka dompet. Isinya lumayan banyak.


 

“Kek, dompet siapa ini?” tanya Ari.


 

“Bukan punya Kakek,” jawab Kakek Harun.


 

“Alhamdulillah, berarti ini rezeki Ari. Ari bisa beliin ibu Ari nasi Padang yang beneran,” kata Ari.


 

“Memangnya tadi kamu belikan nasi Padang palsu?” tanya Kakek Harun.


 

“Cuma nasi tanpa lauk, beli di warung Padang, dikasih kuah-kuah aneka masakan Padang, jadi sudah nasi Padang,” terang Ari.


 

“Iya kalau begitu Kakek juga bisa!” ujar Kakek Harun.


 

“Nah, dengan ini Ari bisa beli lagi yang pakai lauk! Bisa beli buat Ari, buat ibu, dan buat Kakek Harun. Alhamdulillah, berarti Allah telah mengabulkan keinginan Ari,” ucap Ari. “Kalau pistolnya, punya siapa, Kek?” tanyanya kemudian.


 

Kakek Harun mengingat-ingat. “Haram memakai uang itu!”


 

“Uangnya kan tidak ada yang punya, Kek,” kata Ari.


 

“Dompet dan pistol itu milik polisi tadi. Dari tadi hanya beliau yang mampir ke musala ini,” terang Kakek Harun.


 

Ari berdiri melompat. “Astaqfirullahaladzim! Kek, kita harus mengembalikannya!”


 

Kakek Harun sampai terkejut dan ikut berdiri. Kakek Harun menjitak kepala Ari.


 

“Kau mau membunuh Kakek? Mau membuat jantung Kakek copot?” protes Kakek Harun.


 


 

“Maaf, Kek,” ucap Ari. “Terus ini, bagaimana, Kek? Di mana pak polisinya?” tanyanya kemudian.


 

“Sudah pergi,” terang Kakek Harun.


 

“Kakek mengenalnya?” tanya Ari. Kakek Harun menggeleng. “Kakek tahu alamat rumahnya?” tanya Ari lagi. Kakek Harun menggeleng. “Alhamdulillah, berarti sekarang halal.”


 

“Di dalam dompet itu pasti ada identitasnya,” terang Kakek Harun.


 

“Hm ... belum rezeki,” keluh Ari.


 

Ari mengeluarkan kartu-kartu di dalam dompet. “Ari tidak bisa membaca, tahunya cuma uang, uang, dan uang,” kata Ari.


 

Ari memberikan kartu-kartu tersebut kepada kakek Harun. Kakek berusaha melihat, tapi tidak jelas.


 

“Kakek rabun,” kata Kakek Harun.


 

“Akhirnya Alhamdulillah rezeki halal,” kata Ari lega.


 

“Haram! Kita harus berusaha untuk mengembalikannya! Cari cara agar kedua benda ini kembali ke pemiliknya!” tegas Kakek Harun.


 

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, masih belum rezeki juga,” ucap Ari kecewa. “Baiklah, Kek, terus bagaimana cara mengembalikannya?” tanya dengan ikhlas.


 

“Bismillahirrahmanirrahim, ayo, ikut Kakek!” seru Kakek Harun. Kakek Harun bangkit dan melangkah ke luar musala lalu memakai alas kakinya. Demikian juga dengan Ari