Try new experience
with our app

INSTALL

Musala Mini Dompet & Pistol 

3. Kantor Polisi Terdekat

Kakek Harun melihat seorang warga. Ia paham apa yang harus dilakukan.


 

Kakek Harun berkata, “Langkah pertama bertanya. Malu bertanya se ....”


 

“Setan!” sambar Ari


 

“Sesat di jalan, Ari!” tegas Kakek Harun.


 

“Sesat di jalan setan,” kata Ari lagi.


 

“Tidak pakai setan,” terang Kakek Harun.


 


 

Kakek Harun menghampiri warga yang dilihatnya itu. Ari mengikuti kakek Harun menghampiri warga.


 

“Assalamualaikum!” seru Kakek Harun.


 

“Waalaikumsalam!” jawab warga itu.


 

“Permisi, saya mau tanya,” kata Kakek Harun.


 

Kakek Harun menunjukkan sebuah kartu identitas.


 

“Nak, kamu tahu alamat ini?” tanya Kakek Harun.


 

“Ini jauh, Kek. Dari sini mesti naik angkutan. Naik angkutan yang itu tuh! Kakek nanti bilang turun sini. Sampai sana nanti tinggal cari komplek dan nomor rumahnya,” terang warga itu.


 

“Terima kasih,” ucap Kakek Harun dengan lembut.


 

Kakek Harun dan Ari menjauh dari warga itu.


 

“Tidak ada uang buat naik angkutan,” kata Kakek Harun ke Ari.


 

“Terus bagaimana? Halal ya, Kek?” tanya Ari penuh harap.


 

Kakek Harun berpikir. Ari sangat berharap kakek Harun menghalalkan uang di dalam dompet menjadi miliknya.


 

“Beliau kan polisi, pasti ada di kantor polisi! Kita ke kantor polisi terdekat saja!” seru Kakek Harun dengan yakin.


 

Ari kecewa.


 

“Kakek piiiintar. Ayolah, kita ke kantor polisi terdekat!” kata Ari.


 

“Tapi kantor polisi terdekat ada di mana? Kakek belum pernah ke kantor polisi terdekat,” kata Kakek Harun.


 

“Bagaimana kalau kita bertanya?” tanya Ari.


 

“Giliran kamu yang bertanya!” perintah Kakek Harun.


 

Kakek Harun dan Ari menghampiri kembali warga itu.


 

“Permisi!” Ari lagi-lagi berseru heboh sehingga mengejutkan warga itu dan kakek Harun.


 

“Jantung copot jantung copot! Maaf, mohon maklum mahkluk ini hiper semangat,” celetuk Kakek Harun.


 

“Tanya lagi. Di mana kantor polisi terdekat?” tanya Ari.


 

“Di sana. Naik angkutan itu saja, sebentar sampai,” jawab warga itu.


 

Kakek Harun dan Ari saling pandang.


 

“Inna lillahi,” sebut Ari.


 

“Wa inna ilaihi rajiun,” sebut Kakek Harun.


 

“Ada yang meninggal?” tanya warga itu.


 

Kakek Harun dan Ari tersenyum menggeleng.


 

“Terima kasih! Assalamualaikum!” seru Ari.


 

“Waalaikumsalam!” jawab warga itu.


 

“Assalamualaikum!” seru Kakek Harun juga.


 

“Waalaikumsalam!” jawab warga itu lagi.


 

Kakek Harun dan Ari menjauh lagi dari warga itu.


 

“Halal ya, Kek?” tanya Ari berharap lagi.


 

“Usaha!” tegas Kakek Harun.


 

“Angkutan pakai uang apa, Kek? Apa kita pakai uang di dalam dompet ini saja?”


 

Kakek Harun menggeleng. “Pokoknya dua benda ini harus kembali utuh ke pemiliknya!”


 

“Naik angkutannya pakai uang apa?” tanya Ari lagi.


 

Kakek Harun menunjuk kakinya.


 

“Jalan, Kek?” tanya Ari memastikan maksud kakek Harun.


 

Kakek Harun jalan ke arah yang ditunjukkan warga. Ari segera menyusul langkah kakek Harun. Ari menuntun kakek Harun berjalan.


 

***


 

Di musala mini terbuka, masih di siang hari yang sama, Selamat Santosa Jaya datang lagi ke musala mini itu. Ia mencari-cari dompet dan pistolnya yang tertinggal. Akan tetapi ia tidak menemukannya.


 

SELAMAT SANTOSA JAYA

Bagaimana aku bisa seteledor ini? Ya Allah! Hm ... mungkin aku harus mencari kakek yang ada di sini tadi. Hanya beliau yang ada di sini bersamaku tadi. Semoga beliau terketuk hatinya untuk mengembalikan dompet dan pistolnya. Isi dompetnya tidak masalah yang penting surat-surat yang ada di dompet dan pistolku.


 

***


 

Sampai di perempatan jalan, Ari dan kakek Harun bingung arahnya ke mana.


 

“Wah, Kek, jalannya ke arah mana nih?” tanya Ari.


 

“Ke mana ya?” tanya Kakek Harun juga.


 

Kakek Harun berpikir. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi ternyata ada pecinya. Ia melepaskan pecinya lalu menggaruk. Kakek menggeleng tidak tahu.


 

“Ya sudahlah, Kek, berarti ini rezeki halal!” tegas Ari.


 

Kakek Harun tiba-tiba semangat super heboh seperti Ari biasanya sambil memaki pecinya dengan gaya sedikit seperti dilempar. “Aha! Kakek punya ide! Kita ikuti saja angkutan yang ke arah kantor polisi terdekat!”


 

Ari cukup terkejut dibuatnya. Kakek Harun mengedarkan pandangannya mencari-cari angkutan umum yang tadi ditunjukkan warga bisa menuju ke kantor polisi terdekat.


 

“Yang mana ya angkutannya tadi?” tanya Kakek Harun sembari mencoba mengingat-ingat angkutan ke kantor polisi terdekat yang ditunjukkan oleh warga yang ditanyanya tadi.


 

“Itu, Kek! Tuh angkutannya jalan ke sana, Kek!” Ari mengingatnya dan melihat arah angkutan itu ke mana.


 

“Ayo, kita jalan ke arah sana juga!” seru Kakek Harun.


 

Ari mengelus dadanya. “Belum rezeki, sabar ... sabar ....”


 

Kakek Harun dan Ari berjalan mengikuti arah angkutan yang ditunjukkan warga.


 


 

Sampai di sebuah jalan yang dipisahkan oleh jalan raya. Ari menuntun kakek Harun. Akan tetapi saat menyebrang kakek Harun tertinggal. Ari sudah menyebrang, kakek Harun belum. Mereka berbicara sambil berteriak karena terpisah jarak.


 

“Ayo, Kek! Kenapa masih di sana?” seru Ari dari sebrang.


 

“Kakek tidak bisa menyebrang!” seru Kakek Harun.


 

Kendaraan tampak sedikit yang lalu lalang.


 

“Jalan sepi! Ayo, Kek! Ini kesempatan menyebrang!” seru Ari.


 

Kakek Harun berusaha menyebrang, tetapi tidak berani-berani. Ari tidak sabar menunggu kakek Harun sehingga menyebrang lagi ke tempat sebelumnya. Akan tetapi kakek Harun sudah berhasil menyebrang.


 

“Lah, kenapa kamu menyebrang ke sana lagi, Ari?” heran Kakek Harun.


 

“Niat Ari mau bantu Kakek Harun menyebrang!” alasan Ari.


 

Ari mau menyebrang lagi, tapi sebuah mobil hampir menyerempetnya. Beruntung Ari segera mundur lagi dengan cepat.


 

“Inna lillahi!” Kakek Harun takut terjadi sesuatu dengan Ari sehingga menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mengintip dari sela-sela jarinya. Ia melihat ternyata Ari baik-baik saja. Kakek Harun membuka wajahnya. “Alhamdulillah, kamu baik-baik saja!”


 

“Sekarang Ari yang tidak berani menyebrang, trauma!” ujar Ari.


 

“Lihat kanan kiri kalau mau menyebrang, Ari!” terang Kakek Harun.


 

Ari berusaha menyebrang. Kakek Harun khawatir terjadi sesuatu pada Ari sehingga menyebrang lagi ke tempat sebelumnya. Ari sudah menyebrang, tapi kakek Harun malah di tempat sebelumnya.


 

“Lah, Kakek Harun kenapa ada di sana lagi sih?” gemas Ari.


 

“Kakek mau bantu Ari menyebrang!” kata Kakek Harun.


 

“Kakek tunggu situ, biar Ari ke sana bantu Kakek menyebrang!” seru Ari.


 

“Tidak! Kamu saja yang tunggu situ! Kakek bisa sendiri!” tegas Kakek Harun.


 

Kakek Harun menyebrang pelan-pelan. Kakek Harun masih di tengah jalan raya, tapi jalan raya sudah ramai. Mobil-mobil melaju kencang. Ari melihat dari sebrang kakek Harun seperti terserempet.


 

“Kakek ...! Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!” Ari menutup matanya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis deras.


 

Sebuah mobil dinaiki pak Selamat Santosa Jaya melintas. Kakek Harun dan Selamat Santosa Jaya bertemu tatap. Mereka sama-sama seperti pernah melihat, tapi sama-sama lupa. Apalagi kakek Harun kurang jelas melihat wajah polisi itu. Mereka saling mengangguk tersenyum tanda menyapa meski sama-sama tidak ingat.


 

Kakek Harun sudah menyebrang.


 

“Kamu kenapa menangis, Ar?” tanya Kakek Harun.


 

Ari masih menutup matanya dengan telapak tangannya. Dalam pikiran Ari yang berbicara adalah arwah kakek Harun.


 

“Maafkan Ari, wahai arwah almarhum Kakek Harun. Maafkan Ari tidak bisa melindungi Kakek. Maafkan Ari kalau ada salah-salah selama ini. Sekarang Kakek sudah mati, jangan hantui Ari!” kata Ari sembari masih menangis.


 

Sebuah jitakan melayang ke kepala Ari. Ari membuka matanya dan terkejut.


 

“Inna lillahi!” sebut Ari.


 

“Siapa yang meninggal? Kakek masih segar bugar meski mata Kakek rabun!” tegas Kakek Harun.


 

“Kakek bukannya tadi keserempet mobil?” tanya Ari.


 

“Oh, kamu mengharapkan Kakek mati ya? Supaya kamu dapat memiliki uang di dalam dompet itu ya?” tanya Kakek Harun dengan praduga.


 

“Astaqfirullahaladzim! Tidak, Kek! Meskipun ingin uang ini Ari tidak ingin kehilangan Kakek Harun! Tadi Ari melihat Kakek Harun sepertinya keserempet,” alasan Ari.


 

Kakek Harun memeriksa kedua mata Ari. “Masih muda, sudah buta huruf, rabun juga rupanya.”


 

Ari menggandeng kakek Harun erat-erat, takut kehilangan kakek Harun sampai mereka susah berjalan.


 

***


 

Di halaman sebuah sekolah dasar, Nina menunggu ayahnya menjemput ditemani penjaga gerbang sekolah.


 

“Nina Geulis, masih lama orang tuanya menjemput?” tanya penjaga gerbang sekolah.


 

“Tidak tahu, Pak,” jawab Nina.

“Bapak ke pabrik margarin sebentar ya? Kalau ada apa-apa panggil bapak ya?” izin penjaga gerbang sekolah. Nina mengangguk. Penjaga gerbang sekolah lekas pergi ke belakang sekolah.


 

“Pabrik margarin? Memangnya di dekat sekolah ini ada pabrik margarin?” tanya Nina bermonolog.


 

***


 

Sampailah Ari dan kakek Harun di tepi jalan yang sisinya ada sebuah sekolah dasar.

“Kek, di mana kantor polisi terdekatnya?” tanya Ari.


 

Kakek Harun lihat-lihat. Ia nampak bangunan seperti kantor, tapi ia tidak membaca tulisannya meskipun tulisannya cukup besar dan masih bisa kebaca olehnya. Ia pikir bangunan kayak kantor itu ya kantor polisi terdekat.


 

Kakek Harun berbinar dan berseru, “Alhamdulillah! Itu pasti kantornya! Ayo, kita masuk!”


 

“Inna lillahi, benar-benar uang ini bukan rezekiku!” sebut Ari.


 

Ari dan kakek Harun masuk ke SD yang mereka anggap adalah kantor polisi terdekat.


 

Nina menunggu ayahnya dengan mondar-mandir kebosanan. Kakek Harun dan Ari kebingungan mencari-cari polisi. Nina melihat mereka dan menghampiri mereka.


 

Nina bertanya, “Kalian siapa? Mencari siapa?”


 

Kakek Harun dan Ari saling pandang lalu kompak mengucapkan salam.


 

“Assalamualaikum!”


 

“Waalaikumsalam!” jawab Nina.


 

“Perkenalkan, aku Ari dan ini kakek Harun! Kami sedang mencari polisi,” terang Ari.


 

“Kok mencari polisi di SD? Harusnya ke kantor polisi,” heran Nina.


 

“Ini bukan kantor polisi?” tanya Kakek Harun.


 

“Ini SD. Kalian tidak membaca papan nama di depan?” jawab Nina dengan bertanya juga.


 

“Kakek sudah rabun, Cu.” Kakek Harun beralasan.


 

“Aku tidak bisa membaca.” Ari juga beralasan.


 

“Tulisannya besar, Kek,” terang Nina.


 

“Oh, berarti Kakek tidak melihat tulisannya jadi tidak membaca tulisannya,” kata Kakek Harun.


 

“Masak kamu lebih besar dari aku tidak bisa membaca? Aku masih kelas satu SD sudah pandai membaca,” kata Nina


 

“Iya kamu kan sekolah, aku tidak,” kata Ari


 

“Loh kok tidak sekolah? Sekolah itu wajib,” kata Nina.


 

“Aku tidak punya uang, jadi tidak wajib,” kata Ari.


 

“Kelihatannya sekolahnya sepi. Sudah waktunya pulang ya?” tanya Kakek Harun. Nina mengangguk. “Kamu kok belum pulang?”


 

“Ayahku belum datang menjemputku” jawab Nina.


 

“Kamu tahu tidak di mana kantor polisi terdekat?” tanya Ari.


 

“Tahu. Dari sini lurus lurus lurus pasti sampai,” jawab Nina.


 

Kakek Harun dan Ari menghela napas panjang dan menghempaskannya bersamaan.


 

“Kaki Kakek sudah mau copot,” kata Kakek Harun.


 

‘Besok libur mengamen ah, capek!” ujar Ari.


 

“Sama artinya kamu dan ibu kamu tidak makan dong,” kata Kakek Harun.


 

“Biar saja besok ibu diet lagi. Lagi pula ibu tadi sudah makan. Ari yang belum makan sejak kemarin malam,” terang Ari.


 

“Kakek juga belum makan,” terang Kakek Harun.


 

“Kalau begitu sudahlah, Kek, berarti ini rezeki kita, halal,” harap Ari kesekian kalinya.


 

“Ayo Ari, kita tidak boleh putus asa! Kita berjuang sampai titik darah penghabisan!” seru Kakek Harun.


 

“Titik darah penghabisan? Mati dong, Kek? Kalau Ari mati, bisa-bisa ibu Ari diet selamanya,” kata Ari.


 

“Hidup, mati, rezeki ditangan Allah SWT. Ayo lanjutkan perjalanan!” seru Kakek Harun.


 

“Tunggu!” cegah Nina. “Kalian tidak bisa membaca. Bisa-bisa setiap kantor kalian kira kantor polisi terdekat. Aku bisa membaca. Jadi aku akan ikut kalian,” ujar Nina.


 

“Memang kamu tidak apa-apa sama orang tua kamu?” tanya Kakek Harun.


 

“Ayahku sangat sibuk, pasti akan lama menjemputku. Di sini aku bisa mati kebosanan menunggunya. Jadi tidak apa-apa jika aku membantu kalian. Asal nanti jangan lupa antar aku pulang ke rumahku,” terang Nina.


 

“Jalan loh,” terang Ari.


 

“Kata ibu guru, jalan kaki itu menyehatkan jantung,” terang Nina.


 

“Baru tahu Ari,” kata Ari.


 

“Mungkin ini pengobatan jantung untukku karena setiap hari bersama Ari jantungku bisa copot,” benak Kakek Harun.


 

“Let's go! Kita jalan!” seru Nina.


 

“Jantung sehat, kaki copot,” celetuk Kakek Harun.


 

Ari berkata dalam hatinya, “Alhamdulillah ini bukan kantor polisi, ternyata SD. Sampai saat ini dompet ini masih rezekiku.”


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina pergi.


 

Akhirnya Kakek Harun dan Ari mendapatkan teman yang bisa membaca yang akan membantu mereka meraih tujuan mereka.


 

“Nama kamu siapa?” tanya Ari sambil mereka jalan.


 

Nina menjawab dengan mengeja. “Ni – na.”


 

Ari menyebut namanya dengan mengeja juga. “Nama kamu unik ya? Ni – na.”


 

“Bukan begitu hurufnya digabungkan baru dibaca,” terang Nina.


 

Ari garuk-garuk kepala tidak mengerti. “Pokoknya aku panggil kamu Ni - na saja!” ujarnya.


 

“Terserah,” ujar Nina.


 

***


 

Penjaga gerbang sekolah melihat Nina sudah tidak ada di halaman. “Pasti sudah dijemput ayahnya,” duganya. “Berarti sekarang aku bisa pulang,” pikirnya.


 

Ayah Nina datang dengan mobil.


 

“Siapa itu?” tanya penjaga gerbang sekolah.


 

“Assalamualaikum!” seru ayahnya Nina.


 

“Waalaikumsalam! Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sambut ramah penjaga gerbang sekolah.


 

“Saya ayahnya Nina, mau menjemput Nina. Nina mana ya, Pak?”


 

“Bukannya sudah pulang ya?”


 

“Mana mungkin, saya saja baru sampai di sini.”


 

“Di sini sudah tidak ada siapa-siapa selain saya.”


 

“Pulang sama siapa Nina?”


 

“Saya tidak lihat, soalnya tadi saya ke pabrik margarin. Saat saya kembali, Ninanya sudah tidak ada.”


 

“Astaqfirullahaladzim!” sebut ayahnya Nina yang kini menjadi cemas, kebingungan.