Try new experience
with our app

INSTALL

Musala Mini Dompet & Pistol 

4. Dor!

Di pinggir jalan raya siang hari, Ari, kakek Harun, dan Nina jalan kaki menuju kantor polisi terdekat.


 

“Untuk apa Kakek Harun dan Ari ke kantor polisi?” tanya Nina.


 

“Tadi ada polisi yang mampir sholat di musala mini. Polisi itu meninggalkan dompet dan pistolnya,” jawab Kakek Harun.


 

Ari mengeluarkan kedua benda itu dari kantor plastik hitamnya. Nina terkejut dan penasaran saat melihat pistol.


 

Nina menunjuk ke pistol. “Boleh lihat yang ini?” Ari memberikan pistol ke Nina. “Ini asli apa mainan?” tanya Nina.


 

“Asli lah! Masak polisi bawa pistol mainan?” jawab Ari.


 

“Bisa jadi, kan sekarang banyak polisi gadungan,” terang Nina.


 

“Apa itu polisi gadungan?” tanya Ari tidak paham.


 

“Orang yang berpura-pura menjadi polisi,” terang Kakek Harun.


 

“Seratus untuk Kakek Harun!” seru Nina. “Mungkin pistol ini perlu dites,” ujarnya kemudian.


 

“Bagaimana mengetesnya?” tanya Ari.


 

“Tinggal ditekan ininya,” terang Nina.


 

“Coba tes saja!” perintah Ari.


 

Nina menekan pelatuknya.


 

Dor ...!


 

Pistol berbunyi kencang dan mengeluarkan timah. Kakek Harun, Ari, dan, Nina terkejut sampai menutup telinga masing-masing. Warga juga terkejut sampai ada yang tiarap dan ada yang berlarian ketakutan.


 

“Inna lillahi! Apa yang kalian lakukan?” seru Kakek Harun khawatir akan menjadi masalah besar.


 

“Mengetes,” kata Ari.


 

“Ternyata asli,” celetuk Nina.


 

“Siapa yang menembak?!” tanya seorang polisi dengan lantang.


 

Tidak ada yang mengaku. Pistol dan dompet lekas masuk kembali ke dalam kantong plastik hitam bertali rafia. Kakek Harun, Ari, dan Nina ketakutan.


 

“Sebaiknya kita segera pergi dari sini! Ayo cepat!” seru Kakek Harun.


 

Polisi itu menelepon markas. “Lapor, ada tembakan!”


 

***


 

Mereka masih jalan di pinggir jalan raya menuju tujuan mereka yaitu kantor polisi terdekat, tetapi kali ini dengan perasaan dag dig dug karena masalah pistol tadi. Kakek Harun jalan di tengah. Ari mengandeng kakek Harun di sisi kiri. Nina menggandeng kakek Harun di sisi kanan. Mereka berjalan cepat ketakutan.


 

“Apa kita akan ditangkap dan di penjara, Kek?”


 

“Aku hanya kakek rabun. Kamu Nina hanya anak SD kelas satu. Ari hanya anak gelandangan yang buta huruf. Menurut kamu apa mungkin polisi akan mencurigai kita?” analisa Kakek Harun sembari menanyakan kepada Nina untuk meyakinkan.


 

“Kita tidak akan dicurigai,” kata Nina sepakat dengan analisia kakek Harun yang masuk di akal.


 

“Simpan baik-baik pistolnya! Jangan lagi kalian keluarkan di tempat umum seperti tadi!” tegas Kakek Harun.


 

“Baik, Kek,” jawab Nina.


 

“Tidak akan lagi,” ujar Ari.


 

Nina teringat tujuan Ari dan kakek Harun. “Oh, iya, Kek! Bukannya Kakek dan Ari mencari polisi? Mestinya kita tanya polisi tadi.”


 

Kakek Harun menepuk jidatnya. “Inna lillahi, sampai lupa tujuan! Ayo kita kembali ke tempat tadi!”


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina kembali ke TKP suara pistol.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina sampai di TKP suara pistol. Mereka melihat banyak polisi sedang memeriksa TKP suara pistol. Seorang polisi memberikan selongsong peluru dalam plastik bening kepada Pak Roy. Pak Roy adalah pimpinan kantor polisi terdekat.


 

“Ini, Pak, pelurunya!” seru seorang polisi.


 

“Bisa jadi pelakunya telah lari,” duga Pak Roy. “Semuanya periksa sana, sana, dan sana! Periksa semua warga di sini! Periksa semua pengendara dan pejalan kaki!” perintahnya kemudian.


 

“Siap, Pak!” tegas polisi itu.


 

“Kakek, yang mana polisi yang tadi mampir ke musala?” tanya Ari.


 

“Kakek matanya rabun, tidak jelas kalau tidak melihat dekat,” kata Kakek Harun.


 

“Kalau begitu kita dekati mereka satu persatu,” saran Nina.


 

“Karena polisinya banyak kita bagi tugas. Kakek sebelah sana, kalian berdua sebelah sana,” kata Kakek Harun.


 

“Ari tidak ingat wajahnya, Kek,” kata Ari.


 

“Kan ada fotonya di KTP,” kata Nina.


 

Kakek Harun tersenyum dengan kecerdasan Nina. “Tuh, Nina pintar! Tapi ingat jangan sampai mereka melihat KTPnya. Pokoknya dua barang itu tidak boleh ada yang tahu selain kita! Dua barang itu juga harus tepat sampai ke pemiliknya! Jika tidak, kita dan pemilik kedua benda itu akan mendapatkan masalah! Kalian paham kan?”


 

Ari mengangguk. “Mengerti, Kek.”


 

Nina juga mengangguk. “Nina mengerti!” Kemudian ia dengan semangat berseru, “Let's go!”


 

***


 

Kakek Harun memandangi dari dekat wajah polisi-polisi itu satu persatu. Sesekali ia juga meraba-raba wajah para polisi itu untuk meyakinkan benar atau bukan.


 

“Kenapa, Kek?” tanya polisi yang pertama ia lihat.


 

“Bukan,” kata Kakek Harun.


 

Kakek Harun lalu melihat polisi yang lainnya lagi lalu menggeleng karena bukan juga. Ia melihat polisi yang berikutnya juga menggeleng karena lagi-lagi bukan.


 

“Maaf, Kek, area ini dilarang dilewati untuk sementara ini. Baru saja tadi ada suara tembakan di sini. Demi keselamatan Kakek, baiknya Kakek tidak di sini,” tegur polisi yang ketiga diperiksanya.


 

***


 

Ari dan Nina menutupi KTP dengan telapak tangan mereka. Sambil melihat kartu mengintip-intip sambil dicocokkan dengan wajah polisi-polisi yang ada di tempat itu. Satu persatu mereka menghampiri dan mencocokan. Setiap tidak cocok mereka menghempas napas bersamaan lalu menggeleng kompak.


 

“Anak-anak kami sedang bekerja. Kalian jangan di sini kalau bermain,” tegur salah satu polisi yang anak-anak periksa wajahnya.


 

Setelah semua polisi yang ada di lokasi itu mereka lihat tidak ada yang cocok, mereka menghempas napas lebih kencang, lalu menggeleng, lalu cemberut kompak.


 

“Loh kok, pada cemberut?” heran polisi itu.


 

Ari dan Nina pergi menghapiri Kakek Harun.


 

***


 

Pak Roy melihat kelakuan kakek Harun. Ia menghampiri kakek Harun.


 

Pak Roy menyapa, “Assalamualaikum, selamat siang, Kek!”


 

“Waalaikumsalam, selamat siang, Pak Pol!” seru Kakek Harun.


 

Pak Roy mengenalkan diri, “Saya pimpinan kantor polisi di daerah ini.” Setelah itu bertanya, “Kakek sedang apa di sini? Apa ada yang bisa saya bantu, Kek?”


 

“Pimpinan kantor polisi terdekat maksudnya?” tanya Kakek Harun memperjelas maksudnya.


 

“Iya, benar Kek. Saya pimpinan kantor polisi terdekat,” jawab Pak Roy.


 

“Boleh saya melihat dan meraba wajah Anda, Pak Pol?” tanya Kakek Harun.


 

“Untuk apa, Kek?” tanya Pak Roy balik.


 

“Mau melihat saja,” jawab Kakek Harun.


 

“Baiklah, tapi setelah itu mohon Kakek tidak di sini. Kami di sini sedang memeriksa suara tembakan yang terjadi di tempat ini,” kata Pak Roy.


 

Kakek Harun mengangguk. Kemudian ia melihat sedekat mungkin wajah pak Roy sembari ia raba-raba. Akan tetapi bukan juga yang ia cari.


 

Kakek Harun menghempas napas. “Ya Allah, masih bukan juga. Terima kasih Pak Pol. Assalamualaikum!”


 

“Tunggu!” cegah Pak Roy. “Kakek seperti sedang mencari seseorang? Siapa yang Kakek cari? Mungkin bisa saya bantu.” Kakek Harun berpikir mau cerita apa tidak. “Katakan! Siapa yang Kakek cari? Siapa namanya?” tanya Pak Roy ulang.


 

“Namanya .... Kakek hanya tahu wajahnya. Oh iya sebentar ya Pak saya akan kembali lagi!” Kakek Harun pergi untuk menemui Ari dan Nina.


 

***


 

“Ari, Nina! Apa ada yang cocok?” tanya Kakek Harun. Ari menggeleng, Nina menggeleng, kakek Harun juga menggeleng. “Nina, bisa tolong bacakan namanya di KTP!” perintah Kakek Harun kemudian.


 

Nina membaca nama di KTP dengan mengeja. “Se - la - met. San - to - sa. Ja - ya.”


 

“Simpan kartunya! Ayo, kalian ikut Kakek bertanya!” perintah Kakek Harun lalu mengajak mereka untuk menemui pak Roy. Setelah menyimpan kartu ke dompet, anak-anak mengikuti kakek Harun.


 

***


 

Kakek Harun, Ari, dan Nina menghampiri pak Roy.


 

Kakek Harun berseru, “Permisi, Pak Pol, pimpinan kantor polisi terdekat! Saya sudah tahu namanya. Nina, katakan siapa namanya!”


 

Nina memberi tahu dengan hafalan dan mengeja. “Se - la - met. San - to - sa. Ja - ya.”


 

“Adakah anggota Anda yang bernama demikian?” tanya Kakek Harun.


 

“Tidak ada, Kek,” jawab Pak Roy karena ia tahu jelas jika anggotanya tidak ada yang bernama tersebut.


 

Kakek Harun, Ari, Nina kompak menghela napas lalu menghempaskannya. Kakek Harun dan Nina kompak cemberut sedangkan Ari tersenyum senang.


 

“Terima kasih. Assalamualaikum!” seru Kakek Harun.


 

“Waalaikumsalam!” jawab Pak Roy.


 

“Terima kasih. Assalamualaikum!” seru Ari.


 

“Waalaikumsalam!” seru Pak Roy.


 

“Thank you very much! Goodbye! Assalamualaikum!” seru Nina.


 

“Waalaikumsalam!” seru Pak Roy kesekian kalinya.


 

***


 

Ari bersemangat. “Akhirnya uangnya halal untuk ku miliki!”


 

“Masih haram untuk kau miliki! Di sini tidak ada orangnya, tapi di kantor polisi pasti ada!” tegas Kakek Harun.


 

“Jadi?” tanya Nina.


 

“Lanjutkan perjalanan!” tegas Kakek Harun.


 

“Let's go!” seru Nina bersemangat.


 

Ari menghempas napas. “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Ari tidak bersemangat, tapi sedetik kemudian bersemangat lagi.


 

***


 

Pak Roy memperhatikan selongsong peluru yang ada di dalam plastik bening. Pak Roy juga mengingat nama yang diberitahukan gadis cilik berseragam SD dengan cara mengeja.


 

“Selamat Santosa Jaya. Aku sangat mengenalnya. Beliau memang bukan anggotaku, tapi tetanggaku di komplek. Dia dinas di wilayah lain,” lirih Pak Roy.


 

Pak Roy memperhatikan lagi selongsong peluru yang ada di dalam plastik bening kemudian mengerutkan dahinya.