Try new experience
with our app

INSTALL

Contents

2YM Season Cincin Panah 

51. Antara Istri dan Ibu

51. Antara Istri dan Ibu


 

2 Yang Mulia Season Cincin Panah.


 

"Jenderal, Putri Cendani dan Yang Mulia Sultan pergi ke seberang, untuk ke desa kecil yang ada di seberang! Jenderal diminta untuk ke sana!" kata prajurit kepada Jenderal Sauqy dengan tegas.


 

"Kita akan ke sana, tapi sebelum itu kita sholat ashar dahulu!" kata Jenderal Sauqy dengan tegas.


 

Sementara itu di sisi sebrang.


 

"Jenderal, Yang Mulia Sultan Singa dan Cendani sedang menuju desa kecil di dekat sini! Jenderal diminta ke sana!" tegas prajurit ke Jenderal Prana yang baru selesai sholat bersama.


 

"Ananda, biar cepat kita berpencar, aku akan mengecek rumah ini, dan Ananda cek rumah sebelah!" perintah Sultan Singa.


 

"Baik, Yang Mulia!" Cendani bergegas ke rumah sebelah yang jaraknya cukup jauh dipisahkan lahan-lahan.


 

Sultan Singa mengetuk rumah.


 

"Assalamualaikum!" ucap Sultan Singa.


 

"Waalaikumsalam!" Seorang wanita menjawab dan membukakan pintu. "Tuan siapa, sedang mencari siapa?"


 

Sultan memperhatikan sejenak kondisi wanita itu. Sultan melihatnya tidak tampak dalam bahaya, atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.


 

"Saya Badar, saya sedang mencari seorang wanita, yang memiliki anak laki-laki usia sekitar tujuh tahunan dan anak laki-laki itu memiliki ayah tiri. Apa Anda tahu?"


 

"Di desa ini, ada lima belas wanita yang memiliki anak sekitar tujuh tahunan, termasuk saya. Tapi saya masih keluarga utuh. Suami saya, ayah kandung anak saya. Kalau yang ayah tiri, saya tidak tahu, Tuan, karena saya tidak pernah bertanya hal se sensitif itu kepada tetangga saya."


 

"Baiklah ibu terima kasih, maaf jika sudah mengganggu waktu ibu."


 

"Tapi Tuan, saya seperti pernah melihat Tuan?"


 

Sultan Singa tersenyum, tapi tidak menjawab


 

"Dari pakaian Tuan seperti pakaian bangsawan, tapi bukan sekedar bangsawan." Wanita itu melihat lambang-lambang yang terpasang di baju.


 

"Aku harus segera mencari! Assalamualaikum!" Sultan Singa bergegas pergi sebelum dikenali.


 

Saat Sultan Singa sudah menjauh, ibu itu langsung sadar dan terkejut.


 

"Susultan!" ucapnya tidak menyangka.


 

Cendani juga sama, bertamu.


 

"Kamu siapa dan cari siapa?" tanya pemilik rumah.


 

"Saya sedang mencari wanita, yang memiliki putra usia kurang lebih tujuh tahun, yang memiliki ayah tiri," jawab Cendani.


 

"Bukan saya yang sedang Nona cari. Saya memang punya anak, tapi sudah besar. Kalau yang tujuh tahun, dan ayahnya ayah tiri mungkin orang baru di sini. Setahu saya yang lama di sini masih keluarga utuh."


 

"Orang baru, yang mana, Bu, rumahnya?"


 

"Di sini ada lima pendatang baru, agak jauh, ada di sebelah sana, sana, sana, dua lagi di sana!"


 

"Yang ayahnya ayah tiri yang mana?"


 

"Ibu tidak tahu, yang pasti, yang sudah lama tinggal di sini, masih keluarga utuh semua. Di sini, dulu hanya ada dua puluh rumah, dan sekarang menjadi dua puluh lima rumah."


 

"Terima kasih, Bu, untuk informasinya!"


 

"Sama-sama."


 

"Assalamualaikum!" ucap Cendani.


 

"Waalaikumsalam!" jawab ibu pemilik rumah.


 

Cendani bergegas pergi dan melihat sekitar mencari Sultan Singa. Sultan menghampirinya diam-diam dari belakang dan menutup mata Cendani. Cendani terkejut dan panik. Tapi merasakan tangan yang dikenalnya.


 

"Yang Mulia!" seru Cendani.


 

Sultan Singa membuka mata Cendani. Cendani berbalik badan menghadap Sultan Singa. Saat itu Jenderal Prana dan prajuritnya datang.


 

"Yang Mulia!" Jenderal Prana dan para prajurit menunduk sejenak.


 

"Jenderal, Anda menemukan sesuatu di sungai?" tanya Sultan Singa.


 

"Hanya sebuah cincin seorang laki-laki yang di dalamnya bertuliskan nama Zulia." Jenderal Prana menunjukkan cincin itu.


 

Jenderal Kafi dan Jenderal Sauqy juga datang.


 

"Jenderal Kafi dan Jenderal Sauqy, kalian menemukan sesuatu?"


 

"Di tengah sungai kami menemukan pasmina ini." Jenderal Sauqy menunjukkan pasmina.


 

"Apa kamu, Ananda, menemukan sesuatu?"


 

"Ananda mendapatkan informasi jika warga yang sudah lama tinggal di sini adalah keluarga utuh semua. Keluarga yang memiliki ayah tiri kemungkinan pendatang baru, tapi ibu yang memberi tahu, tidak tahu yang mana keluarga itu. Ada lima keluarga yang baru tinggal di desa ini. Di sana, sana, sana dan dua di sana!"


 

"Kita bagi lima, Jenderal Sauqy ke sana, Jenderal Prana ke sana, Jenderal Kafi ke sana, Cendani dan aku periksa dua yang di sana!" perintah Sultan Singa.


 

"Baik, Yang Mulia!" seru ketiga jenderal dan Cendani.


 

"Dua puluh prajurit, ikuti Yang Mulia dan Cendani!" perintah Jenderal Sauqy.


 

Mereka berpencar. Jenderal Prana tidak menemukan KDRT di rumah yang ia datangi. Jenderal Sauqy juga tidak menemukan KDRT. Sementara itu Jenderal Kafi dari luar rumah yang ia datangi, mendengar suara keributan. Jenderal Kafi dengan kode menyuruh anak buahnya tidak bersuara dan ia menguping.


 

"Kau ke manakan jasad putraku?" terdengar suara seorang wanita bertanya.


 

"Sudah aku buang ke sungai!" terdengar jawaban seorang laki-laki dewasa.


 

"Kau bukan suami, kau iblis!" Terdengar suara wanita lagi. "Akh! Akh! Akh!" terdengar keluhan wanita kesakitan.


 

Jenderal Kafi langsung mendobrak pintu dan masuk.


 

"Berhenti menyakiti istrimu!" seru Jenderal Kafi.


 

"Siapa kau, berani masuk ke rumahku dan ikut campur?!"


 

"Aku Jenderal Kafi, dan kau aku tangkap atas perbuatan KDRT!"


 

Laki-laki itu terkejut dan langsung mengambil golok. Ia menangkap istrinya dan mengarahkan golok ke leher istrinya.


 

"Jika berani, dia akan mati!" ancam laki-laki itu.


 

"Dia istrimu!" kata Jenderal Kafi.


 

"Aku tidak peduli!"


 

Jenderal Prana dan Jenderal Sauqy datang dan ikut masuk ke dalam rumah.


 

"Dia menyandera istrinya sendiri!" kata Jenderal Kafi.


 

"Bagaimana kau bisa tega?" Jenderal Sauqy heran.


 

Sementara itu di sisi lain.


 

Sultan Singa tidak menemukan KDRT. Cendani juga tidak.


 

"Ananda, kau menemukan?"


 

"Tidak, Yang Mulia!"


 

"Berarti di antara tiga jenderal! Ayo, kita ke sana!" kata Sultan Singa dengan yakin.


 

Sultan Singa dan Cendani segera menuju ke tiga jenderal.


 

"Sepertinya Jenderal Kafi yang menemukannya, Yang Mulia!" seru Cendani melihat para prajurit berkerumun.


 

Cendani dan Sultan Singa segera menghampiri.


 

"Bagaimana?" tanya Sultan Singa pada prajurit.


 

"Laki-laki itu menyandera istrinya sendiri, Yang Mulia!" jawab prajurit.


 

Cendani dan Sultan Singa menghampiri rumah. Hanya Sultan Singa yang masuk, Cendani tidak masuk. Cendani mengintip, kemudian menyiapkan panah. Cendani mengarahkan ke punggung telapak tangan laki-laki yang memegang golok, sehingga membuat telapak tangan terbuka dan golok terjatuh. Kemudian langsung memanah lagi ke arah punggung tangan, yang memegang erat tubuh istri laki-laki itu. Sang istri segera lari ke arah para jenderal. Jenderal Kafi dan Jenderal Prana segera menangkap sang suami.


 

"Putra hamba telah dibunuh suami hamba, Jenderal, dan jasadnya, telah dibuang ke sungai," adu sang istri.


 

"Aku telah menemukan putra Ibu di sungai, dan ia masih hidup. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit istana," kata Jenderal Sauqy. Sang istri senang mendengarnya.


 

"Sebelum aku ke sini, anak itu sudah meninggal, Jenderal," kata Sultan Singa. Sang istri langsung kembali terpukul dan berlutut.


 

"Hamba mohon, hukum mati suami hamba!"


 

"Tentu, tapi pengadilan yang akan memutuskan! Lekas bawa mereka berdua ke rumah sakit istana!" kata Sultan Singa.


 

"Prajurit!" seru Jenderal Sauqy.


 

Beberapa prajurit masuk dan membawa mereka berdua. Setelah semua di luar.


 

"Ashar sudah berjalan beberapa saat, jika ada yang mau sholat dahulu, silahkan!" tegas Jenderal Sauqy.


 

"Kami semua sudah, Jenderal!" jawab Jenderal Prana.


 

"Ananda, di sana ada surau kecil! Ananda mau berjamah bersamaku? Kau bisa meminjam pakaian ke warga, aku akan mengganti dengan Dinar."


 

"Mau, Yang Mulia!" jawab Cendani sungguh-sungguh dan senang hati.


 

"Aku dan Cendani akan ke surau, kalian pergilah dahulu, tidak perlu menunggu kami! Kami tadi membawa kereta. Baiknya pakai kereta itu, untuk membawa wanita itu! Tinggalkan satu kuda saja untuk kami di seberang!"


 

"Baik, Yang Mulia! Dua puluh prajurit, kawal Yang Mulia dan Cendani!"


 

"Mari, Ananda!" ajak Sultan Singa.


 

Semua menunduk sejenak. Dua puluh prajurit mengikuti Sultan Singa dan Cendani. Kemudian yang lain bergegas pergi dengan membawa sepasang suami istri.


 

***


 

Rumah sakit istana. Sang istri segera menemui jasad putranya. Dokter segera menangani sang suami di kamar berbeda. Sang istri menangis histeris hingga pingsan. Dokter segera menangani di kamar yang sama dengan jasad putranya. Sang istri sadar.


 

"Dia bukan suami! Dia harus dihukum mati!" batin sang istri.


 

Dokter memberi tahukan hasil pemeriksaanya.


 

"Ibu tengah hamil dua minggu!" kata Dokter.


 

Sang istri terkejut, tidak suka.


 

***


 

Hari berlalu dan berganti.


 

Pengadilan istana. Semua yang berkepentingan melihat. Sultan berdiri dan berbicara.


 

"Aku putuskan hukumanmu adalah mati!" kata Sultan Singa.


 

"Yang Mulia, hamba mohon ampuni suami hamba, jangan dihukum mati!" pinta sang istri sungguh-sungguh.


 

"Dia sudah membunuh anak kecil yang tidak berdosa dan itu anak Anda, Ibu!" kata Sultan Singa menegaskan.


 

"Hamba mengerti, Yang Mulia, tapi dia tetap suami hamba!" tegas Zulia.


 

"Lalu bagaimana dengan keadilan untuk putra Anda, Ibu? Apa Ibu tidak peduli dengan putra Ibu? Buat apa memilih menjadi istri dari seorang suami yang tega membunuh seorang anak kecil?”


 

"Bukan hamba berat, karena status hamba istrinya, Yang Mulia. Hamba peduli dengan putra hamba yang telah tiada, Yang Mulia. Akan tetapi hamba juga peduli dengan yang ada di rahim hamba, Yang Mulia!” tegas Zulia merasa tidak punya pilihan, merelakan keadilan untuk putranya yang telah tiada, demi yang di rahimnya.


 

"Apa Ibu sedang hamil?"


 

"Dokter istana memberi tahu hamba, jika hamba sedang hamil dua Minggu, Yang Mulia!" terang Zulia dengan meronta tidak senang dan sangat sedih.


 

Sultan Singa terkejut dan bingung.


 

"Jika suami hamba mati, hamba adil dengan putra hamba yang telah tiada, hamba pun bahagia, Yang Mulia, tapi bagaimana dengan yang di rahim hamba?"


 

"Baiklah, jika demikian aku putuskan untuk memenjarakannya seumur hidup. Sedangkan biaya selama Ibu hamil sampai anak itu berusia dua puluh tahun, istana yang akan menanggungnya. Ibu, silahkan, periksakan selalu kandungan Ibu, di rumah sakit istana. Rumah Ibu juga akan aku buat nyaman, untuk seorang ibu hamil!" tegas Sultan Singa memutuskan.


 

"Terima kasih, Yang Mulia!" seru Zulia merasa sangat lega.


 

Tiba-tiba datang laki-laki, yang mengaku ayah kandung dari anak laki-laki korban KDRT.


 

"Saya ayah kandungnya, tidak terima dengan keputusan Anda, Yang Mulia! Yang Mulia harus menghukum mati laki-laki iblis!"


 

"Aku mengerti perasaan Anda, tapi istrinya sedang hamil."


 

"Jika begitu, tidak ada cara lain!" Pria itu mengambil belati di pinggangnya, lalu membunuh pembunuh putranya.


 

Sultan Singa, yang tengah berdiri tidak jauh dari Cendani, segera menutup mata Cendani, dengan telapak tangannya dari arah depan.


 

"Jenderal Sauqy bawa pergi Cendani, aku tidak mau putriku melihat hal buruk ini, hingga mempengaruhinya!" perintah Sultan Singa.


 

"Baik, Yang Mulia!" jawab Jenderal Sauqy dan bergegas membawa pergi Cendani.


 

Akhirnya suami yang membunuh putra tirinya, meninggal, dibunuh ayah kandung anak laki-laki itu.

 

Sementara itu di ruang persidangan...