Try new experience
with our app

INSTALL

Maurin dan Buku Tua Ajaib 

Akibat Main Game

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Maurin masih memandangi pekerjaan rumah yang dari tadi belum selesai juga. Pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskannya banyak membaca. Ia belum lancar membaca, hanya bisa mengeja huruf demi huruf. Itulah alasan ia tak menyukai pelajaran itu. Maurin membolak-balik lembar buku tanpa mengerjakan sama sekali, hingga pintu kamarnya diketuk.


 

"Maurin, apakah sudah tidur?" tanya Bunda sambil membuka pintu kamar. 


 

"Belum, Bunda. Aku masih mengerjakan tugas, tinggal sedikit lagi!" Maurin terpaksa berbohong. Jika tak berkata seperti itu, bundanya pasti akan menemani sampai tugas selesai. 


 

"Coba, Bunda lihat." 


 

Maurin langsung menutup buku dan memasukkan ke dalam tas. 


 

"Sudah selesai, kok, Bun!" ucap Maurin buru-buru sambil tersenyum manis. 


 

"Oh, kalau sudah selesai, cepat tidur. Jangan lupa cuci tangan, kaki, dan gosok gigi," titah Bunda,

"Nanti, lampunya matikan, ya. Selamat malam, Maurin."

Bunda mengusap kepala Maurin, lalu mencium keningnya. 


 

"Selamat malam juga, Bunda." Maurin balas mencium kedua pipi bundanya. 


 

Bunda keluar dari kamarnya. Maurin pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan melakukan apa yang sang bunda katakan. Setelah semua selesai, ia kembali ke kamar, mematikan lampu, dan bersiap untuk tidur. 


 

Sepuluh menit berlalu, mata Maurin enggan terpejam. Tiba-tiba, ia ingat akan sesuatu. Permainan game yang tadi siang dimainkan, belum selesai. Ia membuka laci di dekat tempat tidur. Ia berharap, ponselnya tidak diambil sang bunda. Karena biasanya, sang bunda tak membiarkan ia bermain ponsel di malam hari. Akhirnya, ponsel itu ketemu juga. 


 

Di bawah selimut, Maurin asyik dengan game bubbles. Level demi level dilalui, tanpa tahu kalau jarum jam terus berjalan menuju dini hari. Meskipun mata sudah ingin beristirahat, ia masih penasaran. Ia terus bermain sampai memenangkan permainan. Setelah itu, ia mematikan ponsel dan tidur sambil tersenyum senang. 

Keesokan harinya, Maurin bangun kesiangan. Beberapa kali sang bunda membangunkan, tetapi mata enggan untuk terbuka. Hingga akhirnya, sang bunda memercikkan air ke wajahnya. Ia pun terbangun, lalu segera bersiap-siap pergi ke sekolah. 


 

Di ruang makan, sang bunda sudah menyiapkan sarapan pagi. Maurin berjalan sambil menahan mata supaya tidak terpejam. 


 

"Maurin, apa kamu tidur larut malam?" Sang bunda melihat lingkaran hitam di kelopak mata Maurin. Mendengar perkataan bundanya, Maurin langsung membuka mata.


 

"Ah, enggak, kok, Bun! Aku tidur jam sembilan seperti yang Bunda bilang!"


 

"Tapi, kenapa matamu kayak panda? Beneran kamu nggak tidur malam. Bunda lihat ada ponsel di kasurmu. Semalam, Bunda lupa tidak mengambilnya. Kamu pasti main game, kan?" Bunda terus mendesak Maurin untuk jujur. Ia tahu, putrinya sudah berkata bohong. 


 

"Beneran, kok, Bun." Maurin berusaha meyakinkan bundanya.


 

"Ya, udah. Bunda percaya. Tapi, kalau ketahuan berbohong, Bunda akan menghukum kamu."


 

Maurin terdiam mendengar ancaman bundanya. Matanya mulai mengantuk lagi. Sekuat mungkin ia tahan agar sang bunda tidak curiga. Ia mengambil roti panggang selai strawberry, lalu memakannya.


 

Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Waktunya Maurin untuk berangkat ke sekolah. Ia mempercepat makannya, lalu meminum segelas susu yang sudah disiapkan bundanya. Biasanya, ia berangkat bersama sang ayah. Namun, karena sang ayah belum pulang dari luar kota, Maurin harus berangkat bersama Cika, teman sekelasnya.


 

Setelah sarapan, Maurin langsung berpamitan pada Bunda karena Cika dan ibunya sudah menunggunya di depan rumah. Melihat Maurin keluar dari rumah, Cika menggeser tempat duduk. Maurin duduk di belakang Cika. Mereka bertiga pun berangkat menuju ke sekolah. 

Setiba di sekolah, Maurin bergegas menuju kelasnya. Mata sudah benar-benar mengantuk. Setelah sampai di kelas, ia letakkan tas dan duduk di bangku sambil menundukkan kepala ke atas meja. Tangan menjadi bantal agar kepalanya tidak sakit. 


 

Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Cika yang melihat Maurin tertidur, segera membangunkan temannya itu. Namun, Maurin tidak bangun juga. 


 

Jam pelajaran pertama dimulai, Bu Tari masuk ke kelas sambil membawa dua buku. Satu buku absen dan satu lagi buku paket pelajaran yang akan diterangkan hari ini. 

Setelah berdoa, Bu Tari langsung menyebutkan nama siswa satu per satu. Sampai saat ia memanggil nama Maurin, tak ada yang mengangkat tangan. 


 

"Maurin," panggil Bu Tari lagi, hingga pandangannya mengarah ke bangku Cika. Ia melihat Maurin menelungkupkan kepala di atas meja, tertidur dengan lelapnya. 


 

Bu Tari menghampiri bangku Cika dan Maurin. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Maurin, hingga Maurin membuka matanya sedikit. 


 

"Cika, jangan ganggu, dong! Aku ngantuk banget ini!" ucap Maurin sambil melanjutkan tidurnya. 


 

Karena tahu Maurin tak akan bangun, akhirnya Bu Tari meminta Denis untuk mengambil air menggunakan gayung. Mendapat perintah itu, Denis langsung pergi ke toilet sekolah. Ia kembali lagi ke kelas dan mengulurkan gayung itu pada Bu Tari. 


 

Bu Tari memercikkan air ke wajah Maurin. Maurin yang merasa wajahnya basah, akhirnya terbangun juga. 


 

"Cika, basah tahu!" ucap Maurin sambil menoleh ke arah teman sebangkunya itu. Alangkah terkejutnya ia, melihat orang yang ada di sampingnya bukanlah Cika, melainkan Bu Tari. 


 

"Eh, Ibu!" Maurin tertunduk malu.


 

"Maurin, ini sudah ketiga kalinya kamu tidur di dalam kelas. Coba, tugas sekolah yang Ibu berikan, apa sudah kamu kerjakan?" Bu Tari sudah sangat kesal dengan tingkah Maurin kali ini.


 

Maurin baru ingat kalau tugas Bahasa Indonesia yang Bu Tari berikan belum ia kerjakan. Ia mengambil buku tugas dan menyerahkan pada Bu Tari.


 

Bu Tari membuka buku itu. Ia menggelengkan kepala. Maurin satu-satunya siswa di kelas yang belum pandai membaca. Mungkin karena itulah, ia tidak mau mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Sekarang, Maurin harus mendapatkan hukuman. 


 

"Maurin, kerjakan tugas ini di perpustakaan." Bu Tari menyerahkan buku tugas milik Maurin. 


 

"Baik, Bu." Maurin mengambil buku itu dan pensil. Ia beranjak dari tempat duduk menuju perpustakaan diikuti tatapan teman sekelas. Beberapa teman menertawakannya. Semua ini gara-gara ia keasyikan main game dan tidur larut malam.