Try new experience
with our app

INSTALL

Maurin dan Buku Tua Ajaib 

Pulang Bersama Bu Tari

Setelah jam pelajaran selesai, Maurin tidak langsung pulang bersama Cika. Ia disuruh Bu Tari untuk menunggu karena guru kelasnya itu akan mengunjungi rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan dan program di sekolah, satu minggu sekali guru kelas akan mengunjungi rumah siswa secara bergilir. Kebetulan, hari ini jadwal Bu Tari untuk berkunjung ke rumah Maurin. 


 

Maurin sangat takut. Pasti Bu Tari akan membicarakan ulahnya di sekolah. Apalagi, tadi ia juga ketiduran di kelas. Bunda pasti akan memarahinya karena telah berbohong, ditambah tugas sekolah pun tidak dikerjakan. 


 

"Maurin, ayo, kita pulang sekarang," ajak Bu Tari sambil membawa tas di tangan sebelah kiri. 


 

"Iya, Bu." Maurin mengikuti langkah kaki Bu Tari dari belakang.

 

"Kita naik motor Ibu, ya. Kamu yang mengarahkan jalan," pinta Bu Tari karena belum tahu arah menuju rumah Maurin. 


 

Maurin hanya menganggukkan kepala sambil terus mengikuti Bu Tari. Ada beberapa teman dan kakak kelas yang menyapa. Ia memiliki banyak teman baik dari bawah tingkat ataupun atas. Mereka sering bermain bersama karena Maurin senang berteman dengan siapa saja.


 

Bu Tari dan Maurin sudah sampai di tempat parkir Motor. Bu Tari mengeluarkan kunci motor dari dalam saku baju. Setelah itu, ia menyalakan mesin motor, lalu menyerahkan helm kecil yang sering digunakan anaknya kepada Maurin. Mauri mengenakannya. Mereka berdua naik ke atas motor. Maurin duduk di jok belakang. Tak butuh waktu lama, motor pun melaju meninggalkan sekolah.


 

***


 

Maurin mengetuk pintu rumah dengan perasaan cemas. Ia harus siap menerima kemarahan sang bunda saat nanti Bu Tari memberitahukan tentang ulahnya hari ini di sekolah. 


 

"Assalamu’alaikum, Bun. Maurin pulang." Tak ada yang menyahut. Maurin pun mengetuk pintu lagi. 


 

"Wa'alaikumussalam. Sebentar!" Terdengar suara bundanya berteriak, lalu pintu pun terbuka.


 

"Eh, kenapa pulangnya tidak bareng sama Cika?" tanya sang bunda belum menyadari kehadiran guru kelas Maurin.


 

Maurin mengulurkan tangan. Ia mencium punggung tangan sang bunda. "Maurin pulang bareng ibu guru."


 

"Aduh, maaf, Bu. Saya kira Maurin pulang sendiri. Ayo, silakan masuk." Bunda membuka pintu lebih lebar.

 

"Tidak apa-apa, Bu," ujar Bu Tari. Ia lalu masuk ke rumah Maurin. 


 

Rumah Maurin bergaya minimalis. Terlihat kecil dari luar, tetapi setelah masuk, Bu Tari merasa nyaman karena rumah begitu bersih dan asri. Di halaman depan, ia melihat ada beberapa tanaman bunga dan pohon mangga yang tumbuh dengan subur. Di bawah pohon itu ada meja dan satu bangku, juga ayunan. 


 

"Maurin, ganti baju dulu sana." Bundanya menyuruh Maurin agar bergegas mengganti baju dengan pakaian rumahan. "Sebentar, ya, Bu. Saya ambilkan air minum dulu." 


 

"Tidak usah repot-repot, Bu," jawab Bu Tari. 

Bunda pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan sedikit camilan. Ia kembali ke ruang tamu dan meletakkan satu gelas air putih dan camilan di atas meja. Ia duduk berhadap-hadapan dengan guru kelas Maurin. Ia ingin tahu, ada apa hingga guru kelas putrinya itu datang ke rumah. Apa Maurin membuat ulah? Ia bertanya-tanya dalam hati.


 

"Sebenarnya, ada apa, ya, Bu? Apa Maurin melakukan kesalahan atau berulah?" Bunda Maurin mengawali pembicaraan. 


 

"Begini, Bu. Sebenarnya, saya ke sini karena memang program sekolah yang mengharuskan guru kelas untuk mengunjungi rumah setiap siswa secara bergilir. Nah, kebetulan hari ini jadwal saya untuk datang ke rumah Maurin," jelas Bu Tari.


 

"Oh, saya kira Maurin melakukan kesalahan di sekolah." 


 

"Memang sudah tiga kali Maurin tidur di dalam kelas, termasuk hari ini. Mungkin karena ia selalu main games hingga larut malam. Ditambah lagi, ia juga tidak mengerjakan tugas sekolah. Selain itu, sampai sekarang Maurin masih belum lancar membaca. Apa Ibu memasukkannya ke kursus membaca?" 


 

"Saya minta maaf, Bu. Biasanya, ponsel saya ambil kalau malam hari. Tadi malam, saya lupa mengambilnya. Kalau masalah membaca, saya sudah mendaftarkan ke tempat les membaca. Tapi ... ya, itu. Maurin malah sering bolos. Saya juga sedikit kesulitan menghadapi minat baca Maurin yang kurang. Kalau saya yang mengajari, ia malah nggak pernah fokus. Yang ada, saya yang jengkel." Bunda Maurin menceritakan semua kesulitannya.


 

"Oh, mungkin kita ajarkan secara perlahan. Saya juga di sekolah akan terus membantu Maurin agar segera bisa membaca. Ya, kita kerja sama saja, Bu." Bu Tari memberikan saran. "Karena Maurin sudah tiga kali tidur di dalam kelas, dengan sangat terpaksa ia diskorsing selama satu minggu. Ia tidak boleh masuk sekolah dan harus mengerjakan tugas hingga selesai. Ini tugas yang harus Maurin kerjakan." 


 

Bu Tari menyerah satu buku paket kepada bunda Maurin. Wanita itu menerima dan membuka buku itu. Di dalamnya, banyak tugas membaca untuk Maurin. Ya, mungkin dengan menerima hukuman seperti ini, putrinya itu akan mulai suka membaca dan lambat laun akan pandai membaca. 


 

Tanpa Bunda dan Bu Tari ketahui, Maurin menguping dari balik lemari dekat ruang tamu. Sebentar lagi, kebebasannya bermain game akan terganggu karena tugas itu.


 

"Baiklah, sepertinya kunjungan saya sudah selesai. Semoga dengan hukuman ini, Maurin bisa mulai suka membaca dan lebih disiplin lagi. Kalau bisa, untuk sementara waktu ponsel Ibu amankan saja karena benda itu akan mengganggu Maurin dalam mengerjakan tugasnya." Bu Tari bangkit dari tempat duduk, bersiap untuk pulang. 


 

"Iya, Bu. Terima kasih sudah mau berkunjung ke sini. Maurin!" Bundanya berteriak memanggil. Maurin yang berdiri di balik lemari datang menghampiri. 


 

"Ibu guru mau pulang. Ayo, salam dulu," titah Bunda.

Maurin mencium punggung tangan guru kelasnya. Bu Tari mengelus kepala Maurin dengan tangan kiri, kemudian pamit pulang.