Try new experience
with our app

INSTALL

Seberapa Pantas (TAMAT) 

1. Menunggu Kamu

Seperti dugaannya, hujan pun baru saja berhenti pada sepertiga malam. Purnama bersinar. Angin tidak bersuara. Ringkik jangkrik dan detak jam dinding seolah menjadi instrumen yang dikomposisikan khusus untuk dirinya. Sesekali terdengar deru kendaraan dari kejauhan, membelah kesunyian sepertiga malam yang tenang di Kota Kembang.

Rahma bangkit. Kemudian, duduk di tepian tempat tidur. Perlahan, ia menatap bayangan purnama dalam cermin. Cahayanya memantul ke setiap sudut kamar, pada semua benda, juga wajahnya. Ia bangkit, melangkah menuju balkon kamarnya. Berdiri menantang angin yang tidak berhenti menyetubuhi tubuh tinggi semampainya, meriapkan rambut hitam kecokelatan sebahu. Kedua tangannya bertumpu pada pagar tembok pembatas balkon. Sesekali, ia menghirup napas dalam. Seolah ingin mengisap semua keheningan alam.

Mata bening berbulu lentik itu sesekali terpejam. Menghanyutkan rasa pada kesunyian. Sepasang kunang-kunang terbang mendekatinya. Kerlap-kerlip sinarnya, seolah sinar harapan dalam dadanya kini mulai bersinar kembali, setelah sekian lama padam tersiram janji-janji terkhianati. Rahma menatapnya. Bibirnya mengulas senyum. Tiba-tiba angin berembus sedikit kencang. Menyeret kunang-kunang terbang menjauhinya. Kemudian, hinggap pada kelopak bunga sedap malam yang tumbuh di halaman kosan. 

“Keheningan yang indah,” gumamnya selirih angin malam.

Tidak terasa, sudah empat purnama Rahma meninggalkan rumah dan orang tuanya di  Jakarta untuk kuliah dan bekerja sebagai penyiar radio di Bandung. Tentu saja, selain untuk meredam rasa sakit akibat pengkhianatan tunangannya, kini, ia sudah lumayan mengerti beberapa kosakata bahasa Sunda, juga sudah bisa mengucapkan beberapa kata seperti, teh, naon, mereun, geulis, dan kasep. Rahma juga sudah bisa melupakan kenangan pahit akan penghiatan Reza, tunangannya yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri. 

Rahma menarik napas lebih dalam. Senyum manis mekar di bibirnya. Purnama seolah berpindah ke matanya. Rambutnya yang hitam kecokelatan mengkilat tersiram cahaya purnama. Didekapkannya kedua tangan di dada untuk sekedar mengurangi rasa dingin.

Awalnya, bukan hal mudah membunuh ambivalen dalam hati terhadap Reza. Sakit itu sewaktu-waktu kambuh, menyesakkan dada seperti penyakit asma. Namun, semua sakit, segala pedih, dan air mata seketika purna seiring berjalannya waktu.

“Ternyata si Reza hanya cinta monyetku,“ gumamnya, kemudian tersenyum sinis.

“Eit, bukan aku, tapi dia yang monyet!” kali ini dia tertawa kecil seraya matanya terus meneliti langit, menghitung bintang.

Dua jam sudah Rahma berdiri di balkon kamarnya. Sepertiga malam yang tenang mulai terusik oleh deru kendaraan di jalan yang tidak jauh dari kosannya. Lagi-lagi, Rahma menarik napas dalam. Dipandanginya semburat fajar seiring terdengar kumandang azan. Begitu eksotis di telinganya. Seolah kinanti pengantar terbukanya tirai panggung opera akbar kehidupan. Baru di Bandung inilah, ia sering mendengar kumandang azan subuh karena sewaktu di Jakarta dulu, ia selalu bangun ketika matahari sudah meninggi. Bahkan tidak jarang, ia terlambat ke sekolah.

Tiba-tiba, hatinya tergetar untuk melaksanakan salat subuh. Memang sedikit aneh, karena sebelumnya Rahma selalu tidak peduli akan salat. Namun, ia tidak mau berdebat dengan hatinya. Ia kembali ke kamar, segera mengambil wudu, menggelar sajadah yang hanya sesekali saja ia gunakan. Mungkin sehari sekali, atau seminggu sekali. Dan entah berapa ratus rakaat salat yang telah ia tinggalkan.

Tidak ada keajaiban usai salat seperti yang sering ia baca di novel-novel religi, selain kantuk mulai menggelayut. Atau mungkin, karena melaksanakan salat semata menggugurkan kewajiban. Ah, ia tidak pernah memikirkan itu. Dibukanya mukena, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Sebelumnya, ia mengeset alarm di handphone-nya agar berdering tepat pukul delapan pagi. Karena, pukul sembilan ia harus siaran di AR FM. AR FM adalah keluarga kedua selain keluarganya di Jakarta.  Hingga beberapa menit kemudian, ia pun terlelap, memeluk guling yang selalu setia menemani.

***

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana di daerah Tamansari Bandung, tepatnya lagi di Gang Pelesiran, Angga baru saja pulang dari masjid berjamaah salat subuh. Jalannya tegak, mencerminkan keberanian dalam jiwanya. Wajahnya selalu terlihat ceria dan enak untuk dipandang. 

Sampai di rumah, ia langsung masuk kamar dan membuka laptop, menulis sebuah puisi untuk dikirimkan ke salah satu majalah remaja. Itu biasa ia lakukan sampai pukul enam pagi. Selanjutnya, ia mengganti baju dengan setelan yang biasa dipakai seorang montir dan segera bersiap untuk membuka bengkelnya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tepatnya, di Jalan Badak Singa yang berhadapan langsung dengan gedung PDAM Kota Bandung.

Semenjak lulus kuliah di kedokteran, tepatnya enam bulan, Angga membuka bengkel di sana. Hasilnya cukup lumayan. Ia tidak lagi menggantungkan hidup kepada orang tuanya di Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Padahal, orang tuanya termasuk orang kaya dengan berhektar-hektar sawah, beberapa tambak ikan, juga sebuah usaha penggilingan padi yang memang hanya satu-satunya di sana. Sehingga, seluruh petani selalu menggunakan pabrik penggilingan padi milik orang tuanya itu. Sedang di Bandung, Angga tinggal bersama Pak Bahrul Alam, adik kandung dari ayahnya. Angga biasa memanggilnya Mamang.

Pak Alam. Begitu panggilan akrab penduduk sekitar. Hampir semua tetangga menghargainya. Bukan hanya karena Pak Alam seorang Kapolsek dan Bu Sur istrinya seorang Pegawai Negeri Sipil, melainkan karena Pak Alam dan Bu Sur orang baik dan ramah. Tidak sombong dengan apa yang mereka miliki. Bahkan kehidupannya terbilang sangat sederhana. Angga juga sangat sayang kepada keponakan satu-satunya yang baru duduk di bangku SMA kelas X, bernama Astri.

Pagi itu, Angga bersama dua orang pegawainya asyik mengobrol sambil minum kopi di bengkel yang baru saja buka. Udara masih sejuk, meski sudah mulai berbau asap knalpot dari kendaraan yang sesekali melintas. Jalan Tamansari masih sedikit lengang. Dari arah timur, tepatnya di depan Kebun Binatang, seorang pria menuntun motor matik dan berhenti tepat di depan mereka. Angga menatapnya.

“Alhamdulillah... rezeki nih,” celetuk Doyok salah satu teman sekaligus pegawai Angga.

“Di sini jual bensin tidak, ya, Mas?” tanya pria itu sambil membuka helm. Peci putih bertengger di kepalanya.

“Waduh, di sini mah tidak jual bensin atuh, Pak?” jawab Hendra pegawai yang satu lagi.

 Pria itu terlihat kecewa. Dia tahu, satu-satunya pom bensin di daerah itu ada di Dago Atas. Pria itu menyetandarkan motornya. Kemudian mendekati Hendra, Doyok, dan  Angga.

“Begini saja, Bapak tunggu di sini! Biar teman saya saja yang beli ke pom bensin,” ucap Angga tenang.

“Yok, belikan bensin buat Bapak ini, ya! Pakai motorku!” perintahnya pada Doyok.

“Siap, Bos!” tanpa banyak gaya lagi, ia segera menerima kunci motor dari Angga dan langsung pergi.

“Terima kasih, Kang!” Wajah pria itu nampak lega.

“Santai saja, Pak,” jawab Angga.

Namun, tidak lama Doyok sudah kembali sambil cengar-cengir.

“Kenapa?” tanya Hendra.

“Duitnya?” sahut Doyok.

“Yee... dasar Doyok Suroyok!” Hendra tertawa. Begitu juga Angga dan Bapak berpeci putih itu.

“Ini!” seru Bapak berpeci putih. 

“Kembaliannya, kamu ambil saja!” tambahnya sambil menyerahkan selembar uang 50 ribu. Doyok menerimanya dengan senang. Kemudian kembali pergi. 

“Sebentar lagi juga balik lagi,” ucap Angga.

Benar saja, baru satu menit Doyok telah kembali.

“Pasti lupa bawa jeriken!” seru Angga.

Doyok hanya nyengir kuda. Sedang Hendra dan Bapak berpeci putih itu terkekeh-kekeh melihat tingkah Doyok. 

“Doyok... Doyok....” kata Hendra sambil geleng-geleng.

“Hendra... Hendra....” balas Doyok.

Tawa kembali tergelak di bengkel itu. Setelah mengambil jeriken kecil, Doyok segera pergi. Hendra, Angga, dan Bapak berpeci putih mengantarnya dengan tawa dan baru berhenti ketika Doyok hilang dimakan tikungan jalan, tepat di depan gerbang Kebun Binatang.

“Ngomong-ngomong kerja di mana, Pak?” Angga bertanya pada pria berpeci putih itu.

“Di radio,” jawabnya. ”Bengkel ini punya siapa? Setiap Bapak lewat daerah sini, kelihatannya ramai terus,” lanjutnya.

“Punya orang, Pak. Kami mah hanya pekerja,” jawab Angga berbohong, karena sesungguhnya bengkel itu adalah miliknya. Hendra tersenyum mendengarnya.

Pria berpeci itu pun manggut-manggut. 

“Hmm... begitu, ya.”

“Tunggu... tunggu! Saya merasa sering mendengar suara Bapak!” Kening Angga berkerut seperti sedang mengingat sesuatu. Kemudian tersenyum.

“Bapak ini, Ustaz Idrus yang suka siaran setiap selesai subuh di radio..., apa sih namanya, Dra?” tanya Angga sambil melirik ke arah Hendra.

“AR FM, Bos!” Hedra menyahut.

Pria berpeci itu mengangguk dan tersenyum.

”Rupanya, kalian suka mendengar siaran Diskusi Islami, ya?”

“O, tentu dong, Pak. Siaran itu memberi saya banyak ilmu!” Angga menyalami Ustaz Idrus dan mencium tangannya.

“Sesekali main ke radio atuh!” kata pria berpeci putih yang ternyata adalah Ustaz Idrus, biasa mengisi Program Diskusi Islami di radio AR FM.

“Malu atuh Ustadz,” jawab Angga.

Belum sempat Ustaz Idrus menjawab, Doyok telah kembali. Tanpa bicara, ia segera mengisikan bensin yang dibawanya ke motor matik milik Ustaz Idrus. Angga memang selalu suka terhadap kegesitan Doyok, meskipun terkadang pelupa.

“Sudah siap, Pak. Terima kasih!” seru Doyok.

“Bapak yang semestinya berterima kasih padamu,” jawab Ustaz Idrus sambil menstarter motornya. Dan langsung menggerung. Knalpotnya mengeluarkan asap putih tipis pertanda mesin motornya kurang terawat.

“Kembaliannya terlalu besar jika saya ambil semua, Pak!” Doyok memberikan uang kembali kepada Ustaz Idrus. Namun, ditolaknya.

“Sudah! Ambil saja buat sarapan bersama teman-temanmu. O, iya, Bapak belum tahu nama kalian?”

“Saya Angga, Doyok, dan Hendra!” Angga yang menjawab sambil menunjuk teman-temannya. Ustaz Idrus pun tersenyum. Kemudian pamit untuk melanjutkan perjalannya.

***